
Clarisa membuka matanya pelan, Ia menatap sekeliling ruangan yang tampak tidak asing lagi baginya. Yah Villa mawar di sinilah saat ini Clarisa berada. Villa mawar merupakan Villa milik keluarga Abraham, Villa yang terletak di tengah hutan dan begitu jauh dari pemukiman. Villa yang di penuhi dengan kenangan Clarisa bersama Almira ibu kandungnya. Saat usia Clarisa 10 tahun ia pernah tinggal selama 1 bulan di Villa ini. Ibunya membawa Clarisa pergi dari rumah utama untuk menyelamatkan nyawa mereka dari kekejaman Alvaro dan Sandra.
Saat itu Alvaro dengan terang-terangan berani membawa wanita selingkuhannya masuk ke dalam rumah milik Almira rumah mereka berdua. Hati istri mana yang tidak akan sakit saat suaminya membawa wanita lain dalam rumah mereka. Hal ini juga dirasakan oleh Almira.
“Siapa wanita ini mas?” Tanya Mira tegas dengan raut wajah marah.
“Dia akan tinggal di rumah ini, aku akan segera menikah dengannya.” Ucap Alvaro tanpa rasa bersalah.
“Apa hakmu membawa wanita murahan ini ke rumahku, bawa dia keluar dari rumahku, Dasar laki-laki tidak tahu diri, kalian benar-benar menjijikkan.” Almira mendekati suaminya dengan berani ia mendorong tubuh suaminya.
“Pergi kau wanita murahan dari rumahku.” Almira menarik rambut Sandra.
Sandra tidak diam saja Ia juga menarik rambut Mira membuat keduanya terlibat pertengkaran hebat.
Pertengkaran antara istri sah dan juga wanita simpanan. Alvaro yang menyaksikan pertengkaran ke dua wanita itu melerainya.
“Kalian bisa berhenti bertengkar hah.” Alvaro menarik tangan Sandra dan melindunginya dari amukan istrinya.
“Ini semua salahmu, kau istri yang tidak berguna.” Ucap Sandra merendahkan dan menghina Almira.
“Diam kau pelakor, kau wanita murahan yang tidak tahu diri, kalian pergi dari rumahku, KELUAR SEKARANG JUGA.” Bentak Mira dengan emosi yang sudah memuncak.
Plakkkkkk......
Satu tamparan mendarat di pipi mulus Mira.
Tentu saja Almira tidak akan diam dan menerima begitu saja. Ia juga membalas perbuatan suaminya.
Plakkk....
Almira melayangkan tamparan ke pipi suaminya.
“Dasar laki-laki tidak tahu malu, pergi kalian dari rumahku, Laki-laki menjijikkan.” Sarkasnya.
Brukkkkk...
Alvaro mendorong tubuh Almira dan membuatnya terjatuh di lantai dingin rumah itu. Sandra yang melihat kejadian itu merasa begitu bahagia dan ia tersenyum tipis.
“Jangan berani membantahku, kalau kau masih mau tinggal di rumah ini.” Bentak Alvaro.
Semenjak kematian ayah Almira Tuan Abraham (kakek Clarisa) sikap Alvaro juga berubah ia menjadi laki-laki kasar, kejam dan tak berperasaan. Alvaro menjadi pemegang kekuasaan di rumah mereka. Karena merasa berkuasa sikapnya menjadi semena-mena.
“Ayah, Risa mohon jangan sakiti ibu hiksss.... hikssss.” Ucap Risa dengan suara serak karena menangis melihat ibunya diperlakukan kasar oleh ayahnya di depan matanya sendiri.
Sejak tadi Clarisa kecil bersembunyi di balik dinding, Ia begitu takut melihat ke dua orang tuanya aduh mulut dan berujung pada tindakan kekerasan. Melihat ayahnya berlaku kasar kepada ibunya, Clarisa segera menghampirinya dan Ia ingin melindungi ibunya.
“Ayah jahat, ayah tidak menyayangi aku dan ibu, Hiksss.... Hiksssss.” Lirih Clarisa.
Hati Clarisa dipenuhi kebencian kepada Alvaro sosok ayah yang kejam menurutnya. Risa tidak akan pernah memaafkan Ayahnya walau Alvaro adalah ayah kandungnya sendiri. Hatinya sudah mati sejak ia melihat ayahnya membawa wanita lain masuk ke dalam rumah mereka terlebih lagi ketika Ia menyaksikan ayahnya berlaku kasar demi membela wanita simpanannya.
“Anak kecil sepertimu tahu apa HAH, Jangan ikut campur, ini urusan orang dewasa.” Bentak Alvaro kepada Clarisa kecil.
__ADS_1
“Ayah jahat..... pergi jangan sakiti ibu.” Clarisa mendorong tubuh ayahnya agar menjauh dari ibunya yang sudah duduk lemah di lantai.
“Sayang, pergilah ke kamarmu, ini urusan ibu dan ayahmu.” Ucap Almira lembut.
Clarisa menggeleng seakan tidak ingin meninggalkan ibunya sendiri.
“Ibu mohon Nak, Dengarkan ibu kali ini saja, Menurutlah kali ini dengan ibu Yah!” Almira mengusap lembut rambut putrinya.
Almira memanggil pelayan dan menyuruhnya untuk membawa Clarisa kecil masuk ke dalam kamarnya. Clarisa hanya bisa menurut dan mendengarkan perkataan ibunya. Ia masuk ke dalam kamar dan mengunci kamar itu, Sedangkan di luar pertengkaran sumi istri itu tetap terjadi.
Kenangan menyedihkan itu seakan tergambar jelas di memori Clarisa.
“Ibu aku akan membalaskan dendamu, mereka tidak akan pernah bahagia setelah menghancurkan hidup kita, aku berjanji akan melakukan hal yang sama membuat mereka merasakan rasa sakit yang sudah mereka berikan kepada ibu dan juga kepadaku.” Batin Clarisa.
Clarisa duduk di sebuah kursi dengan ke dua tangannya yang terikat. Ia sudah sadar dan menatap sekeliling ruangan yang dulunya adalah kamarnya bersama ibunya.
Clarisa meronta berusaha melepaskan ikatan ke dua tangannya yang diikat di masing-masing sisi kursi kayu itu.
“Kau sudah sadar, bagus cepat tandatangani peralihan harta warisan ini, aku tidak punya waktu menunggu sampai tengah malam, kau harus menuruti ucapan ayah, kau paham.” Ucap Alvaro dengan tatapan mengerikan.
Tepat jam 12.00 Clarisa genap berusia 25 tahun. Itu artinya Ia akan menjadi pewaris satu-satunya harta milik ibunya.
Clarisa menggeleng. “Tidak... Aku tidak akan melakukannya, Sekalipun kau membunuhku, aku tidak akan memberikan semua milikku kepadamu tuan Alvaro.” Ucap Clarisa dengan tatapan tajam dan penuh kebencian menatap ayahnya.
Plaaakkkkk... tamparan keras mendarat di pipi kanan Clarisa meninggalkan bekas telapak tangan dan sudut bibirnya mengeluarkan darah.
“Kenapa ayah melakukan ini? Kenapa ayah tega menyakiti aku dan ibu? Apa salah kami ayah? Katakan!” Tanya Clarisa lirih. Ia tak bisa lagi menahan bulir bening dari pelupuk matanya.
“Hahahahhahaha.” Tawa Alvaro menggema.
“Kau mau tahu kenapa aku melakukan semua ini hah... ini semua karena ibumu, aku lelah menjadi bayang-bayang ibumu, kau tahu alasanku menikahi ibumu semua demi harta, kalau saja ibumu mau memberikan harta miliknya atas namaku, aku tidak akan menyiksamu seperti ini. Tapi sayang sekali ibumu yang bodoh itu malah mewariskan semua miliknya atas namamu, sejak dulu aku yang mengurus perusahaan milik keluarga Abraham dan aku tidak mendapatkan sepeser pun dari kekayaan milik tuan Abraham, aku tidak akan membiarkan itu terjadi, kau harus melakukan apa yang aku perintahkan.”
“Apa ayah tidak menyayangiku? Aku anak kandung ayah darah daging ayah, kenapa ayah begitu tegah, aku mohon ayah biarkan aku pergi, jangan sakiti aku, Aku hanya punya ayah di dunia ini, ibu sudah meninggalkan aku selamanya.” Pinta Clarisa mencoba membujuk ayahnya.
“Aku tidak pernah menginginkanmu, bagi ayah kau adalah kesalahan terbesar yang ada dalam hidupku selama ini, aku tidak pernah menginginkan anak yang lahir dari rahim wanita itu.” Jawab Alvaro.
“Ayah.....” Lirih Clarisa.
Hati Clarisa hancur mendengar jawaban dari ayahnya. Tak pernah ia bayangkan selama ini ayahnya tidak menyayanginya dan menganggapnya sebagai kesalahan terbesar. Hati Clarisa hancur sehancur-hancurnya saat orang yang ia anggap bisa melindunginya ternyata begitu membencinya dan mencoba melenyapkannya.
“Cepat tandatangani surat ini!” Perintah Alvaro mencengkeram kuat dagu Clarisa membuatnya meringis menahan sakit.
“Jangan mimpi kalian bisa menguasai semua milikku, aku akan menjaga harta milik ibuku, sampai kapan pun kalian tidak akan pernah mendapatkan miliku, camkan itu.” Clarisa menatap tajam mereka bergantian. Matanya menampakkan api dendam yang tidak akan pernah bisa padam sampai kapan pun.
“Kau memang anak tidak berguna dan keras kepala.” Hardik Sandra yang sudah menjambak rambut Clarisa membuat beberapa helai rambutnya rontok karena Sandra menariknya dengan keras. Kali ini ia turun tangan memaksa Clarisa menandatangani surat peralihan harta miliknya.
“Lepaskan tangan kotormu itu wanita murahan yang tidak tahu malu, seharusnya kau mati dan disiksa di neraka, dasar monster mengerikan dan menjijikkan, Cuuuuhhhhh.” Bentak Clarisa, Ia meludahi wajah Sandra Membuat emosi Sandra memuncak sampai ke ubun-ubun.
“Kurang Ajar.” Plakkkk sandra melayangkan tamparan di pipi Clarisa meninggalkan rasa sakit yang teramat.
“Sepertinya anak ini harus dipaksa baru Ia mau menuruti kita.” Ucap Sandra menatap suaminya.
__ADS_1
“Lakukan apa yang ingin kau lakukan, malam ini rencana kita harus berhasil.” Ucap Alvaro.
Sandra melangkah mendekati Clarisa dengan membawa surat yang harus Clarisa tandatangani, Ia sudah geram dan begitu marah usahanya untuk menyuruh Clarisa menandatangani berdasarkan keinginannya sepertinya sia-sia. Kali ini ia akan memilih cara yang bisa membuatnya berhasil yaitu memaksanya.
Sandra menarik tangan Clarisa kuat dan menyuruhnya memegang pulpen agar Clarisa bisa menandatangani surat itu secepatnya.
Clarisa mengepalkan tangannya kuat agar Ia tidak bisa memegang pulpen itu sekalipun Sandra memaksanya.
Plakkk.....
Tamparan kembali dilayangkan di pipi mulus Clarisa. Sandra bahkan menjambak rambut Clarisa kuat. Tidak hanya itu ia mendorong kursi yang diduduki Clarisa membuatnya jatuh tersungkur dengan kedua kaki dan tangannya yang terikat.
Bugggggg......
Tendangan kuat mengenai perut Clarisa membuatnya mengeluarkan darah segar. Sandra sudah tersulut emosi sejak tadi melihat Clarisa begitu pembangkang.
Uhukkkkk...... uhukkkkk......
Clarisa terbatuk-batuk merasakan sakit di perutnya.
“Hentikan..!, kau bisa membunuhnya sebelum rencana kita berhasil.” Perintah Alvaro menghentikan aksi Sandra.
Kali ini Alvaro kembali memaksa Clarisa, Ia mencengkeram kuat tangan Clarisa membuatnya meringis menahan sakit. Clarisa tidak lagi mampu mengepalkan tangannya. Alvaro mengambil tanda tangan Clarisa secara paksa. Ia berhasil menguasai harta milik Almira ibu Clarisa sejak malam itu.
“Ingatlah tuan Alvaro dan Nyonya Sandra suatu saat nanti aku akan membalaskan dendamku kepada kalian, Camkan itu.” Clarisa memberikan peringatan keras kepada kedua manusia busuk itu.
Sejak saat itu Clarisa tidak lagi menganggap Alvaro sebagai ayah kandungnya. Hubungan keduanya sudah hancur dan putus. Tidak ada lagi hubungan ayah dan anak. Bagi Clarisa ayahnya sudah lama mati. Ia tidak akan pernah menganggap Alvaro sebagai ayah kandungnya sampai kapan pun.
“Sebelum itu terjadi, kau sudah berada di neraka bersama ibumu anakku sayang, shuuttt... shuuutttt.... anak yang malang, kau tahu aku puas merebut semua milikmu, kekasihmu bahkan sudah menikah dengan putriku dan sekarang hartamu menjadi milikku, terima kasih sudah memberikan semua milikmu kepada kami, hahahahhaha..” Tawa Sandra menggema di ruangan itu.
“Kejahatan tidak akan pernah menang, kalian boleh menang tapi ingat akan ada pembalasan untuk perbuatan jahat kalian, camkan itu manusia iblis busuk.” Ucap Clarisa penuh kemarahan sebelum akhirnya Ia menutup matanya, Clarisa pingsan.
“Apa yang akan kita lakukan kepada anak ini?” Tanya Sandra kepada suaminya.
“Lakukan sesuai dengan rencana awal kita.” Ucap Alvaro dengan senyum kemenangan tergambar jelas di wajah ke dua manusia berhati iblis itu.
Bersambungggg.....
Novel ini penuh intrik, konflik, menegangkan dan menguras emosi.
Selamat membaca dan semoga kalian suka.
Tinggalkan dukungan kalian yah.
LIKE, VOTE DAN KOMENTAR kalian sangat author butuhkah untuk memberi semangat dan menjadi asupan vitamin bagi author agar punya tenaga untuk menulis cerita selanjut ya.
__ADS_1