PEMBALASAN DENDAM CLARISA

PEMBALASAN DENDAM CLARISA
BAB 15 : TIDUR BERSAMA


__ADS_3

Sinar mentari menyeruak masuk melalui celah gorden. Sinarnya menyentuh kulit memberi rasa hangat. Clarisa mengerjap membuka matanya pelan menyesuaikan dengan cahaya mentari di pagi hari. Sesuatu yang berat ia rasakan di bagian perutnya. Sebuah tangan kokoh memeluknya dengan erat. Clarisa menatap seseorang yang terlelap di sampingnya tengah memeluknya. Jantungnya berdebar kencang. Ia menatap wajah damai, tenang dan tampan suaminya. Debaran jantungnya semakin kencang. Kedua mata indahnya menatap lekat wajah suaminya. Ia tersenyum tipis.


 


Jemarinya menyentuh wajah Cristian. “Dia sangat tampan saat tertidur pulas seperti ini.”


“Tidak.. Sadarlah Clarisa! Kau tidak boleh mengaguminya.” Clarisa berusaha menyadarkan dirinya yang beberapa detik lalu mengagumi makhluk sempurna yang ada di depannya itu. Ia berusaha agar tidak jatuh cinta kepada pria yang sedang memeluknya. Sekali lagi Ia berusaha menyadarkan dirinya bahwa pernikahannya hanya lah pernikahan kontrak yang bisa berakhir kapan saja.


 


Clarisa berusaha melepaskan tangan Cristian yang tengah memeluknya dengan pelan agar tidak membangunkannya. Namun, Usahanya sia-sia. “Kau sudah bangun?” Ucap Cristian dengan suara khas orang baru bangun tidur.


 


“Apa yang kau lakukan?” Clarisa beranjak bangun dari tempat tidur dengan wajah terkejutnya. Ia tidak menyangka mereka akan tidur bersama.


“Maafkan aku, aku hanya tidak ingin ayah dan yang lainnya curiga jika kita tidur di kamar yang berbeda.” Ucapnya dengan tersenyum. Berusaha menutupi perasaan berdebar di hatinya.


“Kau kan bisa tidur di sofa.” Clarisa menatap kesal wajah Cristian yang terlihat tidak bersalah sama sekali.


“Apa ada yang salah jika suami istri tidur bersama. tidak ada yang salah kan?”


“Aisshhhh.... menyebalkan sekali.” Ucapnya dengan wajah kesal.


“Sudahlah Jangan kesal seperti itu, aku janji tidak akan menyentuhmu, aku hanya tidak ingin yang lainnya curiga jika menemukan kita tidur terpisah, kau tenanglah aku tidak akan macam-macam denganmu, kau bisa percaya dan pegang kata-kataku.”


“Baiklah, aku pegang janjimu, aku percaya kau pria yang baik tuan Cris.” Clarisa mengulurkan jari kelingkinya menyuruh Cristian melakukan hal yang sama dengannya.


“Berjanjilah.”


“Aku berjanji.” Ke dua jari kelingking mereka saling terpaut sebagai tanda mereka sudah berjanji.


Cristian dan Clarisa sudah bersiap. Hari ini Cristian akan pergi ke kantor bersama dengan tuan Mahendra dan juga Gery. Mulai hari ini ia akan bekerja sebagai CEO di perusahaan ayahnya. Sementara itu, Clarisa akan pergi berbelanja beberapa barang yang dia butuhkan bersama dengan Sarah.


Cristian dan Clarisa berjalan turun dengan bergandengan tangan menuju lantai bawah untuk ikut sarapan bersama dengan yang lainnya.


Di meja makan sudah ada Tuan Mahendra, Maharani, Adnan dan Juga Jane.


“Selamat pagi Nak, Kau sarapan lah bersama kami.”


“Baiklah ayah.”

__ADS_1


Cristian duduk di samping ayahnya dan mereka sarapan dengan tenang.


Jane menatap Clarisa dengan tatapan tidak suka. Ia masih tidak terima jika Clarisa akan menjadi menantu kesayangan tuan Mahendra.


“Aku akan mulai membalaskan dendamku kepadamu Jane dan setelah itu ayah, ibu tiri dan juga Jenny. Bersiaplah kalian semua akan mendapatkan balasan yang setimpal.” Batin Clarisa tersenyum tipis menatap ke arah Jane.


“Sayang, aku akan berangkat bekerja, jaga dirimu baik-baik. hemmm.” Cristian mencium pucuk kepala Istrinya di depan semua orang yang ada di meja makan.


Jane dan Adnan menatap tidak suka dengan pemandangan di depannya itu. Sementara Mahendra menatap bahagia Karena putranya sudah menemukan wanita yang Ia cintai.


Selesai sarapan Cristian berangkat bersama dengan Gery dan juga Mahendra. Sementara Adnan akan menyusul nanti setelah mengantarkan Jane ke lokasi syuting.


Jane sudah mulai syuting film layar lebar dan juga membintangi beberapa iklan produk. Rencananya setelah Filmnya berakhir Ia akan segera menikah dengan kekasihnya Adnan Mahendra.


Sementara Clarisa akan berangkat ke pusat perbelanjaan bersama dengan Sarah.


“Kau mau ke mana.” Tanya Maharani yang tengah duduk di sofa bersama dengan Jane.


“Aku akan keluar, aku tidak harus meminta izin dengan ibu kan?” Tanya Clarisa.


“Siapa yang mengizinkanmu keluar dari rumah ini, kau harus membantu pelayan mengerjakan pekerjaan di rumah ini, kau harus tahu posisimu tidak lebih dari pelayan dirimu ini, jangan bertindak seolah kau adalah nyonya di rumah ini.” Maharani memandang rendah dan remeh Clarisa. Kata-katanya terdengar merendahkan dan menghina menantunya itu.


“Sebaiknya kau diam dan jaga ucapanmu itu, kau ini tidak lebih dari sekedar pelayan, jangan berlagak kamu.” Bentak Jane kepada Sarah.


Jane dan Maharani begitu kompak jika menghina dan merendahkan seseorang.


“DIAM, kau pikir kau ini siapa hah, kau bahkan bukan siapa-siapa di rumah ini, seharusnya kau tahu diri.” Bentak Clarisa menatap tajam ke arah Jane. Jane juga tidak mau kalah. Ia ingin menarik rambut Clarisa namun, Maharani menghentikan aksi  Jane. Wajah Jane merah padam dan menatap benci ke arah Clarisa.


“Oh ya bu, aku adalah istri dari Cristian Mahendra putra dari ibu, aku bukan pelayan di rumah ini, aku hanya ingin mengingatkan ibu tentang posisiku di rumah ini, aku permisi ibu mertua, semoga harimu menyenangkan.” Clarisa berlalu meninggalkan dua wanita licik yang tengah memandang kesal ke arahnya.


“Wanita itu benar-benar tidak tahu diri, aku akan membuatmu segera di tendang dari rumah ini.” Geram Maharani.


Jane dan Maharani menatap Clarisa yang sudah menghilang di balik pintu. Tangan ke duanya mengepal kuat.


 


********


Sementara itu, Di mansion Alvaro sedang terjadi kekacauan. Alvaro terlihat kesal karena rencananya untuk menguasai harta Almira harus mengalami masalah. Ia baru saja kembali dari tempat pengacaranya. Ia ingin membalik nama semua aset milik Clarisa atas namanya dan tentu saja itu tidaklah muda. Ia harus menunggu sampai satu bulan karena kasus menghilangnya Clarisa masih di selidiki oleh polisi.


“Satu-satunya cara agar kita bisa mendapatkan semua harta itu atas namaku, kita harus menyerahkan  surat yang sudah Clarisa tanda tangani, surat peralihan harta atas namaku” Ucap Alvaro.

__ADS_1


 


“Apa kau yakin pengacara Almira tidak akan curiga dan melaporkan hal ini kepada polisi, aku rasa belum saatnya kita menyerahkan surat itu, tunggu sampai waktunya tepat, kita akan tetap menguasai seluruh harta anak itu, Bukankah anak itu sudah mati.” Usul Sandra.


“Kita bisa menunggu satu bulan setelah semuanya membaik dan polisi juga tidak akan menemukan mayat Clarisa.”


“Kau benar, rencana ini terlalu berbahaya, aku akan menunggu sampai satu bulan, sementara itu, aku akan memindahkan aset perusahaan atas namaku secara perlahan.” Alvaro setuju dengan saran istrinya itu.


“Kau memang hebat sayang.”


Praaaaannkkkkkk.....


Suara pecahan kaca terdengar di balik dinding. Alvaro dan Sandra yang tengah berada di ruang kerjanya segera keluar dan membuka pintu. Ia menatap pecahan kaca yang berserakan. Alvaro dan Sandra mencari siapa yang berani mengintip mereka.


“Kurang ajar siapa yang sudah berani menguping pembicaraan kita, Tidak akan aku biarkan orang itu lolos.”


Plaaakkkkk.....


Tamparan keras mendarat di pipi anak buahnya yang tidak becus melaksanakan tugasnya.


“Aku menyuruh kalian berjaga di luar ruangan ini, tapi kalian malah menghilang, cepat cari orang yang sudah menguping pembicaraanku, tangkap orang itu dan bawa dia kemari.”


“Ba-ba-baik Tuan.”


Para anak buah Alvaro mencari orang yang berani menguping pembicaraan tuan dan nyonyanya.


Bersambunggggg........


 


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2