
Clarisa dan Sarah baru saja kembali dari pusat perbelanjaan. Mansion dalam keadaan sepih. Maharani sedang pergi keluar. Clarisa memilih untuk istirahat di dalam kamarnya.
Tinggggg.....
Pesan masuk dari ponselnya. Clarisa membuka dan membaca pesan di ponselnya dengan senyum tipis di bibirnya.
"Apa kau bersenang-senang hari ini?"
"Tentu saja, Terima kasih Tuan Cris."
"Baguslah kalau kau senang nyonya Mahendra."
"Aku akan menghubungimu nanti."
Cristian membalas dengan emoji tersenyum dan memberikan gambar hati. Clarisa hanya tersenyum tipis melihat pesan dari suaminya.
Cristian juga tersenyum tipis menatap pesan dari istrinya.
Tuan Mahendra memperkenalkan Cristian sebagai CEO baru di perusahaannya. Para dewan direksi, pemegang saham dan Seluruh staff menyambut hangat kedatangan Cristian. Mereka semua menundukkan kepala tanda hormat.
"Mohon bimbingan dan kerja sama semuanya." Cristian menundukkan kepala di depan seluruh dewan direksi dan pemegang saham. Sikapnya sungguh sopan juga terkesan berwibawa. Para media mengambil gambar Cristian dan menjadi berita yang sedang Trending.
Tatapan seseorang terlihat sangat kesal. Tangannya terkepal kuat. Posisinya saat ini tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan Cristian. Adnan begitu kesal dengan ayahnya dan juga kakaknya itu.
Cristian telah resmi menjadi CEO di perusahaan ayahnya. Sementara Adnan akan menjabat sebagai direktur keuangan.
"Siaaaallllll, Seharusnya aku yang berada di posisi itu, semua ini karena Cristian." Seluruh barang-barang yang ada di mejanya hancur berantakan. Ia sudah berada di ruangannya menatap keluar jendela ruangan. Tangannya terkepal kuat.
"Tenanglah Nak, kita masih punya rencana lain, tenangkan dirimu hemmm." Maharani yang baru saja masuk ke ruangan putranya segera menenangkannya.
Ia tahu perasaan putranya pasti sangat hancur. Impiannya seketika sirna karena kedatangan Cristian. Ia tidak akan mebiarkan ini berlangsung lama. Putranya akan mengambil alih perusahaan apa pun caranya
"Ibu bilang Tenang! bagaimana aku bisa tenang? posisiku di perusahaan ini tidak ada artinya bu." Adnan membentak ibunya dengan kemarahan mencapai puncaknya.
Sementara itu, Cristian sudah berada di ruangan khusus bersam dengan Ayah dan juga asistennya.
"Ini adalah ruanganmu Nak." Cristian bersama dengan Gery masuk ke dalam ruangan ayahnya. Ruangan di mana Tuan Mahendra menghabiskan waktunya sebagai CEO tapi saat ini Ia bisa tenang karena putranya menjadi penerus kekuasaanya.
"Selamat Nak! kau sudah menjadi CEO baru di perusahaan ini, ayah yakin kau akan menjadi pemimpin yang baik." Tuan Mahendra memeluk putranya.
"Terima kasih ayah, aku akan membuat ayah bangga." Balas Cristian.
"Kau bisa memilih sekretaris untuk membantumu bekerja." Saran Tuan Mahendra kepada putranya.
"Aku akan memikirkannya, Aku sudah punya Asisten yang akan membantuku mengurus segalanya."
Tuan Mahendra menatap Gery yang sedang menunduk hormat kepada Tuan Mahendra.
"Saya akan bekerja dengan baik Tuan."
"Baiklah! Terima kasih sudah menemani putraku dan menjaganya selama ini." Tuan Mahendra memeluk Gery. Ia tahu Gery adalah pria yang baik dan setia kepada Cristian.
__ADS_1
******
Di mansion Tuan Mahendra.
Clarisa bersama dengan Sarah sedang berbicara dengan serius. Clarisa memberikan misi penting kepada Sarah.
"Aku ingin kau melakukan rencana ini dengan baik, tapi ingat jangan sampai kau terjebak dalam rencana ini, berhati-hatilah karena rencana ini sangat berbahaya." Perintah Clarisa.
"Baik nona, saya akan melakukannya dengan hati-hati." Jawab Sarah.
"Kau akan menyesal sudah berurusan denganku Jenny, adikku yang malang pembalasan akan segera di mulai." Batin Clarisa.
Ia sudah menyiapkan rencana besar untuk membuat hidup Jenny dan juga Sandra menderita. Sama seperti apa yang sudah mereka lakukan.
Sementara itu, di tempat lain. Maharani menerima informasi dari anak buahnya yang Ia tugaskan untuk mencari data tentang Clarisa wanita yang menjadi menantunya itu.
"Kami sudah menyelidiki tentang wanita itu nyonya, ini informasi tentang wanita itu nyonya." Anak buahnya menyerahkan beberapa lembar kertas hasil penyelidikannya. Maharani menerima kertas tersebut dan mulai membaca setiap detail informasi yang terdapat di dalam lembaran kertas tersebut.
"Aku yakin wanita itu bukanlah wanita biasa, aku yakin dia menikah dengan Cristian karena maksud tertentu, aku akan mencari tahu sendiri." Guman Maharani.
"Kalian pergilah!" Perintah Maharani.
******
Di mansion Tuan Abraham.
Alvaro dan Sandra sedang sangat kesal karena anak buahnya tidak bisa menemukan orang yang mendengar pembicaraan rahasianya. Ia tidak ingin ada yang tahu tentang rencananya.
Buuug....
Anak buah yang ditugaskan untuk mencari dan menangkap orang yang mendengarkan pembicaraannya mati seketika karena Ia gagal melakukan perintah dari Alvaro.
"Dasar tidak berguna, kalian bereskan mayat laki-laki ini dan aku ingin kalian memeriksa CCTV di setiap sudut ruangan ini." Perintah Alvaro.
"Ba-baik tuan." Seluruh anak buah Alvaro menjawab dengan wajah penuh ketakutan dan segera pergi melaksanakan perintah tuannya.
"Kami sudah memeriksa CCTV setiap ruangan di mansion ini tuan, ka-kami ti-tidak menemukan siapa pun tuan, kemungkinan tidak ada yang menguping pembicaan tuan dan Nyonya." Salah satu anak buah menyampaikan hasil temuannya dengan takut.
Braaakkkk....
Alvaro memukul meja di depannya dengan keras.
"Dasar bodoh dan tidak berguna, kau pikir benda itu akan jatuh dengan sendirinya hah." Bentaknya.
"Aku yakin ada seseorang yang masuk dan orang itu bukanlah orang biasa, dia pasti tahu di mana letak setiap CCTV di ruangan ini."
"Tananglah pah, Orang itu tidak akan macam-macam, dia tidak punya bukti apa pun jika kita bersalah, Kita akan segera menemukan dan menangkapnya."
"Kita pasti akan menemukannya." Ucap Sandra begitu yakin.
******
__ADS_1
Di apartemen Radit. Jenny sedang tertidur di ruangan tamu di lantai dingin. Ia menatap nanar foto Radit. Kesadarannya belum pulih sepenuhnya. Air matanya sudah mengering karena menangis sejak semalaman. Penampilan Jenny sungguh sangat berantakan.
Di luar apartemen sudah berdiri seorang wanita paruh baya dengan membawa rantang berisi makanan ditangannya. Wanita itu adalah Dahlia ibu Radit.
"Aku ingin memberi kejutan untuk putraku dan juga menantuku." Gumamnya pelan.
Ia menekan kode apartemen putranya. Tangannya gemetar, kedua matanya melebar sempurna. Ia menjatuhkan rantang di tangannya saking terkejutnya dengan pemandangan di depan matanya. Bagaimana tidak kamar Radit seperti baru saja di masuki oleh pencuri. Seluruh barang-barang berjatuhan di lantai berserakan dan sebagain ada yang pecah hancur berkeping.
"Ap-apa yang terjadi?"
"Radit.. Jenny kalian di mana?" Teriak Dahlia mencari putra dan mennatunya namun, tak ada jawaban.
Dahlia berjalan masuk dan menemukan Jenny tergeletak di lantai dengan botol wine masih di genggam di tangannya.
"Jenny apa yang kau lakukan?" Dahlia mendekati Jenny.
"Kau mabuk hah?" Jenny belum juga membuka matanya.
Dahlia mengambil segelas air dan menyiramnya ke wajah Jenny.
"Kurang ajar...?" Jenny membuka matanya dan pandangannya kabur. Ia mengira orang yang ada di depannya adalah Radit.
"Kenapa kau jahat Radit.. Aku membencimu... ka-Kau tidak mau menyentuhku, ap-apa kau masih mencintai wanita murahan itu, aku akan membuatmu menyesal Radit, Da-dasar Jahat." Jenny berjalan mendekat dan ingin memukul Dahlia yang Ia kira Radit.
"Sadarlah Jenny! Kau sedang mabuk hah, Dasar wanita kurang ajar."
Plaaakkkkk....
Dahlia melayangkan tamparan keras di wajah Jenny agar wanita itu segera sadar. Hal yang sangat memalukan yang di lakukan oleh Jenny membuat Dahlia sangat marah dan kesal.
"Ka-kau menamparku Radit, Hikkkssssss......" Tangisnya pecah.
Dahlia mengambil air yang ada di gelas kaca lagi dan menyiramnya ke wajah Jenny.
Byuuurrr....
"Sadarlah!" Ucap Dahlia.
Jenny berusaha mengumpulkan kesadarannya. Ia mengucek matanya dengan pelan. Tubuhnya seketika lemas. Wajahnya menjadi pucat pasi. Orang yang Ia lihat bukanlah Radit melainkan ibu mertuanya.
"Ibu maafkan aku, aku benar-benar menyesal, tolong maafkan aku bu. Hikkssss...." Ucapnya dengan isak tangis.
"Kau membuat ibu kecewa Jenny, di mana suamimu hah!"
Jenny hanya menggeleng tidak tahu kemana Radit pergi. Sejak semalam Radit bahkan tidak pulang.
"Aku tidak tahu bu, Radit bahkan tidak ingin mengangkat telefon dariku." Jenny masih duduk lemah di lantai.
Jenny tidak menyangka ibu mertuanya akan melihat dirinya dalam keadaan seperti ini. Keadaanya yang sedang kacau dan tentu saja ibu mertuanya akan menilai dirinya sebagai menantu yang buruk. Dahlia selama ini bersikap baik dan menganggap Jenny adalah wanita yang anggun dan baik. Tenyata Ia salah menilai menantunya itu bukanlah wanita anggun dan baik hati melainkan wanita naif yang pandai membohongi semua orang dengan sifat lugu dan polosnya. Ia tak lebih dari rubah betina, licik dan tidak tahu malu. Matanya seolah terbuka lebar dengan kejadian yang Ia lihat hari ini.
Dahlia mengambil ponsel dan menghubungi nomor putranya.
__ADS_1
Bersambungggg.....