
Pesta pengangkatan Alvaro sebagai CEO Abraham Grup harus tertunda hingga batas waktu yang tak ditentukan. Para pemegang saham belum memutuskan siapa CEO yang akan mengurus perusahaan Abraham Grup. Untuk sementara waktu Alvaro masih memegang jabatan sebagai CEO sementara sampai kasus Clarisa yang menghilang di hari pernikahannya bisa diungkap oleh pihak berwajib.
Kejadian di pesta itu membuat media semakin yakin bahwa sesuatu yang buruk telah terjadi kepada Clarisa. Media sosial kembali dihebohkan dengan berita bahwa Clarisa tidaklah berselingkuh dan kabur dengan laki-laki lain di hari pernikahannya melainkan Clarisa diculik oleh seseorang saat hari pernikahannya. Sontak saja para netizen menjadi heboh dan berita tersebut menarik perhatian para media dan juga kasus tersebut akan diusut oleh pihak yang berwajib.
Kemarahan Alvaro semakin besar saat mengetahui bahwa kasus menghilangnya Clarisa akan ditangani oleh polisi. Ia takut polisi akan mengetahui bahwa dirinya terlibat dalam peristiwa menghilangnya Clarisa Abraham pewaris tunggal kekayaan keluarga Abraham.
Alvaro, Sandra dan Jenny juga Radit kembali ke mansion dengan perasaan kecewa dan juga masih menyisahkan kemarahan. Alvaro langsung masuk ke dalam kamarnya diikuti oleh Sandra istrinya.
“Siaaallllll, selangkah lagi rencanaku akan berhasil dan semua ini harus gagal karena seseorang, aku akan memenggal kepala orang yang berani menghancurkan rencanaku.”
Prankkkk.... Alvaro membanting vas bunga yang ada di nakas. Ia meluapkan seluruh kemarahannya dengan benda-benda yang ada di kamarnya.
Kemarahan Alvaro sudah menembus ubun-ubunnya. Wajahnya merah padam dengan tangannya yang mengepal kuat, seluruh urat-uratnya bahkan terlihat dengan jelas. Rambutnya terlihat acak-acakan. Ia mondar-mandir dengan tidak jelas dan sesekali menghembuskan nafasnya dengan kasar. Kamar yang tadinya begitu rapi terlihat sangan berantakan.
“Tenanglah pah! Anak buah kita sedang mencari orang yang berani menggagalkan rencana kita malam ini.”
“Tenang! Kau bilang aku harus tenang hah.” Bentaknya dengan tangan mengepal kuat dan...
Prankkkk...
Lagi-lagi Alvaro membanting benda yang ada di dekatnya. Membuat nyali Sandra sedikit menciut. Namun, Hal ini sudah sering Ia lihat dan Ia sudah biasa menghadapi kemarahan suaminya itu.
“Apa kau yakin anak buahmu sudah melenyapkan Anak itu hah?” Tanya Alvaro dengan raut wajah menahan amarahnya. Suaranya terdengar membentak istrinya.
“Ak-aku yakin Clarisa sudah mati malam itu, anak buahku sudah memastikannya pah.” Ucap Sandra terbata-bata, Ia berjalan mendekati Alvaro berusaha untuk menenangkan suaminya yang sudah meledak amarahnya. Walau Ia juga takut dengan suaminya jika sedang marah namun, Ia tidak punya pilihan lain selain membujuk dan menenangkan suaminya yang sedang marah jika tidak maka seluruh barang yang ada di kamarnya akan hancur lebur.
Alvaro memiliki temperamen yang mudah meledak jika sesuatu tak berjalan sesuai dengan keinginannya.
“Panggil anak buahmu yang kau tugaskan malam itu, aku ingin berbicara dengannya sekarang juga.” Perintahnya.
“Ba-baik Pah!” Sandra segera keluar kamar dan menyuruh Radit memanggil anak buahnya yang sedang berjaga di luar mansion.
“Bagaimana keadaan papa, Mah?” Tanya Jenny dengan raut wajah khawatir karena mendengar keributan dari kamar papanya.
“Kau tenanglah! Papamu hanya sedang kesal saja, mama sudah membuat papamu lebih tenang, kau pulanglah dan istirahat bersama suamimu, biar mama yang mengurus papahmu, kau harus melakukan rencanamu malam ini, jangan menundanya lagi, jangan membuat mama kecewa denganmu, kau paham.” Perintah Sandra kepada putrinya dengan berbisik.
“Aku tidak akan membuat mama kecewa, malam ini aku pasti berhasil, mama tenang saja.” Jawab Jenny.
“Bagus, kau mamang putri kebanggaanku.” Ucap Sandra.
“jika terjadi sesuatu dengan papa, mama hubungi aku.” Ucap Jenny.
“Tentu.”
Radit masuk bersama beberapa anak buah kepercayaan Sandra. Sekitar lima orang dengan tubuh kekar sudah berdiri di depannya.
“Terima kasih Nak Radit, Kalian pulanglah dan istirahat, biar mama yang mengurus papa.” Perintah Sandra kepada Radit.
__ADS_1
Di benak Radit tersimpan banyak pertanyaan yang ingin Ia tanyakan mengenai apa yang sebenarnya terjadi dengan Clarisa. Namun, Ia urungkan niatnya untuk menanyakan hal itu, Ia sendiri akan menyelidiki sebenarnya apa yang terjadi. Ia juga tidak ingin menanyakan kepada Sandra apalagi situasi saat ini sedang kacau.
Akhirnya Radit memilih untuk pulang ke apartemen bersama dengan Jenny istrinya. Sepanjang perjalanan Radit hanya diam memandang jalanan yang tampak lengah, tak ada lagi kendaraan yang berlalu lalang karena malam yang semakin larut.
Radit tenggelam dalam pikirannya, Jenny yang berada di sampingnya hanya bisa melirik Radit sekilas. Ia tidak berani untuk berbicara dan memilih diam saja. Wajahnya terlihat pucat, Ia takut Radit akan mengetahui yang sebenarnya.
Bagaimana jika Radit tahu tentang peristiwa di hari pernikahannya dengan Clarisa. Tidak... Radit tidak boleh tahu tentang peristiwa itu, Tidak akan aku biarkan rahasia itu terbongkar, aku harus bergerak cepat agar Radit menjadi milikku dan tidak akan pernah meninggalkan aku, malam ini aku harus melakukan rencanaku. Batin Jenny.
Tangannya saling meremas dan Ia menatap keluar jendela mobil berusaha menghilangkan kecemasan di wajahnya.
Apa yang sebenarnya terjadi? Apa aku melewatkan sesuatu di hari pernikahanku dengan Clarisa? Bagaimana jika Clarisa benar-benar diculik dan tidak kabur dengan laki-laki lain?. Batin Radit dipenuhi banyak pertanyaan yang membuat kepalanya serasa ingin meledak.
Sampai saat ini dipikirkan Radit masih ada Clarisa. Hatinya masih sangat mencintai Clarisa. Gadis yang menjadi cinta pertamanya itu tidak akan mudah ia lupakan begitu saja.
“Sialll....” Gumam Radit dengan mencengkeram kuat setir mobilnya.
“Apa terjadi sesuatu sayang?” Jenny yang melihat Radit dengan wajah Kesal memberanikan dirinya untuk bertanya.
“Tidak apa.” Jawab Radit datar.
Radit melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh agar lebih cepat sampai di apartemennya dan Istirahat. Akhirnya mereka sampai di apartemen, Radit dan Jenny langsung masuk ke dalam kamar mereka.
Radit segera menghempaskan tubuhnya di atas kasur dan memilih untuk istirahat karena tubuhnya yang lelah. Sementara Jenny masuk ke dalam kamar mandi memilih mandi untuk merilekskan tubuhnya dan juga menjalankan rencananya malam ini.
Jenny menatap pantulan dirinya di dalam cermin dengan lingeria merah muda semakin menambah kecantikannya. Ia juga sudah memakai make up dan juga parfum kesukaan Radit. Malam ini Ia harus berhasil merayu Radit agar mau melakukan hubungan suami istri dengannya.
“Malam ini kau harus menjadi milikku Radit, aku berhak melakukannya denganmu, kau adalah saumiku dan tidak akan aku biarkan kau memikirkan Clarisa yang sudah mati.” Guman Jenny.
Ia menatap Radit yang sudah terlelap di tempat tidurnya. Perlahan Ia merangkak naik ke atas tempat tidur di samping Radit. Jenny membelai lembut wajah tampan suaminya.
“Sayang... apa kau tidur?” Tanyanya.
Jenny sudah duduk di atas perut Radit dan berusaha untuk mencium bibir suaminya. Radit segera membuka matanya dengan pelan dan langsung bangun dengan terkejut sambil berkata. “ apa yang kau lakukan hah?” Bentak Radit.
“Aku hanya ingin menjalankan kewajibanku sebagai seorang istri, apa itu salah?” Tanya Jenny menatap kesal ke arah Radit.
“Apa kau lupa dengan janjimu? kau akan menunggu sampai aku sendiri yang menginginkannya.” Ucap Radit mengingatkan Jenny.
“Kenapa Radit? Apa aku salah jika memintanya, aku mencintaimu Radit dan aku ingin hidup bahagia denganmu dan menjadi istri yang baik untukmu.” Ucap Jenny dengan suara parau menahan tangisnya.
“Sudahlah! Jangan berdebat lagi aku sangat lelah dan ingin istirahat. Sebaiknya aku tidur di kamar tamu saja dan kau tidurlah di kamar ini, jangan mengganggu ku lagi.” Radit berjalan keluar dari kamarnya tanpa peduli dengan kesedihan istrinya.
“Radit tunggu, aku minta maaf.” Jenny berjalan turun dari tempat tidur dan berusaha mengejar Radit.
Namun sayang Radit sudah masuk ke dalam kamar dan mengunci kamar tersebut.
“Aku minta maaf sayang, buka pintunya Dit, aku tidak akan mengulanginya lagi, maafkan aku.” Pinta Jenny memohon di depan pintu kamar Radit.
__ADS_1
Radit tidak peduli dengan ucapan istrinya dan memilih tidur.
Kekesalan Jenny naik sampai ubun-ubunnya. Ia kembali ke kamarnya dengan perasaan sedih dan air mata yang terus menetes di pelupuk matanya. Ia menatap dirinya di balik pantulan cermin.
“Akhhhhhhhhhhh..... kenapa harus seperti ini?” Tanyanya.
Prankkkk....
Seluruh alat make up yang tertata rapi di atas meja riasnya hancur berantakan terjatuh di lantai kamarnya. Bersama dirinya yang juga ikut terduduk lemas di lantai dingin itu. Sia-sia sudah usahanya merayu Radit. Bahkan Radit tidak meliriknya sedikit pun.
Tidak hanya satu kali Jenny berusaha merayu Radit agar mau melakukannya. Ia bahkan pernah memasukkan obat perangsang di minuman Radit. Tapi sayang Radit malah lebih memilih menahan hasratnya dengan berbagai cara. Sungguh hati Jenny sangat terluka. Pernikahannya hanya lah semata-mata untuk melindungi nama baik keluarga. Ia hanya berpura-pura bahagia di depan semua orang. Radit tidak pernah menganggapnya ada dan sebagai istrinya. Kebencian Jenny semakin berlipat kepada Clarisa.
“Kau harus menjadi milikku Radit apapun caranya, aku tidak akan melepaskanmu, aku sangat mencintaimu Radit bahkan ketika kau masih menjadi kekasih Clarisa.” Lirih Jenny dengan tangannya mengepal kuat. Air matanya sudah habis untuk menangisi nasibnya.
******
Sementara itu, di mansion Abraham. Alvaro sudah berada di ruang kerja bersama dengan lima orang anak buah Sandra. Kamarnya sedang dibersihkan oleh pelayan.
“Apa kalian sudah membunuh anak itu?” Tanyanya dengan tatapan tajam siap ******* habis apa yang ada di depannya saat ini.
“Ka-kami su-sudah membunuhnya malam itu tuan.” Jawab salah satu anak buahnya dengan terbata-bata karena ketakutan.
“Benar tuan, kami mengikat tangan dan kaki gadis itu dan membuangnya ke dalam danau, gadis itu sudah mati dimakan buaya tuan.” Timpal salah satu anak buah yang lainnya.
“Apa kau yakin dengan apa yang kau ucapkan?” Tanya Alvaro dengan melirik tajam setiap anak buah istri ya secara bergantian. Ia hanya ingin memastikan bahwa kecurigaannya tidak benar.
Alvaro curiga jika Clarisa masih hidup dan akan membalas dendam kepadanya .
“Kami sangat yakin tuan.”
“Kalian keluarlah!” perintah Alvaro.
“Baik tuan.”
Alvaro menenggak wine di gelasnya hingga tandas dan menatap Istrinya.
“Mungkin saja orang yang mengacaukan pesta itu adalah lawan bisnis papa.” Tebak Sandra.
“Kau mungkin benar.” Jawab Alvaro.
Bersambung....
__ADS_1