
Dahlia mengambil ponsel dan menghubungi nomor putranya. Namun, ponsel Radit tidak bisa dihubungi membuat Dahlia semakin marah. Dahlia merasa kesal dan meninggalkan Jenny yang masih terduduk lemah di lantai apartemen.
Jenny menatap nanar kepergian ibu mertuanya. Bibirnya keluh untuk berbicara membela dirinya. Biarlah Ia buruk di mata mertuanya. Tidal ada lagi yang bisa Ia tutupi. Sungguh pernikahnnya dengan Radit membuat hidupnya menderita.
Sementara itu, Clarisa yang menerima telefon dari suaminya memutuskan untuk menemuinya karena Cristian ingin mengajaknya makan siang dan ingin membicarakan sesuatu yang penting dengannya.
Clarisa berangkat sendiri ke perusaahan suaminya tanpa di temani oleh Sarah. Saat ini Sarah sedang menjalankan misi yang diberikan oleh Clarisa.
Di perusahaan Mahendra Grup, Cristian tampak sibuk membaca laporan keuangan perusahaan. Ia ingin memastikan semua baik-baik saja dan tidak terjadi kecurangan di perusahaan ayahnya.
"Aku ingin kau menyelidiki laporan keuangan perusaahaan, aku rasa ada yang tidak beres dengan laporan ini." Perintahnya kepada asistennya Gery.
"Baik tuan."
"Perusahaan Abraham Grup mengajukan kerjasama Tuan." Ucap Gery.
"Sudah kuduga, mereka pasti akan mengajukan kerjasama, Hubungan Jane dan Adnan tidak lebih karena hubungan kerjasama antara perusahaan, aku yakin Wanita itu tidaklah tulus menyukai Adnan dan memiliki niat terselubung."
"Saya akan menyelidikinya tuan."
"Aku akan menerima kerjasama perusahaan itu dan kau tahu apa yang harus kau lakukan selanjutnya."
"Baik tuan."
"Saya sudah menyelidiki tentang tuan Alvaro, Tuan Alvaro baru saja menemui pengacara keluarga nona Clarisa dan sepertinya rencananya untuk menguasai harta nona Clarisa untuk saat ini gagal tuan, mereka akan menunggu sampai satu bulan setelah polisi menghentikan kasus pencarian hilangnya nona Clarisa." Gery menyampaikan informasi yang Ia ketahui.
"Bagus, aku ingin rencananya menguasai harta istriku gagal, kau tahu apa yang harus kau lakukan selanjutnya."
"Tentu tuan."
Waktu bergulir begitu cepat, para staff meninggalkan perusahaan untuk mengisi perut mereka yang lapar dan mengumpulkan kembali energi. Karena waktu makan siang telah tiba.
Sementara itu, Jane datang ke perusahaan, tentu saja untuk bertemu dengan tunangannya Adnan Mahendra. Staff mengantar Jane menuju ruangan Adnan yang terletak berseblahan dengan ruangan Cristian. Jane berhenti sebentar dan berdiri menatap papan nama yang tertera di pintu ruangan Cristian.
"Ruangan tuan Adnan ada di sebalah sana nona, mari saya antar!" Ucap Staff wanita itu lembut saat Ia melihat Jane hanya berdiri mematung di depan ruangan Cristian seperti memikirkan sesuatu.
"Terima kasih sudah mengantarku, kau pergilah, aku akan masuk nanti." Ucapnya kepada staf wanita dengan ramah. Tentu saja sikap ramahnya hanya palsu.
"Tapi nona--"
__ADS_1
"Apa kau tidak dengar yang aku katakan?" Bentak Jane. Ia merasa kesal saat menatap ruangan Cristian dan melampiaskan kekesalannya kepada staff wanita yang mengantarnya.
"Ba-baik nona." Staff wanita itu meninggalkan Jane dengan perasaan kesal karena Jane tiba-tiba saja membentaknya.
Cekklleekkkk....
Jane masuk ke dalam ruangang Cristian dan menemukan Cristian dan Gery sedang berbicara serius.
"Apa yang kau lakukan disini nona Jane?" Tanya Gery yang terkejut mengapa Jane tiba-tiba saja ada di ruangan ini. Pikirnya.
"Maafkan aku menganggumu kakak ipar, aku datang ingin bertemu dengan tuanganku, tapi sepertinya aku salah masuk ke ruangan ini, maafkan aku kakak ipar." Ucapnya.
"Apa anda tidak bisa membaca nona, di depan pintu itu sudah tertulis dengan jelas nama tuan Cristian." Ucap Gery kesal dengan wanita yang sok polos seperti Jane.
"Apa aku salah jika ingin bertemu dengan kakak ipar? apa kakak ipar sudah makan siang?" Tanyanya dengan wajah luguh. Ia tidak peduli dengan ucapan Gery yang terdengar menghinanya. Jane hanya menatap Gery sekilas dengan tatapan benci.
Cristian hanya menatap jengah Jane dan kembali fokus menatap layar leptop yang ada di depannya. Jane yang ingin berjalan mendekat ke arah Cristian tiba-tiba saja berhenti saat Cristian kembali menatapnya dengan tatapan tajam membuat nyali Jane semakin menciut. Cristian tahu wanita yang ada di depannya saat ini memiliki maksud tertentu.
"Aku sedang menunggu istriku, kau pergilah dan temui tunanganmu, Gery antar dia ke ruangan adikku." Perintah Cristian masih begitu lembut.
"Baik tuan."
"Mari saya antar anda ke ruangan tuan Adnan!"
"Dia bahkan lebih tampan dari tunanganku dan juga dia lebih kaya dari Adnan, aku akan melakukan cara apa pun untuk bisa dekat dengannya." Batin Jane.
Gery membuka pintu ruangan. Ingin rasanya Gery menyeret wanita yang tidak tahu malu itu keluar dari ruangan tuannya. Ia sudah begitu lancang masuk ke dalam ruangan tanpa izin terlebih dahulu. Hubungan Jane dan Cristain tidaklah dekat sehingga Jane harus bebas masuk ke dalam ruangan Cristian begitu saja.
Dan di saat yang bersamaan Clarisa baru saja tiba bersama dengan staf wanita yang tadi mengantar Jane. Clarisa terkejut saat Gery dan Jane keluar dari ruangan suaminya.
"Apa yang kau lakukan di ruangan suamiku adik ipar?"
Pandangan Clarisa menatap kesal dengan Jane. Keduanya saling menatap dengan sorot mata tidak suka. Sementara itu, Staff wanita yang ada di belakang Clarisa menunduk dengan tangan gemetar saat Gery menatapnya dengan tatapan tajam. Ia sudah melakukan kealahan yang besar membiarkan orang memasuki ruangan Cristian begitu saja tanpa membuat janji terlebih dahulu.
"Semoga saja aku tidak dipecat hari ini." Batinnya.
"Maafkan aku, aku tidak tahu kalau ini ruangan kakak ipar, aku pikir ini ruangan kekasihku, maafkan aku yah." Ucapnya diselingi tawa kecil.
"Apa kalian ingin makan siang bersama? Bagaimana kalau kita makan siang bersama, pasti akan sangat menyenangkan?" Tanya Jane dengan senyum tipis di bibirnya. Ia melihat paper Bag yang ada di tangan Clarisa.
__ADS_1
"Terima kasih atas tawaranmu adik ipar, aku rasa tidak perlu." Clarisa tersenyum tipis melihat Jane yang terlihat kesal karena Ia sengaja menolak ajakannya.
"Antar nona Jane ke ruangan yang seharusnya." Perintah Gery kepada Staff wanita itu.
"Tidak perlu, saya bisa sendiri, kalian pikir aku tidak tahu di mana ruangan kekasihku." Jane berlalu menuju ruangan Adnan dengan perasaan kesal.
"Masuklah nona, tuan Cristian sedang menunggu anda." Gery membuka pintu ruangan dan mempersilahkan Clarisa masuk.
"Kau tahu apa kesalahanmu?" Tanya Gery kepada staf wanita yang masih berdiri dengan lututnya yang gemetar.
"Maafkan saya tuan, tolong jangan pecat saya, saya tidak akan melakukan kesalahan lagi." Pintanya.
"Aku akan memotong gajimu bulan ini, kau sudah melakukan kesalahan besar."
"Dan mulai saat ini, aku tidak ingin wanita itu memasuki ruangan tuan Cristian lagi, kau paham?"
"Baik tuan, Terima kasih."
Staff wanita itu berlalu meninggalkan Gery yang masih berdiri diam menatapnya. Ia bersyukur karena Ia tidak di pecat.
Cristian yang melihat kedatangan istrinya segera menutup leptopnya dan menghampirinya. Ia sudah duduk di sofa bersama dengan Clarisa.
"Aku membawakanmu makan siang." Clarisa meletakkan paper beg di atas meja dan mengeluarkan kotak makanan.
"Apa kau memasaknya sendiri?" Tanya Cristian dengan senyum di bibirnya.
"Aku memasaknya sebagai ucapan terima kasih, aku harap kau akan menyukainya."
Degggg......
Hatinya berdegup kencang saat mengetahui bahwa istrinya memasak makan siang untuknya. Ini pertama kalinya Ia akan makan masakan yang di buat oleh istrinya.
"Semoga dia menyukainya." Batin Clarisa.
Cristian menatap makanan yang menggunggah seleranya. Perutnya memang sudah sangat lapar. Ia mulai memasukan makan ke dalam mulutnya dan mulai merasakan rasa makanan buatan istrinya itu.
"Benar-benar enak, ini makan yang paling enak yang pernah aku makan, kau sungguh pandai memasak sayang." Pujian terlontar begitu saja dari bibirnya. Tanpa sadar Ia mengucapkan kata "Sayang" di akhir kalimatnya.
Degggg.....
__ADS_1
Jantung Clarisa berdetak semakin kencang. Mendengar Cristian memuji masakannya membuat wajahnya merona merah. Hatinya bahagia saat Ia melihat suaminya menikmati masakan buatannya. Perasaannya semakin berbunga saat Ia mendengar Cristian memanggilnya "sayang" di saat mereka sedang berdua sungguh hatinya semakin berdegub kencang.
Bersambungggg......