
Cristian berdiri dari duduknya membuat Alvaro dan juga Sandra reflek ikut berdiri juga.
Cristian harus segera kembali menemui istrinya setelah mendapat kabar dari Gery bahwa Clarisa telah berhasil dalam misinya.
Tanpa menunda lagi. Ia segera meninggalkan Sandra dan juga Alvaro yang tampak bingung dan juga terkejut dengan sikap Cristian yang pergi begitu saja. Cristian terlihat terburu-buru dan Ia memang sudah muak dan merasa kesal sejak tadi meladeni Alvaro.
"Maafkan kami tuan Alvaro, Tuan Cristian sedang ada urusan yang sangat penting." Ucap Gery.
"Tidak apa Tuan, kami mengerti." Ucap Alvaro begitu ramah walau Ia juga kesal dengan Cristian yang terlihat arogan dan terkesan tidak menghargainya. Cristian bahkan pergi begitu saja tanpa mengucapkan sepatah kata pun kepada Alvaro.
"Baiklah Tuan Alvaro, saya permisi." Gery menundukkan kepala hormat kepada Alvaro dan segera meninggalkan Alvaro dan Sandra yang terlihat kecewa dan kesal.
"Kenapa lama sekali?" Tanya Cristian yang sudah berada di dalam mobil.
"Maafkan saya Tuan."
"Cepatlah aku sudah tidak sabar ingin bertemu dengan istriku." Sejak tadi Cristian terlihat cemas dan khawatir. Ia bahkan tidak menikmati makan malam ini. Ia hanya fokus memikirkan Clarisa. Ia khwatir terjadi sesuatu yang buruk dengan istrinya.
"Baik tuan."
Sementara Sandra dan Alvaro masih berada di restoran.
"Dia benar-benar sombong." Ucap Sandra begitu kesal. Ini pertama kalinya Ia bertemu dengan Cristian. Tatapan dan cara Cristian berbicara terlihat begitu menekannya. Sandra menyimpulkan jika Cristian adalah sosok yang tidak akan mudah ditundukan oleh siapa pun.
"Tenanglah! Setelah rencana kita berhasil, Tuan muda yang sombong itu akan segera menundukkan kepalanya kepadaku." Alvaro tersenyum licik.
Entah rencana apa lagi yang akan Ia lakukan demi mencapai ambisinya.
******
Mobil melaju dengan kecepatan penuh karena jalanan yang lengang membuat mobil Cristian bisa lebih cepat sampai.
Beberapa menit, akhirnya mobil tiba di markas rahasia Cristian. Clarisa sudah menunggu di markas tersebut. Ia tidak langsung pulang ke mansion tuan Mahendra.
Jhon yang menemani Clarisa sudah menunggu Cristian sejak tadi.
"Dimana istriku?" Tanya Cristian kepada Jhon.
"Nona ada di dalam kamar tuan, maafkan saya tuan, Nona terlihat sangat sedih dan hanya diam sejak tadi."
"Hah."
__ADS_1
Cristian menghela nafasnya kasar. Dengan langkah cepat, Ia segera masuk ke dalam kamar untuk menemui istrinya.
Cristian yang melihat Clarisa terduduk di sisi ranjang dengan tatapan kosong. Segara saja Cristian meraih tubuh istrinya dan memeluknya dengan erat.
"Apa terjadi sesuatu?" Tanya Cristian. Ia mengusap rambut istrinya dengan lembut.
"Hiksss.... Hikssss..."
Tiba-tiba saja Clarisa menangis sesenggukan. Ia baru saja menemukan rahasia tentang masa lalunya. Rahasia yang selama ini disembunyikan darinya. Ia belum siap menerima kenyataan pahit mengenai masa lalunya. Ia butuh waktu untuk bisa menerima semua ini.
Ia merasa dunia ini tidak adil baginya. Bagaimana takdir mempermainkannya. Dadanya terasa sesak. Ia bahkan tidak bisa menerima semua ini dengan mudah.
"Sayang... Katakan apa yang terjadi?"
"Lihat aku!" Cristian menyentuh dagu Clarisa dan menyuruhnya agar menatapnya.
Clarisa menatap wajah Cristian. Terlihat jelas kesedihan di wajah Clarisa. Ia tak bisa lagi menyembunyikan kesedihannya.
"Berjanjilah apa pun yang terjadi nanti, kau tidak akan berubah dan hanya akan percaya denganku." Lirih Clarisa
Cristian menatap lekat wajah istrinya yang terlihat pucat. Cristian tersenyum menatap wajah istrinya. Wanit yang ada di depannya itu selalu bisa membuatnya tenang. Bagaimana Wanita yang memiliki hati yang lembut itu telah melalui banyak penderitaan dalam hidupnya. Hanya kerena manusia rakus dan tamak.
"Aku berjanji sayang.. Apa pun yang terjadi nanti aku akan tetap menggenggam tanganmu dan tidak akan pernah meninggalkanmu, aku akan selalu melindungimu."
Tessss....
Air mata Clarisa masih saja terjatuh. Ia belum bisa berhenti menangis. Entah apa yang membuatnya menjadi lemah malam ini.
"Berhentilah menangis! Aku tidak bisa memafkan diriku jika kau masih bersedih seperti ini, aku tidak akan memaksamu untuk menceritakannya, aku akan menunggu sampai kau siap membagi penderitaanmu denganku." Cristian yang begitu lembut dan pengertian mencoba menenangkan Clarisa yang terlihat begitu bersedih. Ia memeluk dan mengusap lembut punggung istrinya.
Cristian tahu telah terjadi sesuatu kepada istrinya dan Ia akan memberikan waktu agar istrinya itu siap menceritakannya.
"Apa aku bisa mengatakannya kepadamu.... semua akan berubah dan tidak akan sama lagi, kau akan membenciku setelah mengetahui kenyataan ini, aku tidak pantas berada di sisimu, maafkan aku, Kau selalu bisa membuatku nyaman berada di dekatmu." Batin Clarisa.
"Aku akan menceritakannya suatu hari nanti, kau mau kan memberiku waktu?" Clarisa mengusap air matanya dan menatap penuh harap kepada suaminya.
Deggg....Degg....
Jantung Cristian berdebar kencang. Ia selalu saja menyukai wajah istrinya yang terlihat menggemaskan ketika menatapnya.
"Tentu saja sayang, sekarang berjanjilah jangan menangis lagi hemmm."
__ADS_1
Entah mengapa saat melihat wanita yang ada di depannya itu menangis dan bersedih, hati Cristian seolah hancur. Ia tidak ingin istrinya bersedih lagi. Clarisa sudah melalui begitu banyak penderitaan.
Cristian dan Clarisa saling memeluk dengan erat. Keduanya saling menguatkan dan berjanji untuk tidak akan berpisah apa pun yang terjadi nanti
****
Sementara itu, Maharani sedang menunggu seseorang. Ia sejak tadi melihat jam yang melingkar di tanggannya. Ia sudah menunggu hampir satu jam di salah satu ruangan VVIP di bar tersebut. Wajahnya terlihat sangat kesal.
"Kurang ajar, aku bahkan sudah menunggu selama satu jam."
Tak lama kemudian. Pintu ruangan tempat Maharani dibuka oleh seseorang. Maharani yang tampak anggun berdiri dari duduknya. Ia menatap kesal ke arah pria yang berdiri di depannya itu.
"Kau dari mana saja HAH? aku sudah menunggumu selama satu jam." Bentaknya.
"Tenanglah sayang, maafkan aku, aku harus mengurus beberapa hal penting, sebagai permintaan maafku, kau bisa meminta apa pun dariku." Pria itu memeluk Maharani dengan mesra. Ia bahkan mencium bibirnya.
"Kau selalu saja membuatku menunggu." Maharani masih sangat kesal.
"Sekarang katakan apa rencanamu." Tanya pria itu.
"Aku akan keluar Negeri selama beberapa hari, aku akan melakukan rencanaku dan tidak akan menunggu lagi, kau harus membantuku dalam rencana ini, Sudah saatnya tua bangka itu lenyap untuk selama-lamanya, aku sudah muak dengannya."
"Tentu saja sayang, aku akan membantu dan mendukung rencanamu, aku sudah menghubungi anak buahku untuk membantumu selama di luar negeri, lakukan rencamu dengan rapi, jangan sampai ada yang mengetahui tentang rencanamu"
"Setelah tua bangka itu lenyap, Kita bisa menikah dan menguasai seluruh hartanya, secepatnya kau harus menceraikan istrimu setelah rencana kita berhasil selasai... kau paham kan sayaang...." Maharani dengan tindakan menggodanya naik ke atas pangkuan pria itu.
"Tentu saja sayang..., aku hanya mencintaimu." Pria itu menarik Maharani dan membawanya di salah satu kamar yang ada di ruangan itu. Mereka akan menikmati malam ini dengan saling memuaskan.
Di mansion Mahendra. Adnan yang baru saja kembali setelah mengantar Jane kekasihnya segera masuk dan Ia melihat Tuan Mahendra terlihat menunggu di ruang tamu.
"Uhukkkk... Uhukkkkk..." Tuan Mahendra terbatuk-batuk. Wajahnya terlihat pucat. Sejak tadi Ia mencoba menghubungi ponsel istrinya. Namun tak ada jawaban.
"Kau sudah kembali Nak."
"Hemmmm."
"Apa kau tahu kemana ibumu pergi?" Tanya Taun Mahendra kepada Adnan yang terlihat tidak perduli.
"Aku tidak tahu kemana ibu pergi. Aku lelah dan ingin istrihat." Adnan berlalu pergi begitu saja meninggalkan ayahnya yang masih duduk di ruang tamu.
Sejak Ayahnya memilih Cristian sebagai pewaris tunggal seluruh kekayaannya sikap Adnan benar-benar berubah. Ia menjadi dingin dan terkesan tidak peduli dengan kondisi ayahnya. Selama ini, Ia hanya bersikap baik karena menginginkan sesuatu.
__ADS_1
"Uhukkk....Uhukkkk" Tuan Mahendra yang sudah tua mulai sakit-sakitan. Ia mengambil ponselnya dan berniat menghubungi Cristian dan menyuruhnya untuk kembali. Entah mengapa Ia begitu merindukan putra dan menantunya itu.
Bersambungggg.....