PEMBALASAN DENDAM CLARISA

PEMBALASAN DENDAM CLARISA
Episode 22 : Peristiwa Tragis di Masa Lalu


__ADS_3

Suasana malam yang mencekam, suara burung hantu dan lolongan anjing menambah kengerian malam itu, Angin bertiup cukup kencang menusuk hingga ke tulang, Malam semakin larut, Di tengah hutan yang lebat seorang wanita dengan putranya berlari dengan sekuat tenaga. Beberapa pria bertubuh tinggi mengejarnya dengan membawa senjata. Malam itu cukup mencekam. Ia dan putranya berusaha lari dari kejaran penjahat yang berniat membunuhnya.


"Ibu aku lelah." lirih anak berusia 10 tahun tersebut.


"Kita harus tetap berlari sayang... Naiklah di punggung ibu, ibu akan menggendong mu".


Wanita tersebut berlari dengan putranya yang ada di gendongannya. Ia tidak mungkin meninggalkan putranya sendiri. Ia akan melindungi putranya apa pun yang terjadi.


Peluh dan keringat bercucuran di wajah wanita berusia 45 tahun tersebut. Dengan sisa tenaga yang Ia miliki. Wanita tersebut menggendong putranya dan berlari menghindari kejaran para penjahat. Seluruh tubuhnya terasa sangat lelah, Ia sudah berlari selama 2 jam, berlari tanpa henti berharap agar Ia dan putranya tidak akan tertangkap, sesekali ke duanya beristirahat di bawah pohon yang rimbun.


"Apa kalian sudah menemukan mereka?"


"Kami belum menemukannya tuan."


"Bodoh... cepat cari dan tangkap mereka."


"Baik tuan."


"Kalian berpencar dan cari mereka sampai dapat, kalian paham!" Titah sang bos kepada para anak buahnya.


"Siap bos."


Para penjahat itu berpencar ke segala penjuru hutan untuk menemukan keberadaan Wanita dan putranya tersebut. Pendar cahaya yang gelap membuat Indra penglihatan penjahat itu terbatas.


Wanita paruh bayah itu masih terus berlari entah ke mana. Ia berlari tanpa arah berusaha agar Ia dan putranya tidak tertangkap. Wanita itu terjatuh karena lelah. Malam yang gelap membuat Indra penglihatannya terbatas. Ia dan putranya bersandar di pohon yang berukuran cukup besar. Wanita itu dengan susah payah mengatur nafasnya.


Hufffff.... hufffff.....


Dadanya kembang-kempis seirama dengan tarikan nafasnya. Sesekali Ia menghirup udara dan menghembuskannya dengan pelan. Wanita paruh baya itu berusaha mengatur nafasnya yang terasa sesak akibat berlari terlalu lama.


"Ibu kita mau ke mana?" Tanya sang anak.


"Ibu tidak tahu Nak, maafkan ibu sayang, berjanjilah kau akan melindungi dirimu, jika mereka menemukan kita, kau harus pergi meninggalkan ibu." Ucap sang ibu kepada putranya.


Wanita itu memeluk putranya dan mencium kening sang anak. Ia tahu hidupnya pasti akan berakhir malam ini. Tidak peduli apa yang akan terjadi nanti. Putranya harus tetap hidup. Ia akan melindungi sang putra. Tidak peduli jika Ia sendiri harus kehilangan nyawanya malam ini.


Sang anak menggeleng pelan. Ia tidak ingin meninggalkan wanita yang sangat Ia sayangi tersebut. Anak 10 tahun itu harus mengalami peristiwa yang mengerikan yang tidak akan pernah Ia lupakan seumur hidupnya. Anak 10 tahun itu tak lain adalah Cristian Mahendra dan wanita yang bersamanya adalah ibu Cristian. Seseorang telah menyuruh para penjahat untuk membunuh keduanya.


"Tian mau ikut ibu, Tian tidak akan meninggalkan ibu sendiri, Tian akan melindungi ibu." Cristian kecil menatap wajah wanita yang melahirkannya dengan penuh cinta. Tangan mungilnya mengusap wajah sang ibu dengan penuh kasih sayang. Ia berjanji kepada dirinya sendiri untuk melindungi ibunya apa pun yang terjadi.


"Terima kasih sayang, ibu sangat menyayangimu." Wanita itu memeluk Cristian dan mencium pucuk kepala putranya.


Malam semakin larut, suasana bertambah mencekam. Suara lolongan anjing menjadi pelengkap betapa menyeramkan suasana malam itu. Cristian dan juga ibunya terus berlari mencari tempat untuk bersembunyi. Sepertinya hujan akan turun terlihat dari kilatan cahaya petir dan suara gemuruh yang saling bersahutan. Tak lama kemudian, hujan turun dengan lebatnya.


Cristian dan ibunya berharap mereka bisa melewati malam ini. Malam yang tidak akan bisa mereka berdua lupakan. Malam yang sangat menakutkan dan mencekam. Peristiwa mengerikan yang terjadi malam ini membuat Cristian kecil ketakutan dan trauma.


Para penjahat itu tidak menyerah mereka terus mencari, mencari ke segala penjuru hutan. Sampai akhirnya....


"Itu mereka, cepat tangkap mereka!"


Akhirnya penjahat itu menemukan Cristian dan ibunya yang sedang berlari.

__ADS_1


Dooorrrr......


Suara tembakan terdengar menggema bersama dengan suara petir yang menggelegar.


Doooorrrr.. Para penjahat itu terus menembaki Cristian dan ibunya yang sedang berlari.


"Ayo nak kita harus terus berlari!"


Cristian bersama ibunya berlari menghindari tembakan para penjahat yang sejak tadi terus menembaki mereka.


Dooorrrr.....


"Akhhhhhhh....." Ibu Cristian terkena tembakan pada lengannya. Ia terjatuh dan tersungkur. Lengannya di penuhi darah yang bercucuran. Tubuhnya sangat lemah. Wanita itu merintih kesakitan menahan luka di lengannya.


"Ibuuuuuu..... Hikkksssss..... ibu...... hikkksssss...." Cristian dengan tangan mungilnya berusaha merengkuh tubuh sang ibu ke dalam dekapannya.


Wanita paruh bayah itu memegang lengannya. Ia berusaha menahan rasa sakitnya. Tubuhnya yang begitu lemah terus berlari, Ia tidak memiliki sisa tenaga lagi. Wanita itu pasrah jika Ia harus mati malam ini. Ia tidak akan bisa melindungi dirinya lagi.


"Sayang... pergilah, Ibu tidak Kuat lagi Nak, ka-kau harus me-lindungi di-rimu Nak." Perintah sang ibu ke pada Cristian dengan suara yang semakin melemah. Tenggorokannya terasa tercekat. Tubuhnya tak lagi bisa berlari.


"Tian akan melindungi ibu, Tian tidak mau pergi,Tian akan tetap bersama ibu."


"Ti-an anak i-bu, Pergilah Nak, I-bu Mo-hon.


Cristian tetap tidak ingin meninggalkan sang ibu yang terbaring lemah. Para penjahat semakin mendekat ke arah mereka berdua.


"Cepat pergi sayang." Titah sang ibu kepada Cristian.


Akhirnya Cristian berlari melindungi dirinya. Ia tidak punya pilihan lain. Cristian sangat ketakutan. Cristian kecil bersembunyi di semak-semak tak jauh dari tempat sang ibu terbaring. Ia terus mengawasi sang ibu.


"Da-sar brengsek, ka-kau penghianat." Dengan suara bergetar, ibu Cristian mencoba sekuat tenaga untuk melawan parah penjahat itu.


"Katakan atau aku akan menembak kepala mu, nyonya." Pria itu berjongkok menarik rambut wanita tersebut.


"Cihhhhh.... Bajingan, penghianat, kau akan mati membusuk, Ingatlah karma pasti akan mengejarmu." Ibu Cristian memberi peringatan dengan penuh emosi dan kilatan kebencian terlihat jelas di pelupuk matanya.


"Bersiaplah untuk mati." Pria itu berdiri bersiap untuk Manarik pelatuk senjata yang ada ditangannya.


Cristian yang melihat sang ibu berada di ujung kematian. Ia ketakutan setengah mati. Cristian hanya bisa menutup mulutnya menggunakan tangan. Sebisa mungkin Ia tidak ingin mengeluarkan suaranya.


"Hikksssss... ibu." Cristian ingin menolong ibunya. Namun, ibunya menyuruhnya untuk tetap berada di tempatnya. Dengan menggunakan isyarat tangan menyuruh putranya untuk tetap diam tak bergerak. Ibu Cristian hanya bis menutup matanya. Ia sudah rela jika malam ini nyawanya harus berakhir di tangan penjahat itu, yang penting putranya bisa selamat.


Dooooorrrrrrr......


Suara senjata menggema di tengah hutan yang lebat. Suara tembakan itu mengalahkan suara gemuruh petir yang sejak tadi tak berhenti.


Peluru tepat mengenai kepala ibu Cristian dan Ia meninggal di tempat. Cristian yang menyaksikan kejadian itu semakin ketakutan, Ia ingin berteriak, tetapi tenggorokannya terasa tercekat, seluruh tubuhnya tiba-tiba saja tidak bisa bergerak. Cristian hanya duduk diam tak bergeming. Sungguh ia ketakutan dan trauma menyaksikan ibunya yang dibunuh di depan matanya. Cristian hanya bisa menangis dalam diam. Cristian memeluk lututnya dan menenggelamkan wajahnya diantara lututnya yang Ia lipat. Tubuhnya bergetar karena menahan tangis.


"Cepat cari anak itu dan bunuh dia." Perintah pria yang tadi menembak kepala ibu Cristian.


Setelah melenyapkan Ibu Cristian, Para penjahat itu meninggalkan mayat ibu Cristian begitu saja. Para penjahat itu terus mencari keberadaan Cristian kecil. Melihat para penjahat telah pergi, Cristian dengan langkah pelan keluar dari persembunyiannya dan menghampiri jasad sang ibu.

__ADS_1


"Ibu... bangun, Tian takut Bu, jangan pergi tinggali Tian Bu, Hikkksssssss ..." Cristian kecil terus menggoyangkan tubuh ibunya yang terbujur kaku.


Cristian tidur di samping jasad sang ibu. Ia tidak ingin meninggalkan ibunya seorang diri. Cristian memeluk tubuh sang ibu dan Ia pun terlelap dalam alam tidurnya.


Kicauan burung terdengar merdu, perlahan matahari merangkak naik, Sinar matahari menghangatkan kulit Cristian yang menggigil karena kedinginan. Cristian terus menatap jazad sang ibu, Ia menggunjang tubuh ibunya berharap sang ibu akan segera bangun. Cukup lama Cristian menunggu agar sang ibu segera terbangun tetapi tak juga sang ibu membuka matanya.


"Bangun Bu! Tian takut sendiri, jangan tinggalin Tian Bu." Cristian terus menggoyang-goyangkan tubuh ibunya yang terbujur kaku. Cristian sadar bahwa saat ini ibunya telah pergi untuk selamanya. Ia sekarang sendiri di tengah hutan. Cristian terus menangis dengan penuh penyesalan karena gagal melindungi sang ibu tercinta.


Tian yang kelelahan karena menangis sejak tadi perlahan mulai tenang.


"Tian akan kembali lagi bu.. Tian akan mencari bantuan.. Tian tidak akan meninggalkan ibu sendiri di sini, Tian janji akan menjemput ibu.." Tian terus berbicara kepada sang ibu yang telah meninggal dunia.


Cristian bangkit dengan sisa tenaga yang Ia miliki. Ia harus mencari seseorang yang bisa membantunya membawa jazad sang ibu. Wajah Cristian begitu pucat, kepalanya berdenyut-denyut, Perutnya juga terasa sangat lapar, Tubuhnya menggigil kedinginan, Sepertinya Cristian sakit dan suhu tubuhnya begitu panas, ia mengalami demam.


"Tian akan mencari bantuan Bu, Tian akan kembali lagi." Cristian beranjak dari tempatnya. Ia akan mencari pertolongan.


Cristian terus berjalan, Ia juga tidak tahu ke mana dirinya akan pergi. Yang ada dipikirannya saat ini adalah mencari bantuan.


Cristian terus melangkahkan kakinya, Ia berjalan semakin menjauh dari tempat ibunya terbaring kaku.


Matahari merangkak semakin tinggi, Sinarnya menjilat kulit Cristian, Peluh dan keringat bercucuran di pelipis bocah laki-laki itu. Kondisi tubuh yang lemah tak menyurutkan langkahnya untuk terus mencari pertolongan.


Langkahnya terhenti sejenak, matanya menerawang jauh, terlihat sebuah bangunan cukup megah berada di seberang danau. Bangunan itu seperti Villa. Cristian mempercepat langkah kakinya. Agar cepat sampai di bangunan tersebut dan meminta bantuan seseorang di tempat itu.


Setelah beberapa menit berjalan, akhirnya Cristian sampai di Villa tersebut. pandangannya menatap bangunan yang cukup megah, di sekeliling bangunan terdapat banyak tanaman bunga dan juga buah, Villa itu tampak sejuk, bersih dan terawat. Cristian menengok ke kanan dan kiri bangunan tesebut, sangat sunyi seperti tak ada siapapun di tempat itu. Villa itu tampak kokoh dengan desain klasik. Villa yang berada di tengah hutan dan di sekitar Villa tersebut terdapat danau yang sangat indah.


Perlahan kaki Cristian semakin melangkah mendekat ke arah pintu. Perasaannya sedikit takut dan cemas. Ia takut penjahat mungkin saja berada di dalam bangunan tersebut. Ia tak punya pilihan lain. Ia harus segera meminta bantuan.


Tubuhnya yang semakin lemah membuatnya memberanikan diri meminta bantuan seseorang yang mungkin berada di dalam Villa. Cristian memberanikan dirinya.


Segera saja tangan Cristian meraih


Besi tua yang melingkar di pintu bangunan itu.


Duuukkk... dukkkkk... dukkk.....


Cristian masih berdiri di depan pintu, Ia berharap seseorang dari dalam bangunan itu akan membuka pintu. Cukup lama ia berdiri dan menunggu. Kepalanya sangat pusing dan perutnya juga sangat lapar, kondisinya terlihat berantakan dan begitu menyedihkan. Wajah Cristian terlihat sangat pucat dan peluh menetes di pelipisnya.


Duuukkk.... dukkkk....


Cristian mencoba sekali lagi meraih besi tua yang melingkar di pintu tersebut.


"Permisi.... apa ada orang di dalam?" Teriak Cristian.


Beberapa menit berlalu, Namun belum ada yang membuka pintu. Cukup lama Cristian berdiri di depan pintu berharap agar seseorang segera membuka pintu tersebut.


"Tidak ada orang di tempat ini, Aku harus kemana lagi?" Lirihnya.


Cristian membalikkan badannya dan bersiap untuk meninggalkan bangunan itu.


Cekkklleeeeekkkk.....

__ADS_1


Pintu Villa tersebut terbuka dan keluarlah seorang wanita yang terlihat cantik dengan seorang gadis kecil yang merupakan putrinya.


Bersambung.......


__ADS_2