Pembunuhan Di Kota Marylane

Pembunuhan Di Kota Marylane
01. Kasus


__ADS_3

Baru beberapa jam setelah fajar menyingsing, kami sudah berada di sebuah jalan bernama Blake Street karena sebuah kasus. Ya, sepagi ini kami mendapatkan kasus. Kau tahu? Aku kadang merasa bahwa dunia tanpa kejahatan akan susah dilakukan. Itulah mengapa penegak hukum dibutuhkan dan aku akan melakukan sebisaku untuk mencapai sebuah keadilan.


Aku berpijak pada jalan yang terbuat dari aspal ini dan berjalan menuju tempat yang sudah dibatasi oleh garis kuning polisi. Para polisi yang lain tengah menenangkan para wartawan yang hendak mendekati tempat kejadian. Kau tahu bagaimana ricuhnya situasi ini.


Kami berada di sebuah ruangan dari salah satu rumah di jalan ini.


“Huek!”


Aku melihat Harry yang lari terbirit-birit ke luar dengan menutup mulutnya. Aku tahu, dia akan mengeluarkan isi perutnya. Seperti biasa, dia belum bisa tahan dengan mayatyang persis di depan kami.


Namanya Harry Reagan. Dia merupakan teman satu timku. Dialah yang termuda di tim kami. Seperti yang kau lihat tadi, dia belum terbiasa dengan mayat. Padahal, kami sudah bekerja bersama selama dua tahun.


Dia memiliki kulit yang putih, dengan rambut berwarna hitam legam sepertiku dan tanpa poni. Matanya berwarna cokelat kehitaman, cocok dengan rupanya. Dia selalu memakai jaket bomber dan classic canvas hitam favoritnya. Yah, dia agak narsis. Jika kau belum tahu, kami selalu memakai pakaian bebas saat bertugas.


Jujur saja, dia terlihat keren, tapi tidak saat dia melihat mayat. Kurasa, dia perlu banyak latihan agar tidak muntah saat melihat mayat lagi.


“Dasar, kebiasaan.”


Omelan itu datang dari mulut teman timku yang lain, Dean Grissham.


Dean Grissham adalah teman satu timku dari awal. Aku masuk kepolisian tahun lalu dan dia adalah teman pertamaku di tim. Bila kudeskripsikan, dia memiliki rambut berwarna caramel dengan gaya rambut yang sedikit acak-acakan dan sedikit gondrong, aku tidak tahu bagaimana menyebutnya. Kulitnya sedikit berwarna tan, dan matanya berwarna hazel. Ada bekas luka di pelipis kanannya. Ah, itu saat dahulu dia menangkap penjahat, penjahat itu melukai pelipisnya. Dia sering memakai jaket kulit dengan high top sneakershitam andalannya.


“Biarkan saja dia.”

__ADS_1


Terakhir, perkataan itu berasal dari kapten tim kami, Mort Parker. Bisa dibilang, dia adalah veteran. Mungkin berlebihan, tapi dia sudah cukup lama menjadi anggota kepolisian. Dia merupakan Perwira Menengah dengan pangkat Mayor. Dia satu-satunya yang beristri di sini. Umurnya sudah setengah abad, kurang lebih.


Kulitnya berwarna putih, sedikit kemerahan. Rambutnya brunettedengan sedikit gondrong seperti Dean. Dia terkadang mengikatnya. Kau bisa melihat ubannya jika kau melihatnya denan saksama. Dia juga sering memakai jaket kulit, dengan sepatu sneakers bermodel retro runners berwarna hitam. Di umurnya yang sudah setengah abad itu, fisiknya masih kuat. Dia telah menerima banyak penghargaan dan menjadi panutan. Kuakui, dia memang pantas mendapatkannya.


Kembali pada keadaan. Kami menghabiskan sekitar 30 menit untuk sampai ke sini. Sebuah komplek perumahan yang berada di Blake Street. Jalan ini cukup panjang. Rumah-rumah dengan desain kompak berada di kedua sisi jalan ini. Rumah-rumah di sini didominasi dengan warna cokelat. Beberapa daun yang gugur dari rantingnya jatuh berceceran di sepanjang jalan.


Kami menerima sebuah laporan bahwa terjadi pembunuhan di salah satu rumah di Blake Street ini. Salah satu rumah, milik keluarga Keanett, terdapat seorang wanita yang tengah terbaring di sebuah kamar tidur. Wajahnya pucat, aku yakin karena kehabisan darah. Darah yang sudah sedikit mengering itu berceceran ke mana-mana, menodai kasur dan bantalnya. Kulihat piyama berwarna navy—pakaian korban—yang terkena noda merah itu berlubang. Dia ditusuk.


Lubangnya tidak hanya satu. Bajunya hampir robek seluruhnya di bagian depan. Artinya, dia ditusuk berkali-kali. Betapa mengerikannya tinggal di bumi bersama manusia yang tidak punya hati nurani seperti ini.


Kami bertiga menatap satu sama lain. Ya, kami menyimpulkan bahwa ini adalah seperti sebuah balas dendam. Melihat jasadnya ditusuk berkali-kali, pelaku memiliki dendam atau kekesalan pada korban.


Kami menerima laporan ini dari Gary Keanett. Korbannya, Abey Westie, merupakan istrinya. Dia bilang, dia baru pulang kerja dan menemukan istrinya seperti ini. Matanya masih memerah karena menangis. Terkejut? Pastinya. Dia baru saja pulang kerja pagi ini dan melihat istrinya yang sudah tidak bernyawa di rumahnya.


Kulihat di atas nakas. Ada lampu meja sederhana berwarna putih dan beberapa majalah. Aku menyentuhnya dengan tanganku yang dibalut sarung tangan. Majalah itu berisi tentang mobil-mobil klasik.


“Kapan tepatnya kau menemukan istrimu?” tanya kapten tim kami, Mort, pada suaminya, Gary Keanett.


Dia mengusap air matanya dan masih sedikit sesenggukan. “Uh—Aku lembur di kantor dan pulang pagi tadi. Aku sempat melihat jam di kantor dan waktu menunjukkan pukul empat tepat. Perjalanan dari sini ke kantorku sekitar 25 menit ... atau lebih?” Dia terlihat ragu. “Kurasa aku menemukannya sekitar pukul setengah lima pagi.”


“Ada seseorang yang kau curigai? Misalnya, seseorang yang mungkin punya dendam padamu atau kau punya masalah yang belum selesai?” tambah Dean.


“‘Kau’?” Gary mengangkat satu alisnya. Dia tersinggung, kurasa?

__ADS_1


“Maksudku, istrimu.” Dean meralat.


Dia terlihat berpikir, sedetik kemudian menggeleng. “Tidak. Istriku ramah kepada semua orang. Dia tidak pernah bermasalah pada siapapun.”


“Baiklah. Kami perlu informasi darimu satu lagi. Uhm, kau kenal dengan teman istrimu atau semacamnya? Mungkin kami akan mendapat beberapa informasi dari teman-temannya,” ucap Mort kemudian.


Pria jangkung itu mengangguk. “Ah, ya. Aku akan memberimu beberapa alamatnya. Mari.”


Mort kemudian pergi bersama Gary. Tepat saat itu, Harry kembali.


“Kau lama sekali.” Aku berkomentar. “Sudah satu setengah tahun kau bekerja. Kau belum terbiasa?”


“Hei, setiap orang itu berbeda, tahu.” Dia membalas. “Tapi, aku menemukan sesuatu.”


Dean mendekat. “Apa itu?”


“Komplek perumahan ini memiliki CCTV.”


“Kau memeriksanya?” tanyaku. “Menemukan sesuatu?”


“Tidak. CCTV-nya rusak.”


Setelah Harry mengatakan tiga kata itu, terdengar suara keras. Dean memukul bagian belakang kepala Harry dengan spontan dengan telapak tangannya.

__ADS_1


“Informasimu tidak berguna.”


__ADS_2