Pembunuhan Di Kota Marylane

Pembunuhan Di Kota Marylane
16. Tidak Diketahui


__ADS_3

Kami berempat pergi ke Kota Raven setelah aku mendapat pesan itu.Kami bertemu seorang wanita dengan topi berwarna hitam yang menghiasi kepalanya dan sedikit menutup wajahnya. Dia duduk di hadapanku dan Sean  sementara Harry dan Dean pergi untuk berbincang dengan beberapa orang tua dari korban di kota ini.


Kafe bernuansa minimalis ini memiliki banyak pengunjung dengan musik lo-fi yang memenuhi indera pendengaran kami.


“Aku Vivian Aldrich. Uh ….” Dia menggantungkan ucapannya, seolah tidak tahu apa yang harus ia katakan berikutnya.


“Vivian,” panggilku lembut. “Santai saja.”


Aku melihatnya berulang kali mengusap tangannya pada rok yang dikenakannya. Tangannya berkeringat menandakan bahwa dia sangat gugup.


“Kau punya teman wanita dari kepolisian saat kau bekerja di sini?” tanyaku berbisik pada Sean.


“Ada.”


“Bisa kau suruh dia ke sini?” tanyaku. Sean mengangguk, lalu beranjak dan hendak menelepon kolega wanitanya dulu saat dia bekerja di sini.


“Kau mau minum? Aku bayarkan.” Aku berbasa-basi. Dia mengangguk pelan. Aku berdiri dan memesan tiga, tidak, empat minuman untuk kami.


Aku kembali ke meja asal dan Sean pun melakukan hal serupa. Ia mengisyaratkanku dengan matanya bahwa, aku sudah meneleponnya.


Minuman kami datang dan tepat saat itu, kolega Sean datang. Vivian menatap kami berdua bingung. Ia sedikit menjaga jarak saat kolega Sean itu duduk di sampingnya.


“Tenang saja, Vivian,” kata Sean.


Vivian mengaduk-aduk minumannya di hadapannya. Kami masih menunggu gadis ini berbicara.


Ia menghirup napas dalam. “Aku … korban pembunuh itu.”


Wajahnya tertunduk. Dia menunjukkan tangan kanan yang terbalut pakaian yang dikenakannya. Kemudian ia menyingsingkan lengan pakaian yang dikenakannya dan membuka sebuah plester yang menutupi bagian dari pergelangan tangannya.


Sebuah tato yang memiliki titik. Persis dengan para korban-korban itu. Vivian adalah korban yang pertama, ditandai dengan satu titik di pergelangan tangannya.


“Kau … korban pertama?” tanya Sean yang suaranya menyerupai sebuah gumaman.


“Seseorang memberitahuku bahwa pembunuh itu pergi ke kota Marylane dan ‘berburu’ di sana. Benar, aku korban pertama.” Dia kembali menunduk. “Alasan aku memplester tato ini karena aku tidak mau mengingat hal itu.” Ia menempelkan kembali plester pada tato itu.


Satu-satunya yang bisa kami lakukan adalah memercayainya. Tadinya kupikir ada kemungkinan bahwa tato itu bukan dari pembunuh berantai. Tapi, jika kupikir lagi, Vivian sudah berusaha untuk berbicara mengenai ini dan ini bukanlah hal yang mudah, bukan? Tidak ada gunanya juga dia berbohong.


Aku melihat kolega Sean yang mendekat dan merangkul Vivian, mengusap bahunya seakan memberikan ketenangan.


“Vivian, aku sangat menyesal atas kejadian buruk ini. Dan aku sangat menghargai bahwa kau mau menemui kami. Kau boleh menceritakannya. Jika kau keberatan, kami tidak akan memaksamu.”


“Aku sudah memanggil kalian dan aku sudah berpikir seribu kali tentang ini. Jadi, aku akan menceritakannya.” Ia berdeham dan kembali menghirup napas dalam. Tentu, ia tidak mau kenangan ini kembali dalam pikirannya.


“Setelah kejadian mengerikan itu, aku punya kesempatan kabur dari sana. Aku tidak melihat ke belakang lagi saking takutnya. Yang kulihat saat aku berlari pulang adalah sebuah gang sempit dengan cahaya remang-remang. Di sana sangat sepi, tidak ada siapapun kecuali bayangan yang akan menemanimu berjalan. Aku tidak ingat detail yang terjadi dalam ruangan itu.” Ia menggeleng. “Aku tidak mau mengingatnya.”


“Kalau begitu, mungkin kau bisa deskripsikan bagaimana jalan saat kau pulang. Itu akan membantu,” kataku. Dia meminum minumannya lagi. Kolega Sean memegang tangan Vivian dan mengusapnya, mencoba memberikan ketenangan lagi. Ini sebabnya aku meminta Sean untuk memanggil teman wanitanya.


“Aku hanya berjalan lurus. Mencari orang yang bisa dimintai tolong, tapi tidak ada siapapun di sana saat itu. Aku menoleh ke belakang, dia sedang mencariku. Aku bersembunyi di sebuah pabrik.”


“Pabrik apa, tepatnya?”


Dia mengetuk jarinya ke atas meja beberapa kali. “Di sana terlalu gelap malam itu. Aku ketiduran di sana, dan seorang wanita—yang kurasa adalah seorang karyawan pabrik itu—membantuku dan mengantarku pulang. Dia sempat bertanya padaku apa yang terjadi, tapi aku tidak menjawabnya sampai aku pulang. Aku sempat melihat banyak kain di sana.”


“Ah, aku ingat sesuatu,” lanjutnya. “Saat aku keluar dari ruangan itu, aku mencium bau seperti bensin. Tempatnya juga kotor.”


“Bensin?” gumamku.

__ADS_1


“Ada lagi yang kau ingat? Pelan-pelan saja.” Sean menatapnya dengan penuh penasaran.


“Ada lampu barbershop di jalan sempit itu ….” Suaranya mengecil.


“Baik, Vivian. Kerja bagus. Kau hebat karena sudah melewati masa-masa sulit itu dengan baik.” Sean tersenyum. “Terima kasih atas informasimu, Vivian. Jika kau punya informasi lagi, kau boleh menghubungi kami. Omong-omong, di mana kau tinggal sekarang?”


Ia memajukan badannya. “Aku pindah kota semenjak kejadian itu dan aku tidak mau mengingatnya dengan tetap tinggal di kota ini.”


“Kau pergi jauh dari kotamu untuk kembali ke sini?”


Vivian tersenyum. “Tidak masalah. Setelah ini, aku akan berangkat ke luar negeri. Ah, ya, anggap saja aku ini informanmu, bukan saksi. Itu sebabnya aku tidak mau bertemu di kantor polisi.”


Kami mengangguk paham.


“Apa kau sebelumnya telah melapor ke kantor polisi?” tanya Sean.


“Aku sudah melakukannya … tapi, dia tidak percaya padaku. Dia menginginkan bukti. Aku tidak punya bukti saat itu, jadi laporanku ditolak.”


“Apa?”


Bodoh. Polisi macam apa itu.


“Kau melapor pada siapa?”


“Aku mendatangi kantor polisi. Aku tidak tahu namanya. Aku melihatnya menulis dan dia kidal. Postur tubuhnya sedikit pendek dan … ada semacam tanaman kecil kaktus di mejanya.”


Sean menyandar ke belakang. Dia mengusap wajahnya kasar. Aku menduga dia tahu siapa detektif yang Vivian maksud.


“Astaga.” Aku mendengar gumaman kolega Sean. Dia juga sepertinya tahu orang itu.


“Tapi, pembunuhan berantai ini tidak disiarkan di media. Bagaimana kau tahu bahwa ini adalah pembunuhan berantai?” tanyaku. Kami bertiga menoleh ke arahnya.


“Pesan apa?”


Vivian menunjukkan ponselnya kepada kami.


Tidak Diketahui


Aku tahu kau korban ‘dia’.


Anda


Apa maksudmu? 


Tidak Diketahui


Kota Raven. 


Anda


Siapa kau? 


Tidak Diketahui


Juan Scott. Beritahu dia. 


Anda

__ADS_1


Siapa dia? Detektif, polisi, atau semacamnya? 


Aku tidak akan mempercayai polisi lagi.


Tidak Diketahui


Juan Scott berbeda. 


Pelaku yang melakukan itu padamu, dia adalah pembunuh berantai. 


Anda


Pembunuh berantai? 


Tidak ada informasi itu di berita. 


Tidak DIketahui


Ya. 


Kepolisian Raven menyembunyikannya. Kepala polisinya sangat bodoh. 


Kepolisian Raven dan Kepolisian Marylane sedang bekerja sama tentang kasus ini.


Korbannya sudah banyak. Kau bisa memberi informasi padanya dan membiarkan mereka menangkap penjahat itu. 


Anda


Aku bisa memercayainya? Kau yakin?


Tidak Diketahui


Ya, Vivian.


Anda


Tunggu, kau tahu aku?


Hei!


“Aku meneleponnya, namun dia tidak membalas.”


Kami bertiga bertatap. Sungguh, kami juga tidak tahu siapa dia. Apalagi, dia menyebut namaku.


Apa ada mata-mata di kepolisian kami?


“Detektif,” panggilnya. Kami menoleh. “Tangkap penjahat itu.”


“Akan dan pasti, Vivian.” Sean menjawab dengan senyuman.


“Aku akan ke rumah untuk mengambil koper dan pergi ke bandara,” ucap Vivian dan berdiri. Kami bertiga melakukan hal yang sama.


“Rosemary, antar dia ke rumahnya dan ke bandara. Antar dia dengan selamat,” ucap Sean dan menatap koleganya itu.


“Ay, ay, Kapten!” Dia member gestur hormat pada Sean.


“Aku bukan kaptenmu lagi.”

__ADS_1


Kolega Sean—Rosemary—dan Vivian pergi dari kafe ini. Sean menatapku. “Aku akan pergi ke kantor Kepolisian Raven. Ada hal yang harus kuselesaikan di sana. Kau pergilah untuk menyelidiki pabrik yang dimaksud. Aku akan menelepon Harry dan Dean untuk membantumu.”


“Baiklah, Kapten!”


__ADS_2