
“Kau serius?”
Dean berkacak pinggang. March Lloyd yang sudah berdiri di hadapan kami menggaruk tengkuknya yang kurasa tidak gatal sama sekali.
Kami berlima tengah berdiri di sebuah gang. Tidak ada siapa-siapa di sana selain kami berlima. Aku dan teman-teman satu timku termasuk kaptenku berdiri sejajar, sementara March berdiri dan menunduk di hadapan kami. Kami terlihat seperti perundung jika orang lain melewati gang ini.
Aku salah mengira bahwa dia pelakunya karena dia berlari. Kukira dia merasa terpergok atau apapun itu.
“Aku serius, percaya padaku.”
“Lalu, kenapa kau lari? Selain karena kami mengejarmu.” Mort bertanya.
“Kukira kalian rentenir.” March berkata dengan polosnya dan menatap kami.
Apa wajah kami terlihat kejam hingga disamakan dengan rentenir?
“Lalu, saat kau menduduki tubuhku, aku melihat ID card kepolisianmu yang tergantung di lehermu,” lanjutnya lagi sembari menatapku. “Lalu, aku berkata dalam hati, ‘ah, mungkin mereka tengah menyelidiki kasus Abey.’ Jadi, secara spontan aku bilang bahwa aku tidak membunuhnya.”
Aku mengerutkan dahiku. “Dari mana kau tahu bahwa Abey terbunuh?”
“Itu ….” Ia menggaruk tengkuknya lagi. Harry melangkahkan kakinya maju, seperti hendak mencengkeram kerah milik March.
Melihat Harry yang melangkahkan kakinya maju, March spontan mundur satu langkah dan memberhentukan tindakan Harry itu dengan tangannya ke depan. Memberi tanda berhenti dengan kedua telapak tangannya mengarah pada kami.
“Wow, wow. Santai, Bung. Aku bahkan belum menjelaskan.” Kemudian ia menurunkan tangannya kembali.
“Kami sudah tahu bahwa kau selalu menguntit Abey, March.”
March terlihat terkejut, namun dia langsung merubah ekspresinya seperti menunjukkan penyesalan.
“Jadi, selama seminggu terakhir ini, aku sadar akan perbuatanku. Aku ingin meminta maaf pada Abey, tapi dia selalu menghindariku. Aku bahkan belum mengucapkan sepatah kata pun padanya.” March memulai ceritanya. Aku mengeluarkan catatan kecilku dan mencatat kata-katanya yang kuanggap penting. Hal yang sama kulakukan saat aku dan Mort mengunjungi Eira Kimberly.
“Aku biasanya menunggu Abey keluar dari rumahnya. Aku ingin bicara padanya, tapi dia langsung lari dan menghindariku. Minggu depan aku akan pergi dari negara ini, jadi setidaknya aku harus meminta maaf padanya. Aku akhirnya berniat untuk berkunjung ke rumahnya. Masa bodoh jika aku bertemu dengan suaminya nanti. Entah aku akan ditampar atau dihajar oleh suaminya, aku tidak peduli.”
Kami masih mendengarkan ceritanya secara saksama.
“Malam itu, aku ke rumahnya. Aku mengetuk pintu rumahnya, namun tidak ada jawaban. Aku bersandar pada pintu itu, kemudian aku terjatuh ke belakang. Di situ aku menyadari bahwa pintunya tidak dikunci. Yah, aku tahu perbuatanku ini melanggar. Aku memanggilnya dan masuk ke rumah itu. Tidak ada jawaban lagi. Kemudian sebuah pintu terbuka, tapi banyak noda merah. Kukira sedang ada renovasi atau semacamnya. Tapi, kau tahu, rasa penasaranku bangkit, jadi aku membukanya.”
March menarik napas dan menghembuskannya pelan.
“Aku melihat Abey yang sudah terbaring di kasur dengan darah di mana-mana. Aku ketakutan dan tidak bisa melihatnya lebih lama, jadi aku langsung pergi.”
“Kenapa kau tidak melapor polisi lebih dulu?” tanya Mort.
Dia membuang mukanya. “Cih! Yang ada aku dijadikan tersangka.”
Aku menaikkan sebelah alisku.
Memang ada yang seperti itu?
“Baiklah, terima kasih, March,” ucap Mort kemudian.
“Omong-omong, kau menguntitnya sampai mana?”
“Eh?” Dia terlihat sedikit terkejut saat Dean melontarkan pertanyaan itu.
“Kau hanya mengikutinya, atau melakukan ‘sesuatu yang lebih’?”
__ADS_1
Dia memainkan jarinya gugup. “Sebenarnya aku menaruh kamera—”
“Apa?!”
“Tapi itu hanya satu kali! Kumohon jangan tangkap aku! Aku sudah menyadari kesalahanku, oke? Aku juga sudah menghapus rekaman itu. Jangan tangkap aku!” Dia mengatupkan kedua telapak tangannya dihadapan kami. Ia memohon.
“Apa kau melihat sesuatu yang mencurigakan di rekaman itu?”
Dia menaruh telunjuknya di dagu, matanya melihat ke atas—tanda bahwa dia sedang berpikir. “Tidak ada. Lagi pula, aku menaruhnya di tempat yang jarang ditempati olehnya dan suaminya. Dia seperti lebih sering di kamarnya. Aku menaruhnya buru-buru waktu itu, jadi dia hanya tertangkap kamera beberapa detik dalam satu hari. Satu menit pun tak sampai.” Dia menjelaskan.
“Suaminya juga, dia hanya pulang kerja, pergi kerja, pulang kerja, begitu seterusnya,” lanjutnya. “Tapi, raut wajahnya terlihat lebih sering kesal, kurasa. Aku tidak bisa melihat dengan jelas. Resolusinya kurang bagus. Juga, aku tidak merekam suara apapun. Sebenarnya, aku baru pertama kali menguntit seseorang. Hehe.”
“Baiklah. Kami juga sama sekali tidak berharap kau melakukan itu. Apakah ada seseorang yang kau curigai atau semacamnya?”
Dia menggeleng kaku, sedikit ragu.
“Tidak ada, kurasa.”
“Baiklah. Terima kasih. Jangan mengulangi perbuatanmu lagi, March.”
“Siap!” March menaruh tangannya di dekat pelipisnya, member hormat pada kami.
“Ah, maaf karena aku menduduki tubuhmu tadi,” kataku.
Dia menggaruk tengkuknya lagi. “Tidak apa-apa. Lagi pula, aku yang menyebabkan kesalahpahaman.”
“Omong-omong, kenapa kau pergi ke luar negeri?” tanya Harry.
Dia menoleh ke kanan dan ke kiri, matanya waspada. Kemudian dia menaruh tangannya di pipinya—berbisik, namun suaranya masih terdengar.
“Aku harus menghindari para rentenir itu.”
Inilah kenapa menurutku seseorang harus berusaha untuk tidak berhutang, apalagi dengan para rentenir. Ini hanya menambah masalah.
“Hei, itu bahkan tidak menyelesaikan masalahmu.”
“Dia bisa dipercaya?” tanya Harry. Matanya menatap March yang memasuki apartemennya melalui kaca jendela.
“Seharusnya. Kita juga tidak punya bukti untuk mencurigainya.” Dean menjawab.
“Dia memang begitu. Itu sebabnya aku menyuruhnya memberitahu suaminya. Dia orang yang tidak suka merepotkan orang lain, jadi dia selalu menyembunyikannya sendirian.”
Eira, sahabat Abey, berkata seperti itu.
Menyembunyikannya sendirian, ya? Apa itu mungkin?
“Kurasa kita harus kembali ke TKP.”
“Eh?” ucap kami bertiga—aku, Dean, Harry—bersamaan.
“Kita mungkin melewatkan sesuatu.”
Kami kembali ke TKP. Aku melihat tempat ini, dan tidak berubah sama sekali sejak terakhir kali kami meninggalkannya.
“Periksa kembali apakah kita meninggalkan sesuatu.” Mort memerintah. Kami bertiga mengangguk. Mereka mulai mencari.
Aku berjalan dengan buku catatan kecil di tangan kiri dan pulpen dengan tinta hitam itu di tangan kananku. Aku melihat catatanku.
__ADS_1
‘Abey selalu menyembunyikannya sendirian.’
Begitulah yang kutulis di kertas buku catatanku.
Aku menggerak-gerakkan pulpenku dengan jari.
Oh, tidak. Jari-jariku meleset sehingga pulpen terjatuh dari sela-sela jariku. Pulpen itu menggelinding ke kolong lemari yang pendek. Tinggi lemari itu hanya sekitar setengah meter.
“Apa yang kau lakukan, Juan?”
“Pulpenku jatuh,” kataku sambil berlutut dan mengulurkan tanganku ke kolong, berusaha mengambil pulpen.
Tunggu, aku merasakan sesuatu selain pulpen.
Buku?
Aku mengambilnya dan melihat sesuatu di tanganku. Sebuah buku berwarna cokelat yang sedikit berdebu.
“Apa itu?” Harry bertanya.
“Entahlah.” Aku menjawab. Aku baru membuka sampulnya, dan aku langsung tahu buku apa itu.
Abey’s Diary. Itu yang tertulis di halaman pertama sebagai judul.
Ah, dia selalu menyembunyikannya sendirian dan bercerita di buku harian sebagai gantinya.
“Apa ini boleh kubuka?”
“Demi menemukan pembunuhnya, kurasa ini perlu.” Mort berkata.
Aku menarik napas. “Abey, maafkan aku karena melanggar privasimu,” gumamku. Aku mulai membaca lembar demi lembar. Teman-temanku pun ikut membaca isi buku itu.
Hening. Tidak ada suara selain suara lembaran buku yang kupindahkan lembar demi lembar. Kami terkejut, sungguh. Semua isi buku ini tentang kejamnya suaminya. Dia bercerita dalam buku itu bahwa suaminya selalu menyiksanya.
12 September, 2021.
Ah, polisi-polisi itu bodoh. Mereka lebih mempercayai suamiku daripada aku. Mereka mungkin tertipu senyuman suamiku. Suamiku mengataiku gila, dan mereka memercayainya. Apa mereka telah disuapnya?
Kami terus membuka lembaran-lembaran itu hingga kami sampai di halaman terakhir.
31 Oktober, 2021.
Di mata orang-orang, Gary Keanett seorang suami idaman. Tidak. Kalian tidak tahu faktanya. Bahkan Eira, sahabatku, berkata bahwa aku sangat beruntung karena suamiku adalah dia. Tidak. Aku tidak bahagia. Aku memintanya cerai, tapi dia selalu memukuliku. Aku bahkan tidak dikasih kesempatan untuk berbicara. Dia monster. Aku harus merekamnya agar mendapatkan bukti di pengadilan nanti saat aku menceraikannya. Aku mungkin menaruhnya di jam atau semacamnya agar tidak ketahuan.
“Jam?”
Harry mengambil jam di depan kami. Jam itu terletak di atas lemari setinggi setengah meter ini. “Apakah ini?” tanyanya.
“Mungkin.”
Harry mengangkat jam itu dan membantingnya ke lantai. Ia berjongkok dan menunjukkan sesuatu yang berukuran cukup kecil.
“Kameranya.”
Kami mengambil kartu memorinya dan memasukkannya dalam ponsel untuk melihat isi videonya. Kami membelalakkan mata saat melihat apa yang terjadi saat itu di dalam rekaman ini.
“Apa ini?”
__ADS_1
Pelakunya ….
“Gary Keanett.”