
***Dr. Oriel ***
Kau jarang mampir akhir-akhir ini.
Kau baik-baik saja?
Anda
Ya, Dokter. Terima kasih.
Dr. Oriel
Jangan lupa minum obatmu.
Aku hanya menghela napas pelan seusai membaca pesan itu. Seperti yang kubilang saat itu, Milly Oriel adalah psikiaterku. Aku memutuskan untuk berkunjung ke psikiater dua bulan yang lalu. Namun, penderitaan itu belum berkurang dari hidupku. Memang, akhir-akhir ini aku jarang berkonsultasi lagi karena pekerjaanku. Obat-obatan itu membantuku untuk sementara.
Tak lama, ada pesan lagi yang masuk ke ponselku.
Berhenti berhubungan dengan ibuku.
Pembunuh sepertimu sebaiknya mati saja.
Aku menghela napas lagi. Tanpa namanya pun aku tahu ini siapa.
Kenneth Albern. Ya, dia sepupuku. Dia seumuran dengan adikku. Anak dari paman dan bibiku—bibi Amy, tentunya. Marganya berbeda dengan kami karena ayahnya. Dia tengah bekerja di luar negeri. Bibi Amy mungkin bercerita perihal aku dan dirinya pada Kenneth. Dia sudah mengatakan bahwa aku lebih baik mati beberapa kali.
Mungkin … aku memang lebih baik mati. Tapi, entah seberapa banyak usaha yang kulakukan untuk membunuh diriku, aku tidak bisa. Seseorang yang tidak dikenal selalu menyelamatkanku. Dia sering membuatku pingsan saat aku melakukan percobaan bunuh diri. Itu berlangsung selama tiga tahun terakhir. Sepertinya orang yang sama juga menyelamatkanku dari kejadian dengan Barbara saat itu.
Bagaimana jika aku bercerita tentang kejadian sembilan tahun yang lalu?
Tahun itu saat 2012.
Seperti biasa, ayah dan ibu tidak ada di rumah. Aku berusia 21 tahun saat ini. Kami jarang dititipkan ke bibi kami lagi. Dia hanya berkunjung sewaktu-waktu.
Aku melirik jam dinding. Hari sudah mulai gelap dan sebentar lagi jam makan malam. Jane berada di lantai atas—kamarnya. Dia mungkin sudah lapar saat ini.
Aku mengeluarkan membawa kantung belanjaanku dan hendak memasak. Ibuku bilang untuk tidak memesan makanan cepat saji karena itu tidak baik. Itu sebabnya aku sudah belajar memasak sejak awal sekolah menengah.
Aku mulai menyalakan kompor dan merebus air. Aku mencari bahan utama untuk dimasak malam ini di dalam kantung-kantung belanjaan itu.
Tapi, tidak ada.
“Apa benda itu tertinggal? Astaga.”
Aku menggerutu pelan dan meninggalkan rumah untuk kembali ke supermarket. Aku meraih kunci mobil dan pergi.
Sempat macet di jalanan beberapa menit. Aku kembali, namun pemandangan aneh tertangkap indera penglihatanku. Banyak orang di sana. Aku melihat rumahku yang sudah dilahap kobaran api.
“Jane,” gumamku terkejut. Aku membuka pintu mobil dan melompat dari sana.
“Jane!” teriakku. Aku melihat sekeliling, tidak ada adikku di sana. Apa ia masih di dalam? Aku hendak masuk, namun salah seorang tetanggaku menahanku.
“Di sana berbahaya, Juan!”
“A-adikku masih di dalam.” Aku menyingkirkan tangannya yang menghalangiku dan masuk ke dalam rumahku yang terbakar. Aku segera menaiki tangga dengan susah payah. Aku menyipitkan mataku dan menutup mulutku dengan lenganku. Udara yang sangat panas ini bersentuhan dengan kulitku. Beberapa kali aku terbatuk-batuk. Kayu-kayu yang hangus dan terbakar api itu pun mulai terjatuh. Aku hampir tertindihnya.
“Jane!” teriakku lagi. Aku melihat pintu kamarnya yang terbuka. Jane ada di sana. Punggungnya tertimpa kayu. Dia menatapku, tangannya terulur ke arahku meski dia tahu dia tidak bisa meraihku dalam posisinya. Tatapannya seakan meminta tolong padaku.
“Oh, tidak.” Jantungku berdetak dengan cepat.
Tidak, tidak. Aku berlari menujunya.
Aku hampir menghampirinya, namun kayu lainnya menutup jalan masuk dan menghalangi tepat di pintu. Tak lama, kayu di atasku terjatuh ke bawah, menimpaku.
Aku tersadar beberapa jam kemudian setelah kejadian itu. Ayah dan ibuku ada di sampingku.
“Ayah, Ibu,” panggilku dengan suara parau. Kulihat tubuhku yang terkena noda-noda hitam dan luka bakar yang sudah diobati.
“Juan, Sayang, kau telah sadar.” Ibuku melihatku dengan tatapan sembabnya. Ia memelukku. Ayah pun melakukan hal yang sama.
“Di mana Jane?” tanyaku.
Mereka tidak menjawab sampai aku mendesaknya. Mereka membawaku ke sebuah ruangan. Ada sesuatu yang terbaring di atas meja yang dingin, tertutupi kain putih. Salah satu petugas membukanya.
Jantungku berdetak dengan cepat. Aku bahkan hampir tidak bisa bernapas.
“Ini … Jane?” tanyaku, hampir mencicit.
Wajahnya bahkan tidak bisa kukenali. Tubuhnya 95 persen hangus.
“T-tidak ….”
Ibuku memelukku. Aku masih melihat tubuh Jane yang hangus. Air mataku jatuh saat melihat ada gelang dengan bentuk familier di pergelangan tangannya. Gelang itu ikut hangus bersama dengan pemiliknya. Gelang itu … pemberianku.
Karena kebodohanku, dia pergi. Karena kelalaianku, dia meninggal dengan tragis. Aku membunuhnya. Aku membunuhnya.
__ADS_1
Di hari pemakaman Jane, Kenneth mengajakku bertemu di tempat yang sepi. Dia menghajarku sampai babak belur. Aku tidak melawan, karena memang itu yang pantas kudapatkan.
Sangat sulit menganggap itu adalah sebuah kecelakaan.
Aku pembunuh.
“Juan?”
“Apa?” responku dengan cepat. Aku sedikit terhenyak..
“Kau melamun. Aku memanggilmu beberapa kali,” ucap Sean.
“Oh, maaf.”
Kami menghabiskan waktu selama kurang lebih dua jam di restoran sana. Aku melirik arloji yang melingkar di pergelangan tanganku, waktu menunjukkan pukul sebelas malam. Kami sudah keluar dari restoran itu dan menunggu Sean yang sedang membayar di kasir. Dia membayar pesanan kami, omong-omong.
Aku melihat Harry yang menatap ke arah sebuah mobil hitam yang berjarak sekitar sepuluh langkah dari tempat kami berdiri.
“Ada apa, Harry?” tanyaku. Harry segera memalingkan pandangannya ke arahku.
“Tidak ada. Aku hanya merasa ... aneh.”
“Aneh?”
“Mobil itu. Dia diam di sana sejak lama. Ada seseorang di dalamnya, tetapi aku merasa ada yang tidak beres.”
Aku mengikuti arah pandangnya. Aku juga bisa melihat ada seseorang di dalam mobil itu. Harry hendak berjalan hendak memeriksa pengemudi mobil itu apakah ia baik-baik saja.
“Mungkin dia sedang—”
Ucapan Sean terpotong saat suara ledakan yang tidak jauh dari kami terdengar. Kami berempat refleks menundukkan kepala. Kami belum melangkah sama sekali dari tempat kami.
Mobil itu!
Mobil yang Harry perhatikan tadi meledak di hadapan kami.
Kobaran si jago merah melahap mobil itu. Beberapa orang datang dengan membawa tabung pemadam kebakaran dan menyemproti kobaran api itu. Orang-orang datang untuk melihat kejadian yang menjadi pusat perhatian ini.
Harry hendak menghampiri mobil itu, tapi Sean menahan lengannya.
“Jika ada seseorang pun, kita sudah terlambat. Jangan dekati mobil itu. Kita tidak tahu mobil itu akan meledak lagi atau tidak.”
Seseorang ... di dalamnya?
Api.
Adikku yang terbakar.
Aku refleks memegang kepalaku yang terasa pusing. Aku hampir tidak bisa berdiri tegak. Langkahku perlahan mundur.
“Kau baik-baik saja?” tanya Sean. Aku bersandar pada dinding restoran. Menghirup oksigen pun rasanya sulit. Rasanya ada batu besar yang menekan dadaku. Air mataku bahkan melesak ingin keluar.
Aku mencoba menetralkan nafasku sebelum aku menjawab Sean.
“Aku ... baik-baik saja.”
Sean menatapku aneh. Aku yakin dia punya pertanyaan, tapi yang kulihat dia memilih untuk tidak bertanya.
Tak lama mobil pemadam kebakaran datang. Butuh beberapa waktu sampai akhirnya api di mobil itu padam. Kejadian itu berlangsung cukup cepat. Aku masih gemetaran. Lututku bahkan rasanya tidak bisa menopang tubuhku.
Setelah api dari mobil itu padam dan hanya asap yang tersisa, para petugas pemadam kebakaran membuka pintu mobil itu dan membawa seseorang. Kejadian ini jelas dilihat banyak orang. Aku melihat para petugas itu membawa jenazah yang hangus dan meletakkannya di atas sebuah tandu.
Ingatan itu ... kembali muncul.
Aku merasa mual.
Aku memegang kepalaku lagi, lalu kedua tanganku bergerak untuk menutupi telingaku. Mirip adikku. Kejadian yang hampir sama persis, kematian yang sama persis. Kenapa ini terjadi di hadapanku?
“Kau sakit?” Dean memegang pundakku. Aku spontan menepisnya.
“Ah, maaf,” kataku. “Aku baik, jangan khawatir.”
Beberapa lama kemudian, ponselku berbunyi. Sebuah panggilan masuk.
Suasana masih ricuh di sana, aku memutuskan untuk menjauh dan menjawab telepon itu. Aku mengisyaratkan pada teman-temanku bahwa aku menjawab telepon.
Setelah mengambil beberapa langkah dengan berat dan cukup jauh dari tempat itu, aku menjawab teleponnya.
“Halo?”
“Ey, yo! Juan Scott,” sapanya sok akrab dari seberang sana. Suaranya sedikit samar, seperti sesuatu menutupinya, kurasa. Dia memakai masker, mungkin?
“Siapa kau?”
“Sudah tiga puluh menit lebih. Sudah meledak, ya?”
__ADS_1
Mataku membulat. Dia yang merencanakan ini?
Aku melihat layar ponselku dan menekan fitur perekam telepon. Aku kembali menempelkan layar ponsel pada telingaku.
“Kau merencanakan ini?”
“Menurutmu?” Dia tertawa dari seberang sana.
Ini tidak lucu sama sekali.
“Tunggu aku. Masih tersisa dua. Aku sudah menyelesaikan dua yang lain.”
Dua yang lain? Jika yang korban satunya adalah seseorang dalam mobil itu, maka yang satu lagi adalah ....
Mort? Kapten kami?
“Kau ... yang membunuh Mort?” tanyaku dengan suara sedikit bergetar.
“Bingo! Kau pintar.”
Jantungku terasa ingin merosot dari tempatnya. Aku menelan salivaku dengan susah payah. Pembunuh ini meneleponku. Kenapa?
“Kenapa?”
Pembunuh itu mematikan teleponnya. Aku mencoba menghubunginya kembali, tetapi telepon itu tidak tersambung kembali. Jelas, pembunuh mana yang hendak menjelaskannya langsung? Kecuali jika ia sudah kalah atau menyerah. Setidaknya itu yang terjadi di film-film.
“Sial! Sial! Sial! Brengsek!” umpatku berkali-kali.
“Language, Juan.”
Aku menoleh ke belakang, entah sejak kapan mereka Sean di belakangku. Sean yang tadi menegurku mengerutkan dahinya.
“Ada apa?” tanyanya.
“Ketua, kau harus mendengar ini.”
Sean terdiam sebentar setelah mendengar rekaman itu.
“Dia yang membunuh mereka berdua?” gumamnya.
Dia pun berlari kembali ke depan restoran itu. Aku membuntutinya. Aku melihat mobil yang hangus terbakar itu. Jantungku kembali berpacu dengan cepat. Aku berusaha menenangkan diriku.
Aku melihat kejadian itu dari jauh, sesekali melihat ke arah lain.
Sean menghampiri petugas pemadam kebakaran itu.
“Aku detektif. Boleh kuperiksa mobil ini?” ucapnya sambil menunjukkan kartu identitas kepolisiannya. Petugas pemadam itu memperbolehkannya.
Kulihat ia yang memeriksa mobil hangus itu. Aku kemudian mengalihkan pandanganku, tidak mau berlama-lama melihatnya. Kemudian, ia menghampiriku.
“Semuanya hangus. Sulit untuk menemukan sesuatu,” katanya.
“Di mana Dean dan Harry?” tanyaku kemudian.
“Mereka sudah pulang duluan, tadi. Jangan meneleponnya. Kita akan memberitahukan mereka besok.”
Mungkin Sean ingin Harry dan Dean beristirahat dahulu hari ini.
“Harry bilang ada seseorang yang terparkir di sini dan tidak keluar sejak lama. Kenapa?” gumamnya yang terdengar olehku. “Dia mau bertemu seseorang? Tapi kenapa memarkirkan mobil ini cukup lama?” gumamnya lagi.
“Ada dua kemungkinan,” kataku. “Pertama, mobilnya dimodifikasi sehingga ia terkunci di dalam. Kedua, dia sengaja tidak keluar dari mobil.”
“Tapi, siapa korbannya?” tanyaku kemudian.
Sean tidak menjawab. Di kembali menghampiri mobil itu, ia menunduk dan memasukkan kepalanya lagi ke dalam mobil. Mencari sesuatu lagi yang mungkin dia lewatkan. Tak lama, ia mengambil sesuatu dari dalam sana.
Sebuah kartu identitas yang hampir hangus semuanya, tapi ada beberapa kata yang masih bisa terbaca. Kami membacanya.
JOURE
GIVEN NAM
LEVON
DATE OF BIR
12.08.199
Hanya itu yang terbaca, meski noda hangus hampir menutupi seluruhnya.
“Levon ... Joure?”
“Sebagian hurufnya hangus,” komentarku.
“Kita akan menemukannya.”
__ADS_1