Pembunuhan Di Kota Marylane

Pembunuhan Di Kota Marylane
06. Teror


__ADS_3

Insiden kematian Mort Parker meninggalkan luka yang begitu dalam untuk kami. Sudah dua hari semenjak insiden pembunuhan kapten kami, Mort Parker, kami berusaha untuk bekerja seperti biasa. Ya, waktu  akan tetap berjalan meskipun kau kehilangan seseorang.


Berita kematian Mort menyebar dengan sangat cepat saat itu. Maklum, sebagai polisi yang dikenal dengan dedikasinya yang tinggi terhadap negara, banyak yang berduka atas kematiannya.


Dan sekarang, seseorang di hadapan kami, baru saja memperkenalkan dirinya sebagai kapten baru kami.


Namanya Sean Hadley. Dia dipindahtugaskan dari kota sebelah, Raven. Dia terlihat seumuran dengan Parker. Wajahnya dingin, tidak banyak bicara. Matanya berwarna hazel dan badannya cukup kekar dengan kacamata yang bertengger di hidungnya. Dia sepertinya cukup disegani di sana.


Kami akan menyelidiki kasus Mort, kapten kami. Sedikit demi sedikit. Sean Hadley, kapten baru kami, sudah menyetujui untuk membantu kami hari itu juga.


Pertama, kami pergi ke rumahnya. Sekaligus mengembalikan barang-barang milik Mort kepada istrinya.


Kali ini aku dan Harry yang pergi ke rumah ketua kami.


“Kami turut berduka atas suamimu.” Aku berucap.


Kami lihat istrinya, Teresa Ivy, menangis. Ia mengusap air matanya dengan tisu. Kami bahkkan terkejut setelah tahu Teresa sedang mengandung anak mereka pertama kalinya, setelah 5 tahun penantian. Anak itu mungkin akan lahir tanpa ayah. Ia bahkan belum memberitahu suaminya, dan berniat menjadikannya kejutan. Namun, takdir berkata lain.


“Maaf. Tapi, adakah sesuatu yang mencurigakan? Seperti, sikap yang aneh dari mendiang suamimu, atau seseorang yang terlihat membencinya?” tanya Harry.


“Aku tidak tahu,” ucapnya. Ia mengusap air matanya, terlihat berusaha mencegah air matanya untuk keluar lagi. Matanya memerah sekarang. Kulitnya yang sembab menandakan dia banyak mengeluarkan air mata. “Kalian pasti tahu bahwa suamiku adalah orang yang baik, bahkan orang-orang cukup menyeganinya. Aku tidak tahu akan ada orang yang membencinya separah ini.” Ia melanjutkan.


“Tidak ada perilaku aneh darinya sebelumnya?” tanyaku.


Ia terlihat berpikir sejenak.


“Aku tidak tahu ini termasuk atau tidak,” katanya, “Tapi, dia pernah mendapat telepon setiap malam, tepat pukul dua belas malam.”


“Telepon seperti apa, tepatnya?”


Dia menggeleng. “Entahlah. Hanya semacam telepon iseng? Tidak ada yang berbicara di seberang telepon itu, sampai dia mematikannya sendiri.”


“Apa mendiang pernah menceritakan kegelisahannya padamu atau semacamnya?”


“Tidak. Dia orang yang sangat terbuka padaku.” Teresa berkata. “Dia harusnya menceritakan itu seandainya ada sesuatu yang mengganggu pikirannya.”


≣ ≣ ≣


Aku sedang duduk di kursiku. Aku melihat langit-langit kantor.


Sebenarnya, mengapa ada orang yang ingin membunuhnya?


Tiba-tiba suara yang berisik masuk ke dalam indra pendengaranku. Aku sedikit terperanjat saat mendengar suara berisik di sampingku. Sean menjatuhkan banyak diska lepas di mejaku.


Kenapa harus di mejaku?


“Apa ini?” tanyaku.


“CCTV jalanan.” Dean menjawab.


“Sebanyak ini???” Harry membulatkan matanya.


“Kita mungkin akan tahu ke mana pengendara motor itu pergi dengan ini. Kita harus memeriksa semuanya,” ucap Sean.


Demi menemukan pembunuh ketua kami, kami harus melakukannya. Omong-omong, kami sudah menyelidiki tentang nomor polisi yang dipakai si pengendara motor sekaligus pembunuh itu. Sialnya, kami tidak bisa melacaknya. Nomor itu bahkan tidak terdaftar. Entahlah. Palsu, kurasa.


“Bagaimana dengan teman-temannya?” tanya Harry.


Dean menggeleng. “Bahkan teman-temannya berkata dia tidak punya musuh sama sekali.”


“Lalu, kenapa?”


≣ ≣ ≣


Aku masih duduk di kursi mejaku. Mengamati video rekaman CCTV jalanan yang terpancar di layar laptopku.

__ADS_1


Aku mencoba mengamatinya dengan saksama, sesekali aku mengusap kedua mataku karena cahaya biru dari layar laptop. Aku sudah mengamatinya selama berjam-jam. Belum membuahkan hasil.


Para polisi dan detektif dari tim lain bahkan sudah pulang. Tim kami masih berada di sini. Harry dan Dean bahkan sudah tertidur di kursinya dengan selimut yang menyelimuti mereka. Hanya aku dan kapten baru kami, Sean yang masih melakukan pekerjaan ini.


Aku menguap dan menutup mulutku dengan tangan. Aku menyalakan ponselku yang tertidur. Oh, ini tepat tengah malam.


“Tidur saja. Aku yang melakukannya.” Sean berkata tiba-tiba. Aku melihatnya.


“Aku hanya merasa tidak enak.” Aku menjawab.


Dia menunjukkan ekspresi datarnya tanpa mengalihkan pandangannya dari layar laptop.


“Menurutmu bagaimana Mort Parker saat bekerja di sini?” tanyanya.


“Dia pria yang baik.”


“Lalu kenapa ada orang yang ingin membunuhnya?”


“Aku tidak tahu.” Ya, itu yang sangat ingin kutahu.


“Kau ingin mengatakan sesuatu?” Aku bertanya saat melihat wajahnya seakan-akan punya sesuatu untuk dibicarakan. “Atau kau punya pendapat lain tentang ini?”


“Entahlah,” katanya. “Dia mungkin terlihat baik. Tapi, kita tidak tahu bagaimana perlakuan dia pada orang lain yang tidak kita ketahui. Kau tahu, manusia terkadang penuh misteri.”


Kemudian ia menatapku. “Itu yang kupikirkan. Pembunuhnya tidak mungkin membunuh karena hanya nafsunya atau bahkan tanpa tujuan. Dia sudah menargetkannya sejak awal.”


Benar. Jika dia membunuhnya karena nafsu, atau dia membunuh secara liar, tidak mungkin dia akan berhenti di depan mobil kami dan menembak Mort, bahkan tepat di dahinya.


Tapi, kenapa? Apa alasannya?


Pikiran itu belum berarti apa-apa. Aku belum bisa menemukan jawabannya. Dan aku kembali melakukan pekerjaanku.


Tak lama, aku menemukan sesuatu. Mataku membulat.


Pengendara itu masuk ke sebuah minimarket. Aku membesarkan video itu di layar, mengamati pelat nomor polisi motor itu.


Itu adalah nomor polisi yang sama!


Setelah dia keluar dari minimarket, dia kembali mengendarai motornya.


“Dia pergi ke daerah jarang kamera pengawas,” ucap Sean. “Kita harus pergi ke minimarket itu.”


≣ ≣ ≣


Kami berempat pergi ke sana. Sean membuka pintu minimarket itu.


“Permisi. Kami dari kepolisian.” Sean menunjukkan kartu tanda kepolisiannya. “Bisa kami periksa CCTV tempat ini?”


Sean dan Harry pergi ke ruangan kamera pengawas, aku dan Dean berbicara dengan kasir lelaki itu.


“Apa kau berjaga di sini pada tanggal dua belas kemarin?” tanyaku.


“Tanggal dua belas?” Ia berpikir. Kemudian ia mengangguk. “Ya, itu aku.” Ia menatap kami kebingungan.


“Apa kau ingat seseorang yang mengenakan helm dan pakaian serba hitam saat itu?” Kali ini Dean yang bertanya.


Ia terlihat berpikir keras. Kemudian ia menjentikkan jarinya. “Ah, pria itu!”


“Aku mengingatnya karena dia tidak mengambil kembaliannya. Padahal, kembaliannya sangat banyak,” lanjutnya.


“Apa kau menyadari hal yang khas tentang dirinya?”


“Aku tidak tahu.” Ia menggaruk tengkuknya. “Aku tidak punya banyak waktu untuk memerhatikannya.” Ia tersenyum canggung.


“Apa yang ia beli?”

__ADS_1


“Hanya sekaleng minuman.”


Bagaimana bisa dia dengan santainya membeli sekaleng minuman setelah membunuh orang?


Beberapa lama kemudian kami kembali ke mobil, Sean menunjukkan video rekaman pada aku dan Dean.


“Kau melihat sesuatu?” tanya Sean.


Aku melihat video itu, saat pengendara itu menjulurkan tangannya untuk membayar. Sesuatu ada di punggung tangannya. Kami memperbesar layar itu.


“Tato?”


“Bentuknya seperti kupu-kupu,” tambah Harry. Aku menyetujuinya. Sedikit samar, tapi meyakinkan.


≣ ≣ ≣


“Tato kupu-kupu, huh?” gumamku. Aku baru saja memarkirkan mobilku di parkiran apartemen ini. Aku menghela nafas. Ini memusingkan. Kamera pengawas dekat minimarket itu satu-satunya jejak terakhirnya. Ia tidak terekam kamera mana pun lagi.


Aku keluar dari mobilku dan hendak ke unit apartemenku. Aku perlu mandi.


“Tuan Scott!”


Aku menoleh saat seseorang memanggilku.


“Barnard?”


Omong-omong, Barnard adalah satpam apartemen ini. Aku sudah lama mengenalnya.


“Sudah kubilang, panggil aku Juan saja,” kataku padanya. Dia hanya tertawa kecil dan menggaruk tengkuknya.


“Kebiasaan. Akan kuperbaiki.” Dia terkekeh pelan.


“Jadi, ada apa?”


“Ini, ada paket untukmu. Baru saja sampai.” Ia menyodorkan sebuah kotak berwarna cokelat. Aku menerimanya.


“Terima kasih,” kataku. Aku memeriksa kotak itu, tidak ada nama pengirimnya. Hanya ada namaku yang tertera sebagai nama penerima dan alamat apartemenku.


“Kau tahu siapa yang mengirim?” tanyaku kemudian.


Dia menggeleng dan mengangkat kedua bahunya. “Entahlah. Tapi, dipikir-pikir, orang itu sepertinya bukan tukang pos. Dia tadi menggunakan helm yang menutupi seluruh kepalanya, jadi aku tidak melihat wajahnya.”


Aku mengangkat sebelah alisku.


“Mungkin penggemar rahasiamu? Hehe.”


Butuh waktu beberapa menit untuk sampai ke apartemenku. Aku menyalakan lampu dan duduk di kursi setelah menaruh kotak itu di atas meja, tepat di hadapanku. Aku menatap kotak itu.


Perasaanku tidak enak.


Aku berdiri dan mengambil cutter. Kemudian kembali untuk membuka kotak itu. Aku meneguk salivaku.


Aku membuka kotak itu perlahan. Aku relfeks menutup hidungku dengan punggung tanganku setelah aku tahu isinya. Isinya bangkai tikus yang berdarah darah, baunya menyengat sampai-sampai aku masih bisa mencium aromanya padahal aku sudah menutup indera penciumanku. Tidak ada apapun selain itu. Ini paket teror.


Kemudian, ponselku berbunyi. Sebuah surel masuk.


Hi. [kotak masuk] 


Guess Who? 


kepada saya


Menikmati paketmu? 


*Balas | Balas ke semua | Teruskan *

__ADS_1


__ADS_2