
Aku sampai di sebuah pabrik. Sean berangkat ke kantor Kepolisian Raven menaiki taksi. Dia mengabarkan para kolega di timnya dahulu untuk ikut menyelidiki ini. Bagaimanapun, pembunuh berantai itu memulai aksinya di sekitar sini.
Berdasarkan pernyataan Vivian, dia melihat banyak kain di sebuah pabrik. Kami mempersempitnya menjadi pabrik baju dan pabrik kain. Para polisi sekaligus kolega Sean di kota Raven ini mencari di sebuah pabrik baju, sementara aku beserta Harry dan Dean mencari di sebuah pabrik kain. Harry dan Dean sudah kuberitahu dengan detail apa yang Vivian bicarakan tadi.
Totalnya ada sembilan. Kota Raven memiliki lima pabrik kain dan empat pabrik baju. Kurasa hari ini akan menjadi hari yang cukup panjang.
Aku sudah dikirimi beberapa lokasi yang menunjukkan pabrik kain oleh Sean. Dia tahu persis.
Aku, Dean, dan Harry kini sudah berada di pabrik kain yang akan pertama kami kunjungi. Kami akan memulai dengan pertanyaan ‘apakah seorang gadis pernah ditemukan tertidur di sini?’. Kurasa itu satu-satunya cara agar kita bisa mengetahuinya.
“Permisi, apa kau pernah menemukan seorang gadis yang tertidur di pabrik ini? Kurasa salah satu karyawanmu mengantarnya pulang.”
“Sebentar, akan aku tanyakan.”
“Maaf, tidak ada.”
Pabrik kedua.
Pabrik ketiga.
Pabrik keempat.
Nihil, belum ada hasilnya. Kuharap kami menemukan fakta bahwa di pabrik kelima inilah Vivian tertidur dengan salah satu karyawannya yang mengantarnya pulang. Pabrik ini terletak di tengah-tengah padang rumput yang tidak begitu tinggi dengan jalan setapak.
“Permisi, apa kau pernah menemukan seorang gadis yang tertidur di sini? Kurasa tujuh atau enam bulan yang lalu. Seorang karyawanmu menemukannya.”
“Tidak ada. Mana mungkin ada seorang gadis yang masuk ke sini. Pergilah, jangan mengganggu.”
“Tetapi—”
Pria paruh baya itu meninggalkan kami.
“Juan, kurasa bukan pabrik kain tempatnya,” ucap Dean. “Mari berharap agar teman-teman kapten kita menemukan pabrik yang dimaksud.”
“Baiklah.” Aku menjawab dengan lesu.
“Apa kalian mencari gadis itu?”
Kami menoleh ke belakang. Seorang wanita dengan seragam khusus berjalan mendekati kami.
__ADS_1
“Kau mengetahuinya?”
“Aku mendengar percakapan kalian tadi. Dan, ya, aku tahu gadis itu. Aku mengantarnya pulang.”
Kami menghela napas lega.
“Kau tidak bertanya sesuatu padanya?”
Dia menggeleng. “Dia tidak menjawabku,” jawabnya. “Omong-omong, siapa kalian?”
Aku menunjukkan kartu identitas kepolisianku. Dia mengangguk paham.
“Apa pabrik ini dekat dengan sebuah gang atau semacamnya?”
“Gang?” Dia mengerutkan dahi, tampak seperti sedang berpikir. “Ada satu gang yang cukup dekat dari sini. Kau bisa melewati jalan sana dan belok kiri. Mungkin mobilmu tidak akan masuk ke sana. Kau bisa memarkirkannya di sini.” Dia menunjuk dengan jari telunjuknya. “Tapi, penghuni di sana sudah jarang.”
“Baiklah. Bagaimana dengan pom bensin atau semacamnya?”
“Tidak ada semacam itu di daerah sini. Pom bensin sangat jauh dari sini.”
“Begitu. Baiklah, terima kasih atas informasimu.”
Aku melihat sekeliling. Kurasa ini jalan yang benar. Ada sebuah lampu barbershop yang tidak menyala, persis seperti perkataan Vivian.
Jalan sempit itu hanya sebuah jalan penghubung. Kami tiba di sebuah perumahan secara tiba-tiba. Tidak seperti perumahan pada umumnya, perumahan ini terlihat sepi. Tidak, bukan perumahan. Mirip seperti ruko, ruko yang tidak dihuni dalam waktu yang lama. Tempat ini terlihat sedikit kumuh.
“Vivian bilang dia mencium bensin atau semacamnya? Tidak ada pom bensin di sini. Lalu, apa?”
Pandanganku tertuju pada sebuah tempat.
“Mungkin bukan pom bensin.”
“Lalu?”
Aku mendekat ke arah ruko itu. Terlihat seperti bekas bengkel. Beberapa ban bekas dan jejak oli menunjukkan hal itu.
“Apa yang kalian cari, Anak Muda?”
Kami bertiga menoleh. Seorang pria berambut putih—seorang kakek—dengan tongkatnya keluar dari tempatnya—ruko miliknya.
__ADS_1
“Kami dari kepolisian,” kataku sambil menunjukkan identitas kepolisian kami. “Omong-omong, apakah ruko-ruko ini sudah lama tidak ada penghuninya?”
“Hanya ada beberapa ruko yang berpenghuni. Beberapa orang yang asalnya tinggal di sini pindah. Kami bertahan di sini karena tidak punya tempat untuk tinggal lagi. Biasanya, orang-orang pabrik datang ke sini untuk beristirahat juga.”
“Begitu.” Tanganku menopang daguku, mencoba berpikir. “Apa ini bekas bengkel?” tanyaku sambil memandangi ruko yang kumaksud.
Kakek itu mengangguk. “Dia sudah pindah sekitar satu atau dua bulan yang lalu. Ah, Sches, dia anak yang baik. Aku sangat dekat dengannya.”
“Sches? Dia pemiliknya?” tanya Harry. Kakek itu mengangguk lagi.
“Apa kau mendengar hal-hal yang aneh enam bulan yang lalu?” tanyaku.
“Ingatanku lemah. Aku tidak mungkin mengingatnya.” Dia menunjukkan deretan giginya canggung, tangannya tidak lepas dari tongkat kayu yang telah dipernis.
Aku mengangguk paham.
“Pria itu, Sches, dia pindah ke mana?”
“Aku lupa ….” Netranya memandang ke atas, mencoba mengingat. “Kurasa nama tempatnya Lane … Lane apa, ya?”
“Marylane?” tebak Dean. Kakek itu mengangguk antusias dan menunjuk kami dengan jari telunjuknya yang keriput.
“Benar! Itu dia!” serunya.
“Kau tahu di mana alamatnya, tepatnya?”
“Aku pernah mengirimi dia sesuatu. Sebentar, akan kutulis untukmu.”
Tak perlu waktu lama, kakek itu akhirnya member kami kertas berisikan alamat. Dialah pelakunya. Jalan pulang yang dideskripsikan Vivian saat itu, mirip dengan yang kami lewati sekarang. Kami pergi, dan tak lupa berterima kasih kepada kakek tua itu. Aku menjadi kasihan pada kakek itu.
“Ayo, kita harus menangkapnya.”
Kami berlari, menghampiri mobil kami dan hendak kembali ke kota kami. Hari sudah gelap sedari tadi, bahkan sudah akan berganti hari dalam beberapa jam kemudian. Kami harus menangkapnya kali ini. Aku membuka pintu mobil. Tanganku tergerak untuk mengambil ponsel. Kami hendak mengabari kapten, namun gerakanku terhenti saat kulihat sebuah pesan yang dikirim seseorang beberapa waktu lalu. Aku tidak mengeceknya karena ponselku dalam keadaan diam.
Aku membuka pesan itu. Tiba-tiba jantungku berdetak dengan cepat, tanganku gemetaran.
Ashley, gadis itu. Sudah kuduga dia akan melakukan sesuatu. Apa yang kau pikirkan, Ashley?!
Tidak Diketahui
__ADS_1
Hai, Detektif. Aku Ashley Cleva. Aku mencoba membantumu karena aku merasa bersalah pada Aisha. Aku akan memancing pelakunya dan akan membawanya ke hadapanmu. Aku akan ikut menangkapnya. Mungkin aku butuh bantuanmu, jadi aku mengirimimu sesuatu ke kantor polisi. Pesan ini dikirim secara terjadwal, karena aku tahu kau tidak akan mengizinkannya. Aku mungkin sudah bertemu dengan penjahat itu saat kau baru menerima pesan ini. Maaf.