
Pagi ini cukup cerah. Aku baru saja selesai berpakaian. Hanya celana panjang hitam dengan kaus putih dan dibalut mantel hitam.
Aku menoleh saat mendengar seseorang menekan bel apartemenku. Aku keluar dari kamar dan berjalan menuju pintu.
“Bibi Amy!” Aku berseru. Sedikit terkejut saat melihat Bibi Amy datang sepagi ini. Ia datang dengan pakaian sederhananya dengan sebuah kantung plastik di tangan kanannya. Dia mengangkat kantung plastik yang ia bawa, menunjukkannya padaku.
“Aku berniat mengajakmu sarapan. Kau belum sarapan, ‘kan?” tanyanya. Ia masuk ke dalam apartemenku.
“Kebetulan. Aku memang belum sarapan.”
“Kalau begitu aku akan memasakkanmu makanan.” Ia berjalan menuju dapur. Aku mengekorinya.
“Apa ada sesuatu yang bisa kubantu?”
“Ada. Duduk saja di kursi sana.” Ia menunjuk meja makan dengan dagunya.
“Bibi, serius,” kataku.
“Aku serius. Kau tidak perlu membantu apapun.”
“Baiklah. Katakan saja jika kau perlu bantuan,” kataku lagi. Ia mengangguk.
Aku pun berjalan menuju meja makan, menarik kursinya dan mendaratkan bokongku di atasnya. Aku menopang dagu dengan telapak tanganku, melihat Bibi Amy yang sedang memasak dengan tali celemeknya yang terikat di belakangnya.
“Ah, ya. Kau berangkat jam berapa?” Ia berbalik, menatapku.
“Uh—kurasa sebentar lagi.” Aku melihat arloji yang melingkar di pergelangan tangan kananku.
“Baiklah.” Ia berbalik dan kembali melakukan pekerjaannya. “Aku tidak tahu kau lebih menyukai kompor listrik dibandingkan kompor gas.” Bibi berkomentar.
Aku hanya tersenyum paksa.
Dia tidak tahu aku benci melihat api setelah kejadian itu. Yah, meski tidak terlalu berbeda jika aku memakai kompor gas atau kompor listrik. Aku tetap teringat dengan kejadian itu.
Usia Bibi Amy sudah mencapai setengah abad. Namun, kulihat badannya yang masih sehat bugar walaupun rambutnya kini sudah mulai memutih, kulitnya pun yang perlahan keriput. Kacamatanya yang dahulu hanya dipakai sesekali, kini selalu bertengger di hidungnya.
Tak lama, Bibi Amy datang dengan membawa dua piring omelet. Kesukaanku.
“Terima kasih,” ucapku. Dia hanya mengangguk dan tersenyum.
__ADS_1
Aku mulai menyuapkan satu sendok omelet buatan Bibi Amy ke dalam mulutku. Wah, fantastis.
“Bagaimana?” tanyanya. Raut wajahnya penasaran akan tanggapanku tentang masakan buatannya.
Aku mengangguk. “Enak. Kau selalu membuatnya dengan baik, Bibi,” ucapku dan menarik kedua ujung bibirku.
“Syukurlah,” katanya. Ia pun mulai menyuapkan masakannya ke mulutnya.
“Jadi? Bagaimana dengan pekerjaanmu?” tanyanya setelah hening beberapa saat di antara kami.
Aku mengangkat kedua bahuku. “Biasa saja. Sebenarnya, tidak ada yang spesial. Tapi tidak buruk juga walaupun hampir setiap hari aku melihat mayat. Aku jadi tahu masih banyak manusia-manusia breng**k di muka bumi ini,” kataku. Kemudian aku menyuapkan suapan terakhir omelet ke mulutku.
Ia tertawa pelan. “Ya, kau harus berhati-hati dengan itu.”
Aku tiba-tiba ingin bertanya padanya perihal ayahku yang tiba-tiba menginginkanku menjadi anggota kepolisian.
Aku berdeham. “Apa kau tahu mengapa ayah menyuruhku untuk menjadi anggota kepolisian? Biasanya dia tidak pernah protes dengan impianku.”
Ia menggeleng.
“Tidak. Mungkin ayahmu berubah pikiran.”
Kami sudah ada di kantor dan duduk di meja masing-masing. Aku mencoreti buku catatanku dengan malas. Sejauh ini belum ada kasus—
“Mayat ditemukan di Apartemen Evergreen, Jalan Ervine nomor dua puluh tiga, bangunan B. Kuulangi,mayat ditemukan di Apartemen Evergreen, Jalan Ervine nomor dua puluh tiga, bangunan B. ”
—baru.
Seseorang mengatakan itu lewat walkie-talkie yang menghubungkan kami. Walkie-talkie berwarna hitam itu terletak di meja ketua kami.
“Kami ke sana,” ucap Mort setelah mendekatkan walkie-talkie itu ke mulutnya.
Kami beranjak dari tempat duduk masing-masing, keluar dari kantor dan menaiki sebuah van hitam khusus untuk tim kami. Dean menyetir mobilnya, dan Mort di sampingnya. Aku dan Harry duduk di belakang.
“Sudah mendapat data korban?” Mort menoleh ke belakang—ke arahku dan Harry, bertanya dalam perjalanan menuju tempat kejadian perkara.
Aku menyodorkan tablet berisi informasi tentang korban. Aku sudah menerima beberapa informasi dari tim forensik yang sudah berada di sana.
“Dion Walter. Seorang mahasiswa semester dua. Ditemukan tergantung di tempatnya, dengan kabel yang meliliti lehernya,” ucapku.
__ADS_1
“Orang tuanya?”
“Aku sudah mendapat kontaknya. Aku mencoba menghubunginya.” Harry menyahut.
Lampu merah menyala, dan Dean memberhentikan van. Tidak ada percakapan di sini. Kami diam, tenggelam dalam pikiran masing-masing. Aku melihat ke luar jendela. Jalanan ini begitu sepi. Hanya ada van kami dan sebuah motor dan pengendaranya di samping van kami.
Tak lama, lampu hijau baru menyala. Dean menginjak gas pelan dan langsung menginjak pedal rem saat seseorang dengan motor dan helm full-face yang menutupi wajahnya muncul di hadapan kami. Kami sempat terkejut dan terdorong ke depan saat Dean menginjak pedal rem secara mendadak.
“Apa itu?” Harry bertanya.
Kami kebingungan sebentar, sampai akhirnya dia mengacungkan sesuatu pada kami—tepatnya pada Mort. Dan ....
DOR!
Suara yang nyaring itu membuat kami menunduk. Beberapa detik kemudian, kami duduk seperti semula dan mencoba memahami yang terjadi. Pengendara motor itu masih di sana, menurunkan pistol yang ia genggam di tangan kanannya.
Betapa terkejutnya kami saat melihat kapten kami sudah dalam kondisi tidak bernyawa. Seseorang di depan kami memecahkan kaca mobil dan menembak kepala Mort, tepat di dahinya. Darahnya melebar ke mana-mana. Bercak darah itu mengenai kami dan bagian dalam mobil.
"Kapten!" seruku. Dia telat menghindar. Jantungku berpacu dengan cepat. Kepalaku pening, mencerna apa yang sebenarnya telah terjadi. Siapa yang akan menyangka peristiwa ini terjadi?
Siapa dia? Dan kenapa dia menembaki kapten?
“Si*l!” Dean geram. Dia terlihat hendak menekan pedal gas dan ingin menabrak si pengendara motor, sementara Harry hendak keluar dari mobil dan mengejarnya. Terlambat, dia lebih cepat.
DOR!
Dia mengangkat pistol di tangannya dan menarik pelatuknya lagi. Kami menunduk secara refleks, takut jika dia menembaki salah satu di antara kami lagi. Namun, kami menyadari saat dia tidak menembaki kami. Dia menembak ban van kami.
Jelas, agar kami tidak bisa mengejarnya.
Ia segera membelokkan motornya, melaju meninggalkan kami. Kami tidak bisa berbuat apapun. Harry dengan cepat menelepon ambulan. Tidak ada kendaraan lain, hanya mobil kami di sini.
Kepalaku pening.
Aku mual.
Bayangan adikku tiba-tiba terlintas begitu saja dalam pikiranku.
Lagi, orang terdekatku meninggal di hadapanku dengan mengenaskan.
__ADS_1