
Bibiku begitu terkejut mendengar bahwa aku mempunyai seorang psikiater. Aku menjelaskan, lalu bibiku tidak merespon apa-apa saat itu. Dia hanya meminta Dokter Oriel untuk bicara dengannya di luar. Aku tidak tahu apa yang dibicarakannya.
Ah, aku juga tidak tahu kenapa Dokter Oriel mengunjungiku secara tiba-tiba. Siapa yang memberitahukannya? ‘Dia’, kah? Huft, sudahlah. Biarlah hal itu menjadi misteri.
Masih ada hari yang tersisa sebelum aku dibolehkan pulang dari rumah sakit. Aku mendapat kabar bahwa Ashley akan pulang besok, jadi mungkin aku akan menjenguknya hari ini.
Aku juga sudah banyak diceritakan oleh teman-temanku bagaimana keadaannya dan apa yang terjadi setelah itu.
Mereka berkata bahwa pada awalnya, kejadian itu sempat membuat Ashley bermimpi buruk dan tidak mau menemui siapapun kecuali Aileen, kepala panti asuhan. Aileen juga meminta maaf pada mereka karena saat itu karena tidak mengawasi tindakan Ashley.
Jujur saja, aku sedikit canggung karena telah memeluknya. Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan, dan aku tidak ahli dalam menenangkan orang lain saat itu.
Mungkin aku harus meminta maaf padanya karena telah lancang.
Aku menenteng buket bunga krisan di tanganku. Aku meminta Harry untuk membelinya. Aku tidak tahu kenapa aku ingin memberikannya jenis bunga ini. Ah, ya. Teman-temanku yang lain pergi bekerja. Mereka mungkin sudah mendapat kasus baru atau tengah menyelidiki kasus Mort dan Levon.
Sekedar informasi (yang bahkan tidak penting), ini bunga kesukaan adikku.
Hingga akhirnya setelah beberapa langkah aku berjalan, aku sampai di sebuah ruangan. Sebuah ruangan rawat inap kelas satu dengan dua ranjang—tetapi hanya ada satu pasien.
Aku menggeser pintu ruangan. Terdapat Ashley yang tengah terduduk di ranjang, kepalanya menoleh ke arah seorang kepala panti asuhannya, Aileen Storm, yang tengah berdiri di dekat Ashley.
Pandangan mereka berdua tertuju padaku begitu aku membuka pintu. Aku berdeham canggung.
“Selamat sore,” kataku.
“Selamat sore,” jawab Aileen. “Kuberi ruang untuk kalian,” katanya. Ia hendak berjalan ke luar.
“Tidak perlu, aku hanya menjenguk—”
“Benarkah?” potongnya. “Kupikir ada sesuatu yang ingin kau katakan padanya.”
Aku tidak menyangkalnya. Aileen hanya tersenyum dan keluar dari ruangan itu, meninggalkan aku dan Ashley.
Aku menaruh paperbag di atas nakas dan menyodorkan buket bunga yang kubawa padanya. Ia menerimanya.
Aku belum berkata apapun. Pikiranku masih sibuk merangkai kata. Hingga akhirnya dia duluan yang membuka percakapan.
“Kau kesal, ya?”
Bagaimana tidak? Kau membahayakan dirimu sendiri.
“Detektif?”
__ADS_1
Aku menarik napas. “Ya. Aku kesal. Aku kesal karena kau membuat keputusanmu sendiri—yang bahkan tidak kusetujui. Jangankan aku, jika anggota kepolisian mendengarnya pun mereka tidak akan setuju. Aku kesal karena kau membahayakan dirimu sendiri. Kau bahkan hanya seorang warga sipil. Kau bertekad melakukannya. Kau pikir kau siapa berpikir untuk menjebak pelakunya? Lihatlah, kau bahkan sudah membawa pistol, membawa sebuah alat semacam GPS dan menaruh ponsel di mobil kami saat itu agar bisa kami lacak. Tapi, kau masih mengalami hal mengerikan itu. Dan aku kesal pada diriku sendiri karena tidak menyelamatkanmu dengan cepat. Maaf.” Suaraku merendah di akhir kata.
Aku sekhawatir itu padanya.
Ayolah, ini hanya pekerjaanku sebagai polisi. Pekerjaanku memang seharusnya melindungi warga sipil, bukan?
“Kau banyak omong, ya, Detektif.”
Aku sudah berbicara panjang lebar dan itu balasannya?
Memang balasan apa yang kau harapkan, Juan Scott?
Aku menghela nafas berat. “Terima kasih dan maaf. Terima kasih, karena kau, kami bisa menemukan pelakunya. Maaf, karena aku tidak bisa menyelamatkanmu lebih cepat.”
Dia menarik kedua ujung bibirnya. “Kurasa, hanya itu satu-satunya cara agar aku bisa bebas dari rasa bersalahku terhadap Aisha. Jadi, aku tidak punya penyesalan.”
“Kau baik-baik saja sekarang?” tanyaku.
Ia mengangguk. “Jangan khawatir. Bagaimana denganmu? Aku mendapat kabar dia memukul kepalamu.”
Aku memegang bagian belakang kepalaku. “Aku sudah lebih baik dari kemarin.”
Dia mengangguk.
“Penghargaan?”
Aku mengangguk. “Karena sudah membantu kami, bahkan membahayakan dirimu sendiri. Datanglah.”
“Aku tidak tahu.”
“‘Tidak tahu’?” Aku menaikkan sebelah alisku bingung.
“Aku hanya ... merasa tidak pantas mendapatkannya.”
“Tidak pantas?” kataku. “Kau sudah berusaha menangkap pelakunya. Kau bahkan membahayakan dirimu sendiri. Kamu pantas mendapatkannya. Datanglah.”
Dia tersenyum tipis. “Terima kasih, tapi akan kupikirkan lagi nanti.”
Hening.
Aku berdeham. “Maaf, saat itu aku lancang memelukmu saat itu. Harusnya ini tidak terjadi antara polisi dan warga biasa, bukan?”
“Tenang saja. Aku anggap itu adalah upaya untuk menyelamatkanku.”
__ADS_1
Aku menggaruk tengkukku. “Kau sudah seperti adikku sendiri.”
Ia semula terkejut, namun ia kemudian tersenyum. “Aku tahu, aku paham.”
Ia kemudian mendekatkan hidungnya pada bunga yang ia pegang sedari tadi. Menghirup aroma khas bunga krisan.
“Bunga apa ini?” tanyanya.
“Bunga krisan.”
“Apa kau tahu maknanya?” tanyanya.
“Kejujuran, kebenaran, dan setia. Aku pernah membacanya di suatu tempat. Yah, tidak ada hubungannya dengan kondisi saat ini, tapi aku ingin memberimu itu.”
Ia hanya membalasku dengan senyumannya lagi.
“Aku suka ini.”
----
“Apa kau tidak berlebihan? Aku hanya membereskan barangku ini dan pulang,” kataku saat Harry mengambil alih pekerjaanku—membereskan barang-barangku yang bibi bawakan. Yah, aku tinggal di rumah sakit selama beberapa hari. Dan ini hari di mana aku pulang.
“Anggap saja layanan gratis,” ucap Dean.
“Omong-omong, terima kasih. Aku sadar bahwa aku belum mengucapkan itu,” kataku.
“Santai saja. Kau pikir kami siapa?”
“Ya … tetap saja, berterima kasih itu harus, kan?”
“Ya, ya.” Harry membalas.
“Seorang anggota Kepolisian Raven menyerahkan dirinya dan mengaku bahwa dia telah mengabaikan laporan warga. Laporan ini berujung pada pembunuhan berantai yang telah—”
“Hei, kenapa dimatikan?” protes Dean yang tengah menonton berita di televis itu dengan khidmat sampai Sean mematikannya.
“Aku bosan mendengarnya.”
“Apa itu polisi yang dimaksud Vivian?” tanyaku menyebut korban yang selamat dari pembunuhan berantai itu. “Dia menyerahkan diri?”
“Kapten, kau bertemu dengannya? Kau harusnya bilang padaku. Aku ingin menitipkan tinjuku pada wajahnya,” keluh Dean.
Sean tersenyum. “Sudah kuwakilkan. Ayo kita pergi.”
__ADS_1