
Balas dendam, ya?
Sekeras apa pun aku berpikir, aku tetap tidak mengerti. Kepada siapa dia membalaskan dendamnya? Aku atau orang-orang yang telah dia bunuh?
Namun, aku tidak mengenal Levon Jourell. Bagaimana bisa jika dia dendam padaku kemudian membunuh orang yang bahkan tidak kukenal?
Atau … mungkin dia hanya menakutiku?
Semua ini membuatku pusing.
Hari ini aku baru pulang dari kantor. Sudah pukul sepuluh malam, aku baru selesai mandi. Aku mengeringkan rambutku dengan handuk, pergi ke dapur dan membuka kulkas, mencari sesuatu untuk dimakan.
Tidak ada.
Kulkasnya kosong. Aku membuka kabinet dapur.
Hanya tersisa satu mi instan.
Aku lupa belanja bulanan. Lagipula, dipikir-pikir, akhir-akhir ini aku lebih sering makan di luar.
Aku merindukan omelet buatan bibiku.
Aku meraih ponsel, menampilkan kontak bibiku di sana.
Telepon dia?
Tidak?
Telepon atau jangan?
Aku menutup ponselku pada akhirnya. Aku tidak mau merepotkannya dan memutuskan untuk belanja ke supermarket. Aku mungkin akan dihajar Kenneth lagi jika dia tahu aku bersama dengan ibunya.
Aku ke sana menggunakan mobil. Butuh beberapa menit untuk sampai ke sini. Aku keluar, mengambil troli dan masuk ke dalam, mengambil beberapa kebutuhan.
Beras.
Pasta.
Tanganku memegang dua bungkus daging yang kuambil dari dalam lemari es.
Daging sapi atau ayam?
Daging ayam lebih murah.
Daging sapi lebih enak.
Aku agak miskin dan lebih baik menghemat saja. Pilih yang lebih murah.
Aku memasukkan bungkusan daging ayam itu ke dalam troli dan kembali melanjutkan kegiatanku.
Perlukah aku membeli daging olahan?
Tidak.
Yang lain saja.
Telur.
Bumbu dapur.
Tomat.
Wortel.
Kentang.
Perlukah aku membeli buah?
Satu jenis sepertinya cukup.
Apel.
Peralatan mandi pun hampir habis. Sekalian saja.
Setelah dirasa cukup, aku pergi ke kasir dan membayar semuanya. Aku keluar dari supermarket dengan membawa kantung kain yang kubawa dari rumah. Hitung-hitung mengurangi sampah plastik, ‘kan?
Aku mengingat-ingat. Kurasa ada yang kurang, tapi apa?
Aku memikirkannya sepanjang jalan. Aku membuka bagasi dan meletakkan belanjaanku di sana.
Aku baru ingat.
Teh dan kopi! Bagaimana bisa aku melupakannya?
Aku kembali ke supermarket untuk membeli kedua barang itu.
Dan aku tiba-tiba menabrak seseorang. Secara tidak sengaja, tentunya. Bahu kami bertabrakan.
“Ah, maaf,” kataku sambil sedikit membungkuk. Aku hendak kembali berjalan, tapi sebuah suara membuatku berhenti.
“Juan Scott?”
---
Berakhirlah kami di sebuah kafe bernuansa klasik yang unik. Aku menyesap kopi milikku, dan ia memakan sebuah cheesecake dengan sebuah garpu di tangan kanannya. Memang, seleranya tidak berubah sejak dulu.
Dia temanku. Alston Aaron, kau ingat? Dia sering bermain basket bersamaku. Bersama Leon dan Riley. Dan dia salah satu orang yang mengetahui tentang efek dari masa laluku.
“Kabarmu?” tanyanya setelah menyuapkan sedikit bagian dari kue itu.
__ADS_1
Aku hanya tersenyum penuh arti. “Menurutmu?” kataku, “Bagaimana denganmu?”
“Ya ... begitulah.”
“Apa maksudmu?”
“Begitu. Ya, begitu saja.”
Tidak jelas.
“Maksudku, hidupku tidak baik, tapi—begitu. Aku tidak bisa menjelaskannya,” lanjutnya.
“Ya, ya. Aku paham.”
“Hei, kapan-kapan kita bermain basket. Aku akan mengajak Riley dan Leon.”
“Aku masih berkomunikasi dengan mereka. Hei, kita hilang kontak semenjak kau pindah dengan bibimu ke sini,” lanjut Alston.
Ah, iya. Aku mengganti semua sosial mediaku dan nomor ponselku tanpa memberitahu mereka.
“Maaf.”
“Dimaafkan. Meski seharusnya kau tidak perlu. Aku mengerti,” katanya. “Omong-omong, aku senang bertemu denganmu lagi. Aku perlu nomor ponselmu. Aku akan memberitahu Leon dan Riley.”
Aku memberi nomor ponselku padanya. Dia mengotak-atik ponselnya dan mengembalikan ponselku beberapa menit kemudian.
Aku menyesap kopiku.
“Kau pindah ke sini? Bagaimana Leon dan Riley?” tanyaku kemudian.
“Ya, baru kemarin aku pindah ke sini. Leon masih di Kota Wimpey, dia bekerja sebagai guru.”
“Guru?” Aku mengangkat sebelah alisku. Leon Rees, seorang yang kerap dijuluki berandal semasa SMA itu menjadi guru? Seorang yang sering dihukum karena tidak mengerjakan tugas itu sebagai guru?????
Baiklah, masa depan tidak ada yang tahu. Kurasa dia telah sadar.
“Iya.” Alston tertawa. “Awalnya aku tidak percaya, tapi itu benar-benar terjadi. Wah, jujur, aku terkesan.”
“Lalu, Riley?”
“Dia jadi dokter anak di rumah sakit ... eh, apa namanya? Aku lupa nama rumah sakitnya. Dia pindah ke Kota Patton, bekerja di sana.”
Aku mengangguk paham. Tak heran, Riley tertarik dengan dunia medis dan penyayang anak-anak sejak dulu.
Hei, jangan salah paham. Dia bukan seorang yang kau pikirkan. Aku jamin itu.
“Lalu, kau?”
Pertanyaanku membuat wajahnya berubah masam. “Aku sudah bekerja.”
“Bekerja apa?”
“Semacam … uji nyali.”
“Aku serius.”
Aku mengernyitkan dahi. “Apa maksudmu kau bekerja semacam ‘uji nyali’?”
Dia menghela nafas. “Aku bekerja sebagai penjaga kamar mayat.”
Kemudian ia mengedikkan bahu dan melanjutkan perkataannya, “Sepertinya nasibku tidak terlalu beruntung jika dibanding dengan kalian. Tapi, yah, tidak terlalu buruk dari pada tidak mendapat pekerjaan sama sekali.”
Aku mengangguk paham. “Kau akan naik pangkat nanti.”
Wajahnya menatapku penasaran. “Sebagai apa?”
“Mayat.”
Dia mengacungkan garpu yang dipakainya dengan ekspresinya yang tersenyum paksa. “Perlukah aku menusukmu dengan ini?”
Aku tertawa. “Maaf, maaf. Lagipula, kita adalah calon mayat, bukan?”
Dia menurunkan garpunya. “Benar juga.”
“Bagaimana pekerjaanmu?” tanyanya mengalihkan topik. “Waktu itu kau bercerita bahwa ayahmu menginginkanmu jadi polisi.”
“Ya, itu terjadi.”
“Lalu bagaimana? Kau menikmatinya?”
Aku belum menjawab. Alston kembali membuka mulutnya.
“Dilihat-lihat dari wajahmu, kau terlihat seperti mayat hidup. Jika seseorang melihatnya secara detail, aku yakin mereka menganggapmu begitu.” Dia menunjuk wajahku dengan garpu yang dipegangnya.
“Berlebihan,” komentarku.
“Kau kurang tidur?”
“Begitulah.”
“Kau masih bermimpi buruk?”
Aku terdiam.
“Jangan menyalahkan dirimu, Juan. Sudah kubilang, ‘kan, itu bukan salahmu. Sudah delapan tahun lamanya.”
---
Foolish Four (4)
__ADS_1
Alston Aaron membuat grup.
Alston Aaron menambahkan Anda.
Riley J.
Ada apa dengan nama grupnya? Ganti.
Leon R.
Jika mau bodoh, jangan mengajakku.
Alston A.
Iya, iya.
Alston Aaron mengubah nama grup menjadi “Fancy Four”.
Riley J.
Apa itu tidak berlebihan?
Alston A.
-___-
Anda
Halo!
Leon R.
WOW!
APAKAH INI JUAN SCOTT YANG DAHULU MELEMPAR BOLA BASKET KE WAJAH KEPALA SEKOLAH????
Anda
Bisa diam, tidak?
Alston A.
Hei, itu tidak pernah terlupakan hahaha.
Legendaris.
Riley J.
HAHAHA.
Omong-omong, selamat datang, Juan Scott.
Hei, kita sudah lama tidak bertemu.
Tapi aku masih di Kota Patton.
Aku sibuk.
Leon R.
Tidak ada yang bertanya.
Riley J.
Aku memberitahu.
Leon R.
Aku tidak mau tahu.
Alston A.
Aku suka pertengkaran ini.
Aku tertawa membaca isi obrolan itu. Kebiasaan, dari dulu mereka memang suka bertengkar. Yah, hanya pertengkaran yang ringan, yang sebenarnya hanya membuat hubungan kami merapat.
Riley J.
Terserah.
Bagaimanapun, mari bertemu suatu saat!
Leon J.
Ya, ya.
Anda
Tentu saja!
Alston A.
Pastinya.
Aku meletakkan ponselku dan menatap barang belanjaanku yang sudah kutaruh di meja dapur. Selera makanku hilang, entah ke mana.
Masa bodoh. Aku tidak jadi makan.
Aku menyimpan barang-barang belanjaanku di tempat seharusnya. Sebentar, ada yang kurang.
__ADS_1
Aku menepuk dahiku.
Aku lupa membeli teh dan kopi.