
Aku mengendarai mobilku dengan kecepatan sedang di sebuah jalan raya. Sesekali aku melihat ke kaca spion agar tidak terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Mobil-mobil yang ikut melaju cukup banyak hari ini. Informasi tambahan—juga tak penting, aku sempat mampir ke sebuah toko roti favoritku karena aku tidak sempat sarapan tadi pagi.
Aku melihat ke kaca spion di dalam mobil. Ada sebuah mobil yang sama yang kulihat saat aku baru pergi dari apartemen.
Apa kami punya tujuan yang sama?
Aku mengubah jalur yang dilewati mobilku menjadi lebih ke kiri. Aku melihat spion lagi, mobil itu melakukan hal yang sama. Kemudian aku mengubah lagi jalur ke kanan. Mobil itu melakukan hal yang serupa lagi.
Tidak salah lagi, aku sedang diikuti.
Baiklah, karena aku sudah muak dengan hal ini, aku ingin bicara padanya apa yang terjadi dan kenapa dia melakukan hal ini.
Aku kemudian berbelok. Padahal dalam perjalananku ke kantor, seharusnya aku tetap lurus. Yah, tidak mungkin juga, kan, aku berhenti di tengah jalan raya yang cukup ramai itu?
Jalan yang kulalui sementara ini cukup sepi—atau bahkan memang sepi karena tidak ada yang melewati jalan ini. Di kanan dan kirinya hanya sebuah pepohonan yang cukup menjulang tinggi. Akan terasa horor jika melewati jalan ini di malam hari. Aku sempat melihat palang yang menunjukkan bahwa jalan ini merupakan jalan untuk ke kota sebelah.
Aku masih menjalankan mobil dengan pelan dan melihat ke kaca spion. Benar saja, mobil itu mengikutiku.
Aku kemudian memberhentikan mobil. Aku terdiam sebentar, menimang-nimang apakah aku perlu membawa taser yang berada di dalam laci dasbor atau tidak. Akhirnya, aku mengambil taser itu dan menyembunyikannya dalam jaket.
Aku pun keluar dari mobil dan berjalan menuju mobil lainnya. Aku mengetuk kaca mobil tersebut, namun si pengendara tak kunjung membukakan kaca mobilnya. Aku kemudian melihat kaca mobil itu dengan cermat. Ada bayanganku dan bagian dalam yang tidak terlalu jelas karena kaca itu dilapisi kaca film yang gelap. Tapi pandanganku cukup bisa menelisik ke bagian dalam.
Namun, tidak ada siapa-siapa di dalamnya.
Lalu, siapa yang mengendarainya? Tidak mungkin mobil itu berjalan sendiri, 'kan?
Kemudian, aku berjalan dan berdiri tepat di depan mobil itu tanpa tujuan. Atmosfer di sekitarku terasa begitu aneh. Bulu kudukku berdiri dengan sendirinya. Aku merasa seseorang berjalan di belakangku. Aku membalikkan badanku dengan cepat.
Aku begitu terkejut ketika seseorang tiba-tiba di belakangku dengan pisau di tangan kanannya. Aku terpojok. Punggungku berada di atas kap mobilku dan dia berada di hadapanku. Aku tidak bisa lari. Ujung pisau itu berada tepat di wajahku. Aku menahan mata pisau itu dengan kedua tanganku. Darah segar mulai mengucur dari kedua telapak tanganku.
Sekali saja aku lengah, dia mungkin bisa mencungkil mataku dengan pisau itu.
Tatapanku beralih kepada seseorang yang mencoba mencelakaiku itu. Wajahnya tampak familiar, tapi aku tidak tahu dia siapa. Wajahnya yang berwarna tan itu cukup menandakan kemarahan. Badannya agak besar dibandingkan denganku. Tenaganya juga cukup kuat.
“Hei, Bung! Kita bisa bicara dahulu, bukan?” kataku padanya sedikit mengeraskan suara sambil menahan bilah pisau itu sekuat tenaga. Dia tidak menghiraukanku.
Pikiranku terbagi menjadi tiga. Berpikir untuk mencoba mengenali siapa orang ini, berpikir tentang kesalahan apa yang sudah kuperbuat, dan berpikir bagaimana caraku mengentikannya.
Di tengah-tengah kejadian menegangkan itu, tiba-tiba suara bising yang entah dari mana asalnya memekakkan telinga. Seseorang menarik pelatuk dan membuat suara tembakan. Suara tembakan itu melengahkan dia. Aku tidak tahu ke mana peluru itu ditembakkan, tetapi orang ini sedikit menjauh dariku.
Kesempatan!
Aku mengambil taser dari saku jaketku dan menggunakannya. Ia tersetrum. Tak lama ia melemas, ia pun jatuh di atasku. Aku menyingkirkannya dan punggungnya jatuh di kap mobilku. Aku terengah-engah.
Aku melihat sekeliling, mencari tahu siapa yang membuat suara tembakkan itu. Tidak ada siapapun. Apa orang itu sudah pergi? Atau mungkin sebenarnya seseorang tidak menembakkan sesuatu ke arah kami?
Tapi jelas-jelas suara tembakan itu di sekitar sini.
Aku hanya menghela nafas dan melihat telapak tanganku yang berdarah-darah.
Ada seseorang yang menyelamatkanku lagi. Apakah itu ‘dia’?
Aku sudah memindahkan mobilku dan mobilnya ke pinggir jalan. Aku mendudukannya dan menyandarkannya di pohon. Sementara aku duduk di jok mobil dengan pintu terbuka sambil mengigit roti lapis yang kubeli sebelumnya. Kedua tanganku sudah kuobati dan kuperban sendiri dari kotak P3K yang berada di mobilku.
Namanya Barbara. Kini aku ingat. Kami berada di universitas yang sama, dahulu. Dia sempat dipenjara. Aku tidak tahu motifnya kenapa dia melakukan hal tadi padaku. Tapi dugaanku, mungkin ada kaitannya dengan hal itu.
Aku juga akhirnya mengabarkan pada kapten bahwa aku mengambil cuti. Aku akan menceritakan alasannya nanti padanya.
Aku mendengar gumaman tidak jelas darinya. Aku pun turun dari mobil setelah membuang bungkus roti di tong sampah kecil dalam mobilku. Aku berjalan ke arahnya dan ikut duduk di sampingnya.
“Kau sadar?” Aku berbasa-basi.
“Kenapa?” tanyanya. Ia masih terduduk dan mendongak untuk berbicara padaku.
“Apanya?” tanyaku balik.
“Kau bisa membawaku ke kantor polisi.”
“Aku tidak berniat melakukannya.”
“Kenapa?”
“Kau ingin dipenjara lagi?”
__ADS_1
Ia terdiam.
“Sepertinya aku tahu alasanmu menyerangku,” kataku. “Masalah narkoba itu, bukan?”
Dia tidak menjawab.
“Aku tidak pernah mengadukanmu.”
Pernyataanku membuat ia mengangkat kepalanya. Aku yakin dia menuntut sebuah penjelasan.
“Seseorang menemukannya dan kau tertangkap. Aku tidak pernah mengadukanmu walaupun aku pernah berniat. Namun, seseorang yang menemukan obat-obatan ilegal milikmu lebih cepat.” Aku menjelaskan. “Kau ingat? Aku tahu kau menggunakan obat-obatan itu karena obat itu terjatuh dari genggamanmu, dan aku memungutnya. Aku bahkan tidak terpikirkan bahwa itu adalah obat terlarang saat itu. Tapi, orang yang melaporkanmu menemukan obat-obatan di mobil milikmu. Aku tidak tahu siapa, tapi dia melaporkanmu lebih cepat.”
“Yah, bagaimanapun, aku minta maaf karena kesalahpahaman ini,” lanjutku. “Tetap saja, perbuatanmu di masa lalu itu tidak bisa dibenarkan.”
“Tidak, maaf. Itu salahku,” katanya. “Aku hilang akal, sepertinya. Mengedarkan narkoba dan memakainya, kemudian dipenjara dan rehabilitasi. Namun, aku malah menyalahkanmu karena mengadukanku.”
“Maaf,” katanya lagi.
“Paket dan surel itu?” tanyaku.
“Ya, itu aku. Maaf.”
“Yah, tidak masalah. Aku tidak mau memperpanjangkannya.” Aku mengambil satu roti lagi dari mobil dan kembali lagi padanya. “Aku senang kau menyadarinya. Lupakan kejadian ini dan jalani hidupmu,” lanjutku. “Omong-omong, kau sudah makan? Aku membeli dua roti lapis.”
---
“Juan, di sini!” Seseorang berteriak sambil melambaikan tangannya padaku begitu aku masuk ke dalam sebuah restoran fast food sederhana ini. Musik lo-fi dari restoran ini memasuki indera pendengaranku. Cukup banyak pelanggan juga pada malam kali ini. Tentu, ini adalah tempat favorit kami ketika istirahat bekerja, atau sepulang bekerja setelah kafe. Ada Harry, Sean, dan—seseorang yang melambaikan tangan—Dean di sana.
Aku menghampiri mereka dan duduk di samping Grissham, dengan Hadley dan Reagan di depan kami.
“Tanganmu,” ucap Sean tiba-tiba yang melihat kedua tanganku dibalut perban. “Kenapa?”
“Oh, ada masalah.” Aku menjawab.
“Itu sebabnya kau cuti?”
Aku mengangguk.
“Ada apa?”
“Apa hubungannya temanmu itu dengan kondisi telapak tanganmu itu?”
“Ada masalah. Sebuah kesalahpahaman. Tapi masalah itu sudah beres, tak perlu khawatir.”
“Dia yang menyebabkan tanganmu begitu?” tanya Sean. “Dilihat dari kedua tanganmu sepertinya dia mencoba melakukan sesuatu padamu. Seperti ... menusukmu dengan pisau? Tanganmu mencoba menahannya.”
“Ya ... begitulah.”
“Sebentar, apa ini percobaan pembunuhan?”
“Hei, apa tidak berlebihan dengan menyebutnya seperti itu?” tanyaku.
“Lalu kau menyebutnya apa? Kecelakaan?”
Aku tidak menjawabnya.
Dean mengerutkan dahinya. “Di mana dia? Kau tidak membawanya ke kantor polisi?”
“Aku melepaskannya.”
“Apa?!” Dean dan Harry rucap bersamaan, sementara Sean hanya menatapku, seakan meminta penjelasan.
Aku hanya mengangkat bahu. “Entah. Aku sedikit kasihan jika aku menuntutnya, padahal dia sudah dipenjara selama dua tahun.”
Dean menggelengkan kepalanya tak percaya.
“Jangan berlebihan,” kataku. “Dia tidak mungkin macam-macam lagi. Jika dia melakukan sesuatu pun, aku akan melaporkannya.”
“Baiklah, lupakan. Terserah padamu selama kau baik-baik saja. Mari kita memesan sesuatu, aku sudah lapar.” Sean berucap kemudian. Ia pun memanggil seorang pelayan.
“Apa yang kalian pesan?” tanya Sean pada kami bertiga.
“Cheeseburger dan cola.”
__ADS_1
“Pesananku sama dengan Harry.”
“Aku tidak usah.”
“Kau serius? Pesanlah sesuatu,” kata Seanpadaku.
“Aku masih kenyang. Aku baru makan roti lapis tadi,” jelasku.
“Setidaknya satu,” ucap Sean.
“Baiklah, kopi reguler.”
Pelayan itu mencatat pesanan kami dan pergi.
“Kapten, apa di tempatmu bekerja sebelumnya kau menjabat sebagai kapten juga?” tanya Harry.
“Tidak.”
“Lalu kenapa dipindahkan ke sini?”
“Aku tidak tahu.”
“Omong-omong, kenapa kalian menjadi anggota polisi?” tanya Harry lagi. Kulihat Sean yang duduk bersandar sambil melipat kedua lengannya, terlihat tidak tertarik dengan pembicaraan ini. “Aku hanya penasaran. Kurasa kita belum pernah membicarakan ini.”
“Kalau aku, hanya keinginan sendiri.” Harry menjawab pertanyaannya lebih dulu. “Bagaimana denganmu?”
“Ayahku menginginkannya,” jawabku. Kami menoleh ke arah Dean, menunggu jawabannya.
“Entahlah. Takdir?” Ia tertawa garing.
“Bagaimana denganmu, Kapten?” Harry menoleh ke arah Sean. Tapi, tak lama Harry mengalihkan pandangannya, sepertinya dia tahu bahwa Sean tidak tertarik dengan topik pembicaraan ini.
“Dahulu,” ucap Sean tiba-tiba, “ibuku terbunuh.”
Kami sontak menoleh ke arah ketua kami dengan cepat. Ibunya? Terbunuh?
Harry menggaruk tengkuknya canggung. “Aku turut berduka.”
“Lalu, bagaimana?” tanya Dean. Aku menyenggol lengannya.
“Kau mengorek luka lamanya,” bisikku.
Sean mendengarku. “Tidak masalah,” katanya. “Ibuku saat itu korban tabrak lari, dan pelakunya orang berada. Hampir lima tahun sejak kejadian itu, pelakunya hampir tidak tertangkap.”
Aku tidak pernah menyangka bahwa kapten baru kami memiliki masa sekelam ini.
“Pelakunya sudah tertangkap sekarang?”
Sean mengangguk. Ia membenarkan kacamata yang bertengger di hidungnya. “Locko Boyd.”
“Dia yang menabrak ibumu????” Harry tampak terkejut.
“Locko Boyd siapa?” tanyaku. Namanya sangat asing.
“Kau tidak tahu?” Dean menoleh padaku. “Dia CEO perusahaan otomotif. Hywel Motor Corp, dia yang mendirikannya. Belum pernah dengar?”
Harry mengangguk. “Banyak orang yang memakai produknya.”
“Kalau perusahaan itu, aku tahu,” jawabku. “Aku tidak pernah mendengar berita penangkapannya.”
“Benarkah? Itu sempat heboh dulu.”
“Omong-omong, kau yang menangkapnya sendiri?” Harry menoleh ke arah Sean.
“Tidak juga, aku punya sebuah tim. Kami bersama-sama menangkapnya.”
Tak lama pesanan kami pun datang. Kami berbagi cerita masing-masing, termasuk ceritaku. Tapi tidak dengan cerita adikku. Aku masih menyembunyikannya dari mereka. Itu terlalu menyakitkan.
Kau tahu? Aku merasakan kehangatan di sini. Aku suka itu.
Tapi ... kenapa aku merasa bersalah?
Jane meninggal karenaku, tapi aku hidup dengan baik-baik saja.
__ADS_1
Jane, maaf. Aku minta maaf.