
Napasku memburu. Aku mengepalkan tanganku. Jadi, ini yang ada dalam pikirannya saat itu? Entah mengapa aku rasanya ingin marah.
“Kenapa?” Suara Dean memasuki indera pendengaranku.
“Kita harus cepat.” Aku berkata sedikit kasar. Aku hendak membuka pintu, tapi sejak kapan Dean sudah berada di dekatku dan menahan tanganku.
“Aku yang menyetir,” katanya dengan tatapan datar.
Aku mengelak. “Aku saja.”
“Emosimu bahkan terlihat tidak stabil. Kau mau menyetir mobil dengan emosi seperti itu? Aku ragu kau akan membawa kami dengan selamat.”
Kami saling menatap. Aku membuang napas kasar. “Baiklah.”
Dengan perasaan gusar, aku duduk di kursi penumpang. Dean menyetir sementara Harry duduk di sebelah Dean.
Dean mulai menjalankan mobil.
“Ada apa, Juan?” Harry yang duduk di sebelah kursi pengemudi, berbalik ke arahku, menanyakan keadaan.
“Ashley. Pengurus panti asuhan itu, berkata bahwa dia hendak memancing pelakunya. Kemungkinan terburuk dia sudah tertangkap. Kita harus cepat, Dean.”
Dean menatapku dari kaca spion. “Aku mengerti,” katanya. Kemudian dia mengeluarkan sirene dan menaruhnya di atap mobil kami melalui kaca jendela. Aku tahu, dia pandai dalam menyetir. Aku tidak tahu bagaimana jadinya jika aku yang menyetir tadi. Kemungkinan buruk mungkin akan terjadi.
Aku menelepon Archer, kapten tim lain.
“Apa?” tanyanya langsung.
“Kau di kantor?”
“Aku hendak pulang. Ada apa?”
“Ada paket di atas mejaku?”
“Ada. Kau masih menyelidiki kasus?”
“Tolong buka paket itu.” Aku tidak menjawab pertanyaannya.
“Eh?”
“Cepatlah!” seruku tak sabar.
__ADS_1
“Iya, iya. Astaga,” katanya. Kudengar helaan napas yang tipis di sana. “Sebentar.”
“Ada apa di dalamnya?”
“Ponsel keluaran lama.”
“Ada apa dalam ponsel itu?”
“Sebentar,” katanya. “Hanya ada satu aplikasi. Yang lainnya merupakan aplikasi bawaan. Aplikasi ini terhubung dengan alat pelacak.”
“Bisa kau pergi ke lokasi yang ditunjukkan? Kami dalam perjalanan dan akan menyusul. Kami mungkin butuh bantuanmu di sana. Ah, ya, kirimkan juga lokasi di ponsel itu pada kami untuk berjaga-jaga.”
“Baiklah-baiklah. Perlu kupanggil timku?”
“Terserah padamu. Terima kasih, Archer!”
Kami sudah sampai di alamat yang diberikan kakek tua itu. Sean pun telah kami beritahu tentang apa yang kami dapatkan. Beberapa informasi pun telah kami dapatkan. Dia adalah Sches Martinez. Dia pernah membuat beberapa catatan kriminal seperti mencuri dan membuat keributan.
Lokasi yang diberikan kakek itu berada di sebuah rumah sederhana. Kami sudah mematikan sirene kami. Setelah mengabari Sean, dia memerintahkan kami untuk menangkapnya secara diam-diam. Kami memarkirkan mobil-mobil kami dengan jarak yang tidak terlalu jauh dari rumah pelaku itu.
Kami mengendap-endap. Rumah ini gelap. Terlihat seperti tidak berpenghuni. Ada aku, Dean, Harry, Archer—dan dua orang dari timnya, dan tentunya Sean, serta tiga detektif dari kota Raven—termasuk Rosemary. Lalu beberapa polisi bersembunyi di balik mobil.
Kami berjongkok, mencoba bersembunyi di dekat palang pintu. Sean sudah bersiap di depan pintu untuk mengetuknya, berpura-pura menjadi tamu.
Pintu didobrak dengan keras. Sean berseru.
“Dia kabur!” seru Sean saat melihat sebuah siluet yang pergi dari pandangannya.
“Enam orang, ikut aku!” Sean berseru lagi. Dua orang detektif dari Kota Raven, Archer dan dua anggota timnya beserta Dean ikut dengan kapten kami. Kami paham bahwa dia menyuruh tiga orang sisanya untuk mencari Ashley. Beberapa polisi lain yang berjaga pun berpencar.
Sean dan lainnya pergi dari rumah ini untuk menangkap pelaku itu. Aku, Harry, dan Rosemary memasuki rumah ini dan mencari Ashley. Kami berpencar.
Beberapa menit kemudian, kami berkumpul di ruang tengah. Mereka menggeleng, tanda bahwa mereka tidak menemukan tanda-tanda eksistensi Ashley.
“Di mana dia?” gumamku khawatir.
“Bagaimana dengan ruang bawah tanah?”
“Aku tidak menemukannya. Kurasa tidak ada ruang bawah tanah di sini.”
“Mungkin ada ruangan tersembunyi atau petunjuk bahwa dia memiliki ruangan lain,” ujar Rosemary.
__ADS_1
Kami berpencar kembali untuk mencari petunjuk.
“Ruangan tersembunyi, ya?” Aku berjalan dengan menyeret jari-jariku pada dinding di sebuah ruangan. Ruangan ini mungkin kamarnya. Hanya seperti kamar pada umumnya, tidak ada yang mencurigakan. Lalu aku mencoba mengetuknya setiap aku melangkah.
Sampai aku menemukan sebuah suara yang berbeda di suatu titik.
Aku mencoba mengetuk dinding yang jaraknya sekitar dua jengkal dari dinding yang memiliki suara yang berbeda.
Lalu aku mengulangi—mengetuk dinding yang sebelumnya.
Suaranya yang lebih nyaring membuatku berpikir bahwa memang ada ruangan di balik sana. Kurasa yang ini hanyalah pintu yang terlihat seperti dinding. Dinding yang satu ini terbuat dari kayu, berbeda dengan dinding yang sebelumnya kuketuk. Aku mendorongnya.
Dia memasang pintu yang persis dengan dindingnya, namun tidak ada pengaman di sana. Mungkin dia berpikir bahwa tidak akan ada yang menemukannya. Lagipula, dinding yang ini tidak sama rata dengan semua dinding dalam ruangan itu.
Diselimuti rasa penasaran, aku langsung masuk ke dalam tanpa memanggil Harry dan Rosemary. Aku spontan menutup hidung dengan punggung tangan karena ruangan ini agak berbau apak. Tidak ada ventilasi. Ruangan ini sangat gelap. Aku tidak tahu di mana sakelarnya.
Aku membuka ponselku, menyalakan senter. Mengarahkan senter itu ke seluruh penjuru ruangan, dan sesosok wanita tertangkap indera penglihatanku.
“Ashley!” kataku. Aku menghampirinya. Dia terbaring di lantai, kaki dan tangannya dirantai, wajahnya agak babak belur. Dia benar-benar gila.
“Ashley! Ashley!” panggilku berkali-kali. Aku membangunkannya—membuatnya terduduk. Aku menaruh ponselku di lantai—dengan senter yang masih menyala—dengan posisi terbalik. Memberi penerangan pada ruangan ini.
“AHHHH! PERGI! PERGI!” Dia berteriak histeris, seakan-akan menganggapku sebagai pelaku keji itu,
“Ini aku! Aku Detektif Scott! Tenanglah!” Aku memegang kedua bahunya, mencoba menyadarkannya. Tak lama, kesadaran dia kembali. Dia menatapku, kemudian tangisnya pecah memenuhi ruangan ini.
Aku memeluknya—mencoba menenangkannya.
“Aku di sini. Aku di sini.”
Aku masih terduduk menunduk di ruangan gelap ini. Ashley yang tadi menangis histeris itu jatuh pingsan. Rosemary dan Harry datang begitu mendengar suara teriakan Ashley. Mereka memanggil ambulan, dan Ashley sudah dibawa ke tempat yang aman, ditemani oleh Rosemary. Aku masih menunduk, tetapi aku tahu Harry menemukan sebuah sakelar lampu begitu ruangan ini berubah menjadi terang.
“Juan.” Harry memanggil.
Aku mendongak. Harry tengah berdiri menghadap tembok.
Aku berdiri, menghampirinya. Mataku terbelalak melihat sesuatu di hadapanku.
Poster yang hampir memenuhi tembok tanpa cat, sebuah televisi dan sofa tunggal, kaset DVD yang berserakan.
Kurasa ini adalah alasan mengapa Sches Martinez melakukan ini.
__ADS_1
Dia adalah seorang pecandu pornografi.