
“Ini hanya perasaanku saja atau memang suasananya terasa mencekam?”
Harry datang dan mengatakan sembilan kata itu dengan ekspresinya sedikit takut. Di ruang rapat ini terdapat aku dan Sean yang sudah diam di dalam sini sejak lama. Kami tinggal menunggu Dean.
“Kau kurang tidur?” tanya Harry setelah ia duduk di sampingku. Mungkin karena ia melihat wajahku yang kelelahan.
“Ya, kurasa.”
Ini semua gara-gara pembunuh itu. Aku tidak bisa tidur semalaman. Tapi aku sempat terlelap selama satu jam lebih.
Tak lama Dean datang dan duduk di depanku. Dengan ini, kami akan membahas tentang pembunuhan Mort dan Levon.
“Baiklah. Karena semuanya sudah di sini, aku akan membahas kasus Mort sebelum kita menjelaskan secara detail kepada para atasan.” Sean membuka suara. Ia berdiri dan menyalakan rekaman percakapan telepon antara aku dan pembunuh itu tadi malam.
Aku menghela napas berat. Mendengar percakapan ini rasanya membuatku naik pitam. Aku menyandarkan punggungku pada punggung kursi.
“Sebentar—apa maksudnya?” kata Harry, “Dia pelakunya? Meneleponmu? Ada korban lagi?” tanyanya bertubi-tubi. Aku mengangguk pelan.
“Jadi, ledakan itu memang sengaja, ya.”
Ucapan Dean membuatku menoleh.
“Artinya, ini pembunuh berantai, dan pembunuh itu sengaja membunuhnya di depan kita. Mort dan ledakan kemarin. Tepat di depan kita,” tegas Dean.
Sean mengangguk setuju.
Ada benarnya.
Tapi, kenapa?
Kenapa dia meneleponku?
Aku sasarannya?
Jika begitu, kenapa tidak langsung membunuhku?
Tapi, aku bahkan tidak mengenali korban yang kedua. Tidak ada hubungannya denganku. Kenapa?
“Tetapi, kenapa pelakunya menelepon Juan?” Harry bertanya lagi.
“Kita mungkin akan mengetahuinya nanti,” jawab Sean. Dia meletakkan foto Mort di papan kasus, dan menempelkan foto orang lain di samping foto Mort.
“Seperti yang kalian dengar tadi, ada dua korban lagi yang akan mati di tangannya. Kita harus mencegah itu sebisa kita,” jelas Sean.
Ia melanjutkan. “Mort Parker, dia terbunuh di jalan raya karena ditembak seseorang. Informasi tentang pembunuh, kami belum menemuinya. Berdasarkan kesaksian kasir minimarket yang sempat didatangi si pembunuh, pembunuh itu pria dan memiliki tato kupu-kupu.”
“Korban kedua, karena ledakan di mobilnya. Aku sudah menemukannya, namanya Levon Jourell. Seorang dosen di Universitas Eswen. Mantan aktivis hak asasi manusia. Aku yakin beritanya sedang meledak di internet dan televisi sekarang,” jelasnya.
“Seorang dosen?” ulang Harry. Aku menoleh dan melihat dirinya mengeluarkan ponsel.
“Wow, beritanya heboh,” ucapnya tanpa memalingkan pandangannya dari layar ponselnya. Aku mendekat dan melihat headline-headline berita tentang kematian Levon Jourell.
Ledakan Mobil Terjadi di Marylane, Satu Orang Tewas.
__ADS_1
Seorang Dosen Sekaligus Mantan Aktivis HAM Ditemukan Tewas Karena Ledakan Mobil.
Ledakan Mobil Terjadi, Kepala Polisi Marylane: Ini Pembunuhan.
Masih banyak lagi.
“Kau yang memberitahu kepala polisi?” tanyaku.
“Ya. Aku memberitahu apa yang terjadi malam itu.” katanya.
“Kita harus melacak nomornya.”
“Aku sudah melakukannya tadi malam,” kata Sean. “Aku tidak bisa melacaknya.”
Tiba-tiba aku mengingat sesuatu.
Ada suara berisik di seberang sana, saat pembunuh itu meneleponku.
“Hei, ada yang punya earphone?” tanyaku. Kulihat Harry yang langsung mengeluarkannya dari sakunya dan menyodorkannya padaku.
“Terima kasih,” kataku sambil menerimanya. Aku memasang kabel earphone agar tersambung di ponselku. Aku memasangkan kedua ujung earphone pada kedua telingaku. Menyalakan kembali rekaman itu dan mendengarkannya dengan saksama.
Aku menutup kedua mataku, mencoba fokus.
“Sudah tiga puluh ....”
“Perayaan ....”
“... meledak, ya?”
“Tunggu a ....”
Sisanya yang terdengar adalah suara kembang api. Aku membuka mataku, menghela napas pelan.
“Kenapa?” tanya Sean kemudian.
“Ada suara lain. Aku akan memeriksanya ke forensik untuk menjernihkannya,” kataku.
“Baiklah. Aku dan Dean akan mencaritahu hubungan Mort dan Levon. Kau pergilah dengan Harry.”
---
“Bisa kau besarkan volumenya?”
Alvin Baker, merupakan seorang yang bekerja di forensik selama beberapa tahun itu mengangguk. Ia mengotak-atik komputer dihadapannya. Ia memperbesar suara lain dibalik telepon itu.
Kami bertiga—aku, Harry, Alvin—mendengar suara itu.
“Hari ini, perayaan peresmian jembatan resmi dibuka!”
“Pembukaan jembatan ... oleh Walikota Marylane, Newton dan ....”
Sisanya suara kembang api.
__ADS_1
“Suara disekitarnya terlalu berisik,” komentarku. Durasi teleponnya bisa dibilang sebentar. Hanya itu yang kami dengar.
Kulihat Alvin yang menyandarkan punggungnya. “Sepertinya aku tahu. Ada pembukaan jembatan baru yang menghubungkan antara Kota Marylane dan Kota Northcliff.”
“Benarkah?” tanya Harry. “Kami akan ke sana.”
“Aku akan mengirimkan lokasinya padamu.”
Dan, di sinilah kami. Butuh beberapa menit untuk sampai ke sini.
Benar saja, ada sebuah jembatan yang sudah dilewati beberapa pengguna kendaraan. Aku melihat sekeliling. Dia meneleponku di sini?
“Kurasa kita harus mengecek beberapa CCTV,” ucap Harry sambil melihat ke atas. Aku mengikuti arah pandangnya. Ada beberapa CCTV jalan di sana. Aku mengangguk.
Kami berpencar untuk mendapatkan video CCTV malam tadi. Ada sekitar lima CCTV yang terpasang dan menampilkan area sekitar jembatan. Tidak semuanya, hanya sekitar mulut jembatan, mengingat bahwa jembatan ini cukup besar.
Kami memutuskan untuk mengecek videonya di dalam mobil dengan menggunakan ponsel masing-masing. Kami menghubungkan diska lepas berisi rekaman itu dengan kabel OTG tipe C ke ponsel.
Sayangnya, dia memakai helm dan pakaian serba hitam. Kami tidak bisa melihat wajahnya.
“Kurasa sia-sia,” kata Harry. Lagi-lagi aku menghela napas.
Tunggu, Setelah jembatan itu sudah dibuka untuk umum beberapa menit yang lalu, dia terlihat berjalan di trotoar kecil jembatan dan kemudian terdiam—seperti sedang merenung. Dia melipatkan kedua tangannya di pagar jembatan. Dia seperti itu selama beberapa menit, kemudian berjalan lagi. Ia menaruh sesuatu bawah pagar jembatan, lalu melihat ke arah CCTV yang sedang kami tonton rekamannya, seakan-akan dia tahu bahwa aku akan melihat rekaman CCTV ini.
Setelah itu, dia menaiki motor yang terparkir tak jauh dari sana. Nomor polisinya tidak terlihat pada kamera. Jika terlihat pun, aku yakin itu palsu. Dia akhirnya pergi menyusuri jembatan itu dan tidak terlihat lagi.
Aku dan Harry saling bertukar pandang. Kami tahu apa yang harus kami lakukan.
Kami akhirnya pergi ke jembatan itu. Mencari tahu apa yang ditaruhnya malam itu di sini. Setelah sampai di sana, aku melihat di bawah pagar jembatan—tepat di mana si Pembunuh itu berdiri malam itu. Sebuah tangkai bunga berwarna kuning yang sedikit layu. Aku mengambilnya dengan tanganku yang kubungkus dengan sarung tangan sebelumnya.
“Bunga?”
---
Sean memandangi bunga kuning itu yang terbungkus plastik di kursinya. Dahinya mengerut, seperti sedang berpikir apa kaitan bunga ini dengan kasus pembunuhan selama ini.
“Aku tidak tahu bunga apa ini,” komentarnya.
Kami juga tidak tahu itu.
“Letnan Hadley, kau dipanggil atasan.”
Kami berempat menoleh ke sumber suara. Seorang petugas lain dari kepolisian ini. Sebelum Sean menjawab, dia lebih dulu menyela.
“Oh, apa itu?” tanyanya sembari memandang benda yang dipegang Sean, “Aku seperti pernah melihatnya.” Ia masuk ke ruangan dan mendekat.
“Kau tahu?” tanya Sean yang mendongak, menatap lawan bicaranya. Tangannya tergerak menyodorkan plastik zip berisi bunga itu padanya.
Dia mengambilnya dan mengamatinya dengan saksama. “Bird’s-foot ... trefoil. Benar, itu dia!” serunya.
“Bird’s—apa?” tanya Harry.
“Bird’s-foot trefoil. Aku pernah menemukannya saat aku berada di Inggris,” katanya sambil mengembalikan bungkusan itu. “Tapi, istriku tidak menjualnya karena maknanya negatif. Ah, ya! Istriku adalah seorang penjual bunga.”
__ADS_1
“Maknanya negatif? Apa makna bunga itu?”
“Balas dendam.”