
Aku dan Harry melihat ruangan itu. Aku mengepalkan tanganku. Demi memuaskan nafsunya, dia memperkosa dan membunuh? Dia gila.
“Pelaku pergi ke hutan. Bantuan diperlukan.” Suara kapten kami terdengar melalui radio yang menghubungkan kami.
“Astaga. Larinya sangat cepat.” Ini suara Dean.
Aku dan Harry saling menatap dan mengangguk. Kami akhirnya ikut mengejar pelaku itu.
Aku dan Harry berpencar saat kami telah di hutan. Kini, hanya aku sendirian. Aku hanya berlari tanpa arah. Berharap akan menemukan pelaku biadab itu.
“Aku kehilangan jejak.” Suara salah satu polisi melalui radio itu.
“Aku juga.” Suara lainnya.
Ke mana dia?!
Sayup-sayup terdengar suara dari balik semak-semak. Aku menoleh ke arah suara. Semak-semak itu menghasilkan bunyi. Apa ada seseorang di baliknya?
Aku mengambil batu kerikil dari tanah dan melemparkannya ke asal suara.
“Meow.”
Oh. Itu hanya seekor kucing.
“Ah!”
Kepalaku terasa berat, sesuatu menghantam kepalaku. Aku tersungkur ke tanah. Penglihatanku sedikit memburam. Aku melihat seseorang yang berlari mendahuluiku.
Aku berusaha berdiri sekuat tenaga. Aku mengusap bagian belakang kepalaku. Aku melihat jari-jariku yang berlumuran darah. Di sampingku, ada sebuah batu berukuran sedang yang berlumuran darah juga. Dia memukulku dengan batu itu.
Aku berusaha bangkit. Mataku berkunang-kunang.
Aku menggeleng. Tidak, aku tidak boleh kehilangan kesadaran di sini. Aku bangkit dan berlari meski kecepatan berlariku tidak secepat dia. Aku sedikit sempoyongan, tapi aku masih bisa melakukannya.
“Berhenti!” teriakku.
“Polisi bodoh! Kalian tidak bisa menangkapku!” balasnya.
Aku menambah kecepatan berlariku. Semakin dekat.
Sedikit lagi.
Aku mengulurkan tanganku untuk meraih pakaiannya, tapi belum sempat. Dia masih berlari.
Sedikit lagi.
Tenaganya kurasa hampir habis. Larinya tidak secepat tadi. Kesempatan! Aku mempercepat lariku.
Dan … tertangkap!
Dia tengkurap dan aku menindih punggungnya. Tangannya terkunci olehku. Aku terengah-engah. Aku mengatur napasku. Kepalaku masih terasa pusing.
“Kau biadab,” kataku.
Wajahnya menghadap kanan dan matanya menatap ke arahku yang masih menindihnya. Dia tertawa mengejek.
Aku marah. Dia tertawa sementara korbannya begitu menderita. Dia psikopat.
“Kau benar-benar!” Aku berseru. Aku mengeluarkan revolverku dan mendekatkan mulut revolver pada pelipisnya. Tiba-tiba, bayangan korban melintas di pikiranku. Betapa sadisnya apa yang dia lakukan pada gadis-gadis tak bersalah itu. Dia juga menyakiti Ashley.
Dia tidak pantas hidup.
Dia harus mati.
Mati.
Mati.
__ADS_1
“Juan, hentikan!”
Suara Sean.
Dia masih menatapku. Ia tertawa dengan alasan yang tak kuketahui.
“Juan, berhenti!”
Itu suara Harry. Aku tidak melihat sekelilingku. Aku melihat psikopat ini yang masih menatapku dan tertawa meremehkan.
“Juan, ya? Ayo, bunuh aku.”
Mataku membulat mendengar perkataannya. Jantungku berdebar dengan kencang. Perasaan apa ini?
“Ayo, bunuh. Kau merasakannya, kan? Jantungmu berdebar, kan? Ini memacu adrenalin. Ayo, bunuh aku, Juan! Kau akan merasakan kenikmatan itu.”
“Kakak, jangan!”
Jane yang berumur enam tahun itu memukul tanganku.
“Ah!” kataku. “Ada apa?”
“Jangan membunuh semut itu!”
“Memangnya kenapa? Hanya semut.” Tanganku hendak membunuh semut-semut yang tengah berbaris itu.
“Jangan!” Jane memukul tanganku lagi. “Kasihan, semut-semut itu punya keluarga. Mereka anggota keluarga. Apalagi, jika yang kakak bunuh itu kepala keluarga. Kasihan, Kak. Ayah pernah bilang begitu.”
“Hmm, benar juga.”
“Janji, jangan menyakiti siapapun, oke?”
“Kau juga janji, Jane.”
“Iya, janji!”
Mulut revolver itu masih menempel di pelipisnya. Perlahan, aku menarik revolver dari pelipisnya. Dia terkejut.
“Aku bukan monster sepertimu.” Aku berkata.
Aku menaruh revolver itu dan mengambil borgol. Aku memborgol kedua pergelangan tangannya.
“Sches Martinez. Kau ditangkap karena melakukan pemerkosaan dan pembunuhan pada ketujuh korban, termasuk korban yang berhasil lolos dari pembunuhanmu dan kau sudah menyebabkan trauma dalam hidupnya. Kau mempunyai hak untuk tetap diam. Apa pun yang kau katakan dapat dan akan digunakan untuk melawan Anda di pengadilan. Kau memiliki hak untuk berbicara dengan seorang pengacara, dan memiliki seorang pengacara yang hadir selama interogasi. Dan kau harusnya tahu bahwa menyewa pengacara tidak akan menguntungkanmu.”
Selesai memborgol kedua pergelangan tangannya, aku berdiri. Dia telah dibawa oleh petugas polisi lain.
Kepalaku terasa seperti berputar-putar. Lebih parah dari sebelumnya. Apa karena dia memukulku tadi dengan batu? Aku mengusap wajahku, darah dari kepalaku mengalir mengenai wajahku.
Pandanganku mengabur. Aku ambruk dan hanya mendengar sayup-sayup suara teman-teman yang memanggil namaku sampai akhirnya aku benar-benar kehilangan kesadaran.
---
“Di mana … aku?”
Aku bergumam pelan.
Sepi. Tidak ada siapapun di sini.
Aku melihat tangan kananku yang terpasang infus. Oh, aku di rumah sakit lagi. Lukaku juga sepertinya sudah ditangani.
Tak lama kemudian, beberapa orang masuk ke dalam ruangan ini.
“Juan! Kau sadar!” seru Harry.
“Berisik, Harry,” omel Dean , “Kau baik-baik saja?” tanyanya kemudian padaku.
“Kau tidak lihat dia telah dipukul dengan batu?”
__ADS_1
“Kau tidak tahu apa itu basa-basi?”
“Hei, sudahlah,” lerai Sean. Aku hanya tesenyum kecil mendengar pertengkaran yang sepele itu.
Aku mencoba untuk beralih pada posisi duduk. Rasa pening langsung menyerang kepalaku begitu saja, membuat aku refleks memegang kepalaku.
“Jangan banyak bergerak, Juan,” ucap Sean. Dia beralih menaikkan kasurku di bagian kepala dan punggung, sehingga aku bisa duduk bersandar di kasurku.
“Terima kasih, Kapten.”
Aku tiba-tiba teringat dengan Ashley. “Ashley. Bagaimana dia?”
“Dia baik-baik saja. Dia ada di rumah sakit ini.”
“Ah, begitu.”
“Ju—”
Kami menoleh ke asal suara. Seorang wanita yang baru membukakan pintu.
Aku membulatkan mata. Dokter Oriel!
Jujur saja, jantungku berdetak dengan cepat, takut kalau mereka mengetahui bahwa itu adalah psikiaterku. Milly sepertinya tidak tahu jika teman-temanku berada di sini.
“Oh, aku salah ruangan. Maaf.” Milly segera menutup pintu dan pergi.
Dean menatapku. “Kau mengenalnya?”
“Kenal apa? Dia bilang dia salah ruangan.”
“Dia hampir menyebutkan namamu.”
“Nama berawalan ‘Ju’ ada banyak di dunia ini.” Aku mengelak.
“Omong-omong, apa bibiku tahu aku di sini? Apa dia menelepon atau semacamnya?” tanyaku mengalihkan pembicaraan.
“Tadi ada yang meneleponmu. Sepertinya itu bibimu,” jawab Harry.
“Lalu, kau jawab apa?”
“Aku—”
Belum selesai Harry menyelesaikan kalimatnya, pintu ruangan ini terbuka kembali. Menampilkan seorang wanita paruh baya yang mendatangiku dengan raut wajah khawatir. Bibiku datang. Harry mungkin memberitahunya.
“Juan!” serunya. Matanya yang berlinang air mata itu buru-buru diusapnya. Ia mendatangi dan memelukku. Aku menatap teman-temanku, mencoba memberitahu mereka untuk meninggalkan kami berdua di ruangan ini.
Mereka memahami itu dan keluar dari ruangan ini.
Aku membalas pelukan bibiku. Cukup lama sampai kami melepaskan pelukan masing-masing.
“Kolegamu bilang kau kecelakaan. Apa yang terjadi?” Nada khawatirnya bahkan tidak hilang.
“Bibi, aku baik-baik saja.” Aku tersenyum, mencoba menenangkannya.
Tak lama, pintu kembali terbuka. Milly kembali masuk ke ruangan ini, kali ini bersama asistennya. Mungkin dia hendak memeriksa kondisi mentalku.
“Teman-temanmu sudah perg—oh, aku tidak tahu ada tamu lagi.” Milly mencoba keluar dari ruangan ini lagi, namun perkataanku menahannya.
“Masuk saja, Dokter.”
Milly akhirnya mengurungkan niatnya untuk pergi dari ruangan ini. Dia berjalan mendekat. Bibiku hanya menatapku bingung.
“Kau mau memeriksanya?” tanya bibiku pada Milly.
“A-ah, tidak. Aku teman—”
“Dia psikiaterku, Bibi.”
__ADS_1
Menyembunyikannya lebih lama dari bibiku mungkin akan lebih buruk. Iya, kan?