Pembunuhan Di Kota Marylane

Pembunuhan Di Kota Marylane
02. Tersangka?


__ADS_3

Setelah mendapat alamat rumah milik teman-teman terdekat Abey Westie, kami—aku dan Mort—mengunjunginya. Harry dan Dean masih di TKP, untuk memeriksa apakah ada saksi atau menanyakan sesuatu pada tetangga-tetangga Gary untuk mendapat informasi, jika ada.


Aku dan Mort sudah menanyakan 3 teman terdekat Abey Westie. Jika kurangkum, seperti ini:


Pertama, Selvia Rosie.


Q: “Apa kau bisa menjelaskan sesuatu—apapun tentang Abey Westie?”


A: “Jujur saja, akhir-akhir ini kami tidak dekat.”


Q: “Karena?”


A: “Menurutmu? Kami jarang berkomunikasi sejak dia menikah dengan suaminya.”


A: “Dulu kami bersahabat sejak SMA. Dia anak yang rajin, selalu mendapat peringkat pertama dan memenangkan beberapa lomba.”


Q: “Bagaimana dengan musuh? Dia mempunyainya?”


A: “Musuh, ya?”


A: “Seingatku tidak ada. Dia anak yang baik. Kalau pun ada, dia harusnya menunjukkan gelagatnya. Dia bukanlah tipe yang langsung bercerita apabila sedang terjadi masalah. Kau harus mendesaknya.”


Kedua, Shelby Evolet.


Q: “Jelaskan hal-hal mengenai Abey Westie sejauh yang kau tahu.”


A: “Kami dekat saat kuliah. Kami satu jurusan dan sering satu kelompok. Dia tipe yang pendiam, tidak banyak bicara, kecuali pada orang terdekatnya.”


Q: “Bagaimana dengan musuh? Dia memilikinya?”


A: “Dia pernah berurusan dengan kakak tingkat karena sebuah salah paham. Tapi setelah itu biasa saja, mereka sudah berbaikan. Tidak ada lagi setelah itu sampai dia menikah dengan suaminya, kami sudah jarang berkomunikasi.”


Ketiga, Hanny Ilisa.


Q: “Apa kau—”


A: “Tidak ada yang bisa kujawab. Aku sibuk. Pergi atau kuseret ke luar?”


Baiklah, yang ketiga tidak berguna sama sekali bagi kasus ini. Kami diusir. Sepertinya dia memiliki masalah. Kami tidak bisa memaksanya.


Menurut Selvia dan Shelby, Abey Westie tidak memiliki musuh. Sama seperti pernyataan suaminya, Gary Keanett. Dan ini adalah teman dekatnya yang terakhir. Kuharap kami dapat informasi darinya.


Mort memarkirkan mobilnya di pinggir jalan. Kami sampai di sebuah rumah bertingkat dua dengan cat tembok berwarna putih di lantai satu dan cat tembok berwarna abu-abu di lantai dua dengan balkon berpagar putih. Pintu dan jendela pun berwarna putih. Ada kursi dan meja di bagian teras rumah. Bagian depan ditumbuhi berbagai macam tanaman. Dia kemungkinan besar seorang penyayang tanaman. Jelas.


Kami keluar dari mobil, berjalan menuju rumah itu. Kami mengetuk pintunya. Tak lama, seseorang membuka pintunya sedikit karena tertahan. Di balik pintu itu ada sebuah grendel yang memiliki rantai berwarna perak. Kami melihat seorang wanita yang menyembunyikan sebagian wajahnya sehingga kami hanya melihat separuh wajahnya di sana.


“Nona Kimberly?” Parker memastikan.


“Kalian siapa?” tanyanya.


Mort menunjukkan kartu tanda kepolisiannya. “Kami dari kepolisian.”


Paham dengan maksudnya, wanita bernama lengkap Eira Kimberly atau lebih sering disapa Kim—oleh Abey Westie—itu mempersilahkan kami memasuki rumahnya. Ia pergi ke dapur untuk mengambil minuman untuk kami.


Dia menaruh dua gelas air mineral dingin di meja, tepat di depan kami. Ia memangku nampannya di atas pahanya.


“Jadi? Ada perlu apa dua polisi ini ke rumahku?” tanyanya.


“Kami tahu kau mengenal Abey Westie,” kataku.

__ADS_1


Dia mengangguk pelan beberapa kali. “Ya, dia sahabatku.”


“Dia ditemukan terbunuh pagi ini.”


Lima kata yang dilontarkan Mort membuat Eira menjatuhkan dagunya tak percaya.


“Bohong.” Dia mencoba menolak pernyataan kami. Wajahnya menjadi lebih serius dari sebelumnya.


“Kami tidak punya banyak cukup waktu untuk membohongi warga sipil,” kataku.


Aku melihat bulir bening yang mengalir dari kedua matanya. Ia segera mengusapnya.


“Apakah kau yakin dia dibunuh?” tanyanya dengan suara sedikit bergetar.


“Seratus persen, Nona Kimberly.”


“Bagaimana keadaannya saat ditemukan?”


“Nona, kami—”


“Aku akan menjawab pertanyaan kalian setelah kalian menjawabku,” ucapnya memotong ucapanku.


Mort menatapku. Tatapannya seakan-akan menyuruhku menjelaskan semuanya. Aku menghela nafas.


“Suaminya melaporkannya tadi pagi. Dia tewas ditusuk beberapa kali di perutnya. Dia tewas di atas tempat tidurnya.” Aku menjelaskan.


“Apa itu dia?” gumamnya. Namun, kami berdua mendengarnya.


“‘Dia’? Siapa maksudmu?” Mort bertanya.


“March Lloyd. Dia seorang penguntit.”


Eira mengangguk. “Dia terobsesi padanya.”


“Sejak kapan?”


“Aku lupa tepatnya. Kurasa ... satu minggu setelah dia menikah.”


“Suaminya tidak memberitahu kami hal ini,” kataku.


“Dia tidak mengetahuinya?” Eira balik bertanya. “Malam terakhir aku bertemu dengan Abey, aku menyuruhnya memberitahu suaminya.”


“Jadi, dia sebelumnya tidak memberitahu suaminya? Kau bilang March Lloyd menguntitnya satu minggu setelah mereka menikah,” kata Mort.


Eira mengangkat kedua bahunya pelan. “Dia memang begitu. Itu sebabnya aku menyuruhnya memberitahu suaminya. Dia orang yang tidak suka merepotkan orang lain, jadi dia selalu menyembunyikannya sendirian.”


“Apa sebelumnya kau dan temanmu ini pernah melapor ke polisi?”


“Aku sudah memaksanya. Dia memohon padaku agar tidak melaporkannya ke polisi dan dia berkata bahwa dia sudah mengancam March agar tidak menguntitnya. Aku tidak tahu bagaimana caranya. Tapi, setelah dia berkata begitu, dia tidak bercerita apapun lagi dan kami merasa aman. Seminggu terakhir baru dia bercerita lagi padaku.”


Aku dan Mort mengangguk paham.


“Ada informasi lain? Bagaimana dengan March Lloyd itu? Kau punya fotonya atau kau tahu di mana dia tinggal?” tanyaku kemudian.


“Aku tidak tahu di mana dia tinggal, tapi aku tahu tempat dulu dia bekerja. Abey pernah mengirimkan fotonya padaku. Sebentar.”


“Bagaimana?”


“Tidak ada saksi di sini. Hampir semuanya merupakan workaholic. Kebanyakan dari mereka beralasan tidak keluar dan tidak mendengar apapun, dan bekerja.”

__ADS_1


Mort menghela nafas setelah mendengar balasan Dean. “Baiklah. Omong-omong, kami mendapat informasi. March Lloyd, dia penguntit Abey Westie. Dia pernah bekerja sebagai kurir di kota ini. Dia bisa jadi tersangka. Kami mendapat alamatnya. Aku akan mengirimkannya padamu. Temui kami di sana.”


Setelah memakan waktu sekitar sepuluh menit, kami sampai di area tempat tinggal March Lloyd. Dia tinggal di sebuah apartemen sederhana. Kami memarkirkan mobil tak jauh dari tempatnya. Kami bisa memantaunya dari dalam mobil.


Dia tinggal di lantai dua dengan unit 101.


Mort melihat ke kaca spion, ia melihat bahwa Dean dan Harry telah datang. Kami berdua keluar mobil. Kami berempat pun pergi ke unit 101 itu. Ini hanya sebuah apartemen biasa dengan cat tembok berwarna hijau. Aku yakin harga sewanya murah. Kulihat banyak penyewanya yang masih muda. Kurasa mereka merupakan orang-orang yang merantau dari tempat asalnya.


Kami bertiga di belakang Mort. Mort mengetuk pintu itu.


“Tuan Lloyd.” Mort memanggilnya. Ia mengetuk pintu itu lagi berkali-kali. Tidak ada jawaban.


“Huh?”


Suara itu berasal dari belakang kami. Kami berempat kompak menoleh ke belakang. Aku yakin dia March Lloyd. Dia berpakaian dengan kaus dan celana jeansbiasa. Tangan kanannya menenteng sebuah kantung plastik. Kami terdiam beberapa saat dan saling menatap. Pikiran kami tiba-tiba blank, begitu pun dengan March. Masing-masing kami mencerna apa yang terjadi sampai pada akhirnya March berkata,


“F**k!”


Dia menjatuhkan kantung plastiknya dan segera berlari. Kami langsung mengejarnya. Dia pergi ke luar area apartemen dan memasuki gang kecil. Kami berpencar. Aku mengikutinya memasuki gang. Ada dua jalan di ujung gang. Aku menoleh ke kanan dan ke kiri, lalu melihat March yang berlari di jalur kiriku. Aku langsung menyusulnya.


Aku kehilangannya lagi. Dia berlari begitu cepat. March Lloyd ini orang atau cheetah? Kenapa larinya cepat sekali?


Setelah memutuskan, aku mengikuti instingku. Aku menuju arah kiri. Aku berlari.


Kebetulan yang sedikit menyebalkan. Dia ternyata berlari ke arah kanan, mengelilingi gedung sebelah kananku dan bertemu denganku. Kami bertabrakan saat dia mencoba lari ke arah depan dan aku datang di sebelah kirinya.


Kami berdua terjatuh ke tanah.


“Bagus, Juan.”


Mort datang dengan terengah-engah, disusul dengan Dean dan Harry di belakangnya.


Bagus apanya?!


Baiklah, lupakan. Aku menahan March yang tengkurap dan aku duduk di punggungnya dengan memegang kedua pergelangan tangannya. Aku mengeluarkan borgol dari sakuku.


“March Lloyd, kau—”


“Aku tidak membunuhnya!”


Kami terdiam sejenak.


“Kami belum bilang kau membunuh,” kata Harry kemudian.


“Hei, bisa kau bangun dari punggungku? Kau berat,” ucapnya mengalihkan padaku. Aku memukul kepalanya pelan dengan tanganku.


“Bisa kau serius sedikit? Kau tersangka sekarang.”


“Tapi, aku tidak membunuhnya.”


“Lalu kenapa kau lari?”


“Kalian mengejarku.”


“Kami tidak mengejarmu. Kau lari lebih dulu.”


“Betul juga.”


Astaga. Ada apa dengannya?

__ADS_1


“Hei, tapi aku benar-benar tidak membunuhnya!”


__ADS_2