Pembunuhan Di Kota Marylane

Pembunuhan Di Kota Marylane
07. Teror (2)


__ADS_3

Hi. [kotak masuk] 


Guess Who? 


kepada saya


Menikmati paketmu? 


Balas | Balas ke semua | Teruskan 


Aku mengerutkan dahiku. Ternyata pemilik akun surel ini sudah lama sekali mengirim surel padaku. Isinya berupa ancaman-ancaman.


Pilih semua. 


Hapus. 


Baiklah, aku tidak peduli. Aku tidak mau ambil pusing dan memutuskan untuk mengabaikannya.


“Kenapa orang ini repot-repot membunuh tikus, memasukkannya dalam kotak, dan mengirimkannya padaku?”


Apa dia kurang kerjaan?


---


Aku meregangkan badanku di kursiku. Aku melirik jam di ponselku. Waktu menunjukkan pukul lima sore. Kami sudah menyelidiki apapun tentang Mort, atau orang-orang yang kemungkinan terlibat dengannya. Tapi, kami belum menghasilkan sesuatu yang lain.


Setidaknya, kami mendapat petunjuk kecil. Seorang pria dengan tato kupu-kupu. Mengenai kapten baru kami, kami belum lama bekerja sama. Tapi, rasanya kami sudah cukup dekat.


Aku berdiri dan pergi ke dapur untuk menyeduh kopi. Kami memiliki ruangan seperti itu di kantor. Semacam dapur.


Aku menghela nafas berat saat tahu kopi kemasan yang biasa kami minum itu tidak ada di tempatnya. Habis.


“Apa seseorang tidak ada yang membelinya?” omelku sambil berjalan ke kursiku, mengambil jaket yang tergantung pada punggung kursi.


“Ada apa?” Harry bertanya.


“Kopinya habis.” Aku menjawab.


“Lalu, kau mau ke mana?”


“Membelinya ke kafe dekat sini.”


“Belikan aku satu, seperti biasa. Ah, belikan Dean juga,” ucap Harry.


Aku mendengus. “Baiklah.”


“Espresso,” ucap Sean tiba-tiba mengucapkan pesanan. Aku menoleh. Padahal aku tidak menawarkannya apapun. Dia menunjukkan ekspresi wajahnya yang tidak bersalah.


Aku mengangguk—terpaksa.

__ADS_1


Kebetulan, aku sedang ingin kopi dari kafe yang biasa kami kunjungi.


“Oi, Juan. Kau mau membeli kopi di kafe sana?” Aku menoleh lagi saat seseorang memanggil. Dia Archer, kapten tim sebelah, yang meja timnya tak jauh dari meja timku.


“Ya,” kataku sambil mengangguk.


“Belikan kami juga.”


Aku menghampiri dan mengadahkan tanganku padanya.


“Uangnya?”


“Bukan kau yang membayar?” tanyanya.


“Kenapa aku harus?” tanyaku balik.


“Oke, baiklah,” katanya. Dia mengeluarkan dompetnya dan memberiku sejumlah uang. “Americano dan esspreso, masing-masing dua.”


Aku berjalan di atas trotoar yang lumayan sepi ini. Tidak banyak orang yang berjalan di trotoar ini. Aku melangkahkan kakiku ke depan. Kafe yang biasa kami kunjungi ada di sana. Tidak terlalu jauh, tetapi tidak sedekat itu. Kau bisa sampai di sana hanya dengan berjalan kaki.


Tiba-tiba langkahku melambat. Aku tiba-tiba terpikirkan bagaimana ketua tim kami, Mort, yang meninggal tepat di depan mataku. Kejadian itu seperti kaset rusak, terus berulang-ulang dalam otakku. Entah sekeras apapun aku melupakannya, kurasa tidak akan bisa.


Tapi, kenapa?


Apa yang telah Mort perbuat sampai seseorang membunuhnya?


Apa yang terjadi pada masa lalu Mort?


Iya, ‘kan?


Kemudian aku tersadar. Aku baru sadar aku berada di depan kafe itu. Aku mungkin sudah menghalangi jalan.


Aku hendak memasuki kafe itu. Tapi, tiba-tiba seseorang berteriak.


“Awas!”


Beberapa detik  setelah seseorang mengatakan satu kata itu, aku terdorong. Kami terjatuh di atas trotoar. Aku hendak memarahinya. Namun, kuurungkan saat aku mendengar suara pecahan. Aku melihat pecahan pot itu. Dia menyelamatkanku dari jatuhan pot yang berasal dari tanah liat itu.


Aku menoleh  ke atas. Tidak ada siapa-siapa di sana. Orang-orang mendatangi, kejadian ini menjadi pusat perhatian.


Aku melihat ke sebelahku. Seorang wanita yang mendorongku. Aku berdiri, menghampirinya. Kulihat tangannya yang tergores. Aku yakin itu terjadi saat ia mendorongku saat ia hendak menolongku.


Wanita yang memiliki rambut cokelat itu mengaduh dan terduduk, melihat tangannya yang tergores. Aku mengulurkan tanganku, hendak membantunya berdiri.


Ia hanya menatapku.


Hening.


Dia membiarkan uluran tanganku. Ia masih menatapku. Aku sendiri jadi bingung untuk menarik tanganku kembali atau tidak.  Tapi, akhirnya ia menyambut uluran tanganku.

__ADS_1


“Kau baik-baik saja?” tanyanya.


“Ah, iya. Aku—”


“Kau tidak apa-apa?” Seorang pegawai kafe datang dan memotong ucapanku untuk menanyakan keadaanku.


“Aku baik-baik saja,” jawabku. Aku melihat ke atas, tepat di mana pot itu dijatuhkan. Tidak ada siapa-siapa di sana. Kafe bertingkat dengan balkon untuk para pelanggannya. Balkon itu memiliki jajaran pot yang diletakkan di atas pagar. Tetapi, apa mungkin tidak ada pengunjung lain di sana yang mencurigainya?


Apakah ini ulah si pengirim paket dan pesan teror itu? Jika iya, dalam waktu yang singkat itu seharusnya dia sudah pergi. Dia mungkin sudah merencanakan ini.


“Aku minta maaf atas kejadian ini.” Pegawai itu membungkuk.


“Apa kau punya kamera pengawas di kafe ini?”


“Kamera pengawas itu rusak kemarin, kami belum sempat membetulkannya. Aku minta maaf.”


“Baiklah, lupakan saja.”


Beberapa orang yang melihat kejadian ini perlahan bubar. Pegawai kafe yang lain juga membersihkan jatuhan pot di depan kafe mereka. Aku melihat sekeliling, wanita yang menolongku itu sudah hilang.


“Ini kopimu.” kataku pada Archer setelah meletakkan empat kopi pesanannya dengan sedikit kasar. Aku langsung berjalan ke tempat timku.


“Ada apa dengannya? Dia seperti perempuan yang sedang datang bulan saja,” gumamnya.


“Hei.” Ia berbalik dengan kursi kerjanya. Aku menatapnya tajam. “Aku mendengarmu.”


“Terima kasih kopinya,” ucapnya mengalihkan pembicaraan dan kembali memunggungiku dengan memutar kursi kerja yang beroda itu.


“Kau sakit?” Harry bertanya saat aku membagikan kopi yang telah kubeli dengan uangku itu pada mereka.


“Terima kasih, Juan.” Sean berkata saat aku memberikan kopi itu.


“Kau pucat,” komentar Dean kemudian.


“Aku hampir mati, kurasa.” Aku duduk di kursiku, menyandarkan punggungku pada punggung kursi.


“Kenapa?”


“Sebuah pot jatuh dan hampir mengenai kepalaku,” kataku.


“Mungkin ini hari sialmu.”


“Itu mungkin hanya ketidaksengajaan.” Aku menyanggah.


“Tapi, kau baik-baik saja?” Sean bertanya.


Aku mengangguk sebagai jawaban.


Untuk saat ini.

__ADS_1


Ah, aku bahkan belum berterima kasih kepada wanita itu.


__ADS_2