
Hari ini, kami mendapat kasus baru.
Kami mendengar bahwa ada mayat yang ditemukan pendaki di dalam hutan. Kami baru sampai di hutan liar ini.
Tentu saja, hutan ini dipenuhi pohon-pohon—yang aku tidak tahu namanya. Hutan ini tidak dilindungi siapapun. Tempat yang cocok untuk membuang mayat.
Jika kalian bertanya apakah teman-teman satu timku mengetahui bahwa aku sering berhalusinasi, jawabannnya adalah tidak. Aku tidak mau membicarakan yang sesungguhnya. Kurasa ada kemungkinan bahwa aku akan diberhentikan dari pekerjaan ini jika mereka tahu bahwa aku memiliki sebuah gangguan. Itu sebabnya aku meminta Milly Oriel, psikiaterku, untuk merahasiakannya.
Kami memasuki hutan itu. Garis kuning polisi sudah terpasang, menghubungkan antara pohon satu dengan yang lain. Ada mayat yang kulitnya sudah kebiruan di sana. Kulihat Harry dengan ekspresinya yang sedang menahan mualnya.
Ya, sepertinya anak itu memiliki kemajuan. Setidaknya dia tidak mengeluarkan isi perutnya hari ini.
Aku melewati garis kuning itu setelah Sean. Dean pun menyusul. Harry tetap berdiri di luar garis. Dia masih belum terbiasa, sepertinya.
Aku melihat keadaan mayat itu. Belum diketahui namanya. Mayat wanita dengan tubuhnya yang membiru, dibalut dengan celana panjang dan jaket hitam kebesaran. Aku melihatnya dengan kasihan.
Sean berlutut dengan satu kaki, memeriksa mayat itu.
Tapi tak lama, kulihat wajahnya yang terkejut setelah menyingsingkan lengan jaket yang dikenakan mayat itu. Aku melihatnya, ada beberapa titik di lengannya.
Tunggu, apa itu?
“Dia pindah ke sini?” monolog Sean sambil menatapnya terkejut.
“Dia siapa?” tanya Dean.
“Pembunuh berantai kota sebelah.”
---
Kami berada di ruang rapat kami untuk membahas ‘pembunuh berantai kota sebelah’ itu. Sean belum mengatakan apa-apa di TKP terkait ini. Dia sempat menelepon rekan mantan satu timnya saat dia berada di kepolisian lamanya itu untuk memintanya mengirim foto-foto korban sebelumnya.
Sean hendak menjelaskan sesuatu. Kami duduk di kursi masing-masing.
Sean menarik papan kasus ke tengah. Ia menempelkan beberapa foto korban.
“Tory Sommer, dua puluh tiga tahun,” ucapnya.
Foto-foto yang terpasang itu ... mengerikan. Foto yang diyakini adalah Tory Sommer itu menunjukkan tanda-tanda kekerasan. Foto tubuhnya yang lebam dengan foto bagian tubuh lain yang lebih detail dan bajunya yang berantakan.
Sean menempelkan foto-foto lainnya di bawah foto Tory Sommer.
“Krystal Rivera, dua puluh lima tahun.”
Masih sama, foto yang menunjukkan tanda-tanda kekerasan serta pergelangan tangannya yang kurasa dia adalah korban kedua.
Sean mulai menempelkan foto lainnya lagi.
“Ether Wyne, sembilan belas tahun.”
__ADS_1
Korban ketiga.
Foto lainnya lagi.
“Hilda Heather, dua puluh tahun.”
Korban keempat dan fotonya.
“Daisy Ray, dua puluh dua tahun.”
Korban kelima dan fotonya.
Dan sekarang, foto yang kami temukan. Korban yang kami temukan di hutan. Kami mengetahui informasinya beberapa jam setelah mayat ditemukan.
“Aisha Hope, delapan belas tahun.”
Korban keenam.
Aku menghela nafas dan mengusap wajahku kasar. Kenapa wanita-wanita tak bersalah ini dibunuh begitu kejam?
“Pembunuhan berantai, ditandai dengan tanda titik yang menjajar di setiap pergelangan tangan korban, kami menduga itu adalah tato. Kita tidak bisa menghapus titik itu. Pembunuh ini awalnya berada di kota sebelah, Raven. Tempat aku bekerja dulu. Kurasa dia pindah ke sini.” Sean bersandar pada dinding. “Titik-titik itu menunjukkan nomor urutan para korban. Korban pertama belum ditemukan.”
“Apa maksudmu belum ditemukan?” tanyaku.
“Lihat,” katanya sambil menunjukkan foto sebuah pergelangan tangan yang ditandai dengan dua titik milik Tory Summer. Lalu dia menunjukkan foto pergelangan tangan Krystal Rivera dengan tiga titik di sana. Empat titik, lima titik, dan terakhir, enam titik.
Masuk akal.
“Aku belum pernah mendengar ini di berita, omong-omong.” Dean berucap.
“Kepala kepolisian Kota Raven saat itu merahasiakannya. Dia mengumumkan ini sebagai pembunuhan, namun tidak dengan pembunuhan berantai. Alasannya, dia tidak mau membuat publik ketakutan,” jelas Sean.
Aku mengerutkan dahi. “Bukankah seharusnya diumumkan agar publik berhati-hati?”
Sean mengedikkan bahu. “Aku juga tidak tahu. Apa yang kau harapkan dari perintah atasan? Terkadang kau tidak bisa mengelaknya.”
“Dia beraksi enam bulan yang lalu. Kami menemukan Tory Sommer di hutan, persis seperti Aisha Hope. Kami belum bisa menangkapnya. Bisa dibilang, dia pintar. Tidak ada jejak. Bahkan setelah memperkosanya, dia tidak meninggalkan apapun. Taktiknya rapi,” lanjutnya.
“TUNGGU—APA? MEMPERKOSA?” Dean terkejut. Sama halnya denganku dan Harry, kami kehabisan kata-kata.
Dia gila. Dalam enam bulan, dia sudah mendapat tujuh korban? Dia harus ditangkap kali ini.
“Dia memperkosa korban, tapi tidak ada jejak?” tanyaku.
Sean mengangguk. “Benar.”
Bagaimana bisa?
“Bahkan jejak ****** sekalipun? Tidak ditemukan?”
__ADS_1
“Tidak ditemukan sama sekali.” Sean lagi-lagi mengangguk pelan dengan wajahnya yang seakan menyesali perbuatan ini.
“Apa ada petunjuk yang sudah ditemukan saat kau bekerja di Kota Raven? Ada tersangka?” tanyaku lagi.
Sean menggeleng lemah sebagai jawaban.
≣ ≣ ≣
Kami menggali beberapa informasi mengenai Aisha Hope dan korban-korban sebelumnya.
Aku dan Harry datang ke sebuah panti asuhan bernama Panti Asuhan Royanne, tempat asal Aisha Hope itu tinggal. Dia tidak punya orang tua dan mungkin inilah tempat yang ia sebut rumah.
Kami sudah mendengar hasil autopsi, dan keadaan gadis malang itu sama dengan korban-korban sebelumnya. Ada tanda pemerkosaan dan penyiksaan di sana. Pelakunya benar-benar biadab.
Aku dan Harry keluar dari mobil, melihat bangunan di hadapan kami. Sebuah bangunan yang cukup besar, banyak anak-anak yang bermain di sekitar.
“Anak-anak, hati-hati!”
Aku mendengar suara seorang wanita. Dari belakang, dia terlihat familiar. Kami berdua menghampirinya.
“Permisi, kami dari kepolisian.”
Ia berbalik.
“Kau?!” kataku terkejut. Ia menunjukkan ekspresi serupa.
Kulihat wajahnya yang itu terkejut juga melihatku. Seorang wanita yang menyelamatkanku dari kejatuhan pot bunga tempo hari! Dia bekerja di sini?
Tak lama setelah keterkejutan kami berdua, dia tersenyum.
“Masuklah,” katanya.
Dan, di sinilah kami. Sebuah ruangan yang kuyakini sebagai ruangan kepala panti asuhan ini. Ruangan ini didominasi warna putih dengan beberapa stiker dinding bertema pepohonan. Sangat wajar bagi sebuah panti asuhan.
Kami duduk di sebuah sofa berwarna hijau. Kami melihat sekeliling. Wanita tadi entah pergi ke mana, dia menyuruh kami menunggu di sini.
“Wanita tadi, kau mengenalnya?” tanya Harry.
“Dia yang menyelamatkanku waktu itu. Ingat saat aku bilang sebuah pot yang hampir menjatuhi kepalaku?” kataku.
“Ah, iya, iya.” Ia mengangguk berkali-kali. “Dunia memang sempit.”
Baru beberapa menit, wanita itu belum kembali. Kami masih menunggunya.
Aku melihat ke samping, ada sebuah buku cerita anak. Rasa penasaranku muncul, jadi aku mengambilnya. Aku melihat judul buku itu.
Hansel dan Gretel.
Aku tersenyum tipis.
__ADS_1
Ini cerita favoritku dan adikku saat kami masih kecil.