
Kami berhasil menangkap si pelaku, Gary Keanett. Kini ia tengah duduk di ruang interogasi. Kami memantaunya lewat kaca dua arah yang biasa dipakai di ruangan interogasi. Mort baru saja keluar tadi dan hendak memasuki ruangan sebelah di mana Keanett terduduk di sana.
Tak lama Mort datang. Ia datang dan untuk menanyakan apa alasan dia membunuh istrinya.
“Selamat malam, Tuan Keanett. Kau cukup mahir bersembunyi tadi. Kau pasti menyesal membunuh istrimu—ah, bukan. Kau menyesal membuang uangmu untuk pergi ke Moskow, tapi pada akhirnya kau duduk dan terborgol di sini.”
Gary menunduk. Ia tidak menjawab Mort.
Mort mengarahkan layar laptop pada Gary, menunjukkan video yang kami dapat dari kamera yang dipasang istrinya sendiri. “Itu kau, bukan?”
Dia tidak menjawab.
“Tidak ada alasan lagi untuk mengelak, Tuan Keanett. Ah, kami juga menemukan tas yang berisi pisau yang kau buang ke sungai Elvis. Tas itu menyangkut di ranting dan seseorang menemukannya dan melaporkannya pada kami. Ada jejak darah di sana,” ucapnya. Kemudian Mort mengeluarkan selembar kertas berisi hasil tes. “Dan itu darah milik istrimu sendiri, Abey Westie.”
“Ya,” akunya.
“Kenapa?”
Hening beberapa saat sampai ia membuka mulutnya.
“Dia bermain dengan pria lain.”
Apa?
“Apa? Kau membunuhnya karena itu?” Mort bertanya.
“Aku tidak habis pikir,” komentar Dean di sebelahku.
“Kecemburuan menmebuatnya kehilangan akal sehatnya.”
Aku mengangguk mendengarkan komentar dari Harry.
Tapi, tunggu sebentar. Abey Westie selingkuh? Kenapa dia bisa menyimpulkan seperti itu? Semua sahabat Abey yang kukunjungi bersama Mort bilang bahwa dia hanya seorang wanita yang baik. Bagaimana bisa dia berpikir bahwa istrinya selingkuh? Eira Kimberly bahkan tidak mengatakan apapun tentang itu.
Apa mungkin ....
Aku mendekatkan mulutku pada mikrofon yang menghubungkan kami dengan Mort di sana.
“Kapten, bisa kau tunjukkan foto March Lloyd? Mungkin Gary mengira bahwa Abey berselingkuh dengan March.”
Mort mendengarku lewat alat yang tergantung di telinga kirinya. Dia mengangguk pelan dan mulai menunjukkan foto itu pada Gary.
“Pria ini?” Mort menunjukkan fotonya.
Dia melihat foto March Lloyd di atas meja, lalu membuang mukanya. “Ya.”
__ADS_1
Kulihat Mort yang menghela napasnya dan menyandarkan punggungnya.
“Pernahkah kau mendengarnya sekali saja?”
Gary menoleh ke arah Mort. Raut wajahnya seakan-akan penasaran dengan kalimat yang dilontarkan kapten tim kami.
“Dia seorang penguntit. Dia menguntit istrimu seminggu setelah pernikahan kalian. Kau membunuhnya karena kau tidak bisa menahan amarahmu.”
Dia terlihat terkejut dengan apa yang dikatakan Mort. Namun, beberapa detik kemudian dia mendengus. Dia seperti berusaha untuk tidak mempercayai informasi itu.
“Pernahkah kau mendengarkan penjelasannya sekali saja? Malam itu, mungkin dia akan menjelaskan itu padamu. Sekali lagi, kau tidak bisa menahan amarahmu.” Mortmelanjutkan.
Beberapa saat kemudian ia melamun. Air mukanya berubah. Kurasa dia sedang mengenang kejadian-kejadian bersama istrinya itu. Tak lama Gary menunduk, terdengar sedikit sesenggukkan. Sepertinya perkataan Mort benar, dia tidak mendengarkan penjelasan istrinya.
“Kau menyesal? Baguslah. Renungkan itu di penjara dan hiduplah dengan penuh penyesalan.”
Dengan ini, kasus pembunuhan Abey Westie ditutup.
---
Tunggu, kenapa aku di sini?
Warna hijau membentang luas di hadapanku. Aku melihat sekeliling. Hanya ada satu jalan keluar.
Labirin?
“Haha! Kau tidak bisa menangkapku!”
Jane?
Aku mengikuti asal suara itu. Seorang anak yang baru menginjak remaja mengenakan gaun putih semat tertangkap indera penglihatanku.
Tak salah lagi, itu Jane.
Aku berlari mengikutinya, tetapi dia berlari begitu cepat hingga aku kehilangan jejaknya.
“Aku di sini!”
Hanya ada suaranya. Di mana sosoknya?
“Jane! Kau di mana?!” teriakku. Aku berbalik, berlari lagi ke asal suara.
Hingga aku berlari dan mendapati bahwa jalan yang kulalui buntu.
“Aku di belakangmu.”
__ADS_1
Aku berbalik.
"Jane ...." Lututku melemas. Aku bahkan hampir tidak bisa menopang tubuhku sendiri.
Aku berjalan maju dan mendekatinya hingga hanya menyisakan jarak beberapa sentimeter di antara kami. Aku berlutut dan memeluknya. Namun, dia tidak bereaksi apapun dan membuatku melepaskan pelukanku dan menatap matanya.
“Jane?” tanyaku. Dia menatapku datar.
“Iya, ini aku. Jane yang kau bunuh,” katanya. Gaun putih yang dipakainya berubah menjadi hitam dan robek. Bajunya kini compang-camping. Wajah dan tubuhnya yang kulihat kini menghitam karena hangus. Sisa-sisa api bahkan masih bisa kulihat pada dirinya.
Aku refleks mendorong tubuhku ke belakang. Tak percaya akan sosok di hadapanku ini.
Tidak, tidak.
"Kau pembunuh."
"Ah!"
Sekaan terlempar ke dunia nyata, aku terbangun dari tidurku. Aku sedikit terengah-engah karena mimpi itu. Kulihat tangan kananku yang terangkat ke atas seolah-olah sedang menggapai sesuatu.
Aku menurunkan tanganku dan mengubah posisiku menjadi duduk, memijat pelipisku pelan. Dan entah sejak kapan ada peluh di sana.
"Mimpi yang serupa, lagi."
Mimpi yang serupa selama bertahun-tahun yang menghantuiku. Aku tidak tahu kapan ini berakhir. Aku akan menjadi gila sepertinya.
Ayahku Travis Scott. Dia dahulu adalah seorang pramugara kapal. Dan ibuku, Julia Watson, seorang pemandu wisata. Mereka workaholic. Mereka jarang pulang, dan kami sering dititipkan pada istri pamanku, Bibi Amy. Tapi, aku tahu dia mencari nafkah untuk kebutuhan keluarga kami.
Mereka berdua sudah meninggal dunia saat aku berusia 20 tahun. Cukup berat bagiku saat itu. Tetap saja, aku harus menjalani hidup. Mereka meninggal dunia karena sebuah kecelakaan beruntun pada tahun 2012. Setelah itu, Bibi Amy mengurusku. Sekarang, aku tinggal sendirian di sebuah apartemen dan kami masih berkomunikasi dengan baik. Awalnya, aku tinggal di kota Wimpey, cukup jauh dari kota Marylane. Aku pindah ke Marylane karena bibi tinggal di sini.
Aku punya seorang adik perempuan. Dia lebih dulu meninggalkan aku dan orang tuaku. Namanya Jane Scott. Kami selisih lima tahun. Dia sangat cantik. Dia juga anak yang pemberani. Dia meninggal di tengah kobaran api, tepat di bulan Maret, tiga bulan sebelum ayah dan ibuku mengalami kecelakaan beruntun. Ya, dia meninggal dengan cukup tragis, seperti orang tuaku. Rumah kami kebakaran saat itu dan dia berada di dalamnya. Bodohnya, aku tidak bisa menyelamatkannya. Itu masa-masa yang sulit. Bahkan, sampai sekarang. 2012 adalah tahun terburukku.
Kematian Jane, itu salahku.
Tidak ada seorang pun yang mengetahui bahwa aku selalu mengalami mimpi buruk semenjak kematian adikku dan fakta bahwa aku selalu digentayangi rasa bersalahku terhadap Jane, kecuali sahabatku dulu, Alston Arron, dan psikiaterku, Milly Oriel.
Karena kebakaran itu, aku hampir tidak memiliki foto keluarga karena api itu melahap habis rumah keluargaku. Beruntung, bibi pernah menyimpan foto keluarga kami untuk kenang-kenangan. Sayangnya, Jane belum lahir saat foto itu diambil. Dan sekarang aku tidak punya fotonya sama sekali.
Aku hanya tidak terlalu mengingat wajahnya dengan jelas. Mengingat itu delapan tahun yang lalu, aku menjadi sedikit lupa. Bagaimana jika dia masih hidup sampai sekarang? Aku yakin dia masih cantik.
Sejujurnya, dahulu, impianku bukanlah menjadi seorang detektif. Aku pernah memiliki impian sebagai seorang jurnalis atau penulis buku. Awalnya, ayah tidak keberatan dengan mimpiku. Tapi, tiba-tiba ia menyuruhku untuk mendaftar kepolisian dan menjadi detektif. Dia bilang, dia akan memberitahukan alasannya nanti.
Dan dia belum memberitahuku apapun sampai kematian telah menjemputnya. Aku memutuskan untuk melanjutkan pekerjaan ini saat ini untuk menghormati keinginan ayahku.
Aku terpaksa, pada awalnya. Tapi setelah dua tahun aku menjadi anggota polisi, kurasa tidak seburuk itu.
__ADS_1
Mungkin.