
Suatu hari, sekitar tahun 2010.
Aku tengah mengerjakan tugas sekolah di meja belajarku yang hanya diterangi lampu belajar yang terletak di dekatku. Ini sudah waktunya jam tidur, tapi aku belum selesai dengan tugasku. Jane? Ah, dia pasti sudah tidur.
Ayah dan ibu masih bekerja. Mereka benar-benar workaholic. Meskipun aku tahu mereka bekerja untuk menafkahi kami. Di rumah hanya ada bibi dan paman yang menjaga kami. Pastinya mereka sudah tidur juga.
Aku mengusap mataku yang kian memberat.
Satu nomor tersisa dan aku akan segera tidur.
“Kak,” ucap seseorang yang berdiri di daun pintu. Aku menoleh.
“Jane? Kau belum tidur?”
Ia menggeleng. “Tidak bisa.”
“Kau mau aku apa?” tanyaku.
“Cerita pengantar tidur.”
Aku sebenarnya sudah mengantuk, tetapi untuk Jane, akan kulakukan.
“Sebentar,” kataku. Aku mengerjakan satu soal lagi di buku tulis.
Beberapa saat kemudian, semua tugasku sudah selesai dan aku menutup buku. Kami pergi ke kamar Jane. Ia melompat ke tempat tidurnya dan membalut tubuhnya dengan selimut hingga lehernya, bersiap mendengarkanku bercerita.
“Apa yang ingin kau ceritakan?”
“Apa saja.”
Aku melihat buku kumpulan dongeng miliknya. Ada banyak judul, hingga akhirnya aku menemukan satu judul cerita yang sederhana. Cerita kesukaanku.
Sebuah dongeng berjudul ‘Hansel and Gretel’.
“Mau kuceritakan ‘Hansel and Gretel’?”
__ADS_1
Ia mengangguk.
“Baiklah, kumulai,” kataku. Mulai untuk membaca setiap lembaran itu.
“Suatu hari, ada sepasang kakak beradik yang bernama Hansel dan Gretel. Mereka hidup bersama ayah dan ibu tirinya. Pekerjaan ayah mereka adalah sebagai penebang pohon. Hidup yang dijalani keluarga itu sulit.
Suatu malam, kedua anak itu terbangun dan mendengarkan percakapan antara ayah dan ibu tiri mereka di ruangan sebelah. Mereka mendengar bahwa ibu tiri mereka hendak menelantarkan mereka di hutan karena ibunya takut mati kelaparan. Wanita itu sangat bersikeras hingga ayah mereka akhirnya menyetujuinya.
Hansel dan Gretel yang belum tidur itu mendengar percakapan antara ibu tiri dan ayah mereka. Kemudian, Hansel pergi ke luar untuk memungut batu kerikil putih diam-diam.
Esok paginya, keluarga itu masuk ke dalam hutan untuk menebang pohon. Saat perjalanan, Hansel menjatuhkan batu-batu kerikil itu tanpa sepengetahuan siapapun agar mereka bisa kembali ke rumah. Mereka pun berhenti, dan ayah mereka kemudian menyalakan api untuk kedua anaknya, sementara ayah dan ibu tirinya pergi untuk menebang pohon.
Sepasang kakak beradik itu menunggu orang tuanya, namun mereka belum juga kembali. Gretel menangis. Hansel kemudian menenangkan Gretel dan berkata bahwa semua akan baik-baik saja. Ketika malam sudah datang, mereka bisa melihat kerikil putih yang berjejer di sepanjang jalan karen acahaya bulan yang terpantul dari kerikil putih tersebut. Keduanya mengikuti jkerikil putih itu sampai akhirnya mereka sampai ke rumah. Ayahnya begitu bahagia melihat mereka kembali.”
Aku melihat adikku yang masih membuka matanya, mendengarkan ceritaku. Astaga, kapan dia akan tidur?
Aku melanjutkan.
“Waktu telah berlalu. Ketika malam datang, kedua anak itu mendengar suara ibu tiri mereka lagi dari ruangan sebelah. Ibu tiri mereka kembali memaksa suaminya untuk membuang mereka ke hutan. Suaminya sempat menolak lagi, namun pada akhirnya ia tetap terbujuk dengan istrinya itu.
Sayangnya, saat mereka hendak kembali, mereka mendapati bahwa remah-remah roti yang dijatuhkan Hansel kemarin dimakan oleh burung-burung sehingga mereka tidak bisa pulang seperti sebelumnya.
Mereka terus berjalan untuk menemukan jalan pulang hingga akhirnya menemukan sebuah rumah yang cukup unik. Rumah itu terbuat dari berbagai manisan seperti kue, dan gula. Hansel dan Gretel memakan bagian dari rumah itu karena mereka sangat lapar.
Saat tengah memakan, tiba-tiba seorang nenek tua membuka pintu dan ketika ia tahu bahwa ada dua anak kecil yang memakan rumahnya, ia begitu ramah dan mengajak anak-anak itu untuk masuk.
Setelah anak-anak itu masuk, nenek tua itu menyuguhkan mkakanan pada mereka. Beberapa lama kemudian, nenek tua itu ternyata adalah seorang penyihir tua yang jahat. Dia kemudian memaksa mereka berdua melakukan pekerjaan rumah dan terus memaksa Hansel dan Gretel untuk terus makan agar bertambah gemuk dan akan memakan mereka suatu hari.
Hari-hari pun berlalu, penyihir hendak memakan dua bersaudara itu. Penyihir itu menyuruh Gretel menyiapkan oven yang menyala dan air mendidih. Kemudian penyihir itu menyuruh Gretel masuk ke dalam oven. Namun, Gretel menipunya dengan mengatakan dia tidak tahu bagaimana caranya masuk ke dalam oven tersebut. Penyihir itu kesal dan menganggap Gretel adalah anak yang bodoh. Kemudian penyihir itu mencontohkan pada Gretel bagaimana caranya masuk ke dalam oven tersebut dengan mendekatkan badannya ke oven. Gretel angsung mendorong penyihir itu ke dalamnya. Ia kemudian menutup oven itu dan penyihir jahat itu mati—“
Aku terhenti saat melihat Jane menutup matanya, entah sejak kapan. Ah, cerita kesukaanku ini membuatku sedikit kebablasan. Aku menutup mulutku yang menguap, menaruh buku ini dan hendak berdiri dan pergi ke kamarku.
Belum saja aku mengangkat bokongku dari kursi, sebuah suara memasuki indera pendengaranku.
“Jadi, dia membunuhnya?”
__ADS_1
“Kau belum tidur?!” Aku terkejut. Dia hanya menatapku, matanya seakan-akan menuntut jawaban dariku.
Aku berdeham. “Dia menyelamatkan dirinya dan kakaknya,” jawabku kemudian.
“Tapi dia membunuhnya.”
“Mereka menyelamatkan diri.”
“Dengan membunuh?”
“Tidak ada cara lain—yah, itu menurutku.”
Hening. Setelah kupikir-pikir lagi, fakta bahwa cerita Hansel dan Gretel yang membunuh seorang penyihir adalah cerita anak itu agak aneh rasanya. Aku sedikit menyesal menceritakan ini.
“Jika kau menjadi Hansel, apa yang akan kau lakukan?” tanya Jane. Aku tidak tahu apa tujuanya menanyakan pertanyaan acak seperti ini.
Aku berpikir sebentar. “Alur ceritanya berubah. Aku tidak akan memakan kue dari rumah itu karena terlalu manis. Aku memilih untuk menangkap ikan di sungai.”
“Bagaimana jika kau bertemu nenek itu ketika menangkap ikan di sungai?”
“Tidak mungkin.”
Dia berdecak. “Jawab saja.”
Aku menatap langit-langit, memutar otak untuk menjawab pertanyaannya. “Entah, mungkin aku pasrah saja dimakan oleh si Nenek.”
“Kau ini tidak ada semangat hidup, ya?”
Aku terkekeh. “Bercanda. Aku tidak tahu jawabannya. Yah, bagaimanapun, jika itu terjadi, aku harus menyelamatkan diri dan adikku bagaimanapun caranya, bukan?” kataku, “Bagaimana denganmu? Apa yang akan kau lakukan jika Gretel adalah dirimu?”
“Entahlah.” Dia menatap langit-langit. “Mungkin … aku akan melakukan hal yang sama,” ucapnya. Suaranya mengecil.
“Begitu, ya. Baiklah, Jane, sekarang tidurlah.”
“Aku belum bisa tidur. Satu cerita lagi?”
__ADS_1
“Jane!”