Pembunuhan Di Kota Marylane

Pembunuhan Di Kota Marylane
12. Halusinasi


__ADS_3

"Apa kau sering menceritakan masalahmu pada orang lain?"


"Jarang."


"Seberapa jarang?"


"Aku hanya bercerita jika mereka bertanya. Itu pun tergantung orangnya juga."


"Bagaimana dengan masalah yang kaualami? Siapa yang mengetahuinya?"


"Kau, Nona Lerman,  dan satu temanku, namanya Alston."


"Keluargamu?"


"Tidak ada. Maksudku, belum."


"Kau ingin menceritakan itu pada anggota keluargamu suatu hari nanti?"


"Ya. Walau terkadang aku merasa bahwa itu tidak perlu. Aku mungkin hanya akan membebaninya saja."


"Begitu. Kau suka menulis buku harian?"


"Aku tidak suka menulis."


"Kalau begitu, kau lebih suka konversasi verbal."


"Mungkin. Aku tidak sembarangan berbicara tentang masalahku pada orang."


"Hanya orang-orang yang kaupercayai saja?"


"Ya."


"Aku paham. Bagaimana dengan hewan? Kau suka berbicara dengan hewan?"


"Aku pernah punya seekor kucing."


"Dan?"


"Mati. Tertabrak mobil."

__ADS_1


"Oh, maaf."


"Aku suka berbicara dengan kucing jalanan, tapi itu dulu."


"Bagaimana dengan sekarang?"


"Sudah jarang. Tapi kalau kupikir lagi, memiliki seekor kucing atau kura-kura mungkin bisa membuatku sedikit lebih baik."


---


Aku terbaring di ranjang sembari menatap langit-langit kamar.


Hari ini cukup melelahkan seperti biasa.


Aku mengusap wajahku dan duduk di atas ranjangku, kemudian menatap obat-obatan yang Milly resepkan tergeletak di atas nakas.


Ah, aku akan meminumnya nanti.


Aku membuang napas kasar. Aku berdiri dari dudukku di atas ranjang dan berjalan ke dapur. Aku membuka kulkas dan mengambil sebuah botol berisi air putih dingin. Aku meneguknya berkali-kali. Aku merasa sangat haus hari ini.


Aku melirik jam dinding. Sudah menunjukkan pukul dua belas malam. Aku meletakkan botol itu ke kulkas.


Tubuhku membeku seketika ketika mendengar suara itu, yang entah dari mana asalnya. Aku melihat sekeliling.


Tidak ada siapa-siapa.


Aku menutup pintu kulkas. Mengambil sebilah pisau yang tak jauh dari tempatku. Berjalan dengan hati-hati meski seluruh ruangan ini diselimuti kegelapan.


“Aku di sini.”


Aku menoleh ke belakang dengan cepat, asal suara itu. Tapi tidak ada siapa-siapa di situ. Aku bersiap dengan pisauku, berjaga-jaga.


“Di depanmu.”


Aku berbalik lagi. Benar saja.


Seorang anak yang telah hangus dengan sisa-sisa api yang menempel di tubuhnya berada di depanku. Aku mengacungkan pisauku padanya. Ini hanya halusinasi, kan? Katakan padaku bahwa ini hanya halusinasi.


Ia terkekeh. “Kenapa kau mengacungkan pisau itu padaku, Pembunuh?”

__ADS_1


Kenapa … ini terasa nyata?


“Diam,” kataku. “Itu kecelakaan.”


“Ha!” Dia terbahak-bahak. “Kaupikir aku tidak tahu bahwa kau selalu iri denganku yang selalu mendapat lebih banyak kasih sayang dari ayah dan ibu daripada denganmu? Membunuhku dengan dalih kecelakaan itu seperti seorang pecundang.”


“Diam. Itu tidak benar.” Aku menggelengkan kepalaku kuat-kuat. Kuakui aku pernah merasakan itu. Tapi … benarkah itu? Apa aku sengaja membunuhnya?


Aku tidak bisa mengingat detail kejadian itu.


“Jadi, bukankah lebih bagus jika pisau itu digunakan untuk menusuk dirimu sendiri? Bagaimana pun, kau sudah membunuhku. Ayo, kita mati bersama-sama.”


Pikiranku terasa kosong. Kepalaku terasa berat. Pisau yang tadinya kuacungkan padanya, kini bergerak dan bilah pisau itu menempel sempurna di pergelangan tanganku.


“Jika aku melakukannya, aku bisa bebas?” tanyaku.


Ia mengangguk.


Pikiranku kosong. Aku hanya bisa menuruti perkataannya. Namun, sesuatu menusuk leherku sebelum aku menyayat pergelangan tanganku. Pandanganku menggelap.


---


Aku terbangun dengan posisi tengkurap. Aku melebarkan mataku dan terduduk. Aku memegang kepalaku yang terasa pusing. Aku mencoba mengingat apa yang terjadi.


Aku berhalusinasi lagi.


Aku memegang leherku. Ada sesuatu yang menusukku tadi. Tidak, yang satu ini bukan halusinasi. Apa yang dia tusukkan? Jarum suntik? Apa itu sebabnya aku pingsan?


Orang itu datang lagi. Bukankah sudah kuceritakan pada kalian? Entah berapa kali aku melakukan percobaan bunuh diri, ada seseorang yang akan menyelamatkanku. Ada orang yang masih menginginkanku hidup.


Tunggu, pisaunya?


Aku melihat sekeliling.


Tidak ada pisau itu di sini. Mungkin ‘orang itu’ sudah mengambilnya. Dia benar-benar masih menginginkanku hidup.


Jika seseorang menusukkan jarum itu ke leherku, bagaimana bisa? Aku tinggal di apartemen lantai tiga. Tidak mungkin dia masuk melewati pintu masuk. Apa dia memanjat balkon?


Siapa dia?

__ADS_1


__ADS_2