
Suara pintu yang terbuka membuyarkan lamunanku. Aku dan Harry kompak menoleh ke asal suara, wanita itu membawa nampan dan tiga cangkir teh.
Ia menaruh nampan yang ia bawa di meja, tepat di depan kami, satu cangkir di depannya. Lalu ia pun duduk di seberang kami—dibatasi meja.
“Uh, kepala panti asuhan sedang pergi ke luar,” katanya sembari melihat arloji yang melingkar di pergelangan tangannya. “Kurasa sekitar lima belas menit lagi.”
Aku mengangguk.
“Baiklah, Nona ...?”
“Ashley Cleva. Panggil saja Ashley,” katanya sambil tersenyum.
“Kau pasti tahu kedatangan kami ke sini untuk menyelidiki salah satu muridmu, Aisha Hope. Mungkin kau bisa membantu kami untuk menceritakan sesuatu, atau ada yang janggal, atau yang lain ...?” tanya Reagan.
“Dia anak yang baik. Kurasa, seseorang yang mencelakainya itu telah menargetkannya. Pernah sekali dia menceritakan bahwa dia merasa ada orang yang mengikutinya saat dia pulang sekolah. Katanya, dia sempat beruntung waktu itu karena ada orang lain yang—bisa jadi—membuat seseorang itu tidak jadi melakukan sesuatu padanya. Tapi, aku malah mengatakan bahwa itu hanya bayangannya saja, dan meyakinkannya tidak akan ada sesuatu yang terjadi. Aku yang tidak waspada. Aku yang bod*h.” Dia merutuki dirinya sendiri. “Aku yakin dia melewati jalan yang sama ketika pulang sekolah dan akhirnya itu terjadi.”
Dilihat dari wajahnya, dia terlihat kelelahan. Kantung matanya yang menghiasi wajahnya itu menandakan dia kurang tidur. Aku menduga dia terus menyalahkan dirinya sendiri.
Sepertiku.
“Jangan menyalahkan dirimu sendiri, Ashley. Ini bukan salahmu,” kata Harry. “Tidak ada yang tahu kapan musibah itu terjadi. Aku yakin kau juga tidak menginginkan ini.”
Perkataan Harry membuatku tersadar sedikit akan pengalamanku.
Benar. Tidak ada yang tahu kapan musibah itu terjadi.
Kenapa aku terus menyalahkan diriku sendiri?
Itu salahku atau bukan?
Andai aku pulang lebih awal, adikku tidak akan mati, ‘kan?
Kebakaran itu, kematian adikku, apakah itu salahku?
Siapapun, tolong jawab aku.
“Juan!”
“Eh—iya, apa?” Aku sedikit terperanjat. Lagi-lagi aku melamun. Aku melihat keduanya yang tengah menatapku bingung.
Sadarlah, Juan Scott! Kau sedang bekerja!
“Aku memanggilmu beberapa kali. Apa yang kau pikirkan?” kata Harry.
“T-tidak ada.”
Kenapa suasananya canggung begini?
“Maaf,” kataku kemudian.
“Apa ada ciri-ciri yang disebutkan Aisha Hope sebelumnya?” tanyaku kemudian. Ia menggeleng.
Aku menghela napas pelan.
“Pukul berapa biasanya dia pulang sekolah?”
“Dia biasanya pulang sore hari. Sekitar jam lima sore.”
Aku mengangguk paham. “Ada apa denganmu?” tanyaku kemudian pada Harry yang menggerak-gerakkan satu kakinya beberapa kali dengan cepat.
__ADS_1
Harry menoleh ke arahku sebentar, kemudian menatap Ashley.
“Maaf, apa aku boleh pergi ke toilet?” tanyanya.
Ashley mengangguk. “Lurus saja, toiletnya di sebelah kanan.”
“Terima kasih,” katanya. Ia berdiri dan segera pergi ke luar.
Sepertinya ia tidak tahan.
“Omong-omong, terima kasih,” kataku. Ia menaikkan sebelah alisnya—bingung.
“Kejadian itu, di depan kafe. Kau mendorongku agar tidak terkena jatuhan pot.” Aku menjelaskan.
Ia terlihat baru mengingatnya. “Ah, itu. Sama-sama. Aku kebetulan melihat orang yang sedang memegang pot di atas kafe itu. Sepertinya dia memang berniat mencelakakanmu.”
“Ah, ya. Masalah itu sudah selesai,” kataku. “Tanganmu baik-baik saja?”
“Hm, sudah kuobati.” Ia melihat tangannya, kulihat ada goresan sedikit.
“Kenapa kau tiba-tiba pergi saat itu? Kau tiba-tiba menghilang.”
“Aku buru-buru.”
Aku hanya mengangguk mendengar jawabannya.
Hening.
Tangan Ashley tergerak mengambil cangkir teh di depannya. Ia meminum cairan di dalam cangkir itu.
Wajahnya agak mirip ….
“Kau agak mirip adikku.”
Aku spontan menutup mulutku. Sepertinya aku terkesan tidak sopan padanya.
Bodoh. Apa yang kau bicarakan pada orang asing?
“Maaf,” kataku kemudian. Dia kemudian menarik kedua sudut bibirnya sedikit—tersenyum tipis.
“Kau tidak tahu kalau kita punya kembaran yang tidak sedarah di dunia ini?” Ia menaruh cangkir tehnya. “Seberapa mirip?” tanyanya.
“Uh, tujuh puluh persen?” kataku tidak yakin. “Aku sendiri lupa.”
“Kau lupa wajah adikmu?”
“Mungkin.”
“Kau tidak bertemu dengannya? Atau, kau pernah kecelakaan dan amnesia?”
“Dia sudah meninggal.”
Kuliat ekspresinya berubah menjadi sayu. “Oh, maaf.”
“Tidak perlu.”
“Bagaimana dengan fotonya? Tidak mungkin kau tidak punya fotonya.”
“Memang tidak ada. Semuanya terbakar.”
__ADS_1
“Aku paham. Maaf,” katanya lagi. “Aku tidak tahu.”
“Tidak apa-apa.”
Tunggu dulu.
Dia hanya orang asing (bisa dibilang seperti itu karena aku tidak begitu mengenalnya). Kenapa aku menceritakan ini?
Hening kembali menyelimuti ruangan ini. Aku melihat sorot matanya. Rasanya, ada yang ingin wanita itu katakan.
Suara pintu terbuka mengalihkan atensi kami.
Kami kompak menoleh ke asal suara. Seorang wanita yang kuyakini sebagai kepala panti asuhan ini baru datang dan membuka pintunya. Di belakangnya ada Harry yang mungkin baru saja keluar dari toilet.
Omong-omong, Harry lama sekali.
Ashley berdiri dan mengambil satu cangkir teh miliknya dan meletakannya ke nampan. “Akan kubuatkan teh untukmu, Nona Storm.”
“Terima kasih, Ashley,” katanya. Ashley pun pergi dan aku hanya menatap punggungnya yang menjauh.
“Namaku Aileen. Aileen Storm.”
---
“Terima kasih atas kerja samamu,” kataku sebelum aku benar-benar meninggalkan tempat itu. Aku dan Harry berjalan memunggungi mereka. Perasaanku benar-benar tidak enak. Aku kemudian berbalik dan menghampiri Ashley. Aku memberinya sebuah kartu nama milikku dari kepolisian. “Hubungi aku jika kau butuh sesuatu.”
Tanpa menunggu responnya, aku langsung berbalik meninggalkannya. Aku terduduk di kursi mobil, menyandarkan dahiku pada setir mobil setelah aku memasuki mobil kami yang terparkir.
Tak lama, Harry datang dan duduk disampingku.
“Ada apa dengan wajahmu? Kau muram.”
“Aku tidak apa-apa.”
Kami sampai di sebuah jalan yang disebutkan oleh Ashley. Jalan ini terlihat sepi, jarang dilalui orang. Ini merupakan jalan pintas dari sekolah Aisha ke panti asuhan.
Jalan ini merupakan terowongan untuk pejalan kaki. Banyak coretan-coretan yang kurasa merupakan perbuatan dari vandalisme.
Lumayan gelap. Dia berjalan ke sini sendirian?
Tidak ada CCTV. Di luar terowongan pun tidak ada.
Aku menyalakan senter dari ponselku. Padahal ini masih siang hari, tapi terowongan ini gelap.
“Menurutmu, apa mungkin pelakunya beraksi jam lima sore?”
“Mengetahui dari terowongan ini yang sepi, bisa jadi,” jawab Harry. “Lalu dia melakukannya, membuangnya ke hutan.”
Sudah cukup lama kami di sini.
Nihil. Kami tidak menemukan apapun.
Seperti kata Sean, taktiknya rapi.
Tiba-tiba, ponselku berbunyi. Sebuah pesan masuk.
Detektif Scott?
Kudengar kau sedang menyelidiki pembunuhan berantai dari Kota Raven.
__ADS_1
Bisa kau datang ke lokasi ini? Aku perlu bicara denganmu.
[mengirim lokasi]