
Kabut hitam merengkuh bumi, menciptakan malam tanpa akhir, tak ada cahaya mentari, tak ada kebahagian yang dapat di temukan, hanya daratan tandus yang di penuhi debu dan darah. Kebencian seolah menyatu serasi dengan kegelapan langit.
Ini bukanlah perang antar manusia
.
.
.
Seribu tahun yang lalu, Kehadiran para roh yang tak dapat di jelaskan, mengacak-acak peradaban manusia. Menghadirkan bencana juga anugerah bagi para manusia.
Tiga dekade kemudian, perang besar berlangsung. Dua kubu roh menjadi pemain utama dalam panggung pertempuran. Kubu roh Arzel yang ingin menguasai bumi dan kubu leluhur roh yang ingin melindungi peradaban manusia.
Akhir yang bahagia mungkin di raih para leluhur, tetapi musuh yang mereka hadapi tak benar-benar mati. Ia masih hidup, menunggu untuk bagiannya di masa depan.
Para pengikutnya menjadi getah perusak peradaban manusia. Mengoyak-ngoyak eksitensi manusia dengan beringas, sebagai bentuk amarah yang tak terbalaskan. Mewujudkan sosok iblis yang sempurna di mata para manusia.
Setahun kemudian sihir di wariskan. Sebuah kekuatan kutukan sekaligus anugerah terbesar bagi manusia yang di warisi para leluhur roh. Hingga saat ini, sihir terus terwarisi ke generasi-generasi, keberadaannya meluas keseluruh dunia, meskipun tersembunyi dan tidak universal.
Berharap menjadi senjata manusia untuk melindungi ekstensi mereka dari para iblis. Ternyata, di antara mereka memanfaatkannya untuk hal buruk. Menjadi sebuah bumerang telak yang meruntuhkan peradaban manusia itu sendiri.
Kahadiran sihir terus terwarisi hingga ke zaman modern, berkamuflase dengan baik di antara kemajuan teknologi manusia. Terselip atau bahkan bersembunyi di lingkungan masyarakat.
Sampai suatu hari, sebuah teragedi membawa seorang pemuda menuju takdir yang tak terduga, membuatnya merajut tujuan baru dalam dunia sihir yang di penuhi keajaiban, suka dan duka. Mengajarkan pemuda itu tentang artinya teman, cinta, juga impian.
Raihan dityana Trosno adalah pemuda biasa pada awalnya. Namun, takdir selalu membawa kita pada jalan cerita yang tak pernah terprediksi, mengejutkan dan terkadang sangat ajaib.
Ini adalah kisah Radit yang mengarungi "dunia" baru bersama sahabat yang selalu di sisinya.
chapter one| seribu tahun setelahnya
(***)
Sang surya mulai meninggi, menyinari langit kota dengan sinar teriknya. Meskipun siang telah tiba, hal ini bukanlah alasan untuk menghentikan aktifitas kota.
Jalan-jalan besar di penuhi ratusan kendaraan. Halte-halte bus di pinggir jalan di penuhi orang-orang sibuk. Seru-seruan kelakson kendaraan menguasai atmosfer terik, memperkeruh suasana pengap nan sesak jalan raya.
__ADS_1
"Jakarta makin macet ya, untung tadi gak bawa motor." Seorang cewek bergumam sambil bertopang dagu di atas meja.
Teman yang berada di hadapannya tidak menggubris, earphone merah menutupi telinganya, matanya sangat serius menatap layar handphone di genggaman.
"Jawab kek!" Cewek itu mencubit gemas lengan temannya yang asyik sendiri.
"Aw!! Apaan sih bel?!" Temannya yang merasa terganggu, menatap sebal cewek itu sambil melepas earphone di telinga.
"Orang ngomong di jawab dit! Minimal nengok, kek." Isabella namanya, berseru sebal, lalu ia menggelembungkan pipi.
"Iya maaf... Kamu tahukan aku pakai ini ." Radit menunjuk earphonenya, lalu ia kembali memainkan handphone.
"Mumpung wifian gratis ya?" Isabella tersenyum jahil.
"Tentu saja.... mumpung di traktir di kafe gratis Wifi ama temen." Radit tersenyum menyebalkan.
"Pulang ah!!" Isabella sudah ancang-ancang mau berdiri.
"Pulang Sana, tapi bayarin minumanku." Radit mengibas-ngibaskan tangannya pada Isabella, Isabella menatap sebal temannya, ia merasa seperti tidak di hargai. Tapi ia tidak bisa menolak untuk mentraktir Radit, karena traktiran ini adalah perjanjian. Siapa yang kalah dalam duel di game, harus mentraktir yang menang dan Isabella harus bersabar karena di kalahkan Radit dengan mudahnya. Ia menghembuskan nafas kesal lalu meraba-raba kantong seragam SMA-nya. Sedetik kemudian wajahnya memucat.
"Dompet ketinggalan?" Radit memicingkan mata, curiga.
Isabella mengangguk.
"Nggak." Radit menggeleng.
Isabella terduduk lemas di kursinya.
"Dah, makasih traktirannya." Radit berdiri dan berjalan cepat menuju pintu kafe.
"Woi gimana ini!!" Isabella berseru kesal, membuat orang-orang di kafe menatapnya.
"Kan kamu yang traktir." Radit menjawabnya dengan senyuman tanpa dosa.
Lalu Radit menarik pintu kafe dan berjalan keluar, meninggalkan Isabella sendirian di kafe
(***)
__ADS_1
Esoknya, di kelas
"Kamu kenapa?" Radit mengerutkan dahi , menatap cewek berambut hitam panjang di sebelahnya sedang membuang muka.
"Kenapa?! Jangan tinggalkan aku sendiri dalam kepanikan dong, menyebalkan!"
Isabella menatap sebal cowok di sebelahnya, iris merahnya menatap penuh amarah.
"Menyebalkan? Bukankah harusnya terima kasih. Aku bolak-balik apartemen untuk mengambil uang dan membayar semuanya, harusnya kau berterima kasih karena sudah ku traktir." Radit berkata santai sambil mengeduk tasnya.
"Setidaknya jelaskan dulu rencanamu dahulu baru pergi, jangan meninggalkan dalam ketidak tahuan!" Isabella menghembuskan nafas kesal lalu melakukan apa yang Radit lakukan.
"Kamu tahu kan, kalau aku bukan orang jahat?" Radit mengeluarkan buku paket setebal Kamus dan menaruhnya di atas meja.
"Aku tidak pernah menganggap mu jahat, hanya menyebalkan." Isabella melakukan apa yang Radit lakukan.
KRIINNGG!!!!!
Bel bernyanyi di lorong-lorong kelas, tanda jam pelajaran masuk. Murid-murid berhamburan masuk kedalam kelasnya masing-masing, sebelum di tanyakan guru.
"Pagi anak-anak." Seorang guru masuk kedalam kelas Radit, ia memakai kemeja biru dan celana panjang hitam, kumisnya yang tebal menjadi simbol kebanggannya.
"Pftt... , pak kumis." Isabella menutup mulutnya, ia hendak tertawa saat melihat kumis yang menawan itu.
"Berhentilah tertawa." Radit berbisik, walau hendak tertawa juga.
"Anak-anak!! Di pagi yang cerah ini kita kedatangan teman baru, dari luar lagi!" Ia menaik-turunkan kumisnya, membuat Isabella harus berusaha keras menahan tawanya, murid-murid yang lain juga melakukan apa yang di lakukan Isabella.
"Masuklah anak baru!" Pak Eko namanya, memanggil seorang yang berdiri di depan pintu Kelas. Murid itu pun masuk dan berjalan ke depan kelas. Penampilannya yang benar-benar berbeda membuat tawa yang di tahan para murid lenyap.
"Salam kenal, nama ku Sebastian Alan. Semoga kita bisa menjadi teman." Ia mengangguk sopan. Orang bule itu cukup tinggi dengan wajah tampan khas eropa, surai ikal berwarna merah pirang indah dan mata tajam berwarna oranye gelap menjadi pusat perhatian kelas, kulitnya yang seputih susu mungkin menjadi bahan pujian orang-orang.
"Yang mungkin mau bertanya boleh mengangkat tangan." Pak Eko memberi tahu. Namun, hanya ada bisik-bisik para murid yang mengisi kelas, beberapa murid cewek melirik-lirik cowok di depan papan tulis itu.
"Ya sudahlah, Alan duduklah di sana." Pak Eko menunjuk bangku kosong di belakang Radit.
Alan mengangguk dan berjalan ke sana. Ia pun duduk dengan tenang, sambil memandang Isabella dengan pandangan sinis.
__ADS_1