
Air mata mengalir deras. Pilu yang begitu menyesakkan dada tak dapat di bendung lagi. Radit menjambak rambut hitamnya dengan frustasi.
Ingatannya di masa lalu bermain di benaknya.
(***)
Tiga tahun yang lalu.
Radit bertopang dagu di atas meja. Mata coklatnya menatap fokus kertas yang di penuhi rumus di atas meja. Jemari tangannya mengetuk-ngetuk meja dengan gelisah.
"Haah...Matematika menyebalkan." Ia pun mendesah pelan.
"Kak Raihan, kenapa?" Seorang gadis kecil yang sedari tadi asyik bermain boneka di hadapan Radit, bertanya dengan polos.
"Biasa...otak mentok." Radit mengusap-ngusap pelan kepalanya.
"Kalau begitu main dulu dengan ku ya?" Gadis itu bertanya dengan semangat.
"Aku tidak punya waktu." Radit bergumam pelan.
"Selalu begitu." Gadis kecil berambut hitam panjang itu mengelembungkan pipinya, kemudian membuang muka dengan kesal
"Kamu kan tahu besok dek, aku ada kompetisi." Radit memandang gadis kecil itu dengan gemas.
"Pasti begitu alasannya..lama-lama urus saja semua soalnya dan lupakan adik mu sendiri." Gadis kecil itu sekarang memutar duduknya sehingga membelakangi Radit.
"Haah..baiklah iya tapi sebentar aja ya." Radit menghela nafas yang membuat gadis kecil itu reflek memutar balik duduknya. Dengan mata berbinar-binar ia menatap kakanya, Radit pun berdiri dan berjalan menuju seberang meja.
"Jadi aku akan bermain peran apa?" Radit duduk di sebelah gadis kecil itu.
"Menjadi teman kuda ini," Gadis kecil itu mengangkat boneka kuda coklatnya.
"Kamu tahu kan aku tidak punya teman." Radit menghela nafas pelan.
"Kenapa? Kenapa Kaka Raihan tidak ingin berteman?, punya teman itu asyik loh!. Kaka bisa bermain bersama dengan mereka atau melakukan banyak hal yang menyenangkan, teman-teman itu sangat baik! Itu dapat membuat Kaka bahagia!!" Gadis kecil itu berkata semangat.
"Kebahagian ku hanya cukup kamu, Fany" Radit dengan penuh kasih sayang mengelus pucuk kepala adiknya.
"Kaka tidak menjawab pertanyaan ku?" Fanny kembali menggelembungkan pipi.
"Karena...manusia itu tidak seperti yang kita lihat, mereka berperilaku baik namun belum tentu dengan hati mereka." Radit terdiam sejenak, wajahnya nampak begitu sedih. Kenangan buruknya tentang kata 'teman' itu menghantuinya, semua senyuman tulus itu hanyalah dusta untuk memanfaatkannya dan menjatuhkannya.
"Apa yang terjadi ka?" Fanny bertanya khawatir.
"Tidak...bukan apa-apa, pokoknya Kaka punya alasan." Radit segera menghapus wajah sedihnya.
"Aku tidak ingin Kaka terus merasa sedih, aku tahu pasti ada sesuatu."
"Tidak terjadi apa-apa kok dan kamu tidak perlu tahu. kalau ada kamu pasti baik-baik saja." Radit tersenyum hangat
"Tapi Kaka tahu kan? Aku tidak bisa selamanya hidup." Fanny menundukkan dalam kepalanya
Radit menatap dalam adik yang paling ia cintai. Salah satu penyebab mengapa ia masih merasakan kebahagian dan masih sanggup tersenyum.
"Kamu pasti bisa, penyakit itu bukan tandingan untuk orang tangguh sepertimu, untuk seorang pahlawan seperti mu."
"Memangnya Fanny pernah menyelamatkan siapa?"
"Kau menyelamatkan aku tahu!" Radit tersenyum kemudian mengacak rambut hitam adiknya, Fanny hanya tersenyum kecil, mata coklatnya menatap kakaknya dengan penuh kesedihan.
"Kau meragukan Kaka mu yang paling pintar ini?" Radit tersenyum penuh kehangatan.
"Tidak, hanya saja Fany terharu melihat senyuman kaka." Fany pun melompat dan memeluk erat kakanya. Tangisnya pun pecah mengisi ruangan, air mata mengalir deras membasahi pipinya. Radit menyisir lembut rambut adiknya, aroma lembut shampo menenangkan hatinya yang begitu takut.
Radit hanyalah manusia biasa, mahkluk yang penuh dengan ketidak tahuan dan ketakutan. Ia tidak tahu apa yang akan terjadi kedepannya dan ia begitu ketakutan dengan apa yang akan terjadi. Yang bisa ia lakukan hanyalah membuang jauh-jauh ketakutannya dan bersikap seolah semua baik-baik saja, bersikap menjadi sosok yang tegar.
"Jangan keras-keras, ibu nanti khawatir loh." Radit berkata pelan, air mata tidak dapat di bendung lagi. Perlahan air mata mengalir di wajahnya.
Fany hanya mengangguk kecil sambil terisak, pelukannya semakin erat di pinggang kakanya seolah tidak ingin melepaskannya untuk selamanya.
(***)
Radit berlari dengan tergesa-gesa di lorong rumah sakit tanpa mempedulikan orang-orang yang melihatnya. Air mata mengalir tidak karuan di wajahnya, nafasnya menderu-deru, jantungnya berdetak tak karuan.
Radit...Radit...Fany telah tiada.
Tiada.
Suara dari dalam telepon itu terus
menghantui pikirannya.
Kamu pasti bisa, penyakit itu bukan tandingan untuk orang tangguh sepertimu, untuk seorang pahlawan seperti mu.
Radit mempercepat langkah.
Kebahagian ku hanya cukup kamu, Fany.
Radit membanting pintu kamar pasien.
Tapi Kaka tahu kan? aku tidak bisa selamanya hidup.
Radit terdiam melihat pemandangan di depannya. Ibu menangis sejadi-jadinya di tepi kasur, sambil menggerak-gerakkan tubuh kaku Fany di atas kasur putih.
Radit berjalan perlahan, memaksakan kakinya yang gemetar hebat. Ayah di belakang ibu hanya bisa mengelus punggung ibu. Radit terus berjalan, mencoba melihat lebih dekat.
Bruk!
__ADS_1
Tubuh Radit jatuh terduduk, tidak kuasa melihat apa yang terjadi. Ia mengigit bibir kemudian mengepalkan tangannya sekuat tenaga.
AAAAA!!
Radit berteriak histeris bersamaan dengan air mata yang mengalir deras. Ia mencengkram dadanya yang begitu sesak merasakan kesedihan. Tangisnya pecah mengisi langit-langit ruangan.
Untuk pertama kalinya kebahagian di dalam hidupnya di renggut. Ia mungkin sudah pernah di khianati, ia mungkin sudah pernah di bohongi namun itu tidak pernah membuatnya sesesak ini.
(***)
Radit terdiam sambil menatap hampa ukiran nama adiknya di atas batu nisan.
"Radit." Ibu menepuk pelan punggung Radit, Radit pun menoleh dengan lesu lalu menatap kosong ibunya.
"Kau mau tahu apa yang di katakan adik mu?" Ibu berkata lembut.
"Apa itu?"
'kaka harus tetap bahagia, bahkan tanpa diri ku'
(***)
"Tapi kenapa..kenapa kebahagian ku di renggut lagi!" Radit menunduk sambil mencengkram kuat lantai kayu.
"Apa aku belum cukup menderita?... Apa ini bisa menjadi lebih buruk lagi?... Berapa banyak aku harus merasakan ini!!" Radit berteriak penuh amarah sambil memukul lantai kayu dengan sekuat tenaga. Ia hanya bisa terisak tanpa bisa berbuat apa-apa.
"Radit...," suara ayah terdengar serak dari balik pintu apartemen. Radit reflek menoleh kemudian menghapus jejak tangisan dan kemudian berdiri.
Ayah Radit membuka pintu dan berjalan perlahan.
"Iya...ayah" Radit terhenti ketika melihat sosok ayahnya, ia tepaku menatap sosok ayahnya dengan seragam kantor yang berlumuran darah. Ayah Radit berjalan terhuyung-huyung kearah putranya, seperti hendak ambruk.
"Ayah.." Radit mendekat sambil memasang ekspresi tidak percaya " Ayah..kenapa?" Tanyanya khawatir.
Ayah Radit diam sejenak lalu secara tiba-tiba tubuhnya ambruk, untungnya Radit sempat menangkap tubuh ayahnya.
"Ayah kenapa?" Radit mengigit bibir, otaknya sedang kacau dengan hal lain dan sekarang hal buruk semakin mengacaukan otaknya.
Ayah Radit mengerang sebentar yang membuat Radit semakin bingung. Ayah Radit melepaskan pelukan putranya kemudian berjalan mundur.
"Ayah kenapa sih?" Radit menaikan alisnya, tidak mengerti.
"Radit....pergi lah...ayah tidak tahu kenapa....ayah merasa beda.." Ayah Radit berkata serak. Radit segera berjalan mundur untuk mengambil pisau di lantai, entah mengapa firasatnya mengatakan untuk mengambil pisau hitam yang di berikan Alan.
Ayah Radit bergumam tidak jelas, seperti membaca sesuatu. Ayah Radit pun mengangkat kepala dan menatap lurus putranya Seketika tubuh Radit membeku, matanya menatap tidak percaya.
"Arghh....!" Ayah Radit berteriak sambil berlari kearah putranya, dengan mulut yang di buka lebar-lebar hendak melahap putranya.
Radit melompat ke kiri menghindari gigitan ayahnya, Nafas Radit menderu-deru, peluh membanjiri wajah, secara tidak sadar air mata mengalir membasahi wajahnya.
"Daging, daging, daging!!" Ayah Radit berteriak kemudian berlari lagi kearah putranya, Radit mengacungkan pisaunya.
Sepuluh centi lagi dari putranya, ayah Radit ambruk ke lantai kayu. Radit hanya bisa terdiam dan menatap tidak percaya, ia pun jatuh terduduk di hadapan ayahnya.
Sekali lagi hal gila terjadi dalam hidupnya.
"Ayah.." Dengan tangan gemetar ia mencoba menyentuh ayahnya.
"Radit...." Ayahnya bersuara dengan lemas, suara aslinya. Ia mendongak kearah putranya.
"I,m-iya.." Dengan gagap Radit menjawab.
"Maafkan ayah....maafkan ayah...hiduplah dengan bahagia, hiduplah dengan penuh kebahagian." Ayah Radit meneteskan air mata di balik kacamatanya yang membuat Radit semakin bingung.
"Maafkan ayah...." Dan seketika kepalanya ambruk kelantai, seperti kehilangan tenaga.
Drap Drap Drap
Alan berlari dan kemudian segera berhenti di depan pintu apartemen Radit yang terbuka, nafasnya menderu-deru, peluh membanjiri wajahnya.
"Cih..terlambat." Ia berdecih pelan dan kemudian berjalan kearah Radit. Radit Hanya terdiam, matanya memandang kosong tubuh ayahnya yang kaku.
"Radit.." Alan memanggil dengan nada khawatir.
"Alan..." Radit menunduk kan kepala "Apa yang terjadi?"
"Ini perbuatan iblis. Ayah mu telah di rasuki iblis dan di kendalikan, namun ayahmu harus merenggut nyawa karena tubuhnya tak mampu mengemban kekuatan iblis." Alan berkata sedih
"Lalu darah siapa ini...." Radit berkata lemas sambil menatap lumuran darah di telapak tangannya. Satu-satunya kemungkinan hanya itu, orang yang selalu pulang bersama ayah dari kantor.
Alan diam sejenak, lalu menatap Radit dengan iba.
"Darah siapa!?" Radit berseru histeris.
"Ibu mu, ini darah ibumu yang satu mobil dengan ayah mu." Alan berkata dengan berat hati.
Radit pun mengigit bibir kemudian memeluk kepala ayahnya dengan lemas.
AAAA!!
Radit berteriak kencang bersamaan dengan tangis yang pecah, air mata mengalir deras tak karuan. Alan mengigit bibir, tangannya mengepal kuat, ia tidak sanggup melihat pemandangan ini.
Untuk ketiga kalinya kebahagian dalam hidup Radit di renggut.
(***)
Di kantor polisi.
__ADS_1
"Jadi kamu melihat ayah mu berlumuran darah? Di dalam apartemen?" Polisi menanyakannya dengan hati-hati.
Radit hanya mengangguk kecil dan tidak berkata apapun saat di tanyai. Matanya kosong seperti orang mati, membuat Polisi yang melihatnya menjadi iba dengan anak di hadapannya.
"Terimakasih atas kesaksian mu. Silakan nak, kamu boleh pergi." Polisi mengatakannya dengan lembut, Radit mengangguk dan kemudian berjalan tergontai-gontai keluar kantor. Semangat hidupnya telah mati, seluruh orang yang ia cintai telah tiada, semuanya hilang di renggut dari hidupnya.
Alan berdiri tepat di depan kantor polisi.
"Radit....ikutlah dengan ku," kata Alan.
"Kemana?" Radit bertanya tidak semangat.
"Ke perdesaan para pemburu."
"Pemburu apa?"
"Iblis," Alan berkata mantap.
"Aku tidak tertarik." Radit membuang muka.
"Ikut saja dulu...nanti setelah itu baru kau putuskan." Alan tersenyum ramah.
Radit menatap sebentar orang Rusia yang berdiri di hadapannya, ia memiliki rambut ikal merah pirang dan iris oranye gelap, tidak lupa dengan postur tubuhnya yang tinggi. Pikirannya di penuhi dengan pertanya-tanyaan karena mengalami fenomena-fenomena yang tidak masuk akal.
"Aku akan menjawab semua pertanyaan mu," Kata Alan seperti membaca pikiran " Hanya satu jam," Alan meyakinkannya kembali.
Radit mengangguk lemas, ia sangat penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi, dari kematian orang tuanya, tentang Isabella, iblis, labirin gila dan banyak hal yang mungkin membuat orang gila.
Alan balik kanan kemudian mengisyaratkan Radit untuk mengikutinya.
Mereka pun berjalan di atas tortoar,di bawah langit malam yang di terangi cahaya bintang.
Dengan perasaan sesak di dadanya juga pertanyaan-pertanyaan yang menumpuk di benaknya, Radit mengikuti jejak temannya yang hampir membunuh sobat karibnya
BAB.A.KESEDIHAN(END)
Profil main character.
Nama: Raihan dityana trosno (Radit)
Umur: 15 tahun
Gender: Pria
Tinggi : 168 cm
Berat : 54 KG
Tgl ulang tahun: 14 agustus 2005
Hal yang di sukai: Isabella
Hal yang di benci : keterlambatan
Deskripsi fisik.
Remaja laki-laki dengan tinggi rata-rata, memiliki rambut hitam pendek dan iris mata coklat. Wajahnya tergolong tampan menurut para kaum hawa.
Nama: Alan Sabastian
Umur: 16 tahun
Gender: Pria
Tinggi: 178 cm
Berat : 58 KG
Tgl ulang tahun: 15 juli 2004
Yang di sukai: sendiri
Yang di benci: Iblis
Deskripsi fisik
Remaja bule jangkung dengan rambut ikal berwarna merah pirang, manik matanya yang berwarna oranye gelap tajam mengintimidasi. Wajah bulenya lebih sering tak berekspresi, membuat aura cool melekat padanya.
Nama: Isabel lawardia
Umur: 16 tahun
Gender: wanita
Tinggi: 160 cm
Berat: 52 KG
Tgl ulang tahun: 1 April 2004
Yang di sukai: Makan
Yang di benci: pengkhianat
Deskripsi fisik.
Remaja cewek dengan tinggi rata-rata, memiliki wajah blasteran asian-eropa, manik mata anggunnya berwarna iris merah darah, sedangkan rambut hitam sepunggungnya selalu di biarkan terurai, membuatnya terlihat lebih cantik.
__ADS_1