
Angin ribut menerpa pepohonan, langit gelap memborbadir daratan dengan serbuan tetesan air, perubahan suhu menciptakan embun yang menyamarkan pemandangan di balik jendela. Aku termangu di atas lantai kayu, memikirkan banyak hal yang menggusarkan kalbu.
Sementara itu, Delon terlihat asyik membereskan peralatan olahraga di ujung ruangan lapangan indoor ini. Aku menghembuskan nafas perlahan kemuidan menundukkan kepala. Menatap lesu pantulan diriku di lantai kayu yang mengkilap.
"Halo! maaf atas keterlamabatan kami ya!" Seru Lateef di ujung ruangan satunya. Di belakangnya terlihat Flitch tengah menutup pintu ruangan. Setelah beres, mereka berjalan mendekati ku. Akhirnya kedua pria yang mengenakkan setelan olahraga sederhana itu sampai. Aku berdiri, dan menunduk sopan.
"Hei, tidak perlu seformal itu. Angkat kepalamu," Ucap Lateef. Aku pun menurutinya.
"langsung saja, Lateef," Flitch mengingatkan.
"Ah iya, sebelum itu mana anak didik ku?" Lateef menoleh sana-sini mencari. Flitch menepuk bahunya dan menujuk Delon di ujung ruangan.
"Hei nak, sini!" Lateef berteriak menciptakan gema dalam ruangan. Pemuda bersetelan olahraga itu mengangguk, kemudian mendekat kearah kami. Dengan cepat aku menyadari bahwa hanya aku di sini yang berbeda. Bukannya baju olahraga, aku justru mengenakan kaus hitam polos dan celana biru panjang.
"baiklah Isabella. Jadi hari ini kau akan kuberi kesempatan untuk hidup, jika gagal. Maaf saja, kau akan terbunuh," ucap Lateef blak-blakkan.
"Anda jujur sekali ya," Aku ku. Lateef terkekeh, sepertinya ia mengangapnya sebagai pujian.
"Memang, sangat terlihat dari auranya," Tambah Delon.
"Berhenti membuat kepalanya semakin keras," Ketus Flitch.
"Oh, ayolah mahkluk suram. Aku tahu kau iri denganku," Lateef dengan santainya menepuk-nepuk bahu si muka predator.
"Sejak kapan aku iri dengan mahkluk sinting," Jawab Flitch enteng.
"Terkadang kau harus menjaga mulut mu Flitch. Atau kau akan di kenang dengan ketua dengan aura tergelap," Ucap Lateef prihatin. Aku berusaha menahan tawa, mereka kombinasi yang sangat kacau. Ngomong-ngomong soal aura Flitch, Lateef tidak mengada-ngada. Meski aku tidak dapat melihat wujud aura, aku dapat mencium bau aura seseorang.
Semakin enak baunya maka semakin baik orangnya dan begitu pula sebaliknya. Dan bau Flitch agak menyengat. Ngomong-ngomong, aura adalah energi yang mencerminkan jiwa seseorang. Umumnya aura orang-orang berwarna kelabu atau putih sedikit gelap, itu menandakan bahwa orang itu pernah melakukan sesuatu yang negative sehingga mempergelap warnanya.
"Baiklah, mari kita mulai," Tanpa aba-aba Lateef menjentikan jari. Dan seketika seluruh ruangan menjadi gelap gulita namun perlahan-lahan sekitarkku menjadi normal kembali, kecuali kehadiran Delon dan Flitch.
Ini lah sihir tingkat lanjutan, sihir dunia replika. Sihir yang dapat menciptakan ruangan yang di inginkan pengguna ,dan pengguna dapat mengirim orang yang ia lihat ke dalam ruangan dengan syarat orang itu masuk dalam radiusnya. Mirip seperti labirin di apartemen Radit.
"Selamat datang ke dunia replika, di sini aku bakal melatih putri Arzel di dalam dirimu, untuk mengendalikan kekuatannya" Ucap Lateef
"Maaf. Namanya Dyra," Ucapku mengoreksi perkataanya yang menyinggung perasaan Dyra.
"Oh, ok. Jadi langsung ku jelaskan saja latihannya seperti apa. Jadi yang kau perlukan dalam latihan ini adalah mempertahankan kesadaran mu,"
"Aku tak paham," Dyra berbicara.
"Begini, dalam kondisi keritis seperti ini kesadaran mu sangatlah tilis, sehingga memungkinkam membuka kekuatanmu, namun bukanlah itu masalahnya."
"Masalahnya terletak pada orang-orang yang ingin memanfaatkan kekuatan mu di luar sana. Jika kau sendiri tidak bisa mengendalikannya, maka artinya sama saja dengan kiamat,"
"Kehadiran mu adalah ancaman. Maka dari itu kau tidak bisa di biarkan berkeliaran begitu saja,"
"Jadi, pilihanku hanya ada dua.mengendalikan kekuatan sebagai jaminan atau mati agar tidak menjadi ancaman." Gumam Dyra
"Sepertinya kau sudah paham garis besarnya,"
"Jadi, akan seperti apa latihannya?" Tanyaku
__ADS_1
"Aku akan menurunkan kesadaran Dyra agar kekuatannya keluar. Yang kalian perlukan hanyalah bertahan selama sepuluh menit dengan kondisi seperti itu tanpa mengamuk. Namun jika terjadi sesuatu di luar sekenario..,"
"Kau akan membunuh kami," Ucap Dyra. Aku mengatur nafas sebaik mungkin, mengatur jantung dan pikiran yang memburuk.
"Hei, Isabella. Aku janji kita akan tetap hidup."
"Tidak perlu kau ingat kan, aku pun tahu akan hal itu. Jangan sok keren deh," Ucapku sok tegar.
"Aku hanya menyemangati mu yang mungkin pesimis. Lateef, mulai."
"Seni sihir: penstabilan sirkulasi."
DEG!
Tiba-tiba saja dadaku terasa begitu sesak bersamaan dengan rasa nyeri yang luar biasa. Peralahan nyeri merambat keseluruh tubuh, merusak seluruh bagian organ di dalam tubuhku. Aku jatuh terduduk sembari meraung-raung kesaktian, bahkan suaraku kini menjadi berat. Darah segar menyembur dari mulut, menodai lantai kayu yang mengkilap.
Pandanganku memudar, kupingku mendengung, kepalaku terasa ingin meledak. Tubuhkku ambruk jatuh kelantai. Tidak ada satupun bagian tubuh yang dapat ku gerakkan, semuanya kini kaku dan menyakitkan.
Pandanganku meredup, suara berat yang menyerukan nama ku terdengar samar.
"I-I SA..BELLA!!"
(***)
Author POV
"ARGHHHHHH!!!"
Kabut hitam menyembul keluar dari mulutnya, dua tanduk hitam tumbuh perlahan dari dahinya. Perlahan warna kuning mendominasi iris matanya. Isabella bangkit berdiri dengan susah payah, kemudian menatap Lateef yang berdiri di depannya.
"Sihir Hydra. Kekuatan sebenarnya sang iblis penghangcur." Lateef bergumam sembari mengamati Isabella. Isabella tersenyum bak orang gila kemudian berjalan tertatih-tatih kearah Lateef.
"Wadah yang tak mampu menahan beban dan kesadaran roh yang memudar. Cepat atau lambat kau akan berubah menjadi monster yang menghancurkan diri sendiri. Tidak akan ada yang bisa menyelamatkan kalian kecuali kalian sendiri,"
"Arghh!!!!" Isabella merengsek maju, mencoba mengirim cakar tajamnya. Lateef mengacungkan tangan lurus kedepan.
"Seni sihir: meriam angin!"
Bum!!
Ledakan angin menghempaskan semua yang ada di hadapan Lateef. Isabella terpelanting jauh hingga akhirnya menghantam tembok di ujung ruangan. Retakan hebat menjalar ke seluruh tembok, puing-puing tembok berguguran jatuh. Namun, hal ini bahkan tidak mengubah apapun.
Isabella berusaha untuk bangkit berdiri meski harus tertatih-tatih. Darah segar meleleh dari bibir dan pelipisnya, dua tanduk hitam telah terbentuk sempurna, taring-taring tajam mencuat keluar dari balik bibirnya.
"Arghh, kenapa selalu, selalu aku yang menderita!!" Isabella menjerit hebat.
Bum!!
Peluru angin melesat, menghantam Kembali tubuh Isabella ke tembok. Lateef mengacungkan sebelah tangannya kearah Isabella.
"Berengsek, berengsek, brengsek! Kenapa selalu aku yang merasakannya, kenapa aku yang selalu kesakitan!!" Isabella berusaha bangkit berdiri, serangan barusan bukanlah hal kecil. Namun seolah tak memberikan nafas, Lateef segera menghantamkan peluru anginnya kembali, membuat lubang yang lebih dalam di tembok.
"KEMANA SEMANGAT HIDUP MU TADI HAH?!" Lateef berteriak marah.
__ADS_1
"Mana janji yang kau buat tadi, apa kau sudah melupakannya hah?!"
"Jangan membuatku menyesal menyelamatkanmu!"
"BERISIK!!!" Isabella berteriak, bersamaan dengan api hijau yang menyembur keluar dari dalam mulutnya, membakar udara kosong.
"AKAN KU BAKAR SEMUANYA. SEMUANYA HANYA MEMBUATKU MENDERITA!!" Isabella melesat maju kearah Lateef, sementara lawannya mengacungkan kedua tangannya kedepan. Api merah menyelimuti tangan Lateef, hanya tunggu diperintahkan api itu akan menghangsukan Isabella.
Dua meter lagi, Isabella akan tiba untuk mengirim cakarnya.
Satu meter lagi, api merah akan menyembur.
Setengah meter lagi.
JLEB
Isabella menusuk perutnya sendiri mengunakan cakarnya. Membuatnya terbanting jatuh kelantai kayu. Ia mengerang kesakitan, tubuhnya meronta-ronta namun cakarnya masih bertahan di dalam perutnya. Darah segar bercucuran menodai lantai, semakin banyak seiring sang waktu bergulir.
"Arghh!" Api hijau menyembur keluar dari dalam mulutnya, untungnya Lateef berhasil menghindar sebelum api itu menggapainya.
"La...teef. Berapa...lama..lagi," Isabella, dengan suara setengah beratnya bertanya lemah.
"Tolong i..ni..sangat sa..kit," Air mata mengalir perlahan, membasahi wajah iblisnya. Lateef menatap iba, ia menurunkan kedua tangannya.
"Magic art: back to"
Seketika seluruh ruangan gelap gulita, namun perlahan kembali seperti semula. Mereka kembali ke dunia nyata. Flitch dan Delon mendekat saat mereka tiba. Delon segera mengecek tubuh Isabella yang tergeletak lemah. kini keadaan Isabella sudah kembali seperti semula, tidak ada tanduk maupun taring.
"Kau membunuhnya?" Flitch bertanya pada Lateef.
"Tidak dia berhasil bertahan hidup," Jawab Lateef datar.
"Dengan luka selebar itu, kau jamin?," Flitch bertanya ragu.
"Aku yakin dia akan tetap hidup," Lateef menegaskan.
"Hmmm. Jadi sekarang kita punya senjata hebat yah...walau dapat menjadi bumerang, kekuatannya tidak dapat kita buang begitu saja,"
"Terserah kau mau dia bilang apa, tapi jangan perlakukan dia seperti senjata," Ancam Lateef.
"Kukira kau melakukan hal ini untuk kepentingan senjata, ternyata kau masih naif yah Lateef," Flitch menggeleng malas.
"Ku serahkan urusan putri Arzel pada mu, tapi kalau memang sudah mengancam langsung bunuh saja." Flitch melambaikan tangan kemudian berjalan keluar ruangan. Lateef menatap tajam punggung pria berambut perak itu.
"Delon, bawa dia kepada Lucy, minta dia sembuhkan total Isabella. Jika dia sudah siuman kau ajak dia berkeliling markas dan berikan tawaran," Lateef menyuruh anak didiknya. Delon mengangguk kemudian membopong tubuh Isabella di punggungnya.
"Saya laksanakan, ketua timur."
(***)
Halo!. Bagaimana menurut kalian, seru gak cerita magical and psychic. kalau iya komen dan votenya yak, nggak bermaksud ngemis tapi saya tetap manusia yang perlu apresiasi agar tidak membatin. Doakan saya agar dapat menamatkan series ini, saya sangat berterimakasih untuk kalian yang telah meluangkan waktunya. komen Ama saran terbuka lebar, Monggo banjiri kolom komentarnya.
Bye-bye, sampai ketemu di chapter berikutnya!.
__ADS_1