Pemburu Dan Teratai Putih

Pemburu Dan Teratai Putih
chapter ten


__ADS_3

Peringatan!!


Di sarankan baca chapter sebelum-sebelumnya untuk memahami cerita! dan hilangkan kebiasaan sekip-sekip chapter!.karena setiap chapter di cerita ini sangat penting dan berkaitan.


Gak tanggung jawab kalo gak ngerti ceritanya.


Dan jangan plagiat! utamakan kejujuran!.Hargai author yang susah payah berfikir dan menulis cerita!.membuat cerita itu tidak mudah.


Thank you and enjoy!!


(***)


"Haah..., Haah." Nafas ku memburu, jantungku berdetak hebat, luka goresan berdenyut-denyut, darah segar yang mengalir tercampur dengan keringat. Kedua kaki ku gemetar hebat.


Kalau tidak salah hitung, sudah hampir tiga puluh menit aku terus menghindari tebasan Alan, walau beberapa menggores wajah dan bahuku.


"Lan. Bisa istirahat?" Tanya ku terengah-engah .


"Beberapa tebasan lagi." Dan setelah mengucapkan itu Alan merengsek maju mengirim tebasan kearah kepalaku. Aku melompat berusaha menghindar, namun aku terjatuh karena kaki ku yang kelelahan tidak


mampu menopang tubuhku saat mendarat. Membuat pantatku harus mencium tanah kembali.


Aku terengah-engah, dadaku terasa sesak karena kelelahan. Menghindari tebasan dengan kecepatan yang tidak dapat di lihat mata bukanlah hal mudah. Mata menjadi tidak berguna, aku hanya bisa mengandalkan refleks tubuh untuk memprediksi serangan.


Pedang di genggaman Alan lenyap menjadi api, lalu padam di hembus angin. Alan merogoh saku celana hitamnya kemudian menarik keluar melati merah. Dengan ekspresi tanpa dosa ia mengulurkannya padaku.


"Makan." katanya datar


"Maaf. Nani?!" Aku mengerutkan dahi, tidak paham dengan orang bule di hadapanku.


"Melati ini adalah tumbuhan langka yang hanya tumbuh di berbagai negara dan salah satunya indonesia. Selain bau yang dapat mengusir roh, bunga ini punya khasiat hebat dalam penyembuhan." Alan menjelaskan. Aku pun menerimanya dan menimang-nimangnya.


"Rasanya manis." Alan meyakinkan. Aku mengangguk dan melemparnya masuk ke mulut, manis seperti madu!. Setelah itu tubuhku terasa begitu hangat, rasa hangatnya mirip sekali saat meminum jahe. Rasa sakit yang berdenyut-denyut kini memudar.


"Hei, Alan apa kau merasakan seperti ini juga saat latihan menjadi pemburu?" Tanyaku tiba-tiba.


"Benar. mungkin bisa di bilang lebih parah." Katanya datar.


"Berapa lama? Waktu latihan nya?"


"Satu tahun. Itu termasuk paling cepat,"


"Normalnya?"


"Tiga sampai empat tahun."


Hening sekejap. Aku terkejut mendengarnya


"Ngomong-ngomong soal pemburu. Apakah waraga desa ini adalah para pemburu?" Aku menebak memecahkan hening.


"Dominan, namun sebab itu lah di sebut desa pemburu." Alan duduk tiga meter di depan ku."Warga di desa ini adalah orang-orang malang yang di selamatkan para pemburu dari iblis. Tidak sedikit yang seperti mu..dari pada membiarkan mereka berputus asa. Kami, para pemburu, memutuskan membawa mereka kesini dan berharap dapat memberikan mereka kebahagian," Alan mendongak menerawang langit "Semua warga di sini adalah keluarga, sahabat. Dalam kerukunan mereka saling melindungi. Beberapa ada yang menjadi pemburu karena dendam, namun tidak sedikit juga yang tulus ingin melindungi manusia. Mereka yang menjadi pemburu mengembara menjalankan misi sedangkan sisanya yang bukan memutuskan menjadi petani di desa ini,"


"Ngomong-ngomong kenapa kau jadi pemburu?"


"Aku ingin melindungi semua yang bisa ku lindungi dengan kekuatanku. Itu saja." Alan mengatakannya dengan ekspresi datar, namun mata oranyenya memancarkan kesedihan yang mendalam.


"Sudah lah ayo pulang." Alan bangkit berdiri kemudian berjalan masuk kedalam kabut yang tentu di ikuti oleh ku. Selama perjalanan kami hanya hening dan tidak saling bercakap-cakap.

__ADS_1


(***)


Dok!Dok!Dok!


Entah siapa yang menggedor pintu, yang pasti itu membuatku terlompat bangun dari tidur.


"Bangun Dit! Kita latihan!" Alan di balik pintu kamar berseru.


"Iya sebentar!"


"Lima menit tidak keluar, tidak ada sarapan bagi mu!" Seru Alan dari balik pintu lalu di susul suara langkah kaki yang menjauh.


Aku bergegas berdiri dan berjalan keluar kamar. Aku pun berjalan menuju keluar rumah, di halaman rumah, Alan menunggu dengan dua keranjang bambu berukuran besar. Angin pagi menyembur wajah ku membuat menggigil.


"Nih!" Alan melempar keranjang itu kearah ku, untung aku refleks menerimanya. Lalu dengan santai Alan berjalan, entah kemana tujuannya. Lima belas menit berjalan, kami tiba di sawah wortel milik salah satu warga.


"Cabut wortel dan masukan ke keranjang. Jika sudah penuh, berlari kearah gerbang desa dan tuangkan wortel ke peti kayu yang sudah di sediakan. Jika sudah, kembali lagi dan isi keranjang mu hingga penuh dan ulangi lagi hingga semua wortel di sawah sudah habis." Alan menjelaskan


Aku menelan ludah. Melirik jarak sawah ini dengan gerbang desa, jarak nya sekitar lima ratus meter. Di tambah dengan sawah seluas tiga hektar yang terbentang di depanku, membuat ku makin frustasi.


"Harus berlari?" Tanya ku memelas


"Iya, kalau ketahuan gak berlari bakal ku pukul." Kata Alan serius, mata oranyenya menatap tajam kearah ku.


"Ahsiaap!!" Seruku frustasi, kemudian aku melompat kearah sawah dan mulai mencabuti Wortel.


Latihan ini bakal jadi neraka.


(***)


Matahari bersinar terik memanggang kulit, membuat orang-orang enggan keluar rumah, namun berbeda denganku. Dengan semangat empat lima, aku berlari sekuat tenaga tanpa mempedulikan lelah. Percaya atau tidak hampir empat jam aku melakukan hal ini. Berlari bolak-balik sambil membawa sekeranjang wortel seberat empat puluh kilogram.


Aku tidak bisa berhenti karena Alan terus berlari di belakang ku dari tadi, mengintai dengan mata oranyenya.


Sampai di sawah, aku menelentangkan tubuh ku ketanah. Aku mengatur nafas, kaki ku berdenyut-denyut seperti bengkak, kepalaku pening. Tak lama perutku berbunyi minta di isi, ah iya aku belum sarapan.


"Nih." Alan yang duduk di sebelah menyodorkan semangkuk cuangki, aku pun menerimanya dan bangkit duduk. Dengan semangat aku melahap makanan terenak di dunia ini.


"Kau tidak makan?" Tanyaku pada Alan di sebelahku.


"Sudah tadi sebelum membangunkan mu." Jawabnya datar.


"Oh.." Aku mengangguk-angguk "Oh iya, wortel tadi di jual ke kota kan?"


"Benar. Ke pusat pasar tradisional di Bandung, desa ini menjadi salah satu pemasok sayur-mayur terbesar di bandung." Katanya santai.


"Oh..sekarang kita di Bandung," Aku mengangguk-angguk. Makanan di atas mangkuk telah tandas.


"Nih, teh melati merah," Alan menyodorkan segelas teh padaku, aku pun menerimanya dan langsung meneguknya hingga tak tersisa. Hangat menyebar ke seluruh tubuh. Melati merah memang ajaib.


"Baiklah, saatnya latihan refleks," Alan melompat berdiri.


"Hey, tenagaku belum pulih," Ketus ku.


"Terus apa peduliku? mau lelah mau tidak kau harus latihan. Tidak ada kata mengeluh. Menjadi pemburu itu sangat berat," Alan memunculkan pedangnya kemudian mengacungkannya tepat ke wajah ku "Berdiri!" katanya dingin.


Aku menelan ludah, kalau aku melawan urusannya bakal panjang, Lagi pula dari awal akulah yang ingin menjadi pemburu. Aku pun bangkit berdiri.

__ADS_1


"Kita ke hutan kabut." Ia menurunkan pedang dan melenyapkannya menjadi api. Ia pun berbalik dan berjalan menuju tujuan. Aku menghembuskan nafas berat. Beberapa menit lagi aku akan merasakan lelah kembali.


(***)


Drap!Drap!


Kaki ku lincah melompat kesana-kemari, berusaha menghindari tebasan-tebasan pedang yang mulai menggila. Hari ini ada sedikit kemajuan, aku dapat bertahan lebih dari tiga puluh menit tanpa segores luka. Aku bisa merasakan refleks tubuh ku yang mulai meningkat.


Aku berdiri tepat dua meter di depan Alan, mata kami saling mengirim tatapan waspada, aku memasang kuda-kuda untuk bersiap menghindar.


Alan merengsek maju, tangan kanannya bersiap mengirim tebasan. Saat jarak kami tinggal semeter, ia bersiap melayangkan tebasan. Dengan sigap aku melompat ke kiri.


BUGH!!


Tinju kiri Alan menghantam wajahku saat aku di udara. Gerakan tipuan, tangan kanannya sama sekali tidak bergerak. Tubuh ku pun terbanting ke tanah. Aku mengaduh, serangan tadi sangat mengejutkan.


"Hei! licik pakai tinju!" Seruku marah.


"Asal bisa mengasah refleks mu bukan masalah," katanya seperti tidak punya dosa.


"Tapi tetap licik!!" seruku tidak terima.


"Maaf. Refleks" Alan minta maaf, walau nadanya datar "Kalau begitu kita istirahat sebagai bentuk permintaan maaf."


Aku mengangguk, ini yang ku tunggu. Dari tadi pagi aku sama sekali tidak istirahat, tubuhku terus di paksa berkerja keras walau kelelahan. Alan pun duduk beberapa meter di depan ku.


"Kau hebat. Jarang orang yang bisa berkembang secepat ini, hanya dalam waktu sehari kau bisa melampaui rekor bertahan mu sebelumnya, juga fisik mu lebih kuat dari yang ku duga," Alan memuji dengan ekspresi datar.


"Terimakasih...namun tetap saja melelahkan." Jawab ku. Aku pun membaringkan tubuh ketanah, nafas ku masih menderu-deru.


"Apa kau latihan fisik dulu?" Alan bertanya.


"Tidak begitu sering, aku lebih sering berkelahi sejak SMP. Mungkin itu faktornya, tubuhku sudah memiliki refleks dari dulu namun tidak pernah ku latih dengan serius." Aku menerawang langit, aku juga sangat terkejut dengan apa yang telah ku lakukan. Aku sungguh tidak percaya masih bisa bergerak dengan seluruh rasa sakit di tubuhku.


Alan diam sejenak, mata oranyenya menatap ku datar.


"Kenapa?" tanyaku.


"Kau berbakat. Kalau begini kau bisa jadi pemburu dalam waktu dekat."


"Oh iya? kira-kira berapa lama?" Tanyaku antusias.


"Satu tahun."


"Lama sekali" Aku mengangkat alis "Memangnya apa syarat jadi pemburu sih?" Sambung ku sambil berusaha bangkit untuk duduk.


"Syaratnya ya itu lulus ujian pemburu. Namun jika kau tidak cukup pengalaman bertarung, kau bisa terbunuh di tengah ujian, minimal kembali dengan bagian tubuh terputus." Alan berkata santai, dan saat ia mengatakan itu aku bergidik ngeri.


"Memangnya seperti apa ujiannya?" Aku penasaran.


"Tidak tentu. Ujianya pasti selalu di acak setiap tahunnya."


"Jika sudah lulus? maka akan menjalankan misi?"


"Benar. Jika misinya sukses kau akan dapat imbalan dari pusat organisasi pemburu. Imbalan tidak menentu bisa uang atau barang berharga."


"Lupakan soal ujian dan misi. Kau bahkan belum menguasai sihir." Alan bangkit berdiri. "Bangun, sudah lebih dari lima menit." Sambungnya.

__ADS_1


Aku menggerutu dalam hati, namun tetap berdiri juga. Entahlah tubuhku akan bertahan berapa lama. Kaki ku sudah bergetar, dada ku terasa begitu sesak, seluruh tubuhku merasakan sakit yang luar biasa.


__ADS_2