
Isabella POV
'kau bukanlah manusia!'
'kenapa keturunan iblis dibiarkan hidup?'
'mati saja kau terkutuk!!'
DEG.
Aku terjaga, peluh membanjiri seluruh tubuh, nafasku tersengal, tubuhku terasa begitu lemah, kepalaku pening bukan main. Aku mencoba menyeka peluh, dan aku menemukan hal janggal yang menempel di nadiku, infus.
Aku mengerjapkan mata kemudian mengedarkan pandangan. kosong, hanya ada tembok berwarna putih, lampu besar yang tergantung di langit-langit dan ranjang empuk yang ku tiduri.
"Hai," Sapa sebuah suara di sudut ruangan. Aku pun menoleh dan menemukan sumbernya. Seorang pemuda seumuran ku yang duduk di atas kursi kayu. Iris merah darahnya menatap ramah kearhaku, rambut ikal hitamnya dan wajah bersahabatnya mendukung kesan tampan pemuda itu.
Ia mengenakan jas hitam kulit dengan kaus putih di baliknya, juga celana kain panjang berwarna hitam yang ditemani sepatu kets biru tua.
Aku ingin sekali membalas sapaannya, tapi tubuhku terlalu lemah melakukannya, tubuhku seperti tidak ada tenaga. Ia berpikir sejenak, kemudian berdiri dan melangkah ke arahku sembari memainkan sebutir apel di tangannya.
Aneh, kurasa aku tidak melihatnya tadi. Setelah sampai, ia mengulurkan apel merah itu sampai menyentuh bibirku.
"Gigit," perintahnya
Aku menurutinya, karena aku benar-benar kelaparan. Mengigitnya sedikit dan segera menelannya. Matakku membelalak, hangat yang berpusat di dadaku menyebar keseluruh tubuh, mengaktifkan organ-organku kembali.
"Di mana aku?" Tanyaku lemah.
"Tidak sopan. kau belum membalas sapaan ku." Gerutunya.
"Hai. Dimana aku?"
"Ruangan isolasi di markas white nymp."
Aku terdiam, terkejut. Sekarang aku berada di dalam kadang para roh pemburu iblis. Aku menelan ludah dan menatap waspada mahkluk di hadapanku.
Aku baru sadar dia bukanlah seorang "pemuda", melainkan roh yang mengunakan sihir perubahan wujud. Aku tahu dari baunya.
"Makanlah semua apelnya, kau perlu tenaga yang banyak."
Aku menerima apelnya dan mulai memakannya. Enak, manis dan renyah. Tentu saja ini adalah apel magis yang hanya bisa di dapatkan di tempat ini. Selain enak, apel ini mengisi ulang energi kehidupan.
"Tiga belas Maret dua ribu dua puluh," pemuda itu bergumam sembari melihat arloji di tangannya.
"Tiga belas maret!" seruku terkejut
"Iya, tiga belas maret. kau koma selama tiga bulan." Jawabnya sembari tersenyum.
"Apa yang sebenarnya terjadi?!"
"Kau ku selamatkan dari Alan karena perintah pusat.., kemudian ketua timur memberikan ku perintah mengurus mu sampai sadar dari koma. Alasanya aku tidak tahu kenapa."
"Kalian.., menyelamatkan iblis?" Tanyaku heran. Ini adalah hal yang bertolak belakang.
"Hei, kau belum sama sekali memakan manusia."
"Tapi kau tahukan aku keturunan siapa?" Jawabku lesu. Dia hanya diam dan menatapku sebentar, kemudian memalingkan pandangan kearah langit-langit.
"Jangan dengarkan apa kata mereka," jawabnya pelan. Aku masih diam, sungguh aku tidak berselera membahas topik ini.
"Aku mau melapor pada ketua, istirahatlah." Pemuda itu berjalan kearah pintu kayu jauh di sebelah kiri ku.
__ADS_1
Aku memandang punggungnya dan menemukan logo teratai putih yang terpampang di sana. Ia berhenti sejenak sesaat sebelum meraih kenop pintu.
"Oh iya, namaku Delon. Senang bertemu dengan mu, Isabella." Lalu ia pun pergi keluar ruangan. Ku gigit lagi buah apel di genggamanku dan memamahnya dengan kasar.
"Tidak masuk akal, apa tujuan mereka?" Gumamku pelan sembari menimang apel di tangan.
"Memanfaatkan kekuatan kita? Mungkin mereka menginginkan itu." Ujar suara serak dalam benakku.
"Sudah lama tidak mendengar suaramu, aku kangen loh Dyra."
"Menjijikan, aku tidak akan pergi kemana-mana. Selama ini aku selalu di dalam tubuh mu," ketus Dyra
"Iya, iya. Aku bercanda." Aku tersenyum tipis. "Sudah lama kita tidak seakrab ini. Maaf soal kata-kata ku yang menghina mu ya," lirih ku.
"Dasar, seharusnya kau tidak mencacimaki aku seperti itu."
"Lagian, kenapa kau mendesak ku, sebegitunya kau kelaparan?" Kataku sebal.
"Yah, maaf. Kalau soal perut aku suka lepas kendali. Kau tahukan, roh memerlukan banyak sekali energi kehidupan, apalagi memiliki tubuh fisik manusia." Sesal Dyra.
"Fiuh.., pada akhirnya kita terus terjebak kedalam masalah yang sama. Lepas kendali dan kelaparan."
"Ngomong-ngomong soal cacimaki mu, apa kehadiranku sangat membuatmu menderita, ya?"
"Menderita, sangat. Tapi aku tidak bisa melawan takdir, jadi jalani saja."
"Kau membenci ku?"
"Iya. Tapi aku tetap mengakui mu, kau bagian dari diriku yang di takdirkan, bahkan saat masih di rahim ibuku."
Hening, tidak ada lagi yang berbicara di antar kami.
"Aku mau istirahat, jangan ganggu aku saat tidur, Dyra." Aku menarik selimut tebal kemudian membaringkan tubuh ke kasur empuk.
(***)
14 Maret, 2020
Sebenarnya, aku tidak tahu ini sudah besok atau belum di karenakan tidak ada jam di ruangan ini. Aku benar-benar bosan di sini, menerawang warna putih di langit-langit selama satu jam tanpa memikirkan apapun. Sementar itu mahkluk yang duduk di samping ranjang ku sibuk membaca komik.
"Kau gabut ya?" Tanyaku memecah lenggang
"Tidak, aku bertugas menjaga mu."
"Sampai kapan?"
"Hari ini, di jam empat sore." Jawabnya sembari menengok kembali ke arlojinya.
"Sekarang jam?"
"Jam empat kurang lima." jawabnya
"Kalau tugasnya sudah selesai, kau akan melakukan apa?"
"Mengantarkan mu ke persidangan."
Aku terdiam, dan menatap penuh tanya mahkluk rupawan di sebelahku.
"Persidangan mu. Menentukan membiarkan mu hidup atau mati." jawabnya untuk membalas tatapan ku.
"Apa!!!!" Seruku histeris.
__ADS_1
"Empat ketua wihte nymp akan menentukan keputusan. Membiarkan mu dalam pengawasan atau mengesekusi." Jelasnya.
"Jangan membuatku ketakutan!"
"Aku hanya membantu menjelaskan." Katanya dengan wajah tak berdosa.
TOK TOK.
Suara itu terdengar di balik pintu kayu. Sukses membuat perhatian kami teralih padanya.
"Delon, sudah saatnya. Bawa Isabella sekalian!" Seru suara gadis di balik pintu.
"Iya!" Sahutnya, kemudian Delon menatap ku kembali, "bisa berdiri, Isabella?" Sambungnya.
"Beri aku apel lagi, niscaya aku sanggup berjalan," Balas ku. Delon mengangguk dan merogoh apel dari balik jaket hitam dan memberikannya padaku.
"Makanya sambil jalan, kita di kejar waktu." Delon memerintah yang dikuti dengan anggukan ku. Ia pun berdiri dan melangkah kearah pintu, aku mengekorinya di belakang.
Delon menggengam kenop dan membukakan pintu. Seseorang remaja perempuan seumurku berdiri menyambut kami.
"Sepuluh menit lagi." Kata perempuan itu datar kemudian di balas dengan anggukan Delon. Perempuan itu pun mengisyaratkan kami berdua untuk mengikutinya menyusuri lorong. Ku perhatikan sana-sini, lorong ini besar dan kosong. Hanya ada karpet merah yang kami pijaki dan puluhan lentera yang tergantung di dinding atau sesekali lukisan abstrak yang tak ku pahami.
'Serius?! Arzel memiliki putri!? kukira itu hanya mitos!'
'Benar itu buktinya!! tapi aku heran kenapa pusat tidak langsung membunuhnya!!'
'Bencana seperti dia tidak dapat di biarkan!'
"Kalau bisa memilih, aku ingin hidup normal." Aku menggerutu dan mengigit kasar buah apel di tanganku. Sayup-sayup percakapan para roh ini sangat menyebalkan.
"Tidak perlu mempedulikan mereka. Bukan mereka yang menentukan mu menjadi baik atau buruknya dirimu." Kata remaja perempuan di belakangku.
"Lalu siapa?" Tanyaku
"Dirimu sendiri. Ungkapan dari orang lain hanya membuat kesan, fakta apa kau menjadi baik atau tidak yang menentukan dirimu sendiri." Balasnya. Aku terdiam sejenak kemudian tersenyum kearahnya. Ia hanya mengangkat bahu, terlihat tidak peduli dengan pemberian terimakasih ku. Kami terus berjalan sampai remaja perempuan itu menyuruh kami berhenti.
"Di depan sana ada pintu ruangan persidangan." Jelasnya yang di balas anggukan serempak Delon dan aku.
"Kau ada tugas ya, Lucy?" Tanya Delon kepada remaja perempuan itu.
"Seperti biasa, menumpuk. Aku tinggal dulu yah, bay." Lucy, perempuan berambut pirang panjang yang mengenakan setelan hitam itu melambaikan tangannya ketika berjalan meninggalkan kami. Delon dan aku segera membuka pintu dan memasuki ruangan. Besar dan kosong, itu kesan pertama ku.
Ruangan yang ku masuki adalah ruangan persegi seluas dua puluh meter dengan tembok yang di cat warna putih.
Karpet coklat yang terkesan elegan terbentang melapisi seluruh lantai dalam ruangan, lampu besar nan megah menerangi ruangan di langit-langit yang tinggi.
Di tengah ruangan terdapat meja setengah lingkaran dan empat kursi di belakangnya. Dua orang pria berumur tiga puluhan sedang duduk di sana, terlihat sedang berdebat.
"Permisi ketua, persidangan akan segera di mulai." Kata Delon melerai debat mereka.
"Aku heran kenapa kita harus mengadakan hal tidak berguna seperti ini." ketus pria berambut perak di kuncir kuda, matanya yang tajam menatapku seolah hal yang menjijikan.
"Ayolah Flitch, dia punya hak sama seperti kita." Ucap pria berkulit kecoklatan di sebelahnya dengan santai. Berbeda seratus delapan puluh derajat dengan pria di sebelahnya, pria ini memiliki wajah yang sangat bersahabat nan hangat, mirip mahkluk di sebelahku. Ia juga memiliki rambut hitam pendek.
"Kau terlalu naif Lateef. Aku ingin segera mengakhirinya. Hei Delon, suruh putri Arzel itu duduk." Perintah Flitch dengan nada merendahkan.
Delon menggiringku untuk duduk di sebuah kursi kayu yang di sediakan di depan meja setengah lingkaran. Jantungku memompa dua kali lebih cepat, perasaan merinding menggelitik buluk kuduk, peluh membanjir lebih banyak dari biasanya.
"Maaf, kemana dua ketua yang lainnya?" Tanya Delon sopan.
"Mereka terlalu sibuk dengan tugas mereka dan ditambah dengan jarak yang cukup jauh. Jadi hanya kami berdua yang bisa datang, kebetulan Flitch sedang di Singapura jadi dia bisa hadir di sini." Jawab Lateef, pria yang menghangatkan.
__ADS_1
"Sebagai gantinya, mereka yang tidak hadir akan berdiskusi jarak jauh nanti malam dengan kami untuk menentukan pilihan. Untuk saat ini kami hanya mengumpulkan argument yang akan di pertimbangkan untuk ke putusan nanti malam," sambung Lateef
"Jadi, Isabella. Kenapa kami harus membiarkan mu hidup?" Lateef tersenyum ramah kearah ku.