Pemburu Dan Teratai Putih

Pemburu Dan Teratai Putih
chapter fourteen


__ADS_3

Aku baru sadar bahwa berada di tempat lain setelah mengedarkan pandangan. Pepohonan rimbun tersebar di sana-sini, memberikan kesan sejuk yang menenangkan jiwa, deduanan yang berguguran berserakan di atas tanah yang ku pijaki. Ini di dalam hutan.


Sepuluh detik berpikir, akhirnya aku tahu apa yang janggal. Luka di perutku menghilang dan tangan kanan ku kembali seperti sedia kala.


"Ayo!" Seru seorang remaja lelaki seumuranku ,suara beratnya sukses membuatku tersentak kaget. Remaja itu pun berbalik dan berjalan ke arahku.


Aku pun berusaha menghindar agar tidak ditabrak badan bongsornya, tapi kurasa percuma karena tubuhnya menembus tubuhku. Aku termangu melihat peristiwa barusan. Lelaki itu tetap melanjutkan jalannya seolah tidak terjadi apa-apa.


"Hei tunggu!" Seru perempuan yang mengenakan gaun putih itu. Ia pun berlari dan menembus tubuhku begitu saja, seolah aku tercipta dari udara.


Aku sempat berpikir bahwa aku sudah jadi hantu karena dapat di tembus benda solid, tapi pemikiran itu berubah setelah aku melihat tubuh samar-samar mereka berdua.


Lalu aku pun memutuskan bahwa merekalah yang hantu bukan aku. Punggung mereka semakin menjauh dariku, aku pun berinisiatif untuk mengikutinya, tetapi baru selangkah mengejar latar tempat yang kuhuni berubah, menjadi tanah lapang yang di kelilingi pepohonan raksasa.


Baiklah kurasa aku menguasai teleportasi sekarang. Sudut mataku menangkap pergerakkan, apalagi selain mereka berdua.


"Jadi kenapa aku harus mengikuti mu?dan kenapa kau terkesan terburu-buru?." Amelia bertanya pada laki-laki bongsor di sebelahnya.


Laki-laki itu tidak menjawab pertanyaan Amelia, ia justru memasang wajah penuh amarah sembari menatap lurus kearah ku. Merasa di kacangi Amelia bertanya lagi, kali ini dengan suara lebih keras "Jadi apa yang ingin kau lakukan!"


Orang yang di teriaki menggeram marah. Dengan cepat ia membalikan tubuh, kemudian kedua tangan raksasanya mencengkram erat bahu Amelia.


Iris matanya yang mengerikan mengintimidasi lawan bicaranya, tetapi di luar ekspetasi, sang lawan bicara justru menantang tatapan itu dengan terus menatap mata lawannya. Gadis itu seakan tidak ingin di tundukkan.


"Kau...aib bagi keluarga, sebaiknya berhenti berbicara, karena suara jelekmu itu mengusik telinga ku!." Seru laki-laki itu galak.


"Telingamu saja yang rusak Hans!. Atau kuping mu tersumbat oleh lemak yang sering kau timbun akhir-akhir ini!?" Balas Amelia tak kalah galak.


"Argh kau membuatku muak!!!" Hans, lelaki bongsor itu mendorong kasar Amelia hingga terjatuh ketanah.


"Kenapa?, apa kau iri denganku Hans?" Raung Amelia, ia masih berusaha untuk bangkit berdiri.


"Produk cacat seperti mu gak seharusnya di puji ayah!! Gak seharusnya orang cacat seperti mu mengalahkan ku!!" Ia berteriak marah sampai-sampai ludahnya menyembur keluar,urat-urat di wajahnya mengeras.


"Tapi faktanya aku selalu di depanmu kan? itu artinya aku bukan aib!!. Hei kakakku yang paling menyebalkan, coba terima hal itu!!"


"ARGH!!!!" Ia menendang batu di hadapannya keras-keras sampai batu itu melesat terbang entah kemana.


Ia berbalik kemudian berjalan kearah pohon besar di belakang ku. Amelia dan aku yang di kuasai rasa penasaran mengamati kelakuan pabrik lemak itu. Ia meraih sebuah kantong kecil yang di sembunyikan di bawah selah akar pohon. Ia pun mengeduk isinya kemudian mengeluarkan sebuah botol kaca bersumbu.


"Aku sebenarnya tidak ingin melakukan ini, tapi kau benar-benar membuatku muak Amelia. Gaya mu yang berlaga paling hebat itu benar-benar menjijikan!. Kenapa ayah selalu memberikan semuanya pada mu, kenapa ayah bangga dengan anak cacat sepertimu!! "


"Itu karena kau yang tidak berguna bongsor!! orang cacat bukan berarti orang yang tidak berguna. Kau hanya sibuk merasa iri dan memikirkan bagaimana cara membuatku tersiksa! Itu saja yang kau lakukan sampai-sampai tidak melakukan apapun!!"


"Kau jangan asal bicara cacat!! Aku berlatih siang malam untuk melampaui orang cacat sepertimu!! Ku korbankan semuanya, waktuku, tenagaku semuanya yang ku miliki untuk mengalahkan mu! Tapi kenapa aku tetap kalah berduel dengan seorang yang lemah seperti mu!!"


"Itu karena aku membuktikan bahwa aku bukan aib keluarga. Bahwa aku orang yang berguna! Bahwa kecacatan ku bukan penghalang hidup ku!!"


Suasana semakin memanas, muka mereka berubah menjadi merah padam, mata mereka saling melototi satu sama lain, tubuh mereka bergetar karena di kuasai amarah.


"Aku benar-benar membencimu!" Hans pun memangkas jarak dengan adiknya, tangannya yang menggenggam botol di ulurkan tinggi-tinggi ke udara. Amelia mempersiapkan kuda-kuda, bersiap menghindar jika botol itu menghantam dirinya.


Di luar dugaan, Hans melempar botol itu kearah lain. Botol itu pun pecah setelah menghantam tanah, cairan mengkilat dengan bau khas bersimbah.


Sebelum menyadari apa cairan itu, leher Amelia di pukul telak dengan tangan bongsor kakaknya. Membuatnya tersungkur ketanah.


"Serangan fisik secara langsung lebih berbahaya ketimbang sihir bagi tubuh mu. Aku tadinya berniat memotong-motong tubuh mu sih, tapi itu terlalu beresiko untuk ketahuan." Ia pun berjongkok tepat di hadapan tubuh adiknya yang tersungkur lemah


" Jadi aku memutuskan untuk membakar mu saja." Dan setelah ia mengatakan itu ia pun berdiri dan berjalan menjauh beberapa meter hingga akhirnya ia berhenti. Ia membentangkan kedua tangannya lalu mulutnya melafalkan sebuah mantra.


"Seni sihir: Nafas jahanam!!"


Floarrr!


Api merah menyembur ganas dari kedua tangannya, nyala api yang mengerikan mengingatkanku pada seseorang. Ia pun mengarahkan kedua tangannya lurus ke depan, kearah adiknya sendiri.


Aku pun berseru histeris, berusaha untuk menghentikannya, tetapi percuma suaraku lenyap entah kemana, seolah pita suaraku di ambil dari tenggorakan .


FLOAR!!!!


Semburan api ganas seluas lima meter itu menelan tubuh mungil yang tersungkur di tanah. Kemudian dengan cepat api merambat di tanah membentuk kobaran ganas yang melingkari kami, aku dan Amelia. Ganasnya api melahap apa pun di sekitarnya, mengubahnya menjadi abu yang bertebaran ke udara.


Dari balik kobaran api Hans tersenyum penuh kemenangan. Nyala matanya memancarkan kepuasan. Ia pun berbalik dan berjalan meninggalkan kami.


Aku masih menatap tidak percaya dengan apa yang kulihat. Asap hitam membubung tinggi ke langit biru, bau gosong menguasai udara di sekitar, membuat dada siapapun itu sesak, suara bergemeletuk memenuhi telinga ku.


Kobaran api yang membesar melahap pohon-pohon terdekat, seolah mereka tidak cukup puas melahap tubuh mungil Amelia. Mataku terpaku menatap tubuhnya yang terbakar lima belas meter di hadapanku, sarapanku tadi pagi berusaha merangkak keluar dari dalam perutku, menimbulkan sensasi mual yang tertahan.


"Amelia!!!" Seru sebuah suara dari belakang ku, aku pun menoleh demi menemukan sumbernya, namun nihil tidak ada seorang pun berada di belakangku.


"Amelia!!!, bertahan lah!" Seru suara itu histeris, kali ini suaranya berpindah kedepan ku, tepatnya di sekitar tubuh Amelia.


Sekumpulan kabut putih entah dari mana tahu-tahu sudah melayang di atas tubuh Amelia, kabut itu pun turun menyelimuti seluruh tubuh Amelia yang gosong terbakar.


Tak lama keajaiban pun terjadi,Luka hitam yang menyelimuti Seluruh kulit Amelia perlahan memudar. Ini salah satu efek ketika tubuh di rasuki roh. Jadi begini, tubuh yang di rasuki roh akan menjadi lebih kuat berkali-kali lipat, baik dalam penyembuhan atau ketahanan.


"Amelia!! Amelia sadarlah!!" Seru suara Wanita Dewasa itu. Ia masih berusaha menyadarkan Amelia dengan berseru-seru histeris, namun hasilnya tetap nihil.


"HANS!!!" Raungnya di tengah Suara gemeletuk api dan asap hitam yang membubung tinggi. Ia pun terisak dan menangis histeris.


"Amelia, akan ku pinjam tubuhmu," Dan setelah ia mengatakan itu kabut yang menyelimuti tubuhnya menghilang kesetika.


Tak lama kelopak mata Amelia terbuka, memperlihatkan iris mata biru indahnya. Amelia pun berusaha bangkit berdiri dengan susah payah sembari menepuk-nepuk sisa api yang membolongi beberapa bagian di gaun putihnya yang kusam. Dengan tertatih-tatih, sosok mungil yang di kendalikan dengan kesadaran lain itu berjalan membelah lautan api tanpa kesulitan.


Aku pun mencoba mengikutinya namun sepertinya kekuatan telportasiku memahami kemauanku.


Dengan cepat latar tempat berpindah lagi, menjadi di sebuah tanah lapang beralaskan rerumputan hijau, di hadapanku terbentang luas jejeran Pohon-pohon raksasa yang terkesan mistis, lengkap dengan langit mendung di atasnya. Aku tahu aku berada di perbatasan hutan kabut.


Seru-seruan bising juga dentingan suara logam beradu memekakkan telingaku. Aku menoleh ke sumber suara tepat di balik punggung, dan aku melihat lautan manusia yang berbaris mengenakan zirah lengkap sembari menggengam berbagai senjata tajam. Seperti pedang, kapak, Sabit, belati dan berbagai benda logam lainya yang tergenggam di salah satu tangan mereka.


"Ayah, maafkan aku karena tidak bisa menyelamatkannya." Sebuah suara menyebalkan itu mengusik telinga ku, aku menoleh kesumber suara demi melihatnya, dan yah, kalian bisa menebaknya, siapa lagi kalau bukan si pabrik lemak.


Ia memasang muka pura-pura bersalah yang menjijikan, membuat siapapun ingin menghajarnya. kalau saja aku bisa mengeluarkan suara sekarang, aku mungkin sudah mencaci maki akting payahnya.


"Tidak apa nak. kau sudah berjuang keras menyelamatkannya." Kata suara berat dan berwibawa itu memenangkan putranya. Percaya atau tidak aku sangat familier dengan suara ini, bahkan aku sudah membayangkan sosoknya dalam benak.


Aku pun menoleh ke sumbernya dan menemukan sosok yang ada di pikiran ku. Pak Kara.


Tiba-tiba saja hatiku mencelus.


"Sudah ku bilang dari awal kara. Para roh tidak dapat di percaya. Mereka tidak akan sanggup menahan lebih lama rasa lapar mereka sendiri, hanya manusia yang dapat memuaskan mereka. Dengan kekuatan yang luar biasa mereka dapat dengan mudah melanggar perkataan mereka sendiri." Ketus seorang pria berzirah di sebelah pak Kara.

__ADS_1


Suara raungan membahana menerjang kami dari hutan kabut, membuat siapa pun automatis menutup kedua lubang pendengaran. Seru-seruan dari lautan manusia lenyap tak tersisa, di gantikan dengan suasana tegang yang menekan batin.


Jauh empat puluh meter di depan sana, sesosok perempuan berjalan keluar dari dalam hutan, gaun putihnya terlihat begitu kusam sekarang, lubang-lubang akibat terbakar si jago merah tersebar di sana-sini gaunya. Ia pun berhenti melangkah lalu menatap lurus-lurus lautan manusia di hadapannya.


"Apa yang kau lakukan Hans!!? Di mana sekarang kau keparat!!Apa begini caramu untuk mengalahkan adikmu sendiri?! apa perlu membakar adikmu sendiri demi menempati posisi pemimpin keluarga?! Hei sialan kemana kau!." Tiba-tiba saja sosok itu berteriak marah, matanya yang melotot seperti mau keluar, rahangnya bergetar tak karuan.


"Diam kau iblis terkutuk, mulutmu tak pantas mengeluarkan sepatah kata pun!! jangan mengelak dari apa yang telah kau lakukan!" Pak Kara berteriak galak memecahkan ekspetasiku, dan membuatku tambah bingung.


"Benar! Iblis yang telah merebut tubuh adikku, juga yang hampir membakar ku hidup-hidup tak pantas berbicara!bahkan sebaiknya kau mati saja!" Kali ini si pabrik lemak yang berteriak mendukung suara ayahnya. Sejenak aku terdiam dan menatap tak percaya kearah Hans, benar-benar keparat.


"Apa maksud kalian? jangan membual !."


"Membual!? Justru kau yang membual!! Buktinya sudah jelas di depan mata!, kau mengendalikan tubuh adikku!!. Kau pembunuh adikku!."


Sejenak pun lenggang. Hanya suara semilir angin yang dapat di tangkap kedua telingaku. Sedangkan tubuh Amelia bergetar-getar tidak karuan.


"Hans. Aku tidak tahu apa yang kau katakan pada mereka, aku tidak tahu apa yang membuat kalian berpihak pada seorang pendusta ini. Tapi Hans, kau harus membayar yang telah kau lakukan terhadap adikmu, Amelia teman terbaikku." Tiba-tiba saja Tubuh Amelia menyemburkan kabut putih kabut putih itu menyelimuti seluruh tubuh mungilnya, sampai-sampai menelannya kedalam. kabut itu terus membesar sampai seluas dua puluh meter. Perlu beberapa detik untuk ku menyadari bahwa kabut itu membentuk sebuah wujud kelinci raksasa.


"Nah Hans, kau pasti pernah mendengar 'nyawa di bayar nyawa' kan? Yah walau nyawa Amelia berhasil ku selamatkan tapi rasa sakit terbakarnya harus di balaskan, sebelum kau masuk ke neraka dengan tubuh lemakmu itu sepertinya kau harus mencoba rasa api di dunia terlebih dahulu."


Floar!! Entah bagaimana caranya, api merah menyembur ganas dari mulut raksasa kelinci kabut itu. Orang-ornag di belakangku telah menyiapkan senjata mereka masing-masing, bersiap untuk bertempur.


"Aku bersumpah akan membunuh mu. Hans putra Kara, Kaka dari sahabat terbaikku,"


ARGHHHHH!


Ia pun berseru sembari merengsek maju. Tak mau kalah, pasukan yang berbaris di belakangku menyambut kelinci raksasa itu dengan senang hati. Beberapa ada yang melontarkan bola-bola api, ada juga yang merengsek maju atau menerjang kelinci itu tanpa ragu-ragu.


Rintik air turun memborbardir, meramaikan suasana perang yang berkecamuk.Kelinci raksasa itu mengobrak-abrik barisan di hadapannya dengan kedua kaki raksasanya.


Empat orang berhasil ia injak hingga rata ketanah dengan kaki satunya, sedangkan sisanya berhasil menghempaskan sepuluh orang terdepan dalam barisan.


Tiba-tiba saja pemandangan ku mengabur di Sertai dengan pening yang luar biasa, aku memmejamkan mata sembari memegangi dahi yang rasanya mau pecah itu.


ARGHHH!!!


Suara itu sukses membuat ku membuka mata kembali, mengalihkan diri dari penignya kepala. Dan coba tebak pemandangan apa yang kulihat.


Tubuh Amelia yang diikat dengan rantai di sebuah pohon raksasa. Di hadapanya berdiri empat sosok yang ku kenali, mereka semua mengahadap kesumber suara.


"Hans, aku tidak akan memaafkan mu!, kau akan menerima akibatnya, apiku pasti akan membakar mu menjadi abu!!! sama seperti yang kau lakukan terhadap Amelia !! Hans!!!!."


"Diam!" Teriak Kara, membuat siapapun bakal menunduk. Dengan cepat keheningan menguasai atmosfer.


"Kara, apa kau yakin ingin memenjarakan Anakmu sendiri?!" Amelia kembali berseru memecahkan hening.


"Jika kau tidak merasukinya, mungkin aku tidak akan melakukan hal setega ini." Kata kara dengan tegas.


"Sudah kubilang kan! aku merasuki anakmu untuk menyelamatkannya dari kematian yang di sebabkan kakaknya sendiri!! dari seorang yang ingin merebut segalanya!!" Mata Amelia melirik tajam si gembrot yang berdiri di sebelah ayahnya.


"Kau tidak punya bukti akan hal itu." Hans membela.


"Oh ya?! apakah omongan mu mempunyai bukti?!"


"Tubuh adikku yang kau Rasuki, itu sudah membuktikan semuanya."


"Jangan membual sialan!!"


Yang di suruh segera melakukan tugasnya, ia mengacungkan telapak tangannya dan merapalkan mantra


" Sihir khusus: Rantai kelam."


Rantai hitam yang menjerat tubuh Amelia semakin menguat, membuat sosok yang di jerat berteriak kesakitan. Kara, Hans dan seorang pria tadi berjalan berbalik dan meninggalkan April dan Amelia.


"Maafkan aku, tapi kita tidak punya bukti untuk melawan balik liliy."


"Aku tidak peduli April, aku hanya ingin membalasnya." Kata Amelia lirih, air mata pun mengalir di wajahnya, bukti tak mampu membendung lagi derita di dalam hati.


"Kau tidak dapat melakukan hal gegabah lagi Liliy, atau kau akan memicu hal yang lebih buruk diantara roh dan manusia. Aku akan mengurungmu dalam segel ini, tapi tenang saja aku akan sering kesini untuk mengurusi wadah cacat mu itu, agar kau tidak begitu tersiksa." April pun berbalik dan berjalan meninggalkannya.


Aku terpaku pada tempatku, mulutku terbungkam sepenuhnya, amarah, kesedihan dan rasa bersalah saling melebur menjadi satu kesatuan yang padu.


Tubuhku terhentak, seperti ada yang menabrakakku. kepalaku pening bukan main, penglihatan ku memudar seiring dengan rasa sakit yang menyiksa kepala. Aku tersungkur jatuh ketanah sembari meraung-raung kesakitan.


Aku tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi.


(***)


Aoutor POV


Argh!!!


Radit mengaung kesakitan sembari meronta-ronta melepaskan tangan Amelia yang menusuk perutnya.


Amelia pun berusaha keras menahan genggamannya agar tak terlepas, namun sia-sia, kekuatan Radit kali ini luar biasa. Radit dengan kasar mengibaskan-ngibaskan tangannya, mengusir siapapun yang berada di dekatnya.


Amelia pun melompat mundur untuk menghindar. Iris birunya menatap tak percaya mangsa di hadapanya. Radit, masih dengan keadaan berlutut meraung-raung kesakitan dengan tubuh di selimuti cahaya putih.


"Amelia, bukan. Maksudku Liliy!! Kumhon hentikan peperangan ini, maafkan lah perbuatan mereka!!" Dengan suara lemah, Radit mati-matian berseru.


"Bagaimana kau tahu.., amaku?" Amelia terpaku di tempatnya.


"Aku tahu semuanya tentang mu!! aku tahu tentang perang ini!! sejarah yang sebenarnya aku mengetahuinya Jadi maafkan lah!"


"Aku masih tak mengerti denganmu, tapi apa Kau pikir mudah memaafkan kalian yang hampir membunuh shabatku ini!?. Apa kalian tahu, tubuh Amelia sekarat berkat di bakar kalian! Dan kalian memperburuk lagi hal itu dengan memenjarakan tubuh ini!. Apa kau tahu, sekarang Amelia di ambang kematian!!! Ia sekarat!!"


"RADIT!!!!"


Teriakan Alan sukses mengacaukan perbincangan di antara mereka. Amelia pun melirik ke sumber suara dan melihat tiga sosok sejauh tiga puluh meter berlari mendekatinya. Amelia pun berdecih.


"Aku tak akan memaafkan kalian, sungguh bahkan jika kalian bersujud padaku." Dan setelah mengatakan hal yang membuat merinding itu tubuh Amelia berubah menjadi kabut putih yang kemudian hilang di sapu angin.


Radit meraung-raung kesakitan, matanya membelalak hendak keluar, tubuhnya bergetar hebat bukti dari rasa sakit yang menjalar ke seluruh tubuh. Cahaya yang menyelimutinya kian menderang seiring waktu yang terus bergulir.


Alan pun tiba tak lama kemudian bersamaan dengan Yura dan April. Alan pun segera menghampiri Radit untuk memenangkannya. Tanganya pun di ulurkanya demi menggenggam kepala Radit.


"Seni sihir: penstabilan sirkilasi."


ARGH!!!


Radit pun meraung kencang dan setelah itu tubuhnya pun jatuh berdebam ketanah. Cahaya menerang yang menyelimutinya seketika saja menghilang. Radit perlahan menutup kedua matanya, perlahan kesadarannya menipis, bahkan suara seruan dari Alan kini terdengar samar.

__ADS_1


RADIT!!


Radit pun menutup matanya. Meninggalkan alam dunia untuk beberapa saat.


(***)


Radit POV


"Argh!!."


Aku berseru kencang sembari melompat bangun dari posisi tidurku. Dengan peluh mengalir di seluruh tubuhku, aku mengatur deru nafas dan detak jantung yang tak beraturan. Aku pun mengedarkan pandangan dan melihat beberapa barang yang familiar bagiku dari meja kayu beserta pajangannya, lukisan yang di gantung di tembok tua dan sebuah jam kayu raksasa.


"Sudah siuman?"


Suara itu sukses mendapat perhatian dariku. Dan tebak siapa yang kulihat, seorang remaja lelaki seumuran ku dengan rambut hitam yang di pomet berlebihan. April.


"Aku tidak menyangka bahwa sihir spesial mu keluar di saat-saat seperti ini, bahkan sebelum kau mempelajari sihir dasar." Kata April sembari mengulurkan segelas air putih kearah ku.


Aku pun menerima gelas itu lalu membalas perkataannya "Mungkin dikarenakan nyawaku yang di ujung tanduk, jadi keajaiban pun datang. lagi pula syarat mengeluarkan sihir spesial adalah dengan membuat diri sendiri tersudut bukan?" Aku pun mengak gelas itu hingga isinya tandas.


"Apa itu alasan mu nekat masuk ke hutan kabut?" Tanya April curiga.


"Tidaklah, aku tidak sesinting itu. Aku berniat ingin menyelamatkan anak yang ia tangkap, tapi sayangnya itu hanya tipuan. kejadian tadi di luar ekspetasi."


"Bohong, kau melakukannya karena amarah kan?"


"Apa maksudmu?" Aku menatapnya tidak mengerti.


"Roh Tidak selugu yang di perkirakan manusia. kami bahkan dapat melihat emosi yang di tutupi manusia hanya dengan melihat iris mata mereka. Matamu memancarkan kebencian mendalam kepada para iblis."


Aku tertegun, dia benar sekali.


"Tapi kalian tidak bisa menyalahkanku."


"Memang,kami tidak bisa." April pun duduk di sebelahku


Tiba-tiba saja keadaan menjadi hening bercampur canggung.


"Perut mu sudah baikan?" Tanya April memecahkan atmosfer.


"Lebih baik dari terakhir yang ku rasakan." Balas ku.


April pun menjawabnya dengan anggukan. Sekejap keheningan kembali menguasai atmosfer di antara kami.


"Tapi April kurasa dendam hanyalah lingkaran kebencian tanpa akhir yang melukai siapapun di sekitarnya dan memicu dendam baru." Kata ku memecah hening.


"Nah, kau sendiri tahu bahwa dendam seburuk itu."


"Oleh karena itu, aku akan menghentikannya. Langkah pertama menghentikan perang ini."


"Oh ya?, bagaimana caranya?" Tanya April ragu.


"Meminta maaf kepada Liliy, dengan menyembuhkan tubuh Amelia." Kata ku mantap. April hanya memandangku dengan ekspresi tidak percaya.


"Hei...tunggu bagaimana kau tahu?" Ia masih memasang ekspresi terkejutnya


"Panjang dan sulit ku jelaskan. Aku seperti masuk kedalam ingatan orang lain dan menjadi hantu di sana, atau orang-orang di sana yang hantu ya?."


"Hantu?"


"Yah..semacam itu. Di sana keberadaan ku tidak memengaruhi apapun,bahkan benda solid menembus tubuhku." Jelasku sebisanya. Sementara orang (atau roh ya?) yang ku jelaskan masih terdiam sembari menatap ku.


"Itu tidak penting. Kini yang penting adalah bagaimana cara agar menciptakan ramuan kehidupan."


"Kau ingin mengekstrak teratai emas?!"


"Memangnya ada cara lain untuk menyelamatkan tubuh yang sekarat?" Tanyaku serius.


"Tapi roh danau pasti tak akan memberikannya!?" Sergah April.


"Untuk itu aku sudah menyiapkan solusinya." Kataku bangga sembari mengetuk-ngetuk keningku sendiri, sementara April hanya diam tak berkutik.


"Yang terpenting apa kau ingin membantuku atau tidak untuk menghentikan perang ini, untuk menghancurkan lingkaran dendam ini." Kataku mantap sembari mengulurkan tanganku kearahnya.


"Kau menantangku?, tentu saja jelas jawabannya kan." April terkekeh sebentar,kemudian menyambut tanganku.


"Tiga hari dari sekarang, mari kita selamatkan semuanya." Kataku mantap


(***)


.


.


.


.


.


.


.


likenya atuh jangan lupa di teken


Dan jangan lupa share ke temen-temen kalian yak


.


.


.


.


.


.


Makasih buat yang udah baca sampe sini,selamat bertemu di lain dunia. babay!!!

__ADS_1


__ADS_2