
"Jadi kau sekarang dekat dengan Radit ya," Hana bergumam "Tapi kenapa Ipan masih terus memuja mu Hah?"
Isabella hanya menunduk sambil terduduk, bukan karena ketakutan namun menahan emosi.
"JAWAB!!" Hana menendang telak dagu Isabella hingga terjungkal kebelakang. Isabella jatuh terbaring di lantai toilet.
"Cowok seperti dia tidak pantas dengan cewek sepertimu," Hana berjongkok di sebelah Isabella. Kemudian memaksa Isabella untuk duduk, dengan menjambak rambut hitamnya "Tapi kenapa?"
"Mau tahu jawabnya?" Isabella membuka mulut setelah lama diam "Kau itu jelek j*lang," Isabella menatap rendah orang di hadapannya.
BUAGH !!.
Satu tinju telak menghantam wajah Isabella.
"SIALAN!!" Hana bangkit berdiri bersiap untuk menendang Isabella sepuasnya. Isabella mengatupkan rahangnya kuat-kuat, mata merahnya kini sudah menyala.
"Berhenti kalian berdua!!" Seorang guru membanting pintu toilet menghentikan pergerakan Hana.
"Ibu..ini," Hana terlihat panik.
"Hana, Isabella ikut ibu kekantor! apa-apaan sikap kalian ini!?" Guru itu mengamuk, wajahnya pun memerah menahan emosi. Di balik Guru itu Isabella melihat sosok yang ia kenal, sosok itu memasang wajah penuh kemenangan.
"Radit," Gumam Isabella, Isabella pun tersenyum tipis.
.
.
.
"Bu ini salah paham, saya tidak pernah memukuli atau membuli Isabella, saya..saya..tadi ingin membantu Isabella yang terjatuh di kamar mandi!!" Hana menejelaskan dengan panik, wajahnya terlihat ingin menangis.
"Bohong," Tentang Radit, ia menatap dingin orang di seberangnya "Kalau mau bohong pakai alasan yang masuk akal dong,"
"Memangnya kau punya bukti haah?!"
Radit mengangkat ponselnya lalu menyetel rekaman video.
'kau lebih pantas mati!!!'
BUAGH
'sirami dia dengan air sampah itu!!'
BYUR!!
'hahahahaha!!!!!!'
Hana terdiam melihat video dirinya di dalam ponsel Radit. Dan secara bersamaan saat Video habis Radit memasang wajah penuh kemenangan kemudian ia berkata "Memangnya kau pikir aku diam saja."
"Bu itu Video editan!!" Hana berseru histeris
"Cukup Hana!, memangnya kau pikir ibu tidak mendengar yang di toilet barusan!!" Bu guru menggebrak meja dengan emosi, membuat suasana hening seketika.
"Hana kau tidak bisa berperilaku seperti itu!! Ini sekolah bukan penjara! Jika kau tidak suka maka kau tidak bisa main hakim sendiri!" Bu guru mengepalkan tinju, menandakan seberapa marah dia.
"Isabella dan Radit keluarlah, dan terimakasih Radit untuk yang tadi." Bu guru memerintahkan, mereka berdua pun mengangguk dan keluar dari ruang BK.
Mereka berdua berjalan beriringan di lorong, suasana canggung menyelimuti mereka. Radit pun menghela nafas perlahan.
"Kalau ada apa-apa bilang! Jangan diam saja!" Radit dengan setengah emosi menggedik pelan kepala Isabella.
"Kenapa aku harus memberitahukan mu?" Isabella mengusap-ngusap kepalanya dengan kesal.
"Kan kita teman, idiot!" Radit mendengus kesal.
"Sejak kapan?" Isabella mengerutkan dahi.
"Seminggu yang lalu, di kafe!" dengan emosi Radit kembali menggedik kepala Isabella.
Kenangan itu.
Tak terlupakan
(***)
Selasa sore, Di lorong apartemen Radit.
"Mana yang lain?" Radit menaikan sebelah alisnya saat melihat hanya Alan yang berdiri di depan lift.
"Aku sudah menunggu mereka di sekolah lebih dari setengah jam, namun mereka tidak datang juga, jadi aku memutuskan datang sendiri saja untuk mempersingkat waktu." Alan memberikan kantong plastik pada Radit.
"Oo..begitu, ya sudah ayo." Radit menerima kantong plastik itu dan menuntun Alan untuk menuju kamar apartemennya.
"Radit...apa akhir-akhir ini ada yang tidak biasa dengan orangtuamu ?" Alan bertanya.
"Kenapa kau tiba-tiba menanyakan hal itu?" Radit menoleh pada Alan.
"Karena orangtuaku juga begitu akhir-akhir ini, kadang mereka tidak bisa menahan emosi dan suka bertengkar, makan mereka juga semakin banyak." Alan berkata santai.
"Sepertinya orangtuaku biasa-biasa saja, apa mungkin karena mereka jarang berkumpul jadi tidak kelihatan? kalau soal emosi itu terkadang sih." Radit sudah sampai di depan pintu apartemen, lalu membukanya dan mempersilahkan Alan untuk masuk.
"Kemana orang tua Isabella? kenapa tidak mereka saja yang mengurusnya?" Alan bertanya kembali.
"Orangtuanya telah meninggal tiga tahun yang lalu, jadi ia tinggal sendirian di rumahnya dan sudah pasti tidak ada yang mengurusnya." Radit mengatakannya sambil membereskan bantal sofa yang berantakan dan menaruh kantong plastik di atas meja, kemudian berjalan menuju kamarnya, sepuluh detik kemudian Radit keluar bersama Isabella dari kamarnya.
__ADS_1
"Duduklah di sofa duluan, nanti aku menyusul dengan membawa minuman." Radit menepuk pelan bahu Isabella yang menunduk.
Isabella mengangguk, Radit pun tersenyum kemudian berjalan menuju dapur.
Isabella pun duduk di sebrang Alan, kepalanya masih menunduk seperti orang takut. Alan memperhatikan sebentar tingkah laku Isabella kemudian meraih kantong plastik di atas meja dan mengeluarkan isinya, sebuah dus kueh berukuran sedang.
"Kau mau kuenya?" Alan menawarkan.
Isabella masih tertunduk.
"Bel? Kamu mau?" Alan mengulangi pertanyaannya.
Isabella masih menunduk.
"Bel?"
Isabella mengangkat kepalanya dan menatap lurus orang di depannya, iris merah menyalanya menatap dingin lawan bicaranya.
"Kau pikir aku tidak tahu? kue itu beracun kan?" Isabella berkata dengan nada intimidasi, Alan terdiam sejenak tak lama ia pun bertepuk tangan sekeras-kerasnya.
"Penciuman mu memang hebat," Alan memuji.
"Tidak usah banyak basa-basi, kau ingin membunuh ku kan?" Isabella menatap dingin orang di depanya.
"Tentu saja," Alan menjetikan jarinya dan seketika tangannya di selimuti api merah yang berkobar mengerikan "Mari kita tembus dosa-dosa mu itu."
"Hidup dengan berpura-berpura menjadi manusia normal sangat memuakan, rasa lapar ini selalu ingin membuatku bunuh diri, namun takdir selalu saja berkata lain." Mata merah Isabella menatap kosong "Hei, Alan..bunuhlah aku." Sambung Isabella putus asa.
"Kata-kata terakhir yang menyedihkan,"
Sementara itu di dapur, Radit hanya memandang tidak percaya pintu di depannya. Pintu yang awalnya menghubungkan ruangan dapur dan tamu, kini berganti menjadi ruangan kamarnya. Dari daun pintu ia bisa melihat jelas kasur putihnya bukan kedua temannya yang duduk di sofa.
(***)
Alan mengacungkan telapak tangannya kedepan, bersiap mengirim semburan api. Isabella berdiri pasrah, mata merahnya menatap kosong, dalam bawah sadarnya sosok lain berbicara
"Kau tidak akan kuat," Suara Serak itu berbicara.
"Apa maksudmu?"
"Kau mungkin bisa menahan ku dari daging atau darah manusia, namun kau tidak akan bisa menahan ku saat sekarat, mental mu tidak cukup kuat untuk menahan ku, dan pada akhirnya kau akan menerima keberadaan ku karena aku adalah bagian dari dirimu." suara serak itu bergema di dalam pikiran Isabella.
BUGH!
Satu tinju api telak menghantam wajah Isabella membuatnya terpental bersama sofa. Tubuhnya menghantam keras tembok di sebelah pintu dapur, darah segar di muntahkan Isabella. Retakan-retakan kecil di tembok menunjukan betapa kuatnya tinju itu.
"Terimalah diri mu apa adanya, terimalah diriku, takdir yang telah di tentukan tidak akan bisa di ubah, kau bukanlah manusia lagi, dirimu yang sekarang adalah iblis."
"Berisik! aku tidak pernah mengharapkan menjadi seperti ini! kau lah yang menjadikan ku seperti ini! semua penderitaan dan rasa sakit ini kaulah penyebabnya! Semua takdir yang mengerikan ini kau penyebabnya!!" Isabella berteriak histeris dalam batinnya.
Satu tendangan Alan telak mengenai dagu Isabella, suara tulang retak menggema di langit-langit ruangan. Isabella jatuh terduduk tidak kuasa menjaga keseimbangan. Alan pun berjongkok kemudian mencekik Isabella.
"Tidak perlu menahannya, aku tahu di dalam pikiran mu sesuatu sedang menggamuk hendak membalas ku." Alan pun tersenyum kejam.
Isabella masih terdiam tidak membalas perkataan lawannya, Alan pun mendengus kemudian menguatkan cengkeramannya di leher lawanya, membuat Isabella terbelalak lalu berteriak tertahan.
"Sepertinya harus ku pancing ya." Setiap detiknya Alan menguatkan cengkraman nya, Isabella meronta-ronta mencoba melepaskan namun apa daya Alan jauh lebih kuat. Sebenarnya ia bisa membalasnya jika sosok bersuara serak itu mengendalikan tubuhnya, namun ia tetap menolak karena ia membulatkan tekad untuk mengakhirinya di sini.
Pandangannya mulai memburam, paru-parunya kini berhenti bekerja, detak jantungnya melambat, mata merahnya yang menyala perlahan meredup.
Jrass!!
Radit berlari keluar dari dapur, tanganya yang menggenggam pisau dapur menebas leher Alan dari samping, luka menganga bersamaan dengan darah yang bercucuran. Iris Radit mengecil, memancarkan amarah yang meluap.
Alan tersungkur jatuh kelantai, tangannya yang mencengkram leher Isabella terlepas. Dengan cepat Radit mengambil kesempatan, ia pun segera menggendong Isabella lalu berjalan dengan kecepatan penuh menuju pintu kamarnya.
Saat meraka masuk mereka tidak berada di kamar Radit melainkan kamar orang tua Radit. Radit bernafas tidak beraturan, wajahnya pucat bagaikan mayat, perlahan ia menjatuhkan tubuhnya ke lantai masih keadaan membawa Isabella.
"Dit.." Isabella bersuara serak karena habis di cekik.
"Aku tidak tahu apa yang terjadi, semua terasa begitu gila, rumahku seketika menjadi seperti labirin." Radit berhenti sejenak mengambil nafas "Namun aku tahu satu hal...si b*jing*n itu keterlaluan."
"Kau mendengarnya?"
"Kau tahukan ruangan dapur itu bersebelahan dengan ruang tamu? jadi aku bisa mendengar percakapan kalian walau samar-samar," Radit mengatur nafas.
"Bagaimana kau bisa keluar dari labirin gila ini dan bagaimana kau bisa muncul di sebelahku?"
"Aku mulai paham dengan labirin ini, Pintu-pintu di rumahku seakan di kacaukan. Awalnya aku membuka pintu dapur dan menemukan ruangan kamarku, lalu aku mencoba menutup dan membuka kembali karena tidak percaya dan aku justru menemukan ruang toilet. Dari sini aku paham bahwa pintu-pintu di rumahku akan di hubungkan dengan ruangan di apartemenku secara acak. Sehingga aku terus membuka tutup pintu berkali-kali untuk menemukan mu." Radit menghela nafas "kita harus keluar dari sini," Radit merebahkan Isabella di atas kasur.
Brakk!
Alan menendang keras pintu hingga terlepas dari engselnya, lalu ia pun berjalan masuk. Luka yang di dapat dari pisau Radit masih membekas, darah merah menodai kerah seragam sekolahnya.
"Radit, ini sulit kau mengerti, apa yang kau ihat tidak seperti apa yang kau pikirkan, ini semua untuk kebaikan mu bahkan dunia ini." Alan menatap serius Radit.
"Aku tidak paham ucapan mu, otak ku tidak bisa mencerna maknanya," Radit mengacungkan pisau dapur kearah Alan "Iblis, sihir, labirin gila. Aku tidak tahu aku masih waras atau tidak, semua membuatku ingin muntah!" Sambung Radit, ia menggunakan penekanan pada akhir kalimatnya.
Alan melangkah perlahan menuju Radit, Radit semakin kuat mengenggam gagang pisau dapurnya. Ia sudah bersiap menyerang jika terjadi sesuatu. Jarak mereka tinggal tiga meter
"Menyingkir lah." Alan berseru mengusir Radit namun itu tidak membuat Radit geser sedikit pun dari posisinya. Jarak mereka tinggal satu meter. Mereka saling berhadap-hadapan, mata mereka saling bertukar amarah, Radit sudah bersiap untuk menikam orang di depannya.
"Menyingkir atau-"
"Kubunuh!!" Radit tiba-tiba maju, lalu dengan sekuat tenaga ia berusaha menikam dada Alan. Alan tidak menghindar dia hanya terdiam dengan wajah datar.
__ADS_1
Deg!
Seketika Radit diam membeku, tubuhnya tiba-tiba saja seperti patung, tidak dapat di gerakan. Radit berusaha keras menggerakan tubuhnya namun tubuhnya seperti menolak perintahnya. Tanganya yang menggenggam kuat pisau tiba-tiba saja mengendur dan menjatuhkan pisau ke lantai, anggota tubuhnya seperti di kendalikan orang. Alan pun berjalan perlahan kearah kasur.
"Jangan sentuh dia sialan!!" Radit berseru mengancam.
Alan hanya diam dan melanjutkan jalannya.
"Menjauhlah sialan!" Radit menggeram, ia masih berusaha keras menggerakkan tubuhnya, namun Alan tidak menghiraukan nya.
Alan telah sampai di tepi kasur, iris oranye gelapnya menatap datar Isabella yang terbaring lemah. Ia pun mengangkat tangannya ke udara, api sekecil kelereng mengambang di atas telapak tangannya.
"Apa yang akan kau lakukan?!" Radit bertanya marah.
Api itu membesar dan membentuk siluet pedang. Alan pun mengenggam api yang berbentuk pedang itu dan seketika berubah menjadi pedang emas.
"Ku mohon jangan lakukan." Radit mengigit bibir, suaranya melunak. Ia sudah tidak bisa melakukan apapun.
Pedang emas itu di angkat tinggi-tinggi, Alan menatap sejenak Isabella yang terbaring.
"Kumohon..," Suara Radit bergetar, air mata mengalir di wajahnya.
Dalam hatinya Isabella menangis, semua keberaniannya untuk mati seketika sirna dan kini ia menjadi ketakutan. Ia takut Radit akan bersedih, ia takut Radit tidak akan memaafkannya, ia takut tidak akan menyapanya lagi padahal ia tahu bahwa setelah ini Radit tidak akan bisa bersamanya lagi. Seketika ia melihat kembali potongan-potongan ingatan nya.
Kalau ada apa-apa bilang! Jangan diam saja !!
Kita kan teman, idiot!
Dasar gendut!!
"Hey Dyra, tolong pinjam kekuatan mu."
"Hah, kemana semangat bunuh diri mu?" Dyra berkata angkuh.
"Entahlah..rasanya aku tidak boleh mati di sini...aku tidak tahu alasannya ."
Alan pun mengayunkan pedangnya, Radit berseru tidak berdaya, air mata mengalir deras di wajah Isabella.
Deg!
Alan pun seketika membeku, menatap tidak percaya. Gerakanya terhenti, pedang emasnya hanya berjarak secenti dari leher Isabella. Isabella membuka mata, memperlihatkan iris ular berwarna kuning menyala.
Seni sihir: Takdir putih
Seketika semua berubah menjadi gelap, gelap gulita. Seolah-olah penglihatan mereka di rebut, hawa mengerikan terasa begitu pekat, bahkan Radit sampai kesulitan bernafas, mereka terdiam karena ketakutan, tidak berani bergerak sedikit pun.
Lima detik kemudian, setitik cahaya muncul, semakin lama cahaya itu membesar dan semakin menyilaukan. Alan dan Radit menutup mata tidak kuasa menahan silau. Saat cahaya meredup, Radit pun membuka mata perlahan.
Ruang tamu. Entah bagaimana caranya mereka kembali ke ruangan tamu, Radit mengedarkan pandangan, mencari-cari sosok Isabella, semuanya ia perhatikan dengan rinci namun ia tidak dapat menemukan sosok itu, yang ada hanya ruangan tamu seperti biasannya dengan TV menyala tanpa retak di tembok atau sofa yang terjunkal. Radit pun jatuh terduduk, tubuhnya sudah dapat bergerak leluasa, dengan kasar ia mengusap air mata di wajahnya.
Dia lari, batin Alan kesal. Ia pun menghela nafas kemudian merogoh sakunya.
"Hey Radit, ambil ini." Alan menyodorkan sebuah pisau hitam.
Radit masih terdiam, dia tidak menjawab Alan.
"Jika ada kejadian tidak masuk akal seperti ini lagi, gunakan pisau ini. Aku harus pergi." Alan pun menaruh pisau itu di lantai. Ia pun segera pergi lewat pintu apartemen, kemudian segera berlari kearah lift, mencoba mengejar Isabella.
Radit hanya terdiam, ia tidak paham dengan semua yang barusan terjadi, pikirannya benar-benar kualahan mencerna semuanya. Namun yang pasti ia merasakan satu hal, hatinya begitu pilu bahkan sampai terasa begitu sesak. Matanya menatap kosong lantai kayu.
Semua ini begitu gila.
(***)
Di taman kota, di semak-semak.
Isabella merayap di tanah, peluh membanjiri wajahnya, nafasnya berderu hebat, kedua kakinya kini menjadi benda mati, tidak dapat bergerak. Dengan tenaga yang tersisa ia susah payah bergerak.
"Hidup, hidup, hidup," Dengan lemah ia mengulangi kata-kata itu.
"Harus...hidup," Isabella berhenti merayap, iris ularnya memudar kemudian berganti menjadi warna semula. Isabella begitu lelah hingga seluruh anggota tubuhnya enggan bergerak, pening menyerang kepala membuat semuanya begitu kabur, perlahan matanya menutup, ia sudah tidak kuasa menahan lelah.
Srak
Seseorang yang dari tadi mengamati Isabella keluar dari persembunyiannya, kemudian berjalan mendekatinya.
"Kau tidak bisa membunuhnya Alan." Orang itu berbicara pada Alan yang berdiri di belakang Isabella.
"Dia roh yang sangat kuat, jika di biarkan ia bisa menjadi iblis yang sangat berbahaya." Alan berkata dingin.
"Mungkin..tapi bagaimana kalau kita coba?" Orang itu menoleh kearah Alan
"Minggir lah Delon, kau menggangu pekerjaanku." Alan mengangkat tinggi-tinggi pedangnya.
"Ah...sebelum itu. Kau harus lihat ini," Delon memberikan sebuah surat yang terdapat stempel bergambar bunga teratai di atasnya. Alan menerimanya kemudian membuka dan membacanya sejenak.
"Lihat, bahkan pusat meminta agar kami...maksudku White Nymp untuk mengurusnya." Delon menerima surat itu kembali.
"Aku tidak paham dengan pola pikir ketua, menjaganya? Iblis seperti ini akan sulit di urus, dia bukan lah Iblis biasa." Alan berkata dingin.
"Dia belum mencapai iblis Alan, dia hanyalah roh yang tersesat." Delon membalas dengan berkata dingin.
"Namun tetap saja kan? dia adalah keturunan Arzel, sang iblis." Alan menatap dingin Isabella.
"Kita tidak bisa menilai orang dari sampulnya. Sudah lah...urus sana pekerjaan mu, aku tahu kau belum selesai." Delon mengangkut tubuh Isabella lalu membopongnya.
__ADS_1
"Cih...dasar." Alan putar balik dan berjalan pergi.