
Vote dan komennya selalu author tunggu. kritik dan saran di persilahkan, jangan malu-malu mengutarakan pendapat kalian di kolom komentar.
Udah sih gitu aja, cuman mengingatkan. Enjoy story' guys!.
(***)
"Kenapa kau menanyakan hal tidak berguna seperti itu?" Ketus Flitch, si rambut Perak yang menyebalkan. Lateef hanya diam tidak menanggapi Flitch. Iris kecoklatannya masih menatap ku.
"A-aku...," aku terbata-bata. Tekanan auranya sungguh luar biasa. Flitch mendengus kasar kemudian bangkit berdiri dan berjalan menghampiriku, ia berhenti tepat di hadapanku dan memandang tajam dengan iris peraknya.
"Jawab," katanya penuh penekanan. Aku menelan ludah, masih dalam diam. Tiba-tiba saja aku tidak dapat merangkai kalimat dengan benar. Aku menghembuskan nafas perlahan, kemudian dengan segenap keberanian aku mendongakkan kepala dan menantang tatapannya.
"Jawab," katanya lagi.
"A-aku tidak bersalah. A-aku mungkin putri Arzel, tapi aku tidak pernah memakan manusia. Berarti secara hukum kalian tidak dapat mengeksekusi ku." Jawab ku terbata-bata, sumpah aura tekanan di sini menakutkan.
"Benarkah apa yang ia katakan, Delon?" Flitch menoleh kearah mahkluk di sebelahku.
"Benar, ketua. Aura yang di miliki Isabella membuktikannya," Delon menjawab sopan.
"Kau sudah pastikan dia tidak mengunakan sihir untuk menutupi aura nya?" Rupanya Flitch masih curiga.
"Mustahil ia memakai sihir sebesar itu, karena dua bulan terakhir energi kehidupan yang di milikinya tersisa sedikit. Aura yang di miliki Isabella murni." Jawab Delon tegas, itu cukup untuk membungkam Flitch di hadapanku. Aku menoleh kearah Delon dan memberikannya senyuman penuh terimakasih.
"Masuk di akal. Kurasa dia bisa hidup," gumam Lateef sembari mengangguk-anggukan kepalanya perlahan.
"Kau bodoh atau apa? bukannya ini membuktikan dia semakin berbahaya?" Ketus Flitch.
"Maaf, apa maksud anda?" Tanyaku tak mengerti.
"Kau kelaparan dan artinya kesadaran iblis yang berada dalam dirimu menipis. Kau bisa kapan saja mengamuk dan binasakan kami kapan saja, tidak ada jaminan kau tidak akan melakukan hal itu." Flitch Kembali duduk di tempatnya.
"Maaf, ketua. Bukankah itu tidak masuk akal? dia kehabisan energi kehidupan. Bagaimana dia akan membinasakan kita? yang ada saat ia mengamuk energi kehidupannya akan habis." Delon menyergah.
"Keturunan Arzel tidak selemah itu. Kehabisan energi kehidupan bukan berarti kematian, justru sihir sepesialnya akan bangkit dan..." Flitch menggantungkan kalimatnya sembari menatap lantai karpet, membuat suasana menjadi tegang.
"Siklus Armageddon terjadi." Jawab Delon gentar, aku menelan ludah, peluh bercucuran ke lengan ku. Sekejap ruangan menjadi senyap, mataku menatap tegang karpet coklat di atas lantai.
Siklus Armageddon. Sebuah siklus yang akan terjadi apabila sebuah peristiwa
atau bencana dashyat yang dapat merusak keberlangsungan kehidupan di seluruh dunia. Dan di abad ini, aku bisa menjadi pemicunya, dengan kekuatan yang tertanam di dalam diriku.
"Fiuh..aku heran kenapa keluarga Asoka memberikan perintah rumit ini." Flitch menyandarkan diri ke kursi kayu. Sementara Lateef termenung sembari mengetuk-ngetuk meja kayu. Aku berpikir keras untuk merangkai kalimat, bagaimanapun juga aku tidak ingin mati.
"Sa-saya..bisa bertahan. Saya Tidak akan mengamuk!" Seruku mantap.
"Jaminannya?" Tanya Flitch dingin.
__ADS_1
"Kehidupan saya selama lima belas tahun. Selama itu saya berhasil bertahan menahan diri!" Nafasku terengah-engah, mataku menatap lurus ke depan. Flitch terlihat sedang menimang perkataan ku.
"Lagi pula, jika saya memakan beberapa apel magis hal itu dapat dihinadri!" Sambung ku.
"Namun kau tetap bom waktu bukan?" Perkataan Flitch sukses menyudutkan ku.
"Kau adalah pedang bermata dua. Dan tidak sedikit yang mengincar mu. Intinya kau adalah tanggung jawab yang besar." Pria berjas putih itu mengetuk-ngetuk meja dengan gelisah.
"Kecuali jika ada yang mengajarkannya mengendalikan kekuatan." Celetuk Lateef, sukses mengurung kami dalam senyap.
"Siapa yang akan melakukan hal merepotkan seperti itu?" Tanya Flitch sinis.
"Aku," Jawab Lateef santai.
"Sinting. Kita tidak punya waktu untuk hal seperti itu." Flitch memandang kesal Lateef di sampingnya.
"Aku bosan menunggu rambut perak. Identifikasi kelompok rasis teralalu lama. Kau tahu kita bisa menyelam sembari minum air."
"Kau kira mengendalikannya tidak merepotkan. kau tahukan resikonya sebesar apa. "
"Ayolah kawan. Dari pada waktu kita menunggu sia-sia."
Lateef mencoba meyakinkan, Flitch terlihat berpikir sejenak, mata cermelangnya menerawang ku. Akhirnya Flitch menghembuskan nafas berat.
"Kau yakin?" Flitch menatap Lateef di sebelahnya.
"Baiklah, kalau begitu persidangan hari ini di tutup. Hasil perundingan akan di beritahukan nanti malam. Sekian bubarkan!"
(***)
Author POV
Perlahan jarum pendek merangkak menuju angka delapan malam. Suhu di dalam kamar Flitch pun menurun derastis karena pendingin yang di nyalahkan Lateef. Dari pada sibuk memarahi mahkluk itu, Flitch memilih menatap serius hologram yang menampilkan dua sosok. Seorang wanita dan pria yang tengah berbicara di hadapannya, sementara lateef yang duduk di kasurnya asyik menguap lebar.
"Hei! tidak sopan!" Ketus sosok pria yang di tampilkan hologram. Wajah garangnya yang berjenggot sanggup menggertak siapapun, namun hukum itu tak akan berfungsi pada Lateef.
"Apa kau tidak bisa dewasa sedikit, Lateef. Usia mu sudah menginjak tiga puluhan, loh." Ucap lembut sosok wanita di hologram satunya. Parasnya yang anggun dan di sertai rambut hitam panjangnya, pasti akan mampu menyihir pria manapun. Namun sayang, hukum ini bernasib sama seperti sebelumnya.
"Ralat, Nyoya. Usiaku lima ratus tahun," Jawab Lateef enteng.
"Tapi sikapnya seperti anak TK," ketus Flitch.
"Setidaknya aku tidak sepertimu yang gampang stres hingga ubanan." Balas Lateef, hal ini sukses membuatnya di teror tatapan predator mahkluk di sebelahnya.
"Kembali ke topik!" Teriak pria berjenggot. Mereka yang di marahi hanya menukar pandangan kemudian menuruti perintahnya.
"Jadi, Lateef. kau berinisiatif menjadi mentor Isabella," Wanita yang di sebut nyoya itu membuka topik.
__ADS_1
"Mentor hanya untuk pelatihan selama sehari, itu saja," balas Lateef
"Sehari, bukannya itu terlalu singkat?" Tanya Flitch heran.
"Dasar pikun. Tentu saja dia akan kubawa ke dunia replika, waktu di sana relatif lambat ketimbang di sini," Jawab Lateef sembari menjulurkan lidahnya
"Lalu bagaimana jika tidak berhasil?" Kini Si pria berjenggot bertanya.
"Tentu saja langsung ku bunuh. Setidaknya aku memberikannya kesempatan," Lateef menjawab datar, tidak seperti dia yang biasanya.
"Jadi, apa keputusan kalian?" Flitch bertanya kepada dua sosok di hadapannya.
"Aku setuju," wanita anggun itu bersuara.
"Aku tidak. Terlalu beresiko," pria jenggot berpendapat.
"Tidak perlu mengkhawatirkan ku pengagum jenggot," ejek Lateef.
"Jenggot adalah lambang kejantanan seorang pria! Jangan hina kejantanan ku!" Seru Pria berjenggot itu galak.
"Bodoh, kau kan roh bukan manusia. Sekali pengagum tetaplah pengagum, tidak perlu alasan," Lateef tersenyum remeh, membuat si pria kebakaran jenggot.
"Aku setuju," Flitch menengahi pertikaian
"Aku setuju," Lateef menjawab santai.
"Baiklah, hasil persidangan telah di tentukan. Issabella mendapatkan kesempatan. Lateef, umumkan ini pada anak didik mu itu," perintah Flitch. Lateef mengangguk kemudian dengan cekatan meraih ponsel di sakunya, dengan cepat ia memanggil seseorang lewat benda canggih itu.
(***)
Isabella POV
'Kukira dia bakal di eksekusi!'
'Apa, dia masih hidup?! Apa yang dipikirkan para ketua?'
Aku mengeluh dalam hati, kenapa pula suara menyebalkan ini terdengar olehku, memperburuk suasana hati saja. Tidak hanya ketakutan, kecemasan, dan kesal yang bercampur aduk perasaan. Pikiran buruk juga membebani benak ku yang begitu lelah.
Sementara Delon sedang di sudut ruangan, sibuk menelpon. Setelah anggukan yang terakhir mahkluk rupawan itu menutup telepon dan mendatangiku dengan ekspresi lega yang semu.
"Siapa yang menelpon mu?" Tanyaku
"Ketua timur. Ketua mengumumkan keputusan rapat," Jawabannya sukses mendapat perhatian lebih dari ku. Dengan antusias aku bertanya apa jawabannya.
" 'Isabella di beri kesempatan di latih kekuatanya oleh Lateef, namun hanya sekali percobaan. Jika gagal, kau akan di bunuh' "
(***)
__ADS_1