Pemburu Dan Teratai Putih

Pemburu Dan Teratai Putih
chapter fiveteen


__ADS_3

11 Juli 2020.


"Jadi.., kau seperti berada di tengah kejadian dalam sebuah ingatan?." April bertanya.


"Terasa seperti itu. Ngomong-ngomong apa kau bisa menjelaskan hal itu? aku benar-benar tidak paham." Balasku sembari menerbangkan beberapa bongkahan batu yang menghalangi jalan kami dengan sihir dasar, telekinesis.


"Aku tidak mengetahui tentang hal itu, tapi kurasa itu berhubungan dengan tubuh sepesialmu." April ikut membantuku menerbangkan beberapa batu ke pinggir jalan setapak.


"Apa ada orang sepertiku di luar sana?orang-orang yang cepat menguasai energi kehidupan?"


"Tidak banyak, bahkan jumlahnya hanya hitungan jari." Balas April.


Setelah memindahkan semua bongkahan batu, kami akhirnya bisa melanjutkan jalan yang sempat tertunda. Ngomong-ngomong kami berada di tengah hutan kabut dalam perjalanan menuju danau hijau. Butuh perjuangan yang mengharukan demi sampai di tempat ini.


"Radit, apa kau tidak pernah berpikir bahwa yang kau lihat hari itu adalah sihir Amelia untuk mengelabuimu?" April bertanya.


"Tidak, tidak pernah sama sekali. kenapa kau tiba-tiba menanyakan itu?" Balasku sembari memakai kupluk jaket demi menlindungi kepala dari sinar terik sang surya.


"Aku hanya terkejut dengan sikap mu terhadap kenyataan itu. Sikap mu seolah dapat menerima kenyataan yang bahkan sulit di terima."


"Entah kenapa setelah itu, hatiku meyakini bahwa ini kebenarannya ,bahwa ini lah kenyataannya. kau tahu? saat dalam ingatan itu aku dapat merasakan perasaan Amelia dan Liliy, dan aku yakin Liliy tidak akan melakukan hal sekeji itu demi mengelabui ku." Jawabku


Sinar terik matahari menyiram dari sela-sela rindangnya pohon, berbagai jenis serangga menyanyi menghiasi hutan, suara renyah dari dedaunan kering yang kami injak memberikan kepuasan tersendiri.


"Apa kau yakin melakukan ini?" April bertanya lagi.


"Kalau tidak, kita tidak akan kesini kan?" Balasku.


"Apa kau yakin dengan cara ekstrim itu?"


"Benar, tidak ada cara lain."


April hanya menjawabnya dengan anggukan ragu. Lalu setelah itu, kami berjalan tanpa berbincang lagi sampai tiba di tepi danau.


"Fiuh., baiklah aku sudah mempersiapkan ini dari semalam. April berikan aku rotinya." Kataku sembari menyodorkan tangan kearahnya.


"Kau tahu? kau adalah manusia ternekat yang pernah ku temui." Jawabnya, lalu ia pun memberikan roti padaku dari keranjang kayu yang ia tenteng. Aku hanya membalasnya dengan kekehan pelan.


Kugenggam roti itu erat-erat, kemudian dengan segenap jiwa ku melemparkan ke danau hijau. Mulanya roti itu mengapung di permukaan danau namun perlahan roti itu tenggelam di telan air.


"Ada apa manusia? dan April kenapa kau ada di sini?." Tiba-tiba suara ketus itu terdengar. Akuu pun menengok kesana-kemari mencari sumbernya, namun nihil.


"Aku hanya mengantarkan manusia nekat ini, dia punya penawaran menarik untuk mu." Balas April


"Penawaran menarik?" Terdengar sekali keraguan dalam nadanya.


"Benar tuan roh danau, bagaimana jika kita berbisnis sedikit. Begini saya memerlukan teratai emas anda unt-"


"Tidak, aku tidak mau menerimanya." Potong suara itu cepat.


"Setidaknya izinkan saya menyelesaikan pembicaraan saya. Saya memerlukan teratai emas anda dan sebagai bayarannya anda dapat menggunakan tubuh saya."


Hening, sekejap atmosfer menjadi lebih hening.


"Saya tahu menggambil tanaman itu membahayakan nyawa anda, jadi sebagai bayaran yang setimpal anda dapat menggunakan tubuh saya sebagai wadah pengganti." Semuanya masih tetap diam, hanya menyisahkan suara riak air dan lomba nyanyi serangga-serangga hutan.


"Lihat, banyak keunggulannya dan anda tak perlu khawatir saat pemindahan energi kehidupan anda dari tumbuhan itu ke tubuh saya, karena April ada disini untuk memeperkecil resikonya."


"Maaf, kau sinting atau apa?" Tanya suara itu.


"Saya lebih suka di sebut nekat." Jawabku.


"Kau tahu apa dampak dari hal ini kan?" Tanyanya memastikan.


"Kelaparan tiada akhir, kebutuhan energi kehidupan yang meningkat ekstrim, kesadaran diri yang rawan hilang. Setidaknya hal ini membuat sihir saya menjadi lebih kuat."


"Siapa yang ingin kau lindungi?" Tanya roh danau itu, membuatku seketika tertegun.


"Banyak..banyak sekali." Aku tertunduk dan menemukan bayangan diri ku di dalam pantulan air. Seorang remaja laki-laki berambut hitam pendek dengan iris mata coklat. Ia mengenakan jaket hitam dengan kaus hijau di baliknya, laki-laki itu juga mengenakan celana jeans biru.


"Apa tujuanmu menginginkan teratai emas?" Tanyanya lagi.


"Anda pasti tahu tentang perang yang terjadi sebentar lagi dan anda juga tahu bahwa perang hanya menumbuhkan kebencian baru yang menghancurkan satu sama lain. Lingkaran itu akan terus terjadi dan tak akan pernah berakhir. Pada akhirnya hanya penderitaan, kesedihan, amarah yang di lahirkan." Aku berhenti sejenak demi meraih oksigen di sekitar.


"Dan saya bertekad menghentikannya setelah melihat kenyataan yang sesungguhnya, kenyataan tentang perang ini, kenyataan tentang kebakaran hutan itu!" Seruku mantap, kepala ku kembali mendongak dan menatap lurus ke depan.


"Tapi kenapa? Hal itu Bahkan tidak menguntungkan dirimu sendiri."


"Anda bercanda? tentu saja itu akan menguntungkan saya. Jika kau berkorban demi kebaikan maka kerugian yang ada dapatkan tidak ada apa-apanya. Lihat, jika saya menghentikan perang, kedua belah pihak akan saling berdamai dan rukun kembali ! Tak akan ada korban lagi, tak aakn ada pertikaian lagi!"


"Jadi tuan, ku mohon berikan." Aku menundukkan kepala, bukti keseriusan diri.


"Apa alasan mu melakukannya?"


"Saya pernah merasakan kebencian, dan sadar betapa bahaya dampaknya. Oleh karena itu, aku ingin memutuskan lingkaran dendam yang mengekang kita, manusia dan roh. Hanya itu tujuan saya." Aku berkata mantap, mataku menatap lurus ke depan seolah sosok yang berbicara denganku ada di sana. Hening, hening untuk beberapa detik.


"Ku terima penawaranmu, Ambilah teratainya."


Aku tersenyum lebar, tangan kananku meninju-ninju ke udara."April sediakan al-"


"Tidak perlu, aku tidak perlu tubuhmu.


Ambil saja teratainya."


"Eh?" Aku menoleh kearah danau, dahi ku mengkerut tidak mengerti.b


Bahkan April mengangkat sebelah alisnya.


"Anggap saja ini sebagai permintaan maaf ku kepada para manusia yang dulu pernah ku makan. Aku sadar akan kesalahanku setelah melihat mu. Dengan egoisnya aku terjun bebas kedalam jurang kebencian."


"Kau tahukan bahwa resiko dari keputusan mu itu kematian?." April bertanya serius, iris birunya menatap lurus kearah danau.


"Anggap saja itu adalah hukuman perbuatan ku dulu."


Aku termangu, bingung harus berbicara apa.


"Lebih dari seribu tahun aku meyakini kalau manusia adalah mahkluk yang egois. yah.., aku berpikir seperti itu setelah menemui nelayan itu."


"Selama seribu tahun ratusan orang berusaha mengambilnya setelah mendengar berita keajaiban teratai emas. Banyak yang gagal dan kembali dengan luka yang menderita, namun tidak sedikit juga yang menjadi santapanku."


"Ke egoisan kalian saat bersaing mengambil teratai emas semakin menjadi-jadi. Tidak sedikit yang rela membunuh satu sama lain, bahkan jika itu adalah saudaranya sendiri. Hal ini menunjukkan betapa biadapnya kalian, bahkan menurutku saat itu hewan seribu kali lebih baik dari kalian."


"Aku terus membenci kalian dan terus mempertahankan keyakinan itu. Perlahan bunga kebencian mengembang subur dalam hatiku tanpa di sadari."


"Namun kini kau menamparku, membuatku sadar dan malu akan perbuatan ku sendiri."


Arus tiba-tiba muncul di tengah danau, membuat teratai emas yang mengapung di atasnya bergerak kearahku.


"Aku tak berbeda dari manusia egois, padahal jelas-jelas aku bisa melerai perang ini, bahkan sebelum terjadi."


"Aku minta maaf atas segalanya. Hancurkan lingkaran itu anak muda dan ciptakan dunia yang seperti kau katakan."

__ADS_1


Aku termangu menatap teratai emas datang terdampar di hadapanku. Aku tidak menduga akan menjadi seperti ini. April menghembuskan nafas perlahan, kemudian berjalan ke tepi danau. Tanganya merogoh botol kaca dari dalam keranjangnya, kemudian botol itu ia isi penuh dengan air danau.


"Langkah pertama selesai. Ayo kembali dan selesaikan ramuannya." April pun berbalik dan berjalan melalui ku.


"Terimakasih banyak, roh danau." Seruku bahagia.


"Tidak ada gunanya kau berkata begitu, ia sudah mati. Kalau mau berterimakasih laksanakan permintaanya." Seru April jauh di belakangku.


"Tentu saja, itukan keinginanku." Balasku, kemudian aku pun berbalik dan berlari mengejarnya.


(***)


13 Juli 2020


Bum!bum!bum!


Ledakan bertubi-tubi sukses membuat tubuhku terpental enam meter. Aku pun menyeka tanah di wajah, kemudian meludahkan rumput yang tak sengaja masuk.


Aku pun bangkit berdiri dan memasang kuda-kuda kokoh. Alan berjalan keluar dari balik kepulan asap lima meter di hadapanku. Ia pun mengacungkan tangan kanannya yang menggenggam pedang emas.


"Manipulasi energi mu masih belum stabil, tapi itu lebih baik dari yang kemarin." Seru Alan di kejauhan.


"Tentu saja, aku baru belajar tahu." Seruku Ketus .


"Istirahat lima belas menit." Ia pun menurunkan pedangnya dan melenyapkannya menjadi api. Aku pun jatuh terduduk ke tanah, entah kenapa hari ini aku begitu lelah. Angin lembut menerpa Padang rumput, memberikan perasaan nyaman penghuninya, aku dan Alan.


"Alan, berapa banyak sihir element dasar yang kau kuasai?" Aku asal menyomot topik.


"Cuma api." Jawabnya datar.


"Eh..,aku lima." Jawabku sembari menerawang langit.


"Tapi tidak begitu kuat."


"Tapi aku bisa mengkombinasikan semuanya, jadi serangannya bermacam-macam. Tapi aku tidak begitu peduli sih. Toh.., sihir dasar element bakal kalah telak dengan sihir sepesial."


"Ngomong-ngomong Alan, apa nama sihir sepesial mu?"


"Merah bara." Jawabnya datar.


"Kau yang menamainya? apa sudah ada di daftar buku jenis-jenis sihir sepesial?"


"Tidak, namanya memang ada di buku, di halaman 1809. Di penjelasan sihir sepesial jenis hybrid."


"Aku baru mendegarnya.."


"Kau saja yang tak baca sampai selesai."


Hening sekejap, hanya deru angin yang menerpa wajah kami.


"Ngomong-ngomong. Apa yang kau lakukan dengan April dua hari yang lalu?"


Tiba-tiba saja Alan menyakan hal yang tak pernah ku harapkan.


"Yah.., memanen melati merah lah," jawabku cepat


"Harus banget ya? sampai membolos latihan." Alan bangkit dari tidurnya untuk duduk. Matanya menatapku dengan tajam.


"Kenapa?" Aku bangkit duduk juga, dan balas menatapnya.


"Aneh saja, sejak kapan kau mau membantu."


"Sialan." Aku pun mendecih pelan.


"Hey Alan, besok..tanggal empat belas ya?" Tanyaku.


"Iya. Sesuai yang tertera di surat pernyataan perang itu."


Aku termangu menatap langit biru, fikiran ku melayang-layang tidak karuan.


Aku tidak akan memaafkan kalian,sungguh bahkan jika kalian bersujud padaku!!


Entah mengapa Suara itu terus menghantuiku dalam benak, bahkan semenjak kemarin.


"Alan, ayo lanjutkan latihannya."


(***)


13 Juli 2020. Pukul 20.00, di rumah kayu dekat tepi sungai.


"Ukh..,bau." April mengeluh sembari menjepit hidung dengan kedua jarinya.


"Lagi pula memangnya harus pakai jengkol untuk membuat ramuan kejujuran?" Tanyaku yang duduk di kursi kayu tiga meter di depannya.


"Peraturannya memang begitu, tak ada cara lain."


Aku pun menghela nafas dan menutup buku novel di tanganku. Aku pun menyadarkan punggung kekursi kayu. Pandangan mata ku edarkan kesekeliling ruangan yang serba kayu ini. ralat, kurasa rumah yang serba kayu ini.


Rumah ini di miliki April. Namun, mahkluk itu tidak menggunakannya dengan semestinya,nia justru mengunakannya sebagai labotorium ramuan pribadinya.


Dan yang seperti yang ku beritahu tadi, banyak sekali alat-alat membuat ramuan yang tersebar di sana-sini. Mulai dari botol-botol kaca yang berserakan sampai barang-barang yang tak ku mengerti.


"Tinggal setetes ramuan kehidupan....," dengan hati-hati April menuangkan setetes air dari dalam botol kaca kedalam kuali.


BWOOSH.


Asap biru tua mengepul dari dalam kuali bersamaan dengan bau menyengat yang menusuk hidung. Telat sedikit saja menutup hidungku, kurasa aku bakal muntah.


"Ramuan kehidupan sudah, ramuan kejujuran sudah. Berarti hanya tinggal besok saja." April memgangguk-angguk paham.


"Oi, bagaimana caranya agar si pabrik lemak meminum ramuan macam ini?" Tanyaku sambil menunjuk-nunjuk cairan biru yang mendidih.


"Sudah jelaskan, yah..., langsung di jejalkan ke mulutnya. kalau ia mau muntah tinggal di paksa agar tidak memuntahkannya." Jawabnya enteng. Sedangkan aku hanya mengangguk-angguk paham. Rencana yang menarik.


April pun cekatan menuangkan cairan itu kedalam sebuah botol kaca dengan sebuah centong. Setelah cairan berwarna biru itu mengisi setengah botol, April pun segera menutup rapat botol dengan penyumbat. lalu dia pun menyimpan botol itu kedalam rak yang tergantung di dinding kayu.


"Pulanglah dan jangan lupa sampaikan pada Alan kalau roti isinya enak." Kata mahkluk itu sembari mengibas-ngibaskan tangannya, gaya mengusir hewan.


"Ya sudahlah, dadah." Aku pun segera balik kanan dan memungut keranjang kayu dan novel di atas meja kayu. Mataku menatap bulan perak di angkasa sembari menuruni anak tangga kayu.


Entah kenapa malam ini terlalu senyap. Bahkan deru angin malam pun tak terdengar.


(***)


Author POV


14 Juli, 2020, pukul 07.00 Di perbatasan hutan kabut.


Mentari baru saja terbit dari cakrawala, perlahan cahaya keemasannya yang hangat menyelimuti bumi. langit yang gagah menaungi lautan manusia yang berbaris di lapangan hijau seluas satu hektar ini.


Wajah mereka terlihat menegang, mata mereka fokus menatap lurus ke depan, ke arah hutan kabut. Letak di mana musuh yang akan mereka hadapi hari ini. Sang mentari makin meninggi seiring sang waktu bergulir.

__ADS_1


"Kita tak boleh kalah!!meski kita kekurangan kekuatan kalah bukanlah jawabannya!!"


Seru Kara yang berdiri gagah dengan zirah peraknya, ia tengah menghadap ke barisan manusia bezirah, pasukan tempurnya. Iris cokelatnya tidak sedikit pun memancarkan keraguan, menambah karismanya sebagai pemimpin pasukan.


"Kita harus menang! demi desa kita tercinta!" Kara mengangkat tinggi-tinggi pedangnya ke udara lalu gerakannya pun di ikuti pasukannya sembari bersorak-sorai menyemangati.


"Menang, menang, menang!!"


Nyali yang sempat meredup kini kembali membara, membakar semangat tempur.


Dan apa yang mereka tunggu akhirnya muncul, seorang gadis bergaun putih berjalan keluar dari dalam hutan kabut. Namun gadis itu tidak sendiri, di belakangnya muncul lima harimau putih sebesar badak. Harimau-harimau itu mengaung dan memamerkan taring demi mengertkak nyali musuhnya.


Kara pun membalikkan tubuhnya,bmenghadap musuh di hadapannya.bkemudian pedang peraknya ia acungkan ke depan. Pasukan yang berbaris di belakangnya mempersiapkan diri, menggenggam lebih erat senjata di tangan mereka.


Kara menatap tajam gadis itu dan begitu pula sebaliknya, meraka saling bertukar tatapan. Suasana pun menegang dalam diam. Kara menurunkan senjatanya, kemudian menarik nafas sedalam mungkin.


"Se-"


"ARGHH"


Jeritan seseorang di tengah barisan menghentikan perintah Kara sekaligus memecah atmosfer di sekitar. Orang-orang menengok kebelakang demi menemukan sumber suara.


"Argh!! iya-iya aku gak bohong!!" Jerit suara itu lagi berbarengan dengan sosoknya yang keluar dari dalam barisan. Sosok itu susah payah menggaruk-garuk tubuh gembrotnya yang telah di lapisi zirah. Wajahnya memancarkan betapa tersiksanya ia.


"Aku membakarnya, aku membakarnya!!" Aku Hans.


"Akulah yang membakar hutan sepuluh tahun yang lalu!!" Serunya histeris.


"Hei kau kenapa Hans?!"


Orang-orang mulai mngerumuninya tanpa berbuat apa-apa. Mereka tidak tahu harus bertindak seperti apa.


"Tenanglah dia hanya mengatakan kejujuran." Seru April sembari berjalan keluar dari dalam barisan.


Kara berjalan masuk demi melihat apa yang terjadi pada putra sulungnya. Setelah sampai ia di sambut dengan dua sosok yang ia kenal. Putranya yang mengaruk-garuk seperti orang gila di tanah dan April yang berdiri di sebelah putranya.


"Jadi,katakan semuanya, pelaku sebenarnya." April berjongkok di hadapan Hans dan menatapnya dengan remeh.


"Aku yang membakar hutannya, semua yang ku ceritakan dusta! kenyataan yang kalian percayai dusta!" Hans meraung.


Semua orang terkejut mendengarnya. Banyak yang diantaranya terdiam kehilangan kata-kata.


"Hei, Hans di sihir oleh seseorang! kita harus membantunya!" Seru salah seorang dari dalam barisan. Orang-orang di sekitarnya mengangguk paham dan mulai mendekati tubuh Hans.


"Tidak, dia sama sekali tidak terkena sihir." Bantah Kara, membuat yang lainnya mengerutkan dahi. Kara diam sejenak kemudian menatap April dengan tajam .


"Yah, kurasa kau sudah tahu jawabannya." April melambaikan tangan santai "Jadi, siapa yang salah dalam tergedi sepuluh tahun yang lalu, Hans?"


"A-aku, b-bukan roh kabut." Hans menjawab terbata-bata.


Hening, tidak ada yang sanggup mengeluarkan kata-kata, suasana menekan atmosfer di sekitar. Kara terdiam dan menatap putranya.


"Hans, akui semua kebohongan mu." perintah Kara


"Aku membakar hutan sepuluh tahun yang lalu demi mendapatkan posisi pemimpin keluarga, aku jugalah orang yang melukai Amelia, dan roh kabut sama sekali tidak bersalah! Akulah pelaku sesungguhnya!!" Seru Hans histeris.


Amelia terpaku di tempatnya, matanya menatap tidak percaya lautan manusia jauh di hadapannya.


"Wah-wah! suasananya tegang banget ya!" Seru seorang pemuda yang berdiri di hadapan orang-orang, sontak membuatnya jadi pusat perhatian. Sang pemuda hanya tersenyum tipis kemudian membalikkan badan.


"Hai Amelia yang di sana! kemari lah ada yang ingin kuberikan!!" Pemuda itu berteriak sembari mengacungkan sebotol kaca dengan isi cairan bening. Si empunya nama membelalakkan mata kearah botol di genggaman si pemuda.


"Ada yang ingin ku bicarakan!" Serunya lagi


"Itu jebakan kan? mana mungkin kau bisa meracik ramuan itu. Kalian hanya ingin menjebak ku!"


"Hilangkan pemikiran buruk mu itu, kau sudah dengarkan tadi kata Hans, seharusnya kau tahu ini bukan jebak kan!" Kali ini April yang berseru di sebelah si pemuda.


"April...," Gumam Amelia


Amelia diam sejenak kemudian menghembuskan nafas perlahan. Perlahan kakinya melangkah kearah mereka berserta dengan kelima harimaunya. Ia pun tiba dan di sambut dengan sebotol kaca yang di ulurkan si pemuda. Amelia hanya menaikan sebelah alisnya.


"Teman-teman! dari yang kalian dengar dari Hans kalian pasti tahu bahwa perang ini hanyalah kesalahan pahaman.!" Seru pemuda itu "Oleh karena itu, saya dari pihak manusia menyatakan damai dan permintaan maaf kepada pihak roh kabut" Sambungnya.


"Minumlah, penderitaan mu akan sirna hari ini." Pemuda itu tersenyum lembut, Amelia hanya bisa terpaku di tempatnya, tidak paham dengan fenomena yang terjadi. Ia pun tersadar dan menggeleng-gelengkan kepala


"Ba-bagaimana kalian mendapatkan teratai emas?"


"Roh danau memberikannya sebagai bentuk permintaan maafnya atas perbuatannya dahulu." April menjawab cepat.


"Kau sudah memaafkan kami, para iblis. Radit?" kali ini Amelia menatap pemuda di hadapannya.


"Jelas tidak secepat itu, namun kau bukan iblis. lagi pula aku sadar dendam hanya menghancurkan semuanya. Jadi aku memutuskan meninggalkannya dan berusaha menjadi lebih baik." balas Radit


"Memutuskan lingkaran dendam demi menciptakan dunia yang lebih baik? sungguh sejak kapan kau peduli begini." Sela April sembari menyikut temannya.


"Memangnya salah? lagi pula aku tetap manusia, aku punya empati. Peduli dengan dirimu sendiri hanya akan menjadi bumerang." Radit hanya mengedikan bahunya. Amelia pun tersenyum kemudian merebut botol kaca di tangan Radit. Dengan sekali tenggak cairan dalam botol tandas.


"Aku ame-, maksudku Liliy. Menerima permintaan Radit. kubu roh kabut dan manusia mulai hari ini kita hidup berdampingan!" Seru Amelia semangat. Tak lama kabut putih menyembul dari seluruh tubuhnya. Dalam hitungan detik kabut putih menelan tubuhnya namun itu tidak bertahan lama karena angin menyapu bersih. Tubuh Amelia sempoyongan dan pada akhirnya tubuhnya rubuh, untungnya April sempat menangkapnya.


"Setidaknya pikirkan tubuhnya." Gerutu April sembari mengendong tubuh Amelia ke pundaknya, kemudian berbalik dan berjalan kearah barisan, Radit pun ikut di sebelahnya.


"Jadi, apa yang kau lakukan selanjtunya?" Tanya Radit


"Tentu saja mengurus si pabrik lemak, sumpah bikin repot saja. kau sendiri?"


"Bukanya sudah jelas? tentu saja berlatih."


"Ah, lupa. Sana jadi pemburu yang kau inginkan itu." Kata April malas


"Tentu, terimakasih."


"Semangat kalau begitu."


"Iya," Radit mengangguk.


Kedua remaja itu berjalan beriringan di bawah langit biru yang terbentang. Pagi ini akan begitu bersejarah bagi mereka yang menjadi saksi. Sebuah sejarah pembuktian sepuluh tahun yang lalu.


BAB B: lingkaran dendam dan memaafkan. END


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2