
Pagi, di apartemen Radit
"Bel...bangun bel." Radit menepuk pelan pipi Isabella yang tertidur lelap, sementara itu Isabella hanya mengerang pelan dan meringkuk seperti anak bayi.
"Bangun gendut." Radit mendengus kesal, Isabella masih dalam mimpinya. Radit memutar bola mata, ia pun berjalan ke dapur kemudian kembali dengan sebotol lada. Dengan hati-hati ia taburkan lada itu di dekat lobang hidung Isabella.
HACIIIM!!
Isabella bersin keras dan secara bersaman ia loncat bangkit dari posisi tidurnya. Ingusnya yang menjijikan mengalir keluar dari lobang hidungnya. Radit berjalan mundur beberapa langkah, menjaga jarak.
"Pagi Bel." Radit memberi salam.
Isabella melirik kanan-kiri kemudian ia mengerutkan dahi, mencoba berpikir keras.
"Kau di kamarku, semalam kau pingsan karena demam mu sendiri. Jadi keluarga ku memutuskan untuk membawamu ke apartemenku sampai siuman, karena pasti tidak ada yang mengurusmu," Radit menjelaskan.
Isabella terdiam sebentar kemudian mengangguk, ia pun berusaha berdiri dan berjalan menuju kamar mandi. Mengabaikan Radit begitu saja.
"Kalau sudah ke meja makan ya!!" Radit agak berteriak dari kamarnya, kemudian remaja itu berjalan menuju meja makan.
Sementara itu di kamar mandi, Isabella menatap bayangan dirinya di dalam cermin, iris merah darahnya kian meredup .
(***)
Di sekolah, di kelas.
Radit bertopang dagu, menatap bosan meja Isabella di sebelahnya. Sahabat karibnya kini sakit dan meninggalkannya sendiri di sekolah
"Kau lesu sekali dit?" Koko bersuara di sebelah Radit.
"Hm." Radit hanya bergumam.
"Ey, jawab sesuatu gitu," Koko merasa tersinggung, Radit hanya menengok sebentar ke sumber suara kemudian kembali menatap meja Isabella.
"Segitu pentingnya tu meja apa? sampai-sampai aku yang benda hidup tidak di perhatikan?" Koko berkata ketus.
"Emang." Radit menjawab santai.
Koko pun balik kanan, menyerah pada si nolep yang satu ini.
"Isabella tidak masuk?" Alan yang kini bertanya.
"Kau tidak lihat bangkunya kosong." Balas Radit.
"Ah iya juga ya." Alan tersenyum tipis "Mau menjenguknya?" Alan menawarkan.
"Kau mau menjenguk nya?" Radit justru berbalik bertanya.
"Maksudnya?" Alan mengangkat sebelah alisnya.
"Ia istirahat di rumah ku, ceritanya panjang tapi tidak seperti yang kau bayangkan." Radit bergumam.
Alan membelalak, tidak percaya apa yang barusan ia dengar.
"Sudah kubilang tidak seperti yang kau bayangkan!" Radit berseru ketus, melihat reaksi orang yang berdiri di sebelahnya.
"Ah.., bukan begitu." Alan segera menutupi keterkejutan nya, kemudian ia bergumam "Mau jenguk kapan?"
"Besok saja sepulang sekolah, sekarang ia masih sakit, bahkan ia tidak mau berbicara seharian, hanya mau mengangguk dan menggeleng saja." Radit menjelaskan.
"Baiklah, aku akan kesana bersama yang lain." Alan mengangguk.
Bel berbunyi menandakan jam pelajaran sudah dimulai, Alan pun berbalik dan berjalan menuju mejanya. Iris oranye gelapnya menerawang dalam lantai kelas.
(***)
"Bela?" Radit membuka pintu apartemen, ia celingak-celinguk mencari sosok di dalam pikirannya dan menemukannya di atas sofa. Isabella sedang tertidur lelap dengan posisi meringkuk.
"Eh, Radit sudah pulang." Ibu Radit berjalan keluar dari dapur hanya untuk melihat putranya.
"Ibu tidak kerja?" Justru itu jawaban Radit.
"Ibu merasa tidak enak badan hari ini, jadi ibu memutuskan istirahat, juga..." Ibu Radit menoleh kearah Isabella "Aku juga harus menjaga Isabella dan kau" Ibu Radit menyunggingkan senyum, Radit ikut menoleh kearah Isabella.
"Apa dia merepotkan ibu? Jika iya biarkan aku mengurusnya." Radit bertanya cemas.
"Tidak, dia sama sekali tidak merepotkan, dia bahkan ikut membantu ibu mengerjakan pekerjaan rumah." Ibu Radit berkata tulus.
"Ibu biar aku saja yang mengerjakan sisanya, ibu istirahat saja." Radit melepaskan tasnya dan berjalan menuju dapur.
"Setidaknya ganti baju dulu nak."
"Iya." tapi Radit masih terus berjalan kearah dapur. Ibu Radit menghela nafas, anak semata wayangnya ini memang susah di beritahu.
"Ibu.. Radit sudah pulang?" Isabella bangun dari tidurnya kemudian menguap lebar.
"Iya.. tidurlah kembali, kamu perlu istirahat." Ibu Radit tersenyum tulus sembari mengusap pucuk kepala Isabella dengan lembut. Isabella mengangguk dengan lesu kemudian tidur kembali.
"Kamu harus terus bersamanya." Ibu Radit tersenyum, mengelus kembali pucuk rambut Isabella dengan tulus.
(***)
"Dit." Panggil Isabella lemah di atas sofa, Radit yang duduk di seberangnya menoleh sejenak lalu kembali bermain handphonenya.
"Sudah bisa ngomong?" Radit menjawabnya.
"Memangnya aku terkena penyakit gagu," Isabella tersenyum tipis.
"Habisnya kau seperti orang lain seharian ini, kau sangat pendiam." Radit mematikan handphonenya lalu memandang Isabella yang tiduran di atas Sofa. Isabella bangkit untuk duduk lalu memandang lurus lawan bicaranya, mata mereka saling bertemu.
"Matamu lain." Radit bergumam sedih "kau memikirkan sesuatukan?" sambungnya.
"Aku Memikirkan banyak hal." Isabella diam sejenak "Salah satunya membalas mu." Isabella tersenyum, iris merahnya memancarkan kehangatan.
"Kau bisa membalasnya sekarang, aku tidak ingin dendam ini di bawa mati." Radit membalas senyuman itu.
"Aku tidak akan mati idiot."
__ADS_1
"Kau manusia, pasti akan mati," Dan sesaat suasana menjadi canggung. hanya ada suara TV yang menyala di antara mereka
"Maksudku tidak untuk saat ini." Isabella memecah canggung "mungkin," lalu ia menunduk.
"Apa yang terjadi dengan mu?"
"Bukan apa-apa,"
"Coba ceritakan mungkin aku bisa membantu,"
"Ini rumit, kau tidak akan paham,"
"Ceritakan saja, tidak perlu menanggungnya sendiri."
"Kau bahkan tidak sanggup untuk menanggungnya." Isabella menatap pilu temannya, ia ingin sekali menangis sejadi-jadinya namun ia tidak ingin membuat teman satu-satunya itu sedih lebih jauh. Isabella memalingkan wajah lalu berdiri dan berjalan menuju kamar Radit.
"Radit terimakasih untuk semua nya, maaf soal kau harus tidur di sofa." Ia berhenti sejenak sebelum masuk.
Tidak ada respon, Radit fokus memainkan handphonenya. Isabella yang melihatnya menghela nafas berat, kemudian ia pun masuk dan melemparkan tubuhnya ke kasur Radit. Air mata mengalir, ia mencengkram kuat dadanya yang terasa begitu sakit, ini super rumit.
Kenangan masa lalu kembali teringat.
Saat kelas 1 SMP.
"Ra...dit." Remaja berambut hitam pendek itu menunduk malu.
"Isabella dan ini Ipan lalu yang ini Hana." Isabella tersenyum lembut memperkenalkan teman-temannya.
"Oi, kau serius memilih anak ini, dia terlihat tidak berguna." Ipan berbisik di sebelah Isabella.
"Ipan benar bel, kamu harus mempertimbangkan." Hana memperingatkan
"Hei jangan menilai orang dari luar bukan? lagi pula ini kan keputusan guru." Isabella berkata santai lalu menyambut Radit dengan hangat.
.
.
.
.
.
BUAGH!
Tubuh Radit terpental menghantam tembok, tinju Ipan telak menghantam pipi Radit hingga memar.
"Pan!! Apa yang kau lakukan!!" Isabella menahan tubuh Ipan, mencegahnya untuk mengirim pukulan lagi.
"Bel, dia ini mempermalukan mu di depan panggung!, Dia laki-laki sialan !!" Ipan berseru marah.
"Ipan benar!!, Bel!" Hana menghakimi.
"Itu hanya kesalahan kecil!! Tidak perlu memukulinya," Isabella masih berusaha menahan tubuh Ipan.
BUAGH!!
.
.
.
.
"Katanya Radit dan Ipan bertengkar loh."
"Oh yah, kenapa? Apa karena pentas seni kemarin?"
"Katanya begitu, Ipan si pangeran sekolah sepertinya marah karena sang putri di permalukan,"
"Ah, kau bisa saja,"
"Eh dengar-dengar Isabella membela Radit loh!"
"Serius!? Sepertinya Ipan cemburu tuh!!"
Isabella berjalan cepat di lorong, berusaha keluar dari sayup-sayup menyebalkan ini.
.
.
.
.
.
"Kau marah dengan ku?"Ipan menghadang Isabella untuk keluar kelas.
"Tidak." Isabella membuang muka.
"Oh bagus lah." Ipan menyentuh lengan Isabella.
"Pan, aku ingin sendiri." Isabella melepas kasar tangan Ipan, kemudian berjalan keluar kelas mengabaikan Ipan.
.
.
.
.
"Karena kau Isabella membenci ku!!" Dengan penuh emosi Ipan menendang perut Radit. Radit memuntahkan darah, ia tidak bisa berbuat apa-apa karena kedua teman Ipan memegangi lengannya
__ADS_1
"B*jin*an, b*ji*an, b*jing*n, b*jing*n!" berkali-kali Ipan menendang perut Radit, Darah segar terus di muntah kan Radit.
"Oi, Sialan." Isabella yang dari tadi memperhatikan dari kejauhan berseru.
"Bel?" Ipan menengok, wajahnya terlihat begitu panik, Isabella berjalan menuju Ipan, iris mata merah Isabella menyala dan menatap jijik Ipan.
"Ini...," Ipan mencoba menemukan alasan.
"Kau palsu ya...benar-benar palsu." Isabella berkata penuh tekanan. ia berdiri di depan Ipan dan menatapnya keji, seolah Ipan adalah orang paling menjijikan.
"Lepaskan dia." Isabella menarik lengan Radit, kedua teman Ipan segera melepaskan Radit saat Isabella menatapnya. Isabella pun menuntun Radit untuk berjalan menjauh, sejenak Isabella diam.
"Jangan pernah menunjukan wajah sok tampan mu itu, aku tahu itu palsu, dari awal aku tahu kau itu busuk." Isabella menoleh kearah Ipan "da dah, pangeran b*jing*n." kemudian Isabella kembali melanjutkan jalannya.
.
.
.
.
.
"Beraninya kau!" Hana menyiram wajah Isabella dengan air bekas sampah, meski begitu Isabella hanya diam tidak membalas. Hana mendekat dan menjambak rambut hitamnya.
"Kalau tidak suka dengan Ipan tidak perlu mengatainya !!" Hana menampar keras Isabella, dua teman Hana di belakangnya hanya tertawa menikmati tontonan .
Dari awal, Isabella sudah tau. Ia sudah tau semua kepalsuan ini, persahabatannya dengan Hana dan Ipan adalah kepalsuan, ia masih mempertahankan nya berharap bisa mengubah mereka.
Palsu, palsu, palsu. Sama seperti ayahnya, tidak ada yang tulus, persahabatan maupun keluarganya.
Ia berjalan keluar dari toilet, baju seragamnya basah, bau busuk semerbak menyengat hidung, memar merah bekas tampar terpampang jelas di pipinya. Ia pun berjalan lesu ke pintu luar.
"Kau habis di kerjain ya." Suara cowok memangilnya dari sebelah kiri, ia menoleh dan melihat anak cowok yang lebih parah darinya. Wajah cowok itu babak belur, luka lebam tersebar sana-sini, ia menatap datar kearah Isabella.
"Kau pulang searah denganku kan?" Radit bertanya "Aku membawa motor biar ku antar."
"Tidak perlu aku bisa naik bus umum." Tolak Isabella.
"Kau mau di hina? bau busuk mu akan menimbulkan kekacauan." Radit segera berjalan, Isabella menghela nafas. Apa yang dibicarakan Radit ada benarnya, akhirnya ia menyerah dan mengikuti jejak Radit.
"Kau tidak membenci ku?" Isabella berkata di tengah perjalanan "Maksudku kau tahukan awal permasalahan ini."
"Tidak. Mereka saja yang memang ba*ng*at, berlaku seenaknya, bermain satu pihak, menganggap semua milik mereka." Radit berkata datar kemudian memasangkan helm untuk Isabella.
"Kau jujur ya." Isabella memuji.
"Itu lah sebabnya aku suka memukul mereka, aku tidak mau berpura-pura bersabar saat mereka menghinaku." Radit menyalakan mesin motor.
"Lebih terdengar tidak bisa menahan emosi." Isabella menaiki motor.
"Terserah kau." Radit menyalakan motor dan segera tancap gas, lima detik mereka sudah meluncur di jalan, Isabella tersenyum tipis, bau Radit berbeda jauh dengan para penipu.
.
.
.
.
"Terimakasih untuk yang kemarin." Isabella berterimakasih di sebelah Radit.
"Hm." Radit hanya bergumam matanya tidak melepaskan handphonenya.
"Oi, bel," Hana datang entah dari mana tiba-tiba merangkul Isabella.
"Nanti kita main ke mall yuk." Hana berkata riang, Isabella hanya terdiam karena dia tahu maksud sebenarnya.
"Kamu ikut gak?" Sedetik rangkulan Hana makin kuat.
"Ah..maaf Isabella sudah janji dengan ku." Radit menyela "kami mau ke kafe dulu nanti setelah pulang."
"Haah..kalian pacaran?" Hana nampak terkejut.
"Bukan..hanya saja ia belum membayar janji." Radit menunjuk Isabella.
"Oh begitu...ya sudah deh lain kali saja." Hana pun berlari keluar kelas dan bergabung kembali dengan gerombolannya, berbisik-bisik tidak jelas sembari melirik Radit.
"Terimakasih." Isabella sekali lagi berterimakasih.
"Aku hanya ingin minum kopi." Radit berkata tidak peduli.
.
.
.
.
"Dit...mau jadi temanku?" Isabella berkata serius.
"Bukanya kau punya banyak teman?"
"Mereka palsu." Isabella mendecih.
"Memangnya aku tidak terlihat palsu, kau baru kenal denganku beberapa hari." Radit menatap serius Isabella.
"Tidak, aku tahu kau tidak palsu." Isabella berkata mantap.
"Aneh." gumam Radit.
"Mau jadi temanku?" Isabella mengulang pertanyaannya.
"Tidak." Radit menggeleng.
__ADS_1
"Yes kau mau!!" Isabella berkata riang, Radit menatap cengo mahkluk di depannya.
"Terserah." Gumamnya datar.