Pemburu Dan Teratai Putih

Pemburu Dan Teratai Putih
chapter nine


__ADS_3

Drap!Drap!Drap!Drap!


Alan terus melesat maju tanpa memikirkan aku yang kelelahan jauh di belakangnya. Anak itu berlari seperti ninja, cepat sekali. Aku hanya mendengus dan mempercepat lari ku untuk menyusulnya.


Ia pun berbelok tajam di pertigaan jalan, lalu berlari menghampiri sebuah rumah tua yang letaknya tidak jauh dari pertigaan.


Duk!Duk!Duk!


"Guru!Guru!" Alan berseru memanggil -manggil, tangannya mengetuk-ngetuk pintu dengan panik. Sedetik kemudian seorang kakek membuka pintu. Ia menggunakan kaus putih berlengan panjang dan celana hitam panjang. Matanya melirik Alan dan aku sebentar, lalu membuka lebar pintu. Tanpa di suruh lagi Alan segera melesat masuk kedalam rumah. Sementara itu, kakek itu menatap ku dengan pandangan datar.


"Masuk," katanya datar lalu ia pun menyusul Alan. Aku pun menuruti perintahnya. Di dalam Alan membaringkan tubuh kaku bocah itu di sofa, sejak di pertengahan jalan bocah itu sudah tidak meraung-raung lagi.


Setelah membaringkan, Alan meraih sebuah tumbukan tradisional yang terbuat dari batu di kolong sofa. Ia memasukan beberapa kembang melati merah dari sakunya. Tunggu, melati merah? Kemudian ia menumbuk melati itu hingga keluar airnya, semerbak bau melati tercium di seluruh ruangan.


"Biar aku yang menyeduhnya," Kakek di sebelah ku bergerak cekatan meraih bunga yang di tumbuk, dan kemudian memasukannya ke gelas putih di atas meja tamu. Ia menuangkan air putih kedalam gelas dari teko yang di berikan oleh Alan. Setelah penuh ia pun menegukan minuman itu ke bocah yang berbaring di sofa.


Setelah air di dalam gelas habis, bocah itu mulai meraung-raung Kembali, tubuhnya meronta-ronta seperti mencoba melepaskan sesuatu, tanganya mencakar-cakar udara di sekitarnya, air liur mengalir keluar dari mulutnya, matanya berputar-putar mengerikan. Aku hanya diam terpaku menatap fenomena di hadapanku.


ARGHHHH!!!


Dan bersamaan dengan raungan panjang itu, kabut putih menyembur keluar dari mulutnya, kabut putih itu mengambang sebentar di udara kemudian menghilang entah kemana. Sedetik setelahnya sang bocah terbujur kaku.


Alan segera mengecek urat nadi bocah itu, sedetik kemudian ia menghembuskan nafas lega, Alan jatuh terduduk ke lantai.


"Beristirahatlah, biar aku yang mengurus sisanya," Kakek itu segera mengangkut bocah itu dan berjalan menuju ruangan lain, ia meninggalkan kami di ruang tamu. Alan masih berusaha untuk mengatur nafas. Aku hanya bisa mati kutu, aku tidak bisa mengatakan apapun untuk saat ini. Alan pun bangkit berdiri dan berjalan menuju lemari kayu di dekatnya. Ia membuka laci lemari kemudian mengeduk isinya.


"Ini ambil kunci kamar mu." Alan mengatakannya sambil melempar kunci yang ia ambil dari laci "kamar mu ada di ruangan itu, cari nomor sesuai dengan yang ada di kunci mu." Ia menunjuk ruangan di sebelah kiri ruangan yang di masuki kakek barusan.


"Aku..menginap? Bukannya kau bilang hanya sejam?" Aku mengerutkan dahi.


"Yah..tadi aku hanya meyakinkan mu. kalau mau pulang besok saja, ini sudah dini hari." Katanya santai.


"Aku gak bakal pulang sih," Aku menunduk sejenak "Soalnya aku ingin jadi pemburu." Aku pun mendongak dan berkata mantap. Iris coklat ku menatap lurus Alan. Alan hanya diam dan melihat ku dengan ekspresi datar.


"Jadi kau mau balas dendam?"


"Yah...sejenis. Aku memang manusia munafik." Kataku sambil tersenyum kecut.


"Santai, munafik adalah sifat alami manusia. Yah..lagi pula siapa yang akan tahan jika berada di posisi mu sekarang." Alan merenung sebentar "Ya sudahlah, istirahat dulu sana. Hal ini akan kita bahas esok hari." Alan menguap lebar, kemudian berjalan menuju ruangan yang di masuki kakek tadi. Aku menuruti perintahnya, ia benar aku butuh istirahat.


Aku pun berjalan lemas ke arah ruangan ku, dengan pikiran dan hati yang kacau, malam ini aku menyatakan pada dunia bahwa aku akan menjadi seorang pemburu. Dalam satu malam gila yang belum ku mengerti.


(***)


Besoknya.


Dok!Dok!Dok!


Mataku mengerjap saat mendengar suara itu. Perlahan aku bangkit dari posisi tidurku.


"Dit, sarapan." Suara itu terdengar di balik pintu kamar, suara itu adalah suara kakek yang tadi malam.


"Iya," kataku sopan. Aku pun berjalan kearah pintu dan membukanya. Sosok tinggi dengan raut wajah datar yang ku temukan setelah membuka pintu. Kakek itu memakai baju putih polos dan celana hitam panjang, ia memiliki gaya rambut pendek yang sudah memutih dan sedikit jenggot tipis di dagunya. Matanya menatap ku dengan sorot datar.


"Ikuti aku, kita akan ke meja makan." Kakek itu berbalik dan berjalan. Aku pun berjalan mengikutinya.


Kami berjalan keluar dari ruangan tadi dan berjalan masuk ke ruangan di sebelahnya. Di dalam ruangan itu terdapat ruang dapur dan ruang makan yang di satukan. Aku melihat ke sekeliling dan mataku terhenti saat melihat itu. Alan memasak.


Tanganya gesit membalikan telur di atas wajan. Merasa dilihat, ia menoleh kearah ku dan menatap ku dengan ekspresi bertanya.

__ADS_1


"Bukan apa-apa," Aku memalingkan wajah dan memutuskan duduk di bangku meja makan, di seberang kakek itu.


Lima menit menunggu tanpa percakapan, Alan membawa piring-piring makanan ke atas meja. Aku menelan ludah, mencium aroma lezat dari makanan di hadapan ku. Setelah menaruh piring-piring ia pun duduk di sebelahku.


"Silahkan di makan," Alan berkata sebentar, kemudian menyendok makanan di atas piring. Aku pun mengikuti apa yang ia lakukan. sepuluh menit kami sibuk dengan makanan kami. Tidak ada yang bersuara di antara kami, sampai-sampai tak terasa telah menghabiskan makanan kami masing-masing.


"Radit, ku dengar kau mau jadi pemburu." Kakek itu membuka percakapan.


"Benar, aku ingin membunuh para iblis." Aku mengangguk, tanganku mencengkram kuat sendok yang ku genggam. Benar, dendam adalah alasan utama aku ingin menjadi pemburu. Kebencian menjadi kekuatan ku untuk membulatkan tekad ini. Kakek itu menatap ku sebentar.


"Kau yakin? menjadi pemburu itu tidak mudah. Tugas pemburu tidak hanya sekedar membantai iblis, namun kau juga harus mengorbankan jiwa dan raga mu demi kaum mu sendiri." kakek itu memperingati.


Aku tidak langsung menjawab.


"Bagaimana?"


"Aku...bersedia." Kataku mantap. Aku telah membulatkan tekad. Kakek itu hanya mengangguk pelan.


"Baiklah kau bisa berlatih dengan Alan mulai hari ini. Cepat mandi dan ganti baju sana." Kakek itu mengatakanya dengan datar, aku mengangguk dan mulai bergerak menuju ruangan ku. Namun aku berhenti sejenak aku mengingat sesuatu.


"Bagaimana dengan sekolah ku?" Aku berbalik dan bertanya pada kakek itu.


"Orang-orang dari organisasi pemburu akan mengurusnya, tenang saja."


Mendengar jawaban dari kakek itu aku mengangguk dan melanjutkan jalanku.


(***)


Setelah memastikan punggung Radit menghilang di balik pintu ruangan guru pun akhirnya berbicara.


"Sesuatu yang di tanam dengan dendam tak akan berbuah manis." Guru menyeruput cangkir kopinya.


"Manusia dan iblis, bagaikan dua sisi koin." Guru menaruh cangkir, kemudian ia meraih koran di atas meja.


"Aku pergi dulu." Ucapku pelan, kemudian beranjak pergi ke kamar Radit.


(***)


Aku dan Alan sedang berjalan di atas jalanan berkerikil. Entah kemana Alan membawaku, aku hanya mengikutinya.


Angin pagi menyembur wajahku, menyisir lembut rambut hitam pendek ku. Langit biru terlihat begitu gagah, awan-awan putih menggumpal memenuhi langit. Aktifitas penduduk desa meramaikan suasana pagi.


Para lelaki dewasa terlihat sibuk memanen sawah. Anak-anak asyik memainkan layang-layang, sedangkan ibu-ibu berjalan sambil berbincang dengan membawa bakul di atas kepala mereka yang di penuhi sayur-mayur.


Kami berbelok di perempatan jalan dan menuruni jalanan batu yang cukup curam. Aku harus berusaha keras agar tidak terjatuh, sedari tadi hening, kami sama sekali tidak berbicara apapun.


"Alan, bagaimana kabar anak yang tadi malam?" Aku akhirnya membuka suara.


"Ia baik-baik saja walau lehernya harus cedera." Ia menjawab santai "Namun itu bisa di obati."


"Syukurlah." Aku bergumam, jujur aku merasa lega.


Kami terus berjalan.


"Ngomong-ngomong Alan, pemburu itu seperti apa?" Aku tahu pemburu adalah profesi membunuh iblis, namun aku perlu definisi jelasnya.


"Pemburu adalah profesi untuk mengatasi masalah yang berhubungan dengan iblis. Tugas para pemburu adalah membunuh dan memburu para iblis yang mengancam keselamatan manusia," Alan menjelaskan. Ia berhenti berjalan dan menatap hutan kabut di depan kami.


"Nah kita sudah sampai." Alan berjalan masuk kedalam hutan yang di ikuti olehku. Buluk kuduk ku berdiri pertanda bahwa aku takut, hawa di sini serasa begitu dingin dan mencekam. Pohon-pohon rindang berbatang coklat tua tersebar di sekeliling kami.

__ADS_1


Kabut putih membuat jarak pandang ku terbatas, lima menit aku terus mengikuti Alan. Kami sampai di sebuah tanah lapang yang di kelilingi pohon-pohon rindang.


"Jadi apa yang akan kita lakukan?" Aku bertanya penasaran.


"Tentu saja belajar menjadi pemburu." Jawabnya "Namun kau harus paham apa itu energi kehidupan," sambungnya.


Aku mengangguk cepat


"Mari ku jelaskan." Alan berdeham "Energi kehidupan adalan energi utama pembentuk kehidupan, tanpa energi ini mahkluk hidup akan mati. Energi kehidupan terdapat pada setiap mahkluk hidup, mulai dari tumbuhan, hewan maupun manusia dan para roh. Untuk melakukan sihir di perlukan energi kehidupan dan kontrol yang baik." Ia menatap ku sebentar.


"Setiap mahkluk hidup memilki energi kehidupan, namun tidak semua dapat langsung mengendalikannya. Di perlukan teknik khusus untuk melakukannya."


"Teknik?" Aku mengerutkan dahi.


"Teknik pisikis. Teknik yang dapat mengembangkan kemampuan tubuh bahkan sampai tahap maksimal. Percayalah, pada umumnya manusia tidak lebih memakai sepersen pun kemampuan tubuh mereka. Tubuh manusia memiliki potensi yang luar biasa, namun tidak semua orang memiliki mental yang kuat untuk mencapai potensi itu." Alan menatap datar kearahku "Sebelum mempelajari sihir, kau harus belajar teknik ini terlebih dahulu. Belajar teknik ini akan terasa seperti neraka."


Alan mengangkat tangannya tinggi-tinggi. Ia menciptakan api berbentuk pedang di telapak tangannya, Alan pun menggenggamnya, dan seketika api itu berubah menjadi pedang emas yang mengkilap.


"Tahap pertama teknik pisikis, refleks. Tahap ini akan mengembangkan indra dan stamina mu." Alan mengacungkan pedang emasnya kearah ku "Yang kau perlukan hanya menghindar dan jangan sampai tertebas pedang ku,"


Aku menelan ludah. apa?


"Mulai." Alan merengsek maju mengirim tebasan. Secenti sebelum menyayat ku, aku sempat melompat kebelakang menghindari tebasan. Aku terengah-engah karena kaget.


"Tunggu apakah latihannya seekstrem ini!" Aku menghentikan gerakan Alan yang bersiap maju "Jika benar-benar tertebas aku bisa mati!"


"Kan sudah ku bilang ini bakal seperti neraka," Setelah mengatakan itu Alan merengsek maju mengirim tebasan kearah kepalaku, aku pun menunduk menghindarinya.


"Hey!" Seruku sambil mencoba berjalan mundur.


Dengan cepat tangannya mengayunkan tebasan kearahku lagi, kali ini tanpa ampun. Kecepatan tebasannya meningkat. Ia menebas-nebaskan pedang bak orang kesurupan, cepat sekali.


Satu-dua tebasannya mungkin berhasil ku hindari namun tidak sedikit yang hampir menyayat tenggorokan ku.


Aku menyeka peluh, jantung ku berdebar-debar, nafasku menderu-deru. Alan berhenti sejenak. sepertinya memberi ku waktu bernafas.


"Hei, Alan bagaimana jika kepalaku terpenggal?"


"Kau mati. Tidak jadi pemburu, sederhanakan?" Alan merengsek maju mengirim tebasan kembali. Tubuhku dengan sigap menghindar.


Ah...terimakasih untuk kalian para pembully yang pernah beradu tinju dengan ku, berkat kalian tubuhku memiliki refleks yang bagus untuk menghindar.


"Refleksmu bagus. Namun kita lihat stamina mu." Alan berkata di tengah tebasanya


"Coba saja," Aku tersenyum sinis. ku kepalkan tangan sebagai bentuk persiapan. Alan merengsek maju mengirim tebasan


Jrass!!


Pedang emas itu berhasil menggores wajahku. Aku mengigit bibir, kecepatan tebasan Alan mulai menggila, bahkan aku yang menghindar masih terluka. Satu tebasan melayang cepat di sisi kanan. Aku pun melompat kebelakang menghindar, namun sebelum kaki ku menyentuh tanah tebasan pedangnya melayang disisi kiri ku.


Jrass


Satu goresan lagi di wajahku. Pantat ku menghantam tanah karena kaki yang kehilangan keseimbangan. Aku mengaduh kesakitan sambil mengusap-ngusap pantatku


"Refelks mu bagus namun perlu di kembangkan. Bangun, latihan belum selesai." Alan berkata dingin. Mata oranyenya menatap tajam kearah ku. Aku berdecih dan bangkit berdiri.


"Ayo kirim tebasan mu lagi!" Seruku sambil menyeka darah segar.


"Dengan senang hati," Ia tersenyum sinis.

__ADS_1


__ADS_2