Pemburu Dan Teratai Putih

Pemburu Dan Teratai Putih
chapter trithteen


__ADS_3

Radit POV


8 Juli 2020. Di rumah kakek Awang, di ruang tamu.


KRAK!


Sura itu bergema di ruangan, membuat kakek Awang yang duduk di sebelahku melepaskan diri sebentar dari koran yang sedang di baca. Kalau mau tahu itu suara apa, itu adalah suara tulang patah. Yang jadi pertanyaannya tulang siapa? kalian akan tahu sebentar lagi.


"ARRGGHHHH!!!" Raung ku sembari memegangi dahiku yang sepertinya retak karena di Sentil Alan. Si pelaku hanya menatap datar kearahku, seperti biasa.


"Sakit.." Keluhku masih dengan tangan yang memagangi dahi.


"Makannya jangan ketiduran." Kata Alan dengan ekspresi tanpa dosa.


"Tapi tidak perlu menyentilku dengan energi kehidupan kan? tulang kepalaku bisa retak tau!!" Seruku berang. Orang yang ku marahi hanya mengangkat bahu dengan ekspresi datar sembari mengatakan "Apa peduliku."


"Argh...aku malas berdebat dengan mu. lanjutkan." kataku kesal. Tangan kananku pun meraih gelas berisi air di atas meja, kemudian meminumnya Sampai tandas. Alan yang berdiri di depan ku kembali mengetuk-ngetuk papan tulis kecil yang di gantung di tembok.


"Ehem, mari ku lanjutkan. Jadi di dalam tubuh setiap mahkluk hidup terdapat satu bagian titik yang menampung sekaligus memproduksi energi kehidupan. Setiap mahkluk memiliki titik yang berbeda-beda." Alan mengetuk-ngetuk gambar tubuh anatomi manusia, tepatnya di bagian jantung.


"Titik ini juga berperan untuk menyebarkan energi kehidupan keseluruh tubuh lewat saraf-saraf. Dan hal ini di manfaatkan oleh para iblis untuk mengendalikan manusia. Iblis akan merasuki tubuh manusia dan mencoba "menanamkan" diri di titik ini. Dengan menyatukan energi kehidupan miliki mereka dengan miliki kita. Jika sudah begini iblis hanya perlu menguasai kesadaran manusia itu sendiri untuk mengambil alih tubuh.


Kembali pada Roh. Roh yang berhasil menguasai tubuh mahkluk hidup memang memiliki berbagai keuntungan, namun kekurangannya begitu fatal. Jika mahkluk hidup yang dirasuki tak mampu menampung energi kehidupan Roh maka tubuhnya pasti akan hancur berkeping-keping atau tewas seketika, dan artinya adalah kematian roh itu sendiri." Alan berhenti sejenak untuk mengambil nafas.


"Kekurangan lainya, jika tubuh yang di rasuki terluka maka itu juga akan melukai Roh yang merasuki. Namun, tidak semudah itu melukai tubuh yang dihuni roh, karena tubuh akan menjadi lebih kuat dan bertenaga. Serangan biasa tidak mampu mengukir luka, dan itulah sebabnya kau perlu belajar teknik pisikis." Alan berhenti sejenak karena harus meraih nafas.


"Ada beberapa cara untuk melepaskan roh yang merasuki tubuh, tetapi semuanya memiliki efek samping. Ini di karenakan ketidak efektifan dalam memisahkan energi kehidupan yang menyatu, terkadang saat roh tertarik keluar dari tubuh, energi kehidupan di dalam tubuh yang masih menyatu ikut tertarik keluar ataupun bisa sebaliknya, energi kehidupan roh tertinggal dalam tubuh tersebut.


Seberapa lama tubuh itu dirasuki merupakan cara meminimalisir kan efek samping. Semakin lama tubuh itu di rasuki maka akan semakin besar efek sampingnya dan begitupun sebaliknya." Alan berdeham sebentar lantas berkata "Ada pertanyaan?" Alan menatap kearahku yang sibuk membolak-balik buku panduan pemburu. Sadar di lihati, aku mendongak kemudian memberikanya tatapan penuh tanya.


"Kau memerhatikan aku tadi?" Tanya Alan dengan nada intimidasi.


"Memerhatikan kok. Walau setengah-setengah." Kataku sembari membolak-balik halaman buku di atas meja kayu.


"Apa yang kau lakukan?"


"Penjelasan mu terlalu sederhana aku jadi tidak bisa fokus. Jadi ku putuskan membaca saja dan mengabaikan suaramu." Kataku masih menatap paragraf dalam buku, sebenarnya aku hanya menghindar dari tatapan predatornya.


Alan menghembuskan nafas kasar. kemudian menyeruput cangkir kopi yang sedari tadi ia genggam hingga tandas. Dengan kasar ia menaruh gelas itu di meja dan berjalan keluar rumah.


"Hei mau kemana!!" Seruku


"Raihan Dityana Trosno. Kuberikan waktu lima menit untuk sampai di tepi sungai barat atau wajah menjijikan mu itu kuhantam dengan ini." Alan mengangkat tinju yang berselimut api merah "Di mulai." Dan dalam sekejap orang itu menghilang dari tempat ia berdiri. Bukan sihir, orang bule itu hanya berlari dengan kecepatan penuh sampai-sampai tidak terlihat lagi, tentu saja ia memakai energi kehidupan.


Aku menelan ludah, menyesal karena mengusik singa api.


(***)


Di tepi sungai.


"Argh!!" Seru ku panik sembari berlari sekencang-kencangnya di atas tanah berkerikil. Aku menengok ke belakang dan menemukan Alan yang berlari mengejar ku. Api membara menyelimuti seluruh tubuhnya, membuat sosoknya jadi begitu mengerikan.


Ia pun melemparkan bola api beruntun kearah ku, membuatku harus melompat ke sana kemari untuk menghindar.


"Alan! kau mau membunuhku ya!!" Seruku sembari merunduk, menghindari bola api yang hampir membakar rambut.


"Tidak. Aku hanya meningkatkan latihan tarung." Jawabnya walau dengan nada penuh penekanan.


"Kau masih marah ya?"


"Benar. Makannya aku mau membakar mu sampai jadi abu." Dan setelah ia mengucapkan itu, semburan api melesat kearahku, untungnya aku sempat mengelak meski tepi lengan bajuku terbakar. Nyala api yang membara membakar dedaunan kering yang berguguran ketanah. Alan pun mulai mendekat, tinju apinya bersiap mengirimkan serangan.

__ADS_1


"Baik aku minta maaf, sungguh aku tidak bermaksud menyingung mu tadi." Kata ku panik.


Floarr!Api yang menyelimuti Alan kian membesar, memberikan kesan yang lebih mengerikan. Dengan suara dinginnya ia berkata "Baiklah akan ku maafkan tapi..."


Bugh!!Krak!!


"Tapi aku harus meninju wajahmu terlebih dahulu!!" Serunya bersamaan dengan tinju api yang menghantam wajahku, tubuhku terseret tiga meter kebelakang, untungnya aku masih bisa mempertahankan posisi berdiriku.


Au terengah-engah, wajahku berdenyut-denyut karena sakit, untungnya aku sempat melapisinya dengan energi kehidupa, jadi tidak perlu khawatir terpanggang.


"Puas?" Tanyaku sinis.


"Benar-benar puas." Jawabnya datar sembari mengacungkan jempol berapinya. Alan pun mematikan apinya, kemudian memasang posisi kuda-kuda. Ah...aku paham.


K0u pasang posisi kuda-kuda Sekokoh mungkin, kedua tangan kulemaskan, kuatur nafas yang sempat menderu. Latihan bertarung yang sesungguhnya baru di mulai. Kami saling menatap sengit,buku-buku jari kami mengeras.


"Hei kalian!" Seru seseorang di seberang sungai membuat fokus kami hancur lebur. Dengan serempak kami menoleh ke sumber suara.


"Kalian berhenti latihan!, ada hal darurat!!" Serunya histeris.


"Kenapa?"Tanyaku terheran-heran.


"Anak-anak desa banyak yang menghilang!!, di duga mereka di culik para iblis kabut. Kami memerlukan bantuan kalian untuk mencari keberadaan mereka!"Jawab orang berambut ikal itu. Aku dan Alan menukar pandangan sebentar.


"Cepat! Kita harus mencari mereka!" Serunya sambil mengisyaratkan kami untuk mengikutinya.


(***)


Langit cerah tidak berawan membentang, menaungi desa yang sedang di kuasai kegelisahan ini.


"Ingat! Kau hanya mencari keberadaan mereka dan jika kau melihatnya, jangan coba untuk mengejarnya! karena kemungkinan mereka di kuasai para iblis kabut! dan jangan coba-coba memasuki hutan kabut!." Jelas Yura, pria berambut lurus berumur dua puluh tahun itu kepadaku.


"Bunyikan peluit ini jika kau menemukan salah satu di antara mereka, para pemburu


"Bagus semoga sukses!" Ia pun berlari kearah kiri dan menghilang di balik tebalnya kabut. Aku menelan ludah, walau jarakku dengan hutan kabut hampir sepuluh puluh meter, aura menekan serta kabutnya yang dingin sampai di tempatku. Aku menggeleng sekuat-kuatnya, mengusir pikiran buruk,bdengan segenap keberanian, ku langkahkan kaki untuk menelusuri perbatasan hutan kabut.


Aku memicingkan mata untuk menemukan sekiranya ada anak-anak desa di dalam hutan. Di karenakan hutan ini merpukan markas besar iblis kabut, para pemburu berspekulasi bahwa anak-anak yang menghilang di bawa kedalam hutan ini.


Para pemburu macam Alan di persilahkan untuk masuk kehutan kabut untuk mengamankan nak-anak desa, sedangkan bibit-bibit pemburu macam diriku hanya di perbolehkan berjalan di luar hutan kabut tepatnya di bagian perbatasan untuk membantu pencarian.


Aku masih terus memicingkan mata, melihat objek di dalam kabut tebal lebih sulit ketimbang di dalam air. Sedetik kurasa tidak ada yang janggal namun setelahnya ekor mataku menangkap suatu pergerakan, jauh di dalam sana seorang anak kecil berdiri membelakangi ku, bocah itu berjalan lesu kedalam hutan kabut.


Dengan segera ku rogoh peluit yang baru di berikan Yura tadi. Aku ingin segera membunyikannya namun sesuatu yang ku lihat membuat saraf motorik ku berhenti melakukan aktifitasnya. Tubuhku terpaku di tempat karena melihat sesuatu yang sulit di percaya.


Bocah itu adalah Anang dan di sebelahnya sesosok perempuan seumuranku merangkulnya. Perempuan itu mengenakan gaun putih indah, rambut sebahu nya yang lurus begitu cantik. Sosok itu rupanya menyadari kehadiranku. Ia pun menoleh kebelakang dan menyeringai bak orang gila. Lalu bibir kecilnya bergerak mengucapkan kalimat.


Aku akan memakan semuanya


Deg!


Jantungku memompa kesetanan, peluh mengalir deras, nafasku menderu-deru. Sosok itu pun kembali meluruskan pandanganya, kemudian ia pun menggiring masuk anak yang ia rangkul ke dalam hutan. Sosok mereka pun hilang di telan kabut


Ku genggam kuat-kuat peluit yang ku, kemudian dengan segenap tenaga aku berlari mengejar mereka.


Aku tahu ini pilihan bodoh. Tapi firasatku mengatakan harus melakukannya. Ah..ralat, Amarahku.


(***)


Drap!Drap!


Dengan segenap tenaga aku berlari membelah kabut putih, mata coklat ku melirik sana-sini mencari sosok. Jantungku memompa darah lebih cepat, menyebabkan sensasi tegang. Jujur aku setengah takut memasuki hutan ini, namun melihat ucapannya tadi membakar amarahku untuk menghajarnya.

__ADS_1


Udara dingin menusuk kulit, mengirim sugesti buruk ke otak. Nafas ku menderu, setengahnya di karenakan amarah yang meluap.


"Mencari ku?" Seru sebuah suara dari atas dahan pohon. Sura itu sukses mengerem lari ku, dengan cepat aku menoleh ke sumber suara. Mata coklatku menangkap sosok perempuan tadi, kini ia sedang berdiri di atas dahan pohon. Senyuman yang menyebalkan di padukan dengan pandangan remeh, Sukses merusak wajah cantik yang sempat mencuri perhatian ku minggu lalu.


"Bukankah kau seharusnya tidak boleh masuk? di sini terlalu bahaya untuk pemula seperti mu. Aku nggak tanggung jawab loh kalau tubuh mu terpotong-potong." Katanya dengan nada menyebalkan. Aku hanya memandangnya dengan tajam sembari mengeraskan buku-buku jariku.


"Ah...tatapan tajam yang menusuk hati. Aduh...aku kelepekan." Masih dengan nada menyebalkan, lalu setelahnya ia tertawa terbahak-bahak bak orang gila.


"Di mana anak-anak?" Kataku dengan suara bergetar, karena tak kuasa menahan amarah.


"Emm...aku suruh teman-teman ku buat culik mereka." Ia memejamkan mata sembari memijit-mijit dahinya, berlaga mengingat "Buat pesta makan-makan nanti malam!" Sambungnya dengan semangat.


"Kalian sungguh menjijikan."


"Hei kau itu anak baru, jadi diam lah. kau bahkan tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi."


"Ini semua karena kesalah pahaman itukan? cuman karena kebakaran hutan yang tidak di sengaja itu?."


Perempuan itu melongo menatap ku, kemudian ia tertawa terbahak-bahak sembari memegangi perutnya.


"Hahahaha!. Bahkan mereka sudah mencuci otak mu ya! cerita bualan dari mana itu?! tidak di sengaja!. Buwhahahahaha!" Ia tertawa terbahak sampai-sampai air mata mengalir dari pelupuk matanya.


"Apa maksudmu?" Ucapku tidak paham.


"Begini wahai anak baru. Cerita itu sudah di edit oleh mereka, para pelaku kebakaran hutan sebenarnya."


"Kau membual ya? atau mencoba mencuci otak ku?"


"Terserah sih mau percaya atau tidak. Toh yang menang bisa mengubah segalanya, terutama membuat musuh mereka semakin buruk di pandang." Ia melompat dari dahan dan mendarat dengan mulus di tanah "Ah..iya. Mumpung kau di sini aku ingin minta tolong padamu." Sambungnya sembari berjalan mendekatiku. ku pasang kuda-kuda Sekokoh mungkin, persiapan untuk kemungkinan terburuk.


"Mau jadi santapan pertama ku?" Ia tersenyum mengerikan membuat siapapun mengedik ngeri. Entah kenapa rasa dingin semakin menusuk kulitku, memberikan sugesti buruk.


"Mau ya? tubuh cacat ini benar-benar menguras tenaga ku. Jadi aku butuh makan yang banyak. Mau ya?." Ia pun semakin memangkas jarak, membuat senyuman itu terlihat makin jelas. Aku berjalan mundur secara teratur, detak jantungku sudah tak karuan.


"Tenang kok, aku gak bakal membunuh mu. Aku cukup makan tangan atau kaki mu saja, soalnya aku mau mencoba rasa manusia. Mau menunggu nanti malam terlalu lama, perutku sudah berbunyi minta di isi." Ia semakin mendekat, mata birunya memancarkan nafsu membunuh.


Ia melangkah sekali lagi. Namun, sebelum kakinya menapak tanah, tinju ku sudah menghantam wajahnya. Dan betapa terkejutnya aku. Tinju ku menembus wajahnya sampai ke bagian belakang kepalanya. Ia terkekeh kemudian menggenggam tinjuku yang masih terulur. Gengamannya mengeras, membuat ku berteriak kesakitan.


KRAK!


Aku membelalakkan mata, suara teriakan ku mengeras, lututku bahan tidak mampu menopang tubuhku. Aku jatuh berlutut ketanah.


"Tangan mu lembek banget. Pantes gampang patah." Katanya sembari bergumam. Tk mau diam saja, aku pun melancarkan tinju dengan tangan satunya lagi, teatpi sayang, hasilnya sama seperti yang pertama. Tangan ku tembus melewati perutnya. Ia pun tersenyum penuh kemenangan.


"Kau tahukan amarah tidak akan menyelesaikan apapun." Ia pun mengulurkan tangannya yang tersisa ke perutku, kemudian dengan sekuat tenaga menusuknya sampai tembus kedalam. Darah segar mengalir bersamaan dengan raungan ku.


"Selamat tinggal. Padahal aku suka dengan gaya mu loh." Ia melepas tanganku kemudian mengelus lembut pipiku, ia pun membuka lebar mulutnya Sampai merobek pipinya, gigi-gigi taring ia pamerkan padaku. Aku mengigit bibir, tidak disangka ini akhirnya.


Aku menatap taring-taring itu, aku tidak pernah berpikir kalau bakal jadi santapan iblis. Aku benar-benar tidak bisa bergerak, tubuhku seperti mati rasa.serangan telak di bagian perutku memberhentikan seluruh aktifitas motorik tubuhku.


Aku memejamkan mata pasrah. Bahkan aku sempat berfikir bagaimana rasanya ketika kepala ku hancur di gigit olehnya. Entahlah segila apa rasa sakitnya.


HEI CEPAT.!


Aku membuka mata demi melihat sumber suara itu. Seorang remaja laki-laki berdiri di empat meter di hadapanku, ia membelakangi ku.mataku mengerjap, apa-apaan ini? Di mana mulut lebar yang di penuhi taring tadi?.


Iya tunggu!.


Suara lain terdengar dari balik tubuh bocah itu. Aku pun mengulurkan kepala ku ke kanan demi melihat sumber suara. Mata ku membelalak ketika melihat si empunya Suara.


Seorang remaja perempuan seumurku. Ia mengenakan gaun putih, rambut sebahunya yang putih terlihat begitu indah. Entah kenapa aku merasa familier dengan remaja perempuan itu.

__ADS_1


"Ayo Amelia!! Aku bosan menunggu mu!"


__ADS_2