
Radit POV
17.30.1 Juli 2020
Aku menerawang langit senja di balik jendela. Matahari menenggelamkan setengah dirinya, bersiap untuk menyambut sang malam.
Alan hilir-mudik di depan ku. Wajahnya terlihat begitu gelisah, rambut merah pirangnya acak-acakan karena sering di garuk. Sesekali ia mendesah kesal atau melirik jam dinding. Sementara paman Waja yang duduk di sebelah ku sibuk dengan pikirannya, ia termenung sambil mengetuk-ngetuk meja kayu di depannya.
Jujur aku tidak tahu apa yang mereka pikirkan sehingga bersikap lain seperti ini, tapi yang ku tahu ada perang yang akan menanti di depan.
Kami sedang menunggu di ruang tamu di rumah kakek Awang, guru Alan. Aku menghembuskan nafas kasar, orang yang kami tunggu lama sekali datangnya.
"Halo." Suara khas itu terdengar bersamaan dengan sosok jangkungnya yang masuk lewat pintu. lalu ia di susul dua sosok lain yang baru ku lihat, seorang pria umur empat puluh tahunan dan remaja laki-laki seusia ku. Aura mengerikan yang berasal dari pria itu merangsang buluk kuduk ku untuk berdiri.
"Duduk lah tamu-tamu ku." Kata kakek Awang ramah.
"Hei rumah di renovasi lagi yah? Terakhir kali tidak sebagus ini." Kata ramaja lelaki itu girang, matanya yang berwana biru langit itu melirik-lirik semangat.
"Berhenti bersikap bocah April, umur mu itu sudah lewat dua ratus tahun. sudah lah ayo duduk." Kata pria itu dengan tegas dan berwibawa.
"Huft. Manusia memang membosankan kalau sudah tua." Cibir April. Tapi dia tetap menurut dan duduk di sofa seberang ku. Iris biru langitnya menatap ku menyelidik.
"Hey, kau memelihara murid baru Awang?" Tanya April .
"Yeah, kenapa?"
"Culun sekali muridmu yang satu ini." Katanya santai sambil menunjuk ku dengan jari telunjuknya. Aku hanya tersenyum jengkel, jika dia bukan roh ingin sekali aku menjambak rambut hitamnya yang di pomade berlebihan itu.
"Cukup reuninya, dan April jangan hina anak pendek itu." Kata pria itu dengan suara beratnya. Aku yang dihina hanya mengigit bibir sebagai bentuk menahan kesal, aku tahu tinggi ku hanya seratus enam puluh delapan centi meter, aku tahu!
"Jadi apa masalahnya Awang? Kenapa mendadak kau memanggil kami?" Kata Pria itu sambil menyadarkan punggungnya ke sofa.
"Sederhana Kara, Musuh besar mu bangkit dari hibernasinya." Kata kakek Awang dengan ekspresi datar, namun aku tahu iris matanya menyembunyikan ketakutan.
Kara, pria berusia empat puluh tahun itu melotot tidak percaya. Bahkan April yang asyik memandangi langit ikut menoleh.
"Hei. Kau tidak bercanda kan? Tidak mungkin kelinci itu bangkit lima tahun lebih cepat. Segel sihirku tidak selemah itu." Kini April yang berbicara, mimik wajahnya berubah menjadi serius.
"Namun itu kenyataan yang di katakan oleh murid-murid ku." Kakek Awang menunjuk ku dan Alan bergantian.
"Apa yang ia lakukan?" Tanya Kara serius.
"Aku sama sekali tidak melihatnya, tetapi aku terkena sihir kabutnya. Radit lah yang bertemu langsung dengan kelinci itu." Kini semua mata tertuju padaku membuat bulu kuduk berdiri seketika.
"Ia tidak melakukan sesuatu yang mencurigakan. Ia hanya mengobrol santai denganku sembari memakan bekalku, kupikir dia hanya roh penjaga hutan pada umumnya." Aku ku sambil mencoba mengingat-ingat.
"Ia masih mempersiapkan dirinya, lepas dari segel itu pasti memakan banyak energi kehidupan." Gumam April
"Ini buruk. Tidak banyak waktu yang tersisa, di tambah dengan kurangnya jumlah pemburu yang ada di desa ini. Perang kali ini akan lebih buruk dari sepuluh tahun terakhir." Kini Paman Waja yang angkat suara.
"Apa ada yang membantu melepaskan segelnya?" Gumam April.
"Bisa jadi, namun sekarang adalah waktunya untuk mempersiapkan perang. Seratus orang pemburu bahkan tidak cukup kuat untuk menjatuhkan kelinci itu." Kara menatap tajam langit-langit sedangkan kami sibuk dengan keheningan.
Aku menghembuskan nafas perlahan dan memijit pelan tengkukku. Perang karena dendam ini menanti di depan.
"Jika menurut perkiraan ku, butuh sekitar dua minggu agar ia memulihkan seluruh energi kehidupannya. Itu waktu yang cukup untuk mengumpulkan kekuatan kita. Perketat patroli di sekitar hutan kabut untuk mengawasi pergerakannya maupun bawahannya. Larang bagi siapapun dengan alasan apapun untuk masuk kedalam hutan kabut. kau paham Awang?" Kara menatap nama yang dipanggil dengan tatapan serius.
__ADS_1
"Ya. kau lebih tahu soal ini." kakek Awang mengangguk pelan.
"Jangan lupa memberitahukan hal tadi keseluruh Warga desa. Aku mau mengumpulkan orang-orang ku dulu." Pria yang mengenakan setelan kemeja biru, yang seragam dengan celananya itu pun berdiri dan berjalan keluar rumah dengan April yang mengekor di belakang.
"Pak Kara...auranya sangat mengerikan. Siapa dia sebenarnya?" Gumamku pelan.
"Ia adalah pahlawan perang desa ini. Jika tidak ada ia dan bocah itu, Desa ini sudah hancur lebur pada perang pertama." Jelas Alan.
"Memangnya sekuat apa dia?" tanya ku
"Pemburu tingkat Eagle, Satu tingkat di bawah Night Owl."
*Night Owl: Peringkat tertinggi dalam organisasi pemburu. Isinya para pemburu terkuat dari keluarga pendiri organisasi pemburu
"Aku akan mengumumkan hal ini di balai desa bersama Waja, kalian beristirahatlah untuk hari ini." Kakek Awang membenarkan kerah kemeja batiknya, kemudian berjalan keluar rumah, sedetik paman Waja menyusulnya. Alan pun berdiri dan berjalan kearah dapur.
"Mau masak." Jawabnya datar sebelum aku sempat berteriak menanyakannya. Aku pun menghembuskan nafas perlahan, melepas rasa tegang yang menguasai diri. Warna hitam kini menguasai langit, orang-orang mulai menyalakan lampu rumah, menerangi malam yang lebih mencekam dari biasanya.. ah.. mungkin ini perasanku saja.
(***)
Esoknya, di tepi sungai.
Gemercik air terdengar seperti lagu tidur, menghasut siapapun untuk tenggelam dalam ketenangan. Kesiur angin sejuk membelai rambut hitam ku, nyanyian katak di tepi sungai mengiringi lagu tidur.
Lima menit.
Tubuhku berhasil merasakan kehangatan dan menyebarkannya. Namun masalahnya aku tidak tahu berapa lama lagi aku bisa menjaga tulangku agar tetap solid. Seperti yang ku jelaskan sebelumnya, tulangku seperti melebur.
Peluh membanjiri seluruh tubuh, membuat kaus merah yang ku kenakan basah kuyup. Gigi ku bergelemetuk, tubuhku bergetar menahan sakit.
Aku menggigit bibir sekencang-kencangnya, tanganku gemetar hebat, tubuhku berguncang, Jantungku berdegup gila, pening menyerang kepala. Kehangatan ini akan membunuhku.
Aku sudah tidak tahan, aku ingin menyudahinya.
DEG!!
Semua rasa sakit lenyap seketika. Rasa hangat yang menyiksa memudar, perlahan meninggalkan tubuhku. Entah kenapa tubuhku terasa begitu ringan, seperti tidak ada bobot. Aku mengatur nafas yang menderu, masih dengan mata tertutup.
"B-buka matamu Radit." Kata Alan terbata-bata
Mendengar hal itu aku jadi tegang, pikiran buruk merasuki benakku. Perlahan aku membuka mata. Pemandangan aliran air sungai tanpa sedikitpun warna hijau. Apa aku gagal lagi? Batinku.
"Hei Radit kau benar-benar hanya seorang siswa SMA kan?" Tanya Alan dengan nada tak percaya.
"Tentu, kenapa sih?" Aku mengerutkan dahi tidak mengerti.
"Coba apa yang berbeda dengan dirimu sekarang?"
"Yang berbeda...," Aku menggaruk rambutku yang tidak gatal. Aku memejamkan mata sejenak untuk merasakan.
"Aku merasakan tiga ekor burung di atas ranting arah jam sembilan, mereka bersiap untuk...," sekejap aku membuka mataku lebar-lebar. Apa-apaan barusan!?
"Tubuh mu sudah terbiasa dengan energi kehidupan. kau lulus tahap kedua."
Hening sejenak. Aku masih menggeleng-nggeleng tidak percaya.
"A-apa? bagaimana bisa?"
__ADS_1
"Begini. Energi kehidupan memiliki kekuatan yang luar biasa, bisa membuatmu sangat kuat namun secara bersamaan menghancurkan tubuhmu. Oleh karena itu di perlukan ketahanan tubuh untuk menampung kekuatannya. Dengan cara mengaliri energi kehidupan keseluruh tubuh, perlahan tubuh akan membiasakan diri dengan energi kehidupan..tapi kau."
"Tubuh ku langsung terbiasa hanya dalam waktu dua hari." Tebak ku.
"Benar..., tubuh mu benar-benar luar biasa."
Kami terdiam sambil menukar pandangan tak percaya.
"Lalu kenapa aku tidak bisa melihat aura hijau sekarang?"
"Itu bukan pertanyaannya. Efek itu terjadi karena tubuhmu sedang menyesuaikan diri dengan energi kehidupan. Kasus ini juga terjadi pada rasa sakit di tulang-tulang mu itu. Lalu soal kau bisa merasakan burung itu adalah bentuk adaptasi tubuhmu, kini tubuh mu dapat merasakan energi kehidupan." Alan pun merenggut batu di tanah dan melemparkannya kepada ku.
"Coba genggam batu itu." perintahnya.
Aku menggenggamnya, sedetik tidak terjadi apa-apa.
"Pakai tenaga sedikit."
Baiklah....
KRAK
Batu itu hancur lebur, padahal aku benar-benar menambahkan sedikit tenaga. Aku terdiam menatap serpihan batu di telapak tangan ku.
"Jadi untuk mempersingkat waktu.. tahap ketiga di mulai." Alan membenarkan posisi duduknya.
"Tahap ketiga teknik pisikis. Di sebut tahap kontrol. Di tahap ini kau di haruskan untuk memusatkan energi kehidupan dalam jumlah besar di satu titik." Alan menjelaskan.
"Sekarang tinju wajah ku sekuat mungkin." Alan berkata serius.
BUGH!! KRAK!
Dengan senang hati kutinju wajah datar itu, tapi sialnya justru jemariku yang kesakitan. Orang yang kutinju hanya memasang wajah datar.
"Tujuan tahap ini adalah kontrol Energi kehidupan. Semakin baik kontrol seseorang semakin banyak energi kehidupan yang dapat terkumpul di satu titik dan semakin keras pula bagian itu."
"Jadi, dengan kata lain di tahap ini kau harus bisa mengeraskan tubuhmu sekeras mungkin, sebagai bentuk seberapa hebatnya kau dalam mengendalikan energi kehidupan."
"Yup. Tepat sekali. "Alan mengangguk
Aku memejamkan mata. Mencoba memusatkan rasa hangat ke dahi ku secara perlahan, karena jika buru-buru dahi ku bisa bengkok karena tidak siap menerima Energi kehidupan dalam jumlah besar. Dalam teknik psikis yang terpenting adalah membiasakan tubuh mu.
"Wah.. bahkan kau dapat melakukannya dengan cukup baik." Gumam Alan.
"Yah. Walau bikin pusing sih." Kataku Masih dengan mata tertutup.
Rasa hangat mengumpul di dahi ku, menjadi sebuah lapisan tebal. Perlahan aku membuka mataku.
"Baik kau siap untuk di tes?" Alan melemaskan jemarinya.
"Yah, mari kita tes seberapa kuat dahi ku." Aku mempersiapkan diri. Alan mengulurkan jemarinya ke dahiku. Lalu jemarinnya mengirimkan sentilan.
BUGH!KRAK!
Tubuhku terlempar, deru angin menghembuskan bebatuan di sekitarku. Dan pada detik berikutnya tubuhku tercebur kedalam air, dan sialnya kepalaku menghantam batu sungai.
(***)
__ADS_1