Pemburu Dan Teratai Putih

Pemburu Dan Teratai Putih
chapter twenty


__ADS_3

Isabella POV


Delapan tahun yang lalu...,


10 Maret 2012. Di sebuah rumah tua.


"Isabella, jangan tidur di lantai nanti kamu sakit nak," Suara lembut wanita itu sukses membangunkan ku. Aku pun bangkit duduk dan menoleh ke sumber suara dan terkekeh kecil.


"Maaf bu, habisnya aku tidak bisa tidur lagi semalam." Ucapku setengah menguap sementara tangan kecilku membersihkan sisa kantuk di wajah.


"Apakah suara-suara itu lagi?" tanya wanita berambut putih sebahu itu.


"Benar. Aku ketakutan semalaman," Aku ku. Aku berhenti sebentar kemudian bertanya lagi "Ibu, kenapa mereka selalu menyenbutku iblis?" tanyaku sedih. Ibu hanya tertegun dan terdiam


"Apa karena ayah adalah Arzel?" Aku menunduk dalam, tangan kecilku mencengkram erat rok yang ku gunakan. Aku pun menangis, air mata melimpah ruah bukti dari kesedihan yang memilukan.


"Bu..aku nggak tahan lagi dengan semua ini. Suara-suara itu dan rasa lapar ini membuatku gila!" Jeritku histeris. Ibu pun segera memelukku erat dan mengusap pucuk kepalaku dengan lembut. Samar-samar aku mendengar ibu terisak juga.


UHUK!UHUK!


Ibu terbatuk keras membuatnya refleks melepaskan pelukannya. Aku memperhatikannya, wajah pucat pasi itu sangat menderita.


"Ibu, sakit lagi?" tanya ku khawatir


"Ibu hanya batuk biasa nak. Tidak apa-apa," Namun setelah mengatakan itu ibu terbatuk-batuk kembali. Kali ini terdengar lebih parah mengundang keluar ayah yang bekerja di kamar.


"Bu, sebaiknya istirahat dulu dikamar. Kamu itu sedang sakit," Ucap ayahku lembut sembari membantu ibuku untuk berdiri.


"Ayah, ada makanan di dapur?" Tanyaku memelas.


"Ambil saja roti ayah di meja makan." Jawabnya lembut. Ia pun membawa ibuku yang lesu ke kamar.


Aku pun segera bangkit untuk mencari roti di meja makan. Dan betapa bahagianya aku saat menemukan sebungkus roti lapis. Aku membuka bungkusnya dengan semangat kemudian melahap isinya.


Sedetik, roti seukuran telapak tangan orang dewasa itu tandas di makan ku. Aku mengeluh, ini tidak cukup mengenyangkan ku. Ini bahaya, Dyra bisa-bisa lepas kendali lagi.


"Aku harus mengurung diri di kamar," Gumamku pelan. Aku pun berjalan pelan kearah kamarku di lantai dua, setelah sampai aku segera menutup pintu rapat-rapat, kemudian mengulurkan sebelah tangan ke kolong kasurku. Mencari sebuah barang.


Akhirnya aku menemukannya, dua buah borgol yang cukup kecil untuk kedua tanganku.


Aku mengunci kedua tangan dan kaki ku dengan borgol, kemudian melemparkan diri keatas kasur. Nafasku menghembus perlahan, hal ini selalu saja terjadi setiap minggunya.


Merepotkan, aku harus melawan lonjakan nafsu makan Dyra yang menghilangkan akal. Tak jarang aku menguyah jemariku sendiri sampai berdarah, kini kalian tahu mengapa aku harus mengunci kedua tangan dan kaki ku sendiri.


Rasa lapar terus menyerang perutku, memudarkan akal sehat yang ku perjuangkan. Sebentar lagi aku akan menggila dan berbuah menjadi sosok yang tak akan pernah ku harapkan.


Aku bersyukur ibu menyibukkan ayah di bawah.


(***)


Di hari lainya.


"Isabella sekarang jarang keluar kamar yah," Ucap ayahku lembut sembari mugusap pucuk kepala ku. Aku hanya tersenyum kecil sebagai balasan. Kami sedang duduk bersisian di atas sofa tua, ayah menemani ku menonton acara TV sembari mengerjakan pekerjaan kantornya.


"Banyak PR yang harus kukerjakan yah. Ngomong-ngomong bagai mana kabar ibu?" Tanyaku pada pria berambut hitam pendek berusia tiga puluh tahun itu. Dia bergumam sebentar, menimang kata yang bagus untuk tidak memperburuk suasana hatiku.


"Ibu akan sembuh secepatnya. Tenang saja kamu tak perlu khawatir ayah akan berjuang keras membuat kalian bahagia," Ayahku tersenyum penuh percaya diri membuatku ikut tersenyum juga.


"Janji yah!" Aku dengan semangat mengulurkan jari kelingking ku ke depan wajahnya.


"Tentu saja. Karena ayah mencintai kalian," Ia mengkaitkan kelingkingnya dengan kelingkingku sembari tersenyum hangat. Dia ayah tiri ku, tapi dia tau betul bagaimana caranya membuatku tersenyum.


Dia adalah sosok yang hangat bagiku juga ibu. Dia adalah sosok pahlawan pekerja keras yang melindungi kami.

__ADS_1


Aku selalu mempercayai ucapannya, dia selalu menepati janjinya, dia orang yang kuat nan teguh, dia adalah sumber kebahagian ku dan ibu. Aku percaya dia tidak akan melanggarnya karena dia mencintai kami.


(***)


Di hari lainya.


"Isabella. Ini sudah malam kenapa kau tidak tidur," Ibu tiba-tiba saja masuk ke kamarku membuatku mengalihkan perhatian dari membaca buku.


"Maaf bu. Buku yang ku baca terlalu seru sampai aku lupa waktu." ucapku sembari bangkit duduk.


"Apa yang kau baca nak?" ibuku mendekat kearah ku kemudian duduk di pinggir ranjang ku.


"Sihir, aku sedang belajar untuk mengendalikan sihir," Gumamku agak ragu-ragu. Ibuku hanya mengangguk paham kemudian mengelus pelan pucuk kepala ku.


"Tak ibu sangka kamu lebih awal mempelajarinya." Ibu mengangguk-angguk.


"Maaf yah, bu. Aku mengambilnya tanpa izin. Habisnya aku harus mempelajari cara agar roh-roh menyebalkan itu pergi." ketusku sembari menggelembungkan pipi sementara ibu hanya tertawa renyah. Namun, itu tidak bertahan lama.


"Isabella, dengar ibu baik-baik." Ibu bangkit berdiri dari ranjang ku kemudian sedikit berjongkok di hadapanku. Tanganya yang pucat pasi menyisir rambut hitam ku, iris matanya yang Semerah darah itu menatap ku penuh kasih sayang. Wajahnya bagai rembulan itu tersenyum lembut kearahku.


"Kamu adalah permata paling indah di muka bumi ini, kamu adalah hal yang paling sepesial di muka bumi ini, kamu adalah perempuan paling kuat di muka bumi ini, tidak ada apa pun yang dapat menumbangkan mu. Percayalah dengan ucapan ibu dan dirimu sendiri. Jangan dengarkan apa kata mereka." Ibuku mendekatkan dahinya dan menempelkannya pada dahiku.


Aku hanya bisa terdiam tanpa kata-kata. Aku tahu ada emosi sedih dalam setiap perkataanya tadi.


"Ibu.., tidak akan meninggalkan ku bukan?" Tanyaku ragu-ragu.


"Ibu akan selalu ada untukmu. Ibu tak akan pernah meninggalkanmu," Ibu tersedu pada kalimat terakhirnya. Membuat air mata yang di bendung tumpah membanjir wajahnya. Aku segera memeluk erat tubuhnya, membiarkan ia membenamkan wajahnya ke pucuk kepala ku, membiarkannya membasahi rambutku dengan air matanya.


"Ibu minta maaf..ibu benar-benar minta maaf." Nafas ibu tersendat membuat ucapannya tadi terdengar tidak jelas.


"Ibu tak perlu minta maaf, ibu tak pernah bersalah." ucapku di pelukannya.


"Maafkan ibu, maafkan ibu!" serunya histeris. Aku hanya bisa diam agar ia mengeluarkan semua pilu yang tependam.


Aku tahu dia selalu merasa bersalah, aku tahu dia selalu mengutuk dirinya sendiri karena tak bisa berbuat apapun untuk anaknya sendiri. Ibuku bukanlah dari keluarga penyihir. Dia hanya wanita lugu biasa yang mencintai pria tidak jelas yang harus kusebut ayah kandung.


Meski kami hidup jauh dari kata mencukupi, namun itu bukan halangan bagi kebahagian yang merangkai keluarga kecil ini. Tapi aku tahu kebahagian ini akan segera gugur layaknya bunga yang tak akan terus bermekaran.


(***)


30 Maret 2012


Aku terpaku di tempat sembari menatap ukiran nama ibuku di batu nisan. Seolah seluruhnya seperti batu, tubuhku hanya bisa berdiam diri.


Para penziarah telah mengangkat kaki dari sini kecuali aku dan ayah. Tangis ayah yang tersedu-sedu mengisi langit mendung.


"Na..dia...," Ucap ayahku di tengah tangisnya.


Aku pun berjongkok di sebelah ayah kemudian menyapu air matanya dengan kedua tangan kecilku. Ia menoleh kearahku dan terdiam, sementara aku hanya tersenyum sembari menahan air mata.


Aku percaya ayah akan kembali seperti dulu lagi karena dia pernah berjanji kalau terus membahagiakan aku dan ibu.


Aku percaya pasti begitu...,


(***)


3 April 2012


Namun dia melanggar janjinya sendiri.


"Lapor pak, di ketahui korban bunuh diri dengan menancapkan pisau pada jantungnya sendiri," seorang polisi melapor pada seorang pak tua yang seragam dengannya. Aku hanya bisa terpaku di sebelah pak polisi sambil termenung menatap mayat ayahku yang di angkut ke mobil ambulan.


Dia penipu. Bukan pahlawan yang gagah, bukan sama sekali. Dia hanya mencintai ibu ku, dia sama sekali tidak mencintaiku.

__ADS_1


Dia sukses membuatku sengsara, dia sukses membantingku jatuh sampai hancur lebur.


"Permisi pak polisi. Apa ini benar kediaman pak Zefan?" Entah dari mana munculnya seorang wanita parubaya mendekat kearah ku.


"Benar Bu, ada keperluan apa?"


"Saya yang ingin mengadopsi anak bernama Isabella. Ia memberi tahu saya untuk datang hari ini untuk mengambilnya. Ngomong-ngomong ada apa ini pak?"


"Warga melapor ketika mendengar teriakan dari rumah pak Zefan. Dan diketahui bahwa pak Zefan meninggal bunuh diri." Jelas pak polisi membuat si wanita parubaya tertegun.


"Kalau begitu Bu, silahkan adopsi anak ini."


Wanita paru baya itu pun segera mendekat kearahku kemudian menggenggam tangan kecilku dengan lembut.


"Perkenalkan nama ibu Karla, senang bertemu denganmu Isabella."


(***)


1 April 2016


Ini sudah tiga tahun lebih aku tinggal di rumah sederhana ini. Meski pun ibu Karla sangat baik tidak banyak interaksi di antara kami.


Aku berubah menjadi pribadi yang acuh, diam dan memilih lebih banyak berbicara dengan Dyra. Masaku sekolah dasar telah berakhir dan kiniĀ  santanya aku menggunakan seragam putih biru.


Aku bertopang dagu di mejaku sembari fokus membaca novel di atas meja.


"Hai,"


Aku menoleh ke sumber suara dan menemukan sesosok anak laki-laki periang dengan rambut hitam keriting. Dia tengah tersenyum sembari duduk di atas meja.


"Apa Ipan, kau mengganggu fokusku," ketusku.


"Habisnya aku bosan, lagi pula aku ingin mengajakmu untuk bermain dengan yang lainya, kau mau?!" ajaknya antusias. Aku menoleh kearahnya dan memasang raut muka kebingungan.


Pangeran sekolah sekaligus tetanggaku ini memang banyak tingkah dan aku heran kenapa dia menempel terus denganku.


"Ya sudahlah. Aku juga gak ada kerjaan di rumah," Aku pun berdiri dari meja sembari mengenakan tas Selempang ku. Kemudian berjalan keluar kelas, sementara itu si pangeran sekolah berjalan membuntuti ku di belakang.


Kami sedang berjalan di koridor kelas, sembari membicarakan hal-hal tidak penting yang terlintas.


"Aku gak pernah nonton begituan, sumpah!" Kedua tangan Ipan mengacungkan tanda peace kearahku


"Terserah, aku gak ter-"


Aku menghentikan langkah kemudian menengok cepat kearah belakang. Menemukan seorang lelaki berseragam sama seperti kami.


Dia menggunakan earphone merah dan nampak fokus dengan heandphonenya.


"Ipan anak itu siapa?" tanyaku sembari menunjuk anak itu.


"Radit, kenapa?" tanyanya datar


"Nggak apa-apa. Yasudahlah ayo lanjut," aku segera berjalan lagi


Bau anak yang bernama Radit itu, menarik.


*


*


*


*

__ADS_1


BAB.C. Cahaya ku


END


__ADS_2