Pemburu Dan Teratai Putih

Pemburu Dan Teratai Putih
chapter eight


__ADS_3

Radit POV


Aku menunduk sambil mengikut langkah kaki Alan. Aku memasukan kedua tanganku ke saku celana, melindungi kulit dari dinginnya malam, nafasku berhembus perlahan.


Udara terasa begitu dingin walaupun Indonesia sedang di tengah musim kemarau. Jalanan terlihat begitu sepi, tidak ada kendaraan yang berlalu lalang atau orang yang berjalan kecuali aku dan Alan. Itu wajar karena sekarang sudah pukul satu pagi. Jakarta mungkin adalah kota super padat bahkan di tengah malam, namun entah bagaimana untuk hari ini Jakarta begitu senyap.


Alan berhenti melangkah kemudian melirik kanan-kiri, aku mendongakkan kepala kemudian mengerutkan dahi. Bingung karena kami berhenti di stasiun bus


"Apa yang kau cari?" Aku bertanya heran.


Dia tidak menjawab dan justru bersiul seperti memanggil sesuatu, sedetik tidak terjadi apa-apa.


"Apa yang kau panggil?" Aku kembali bertanya.


"Bus," Ia berkata santai.


Aku tambah mengerutkan dahi, kemudian memandang orang di hadapan ku bak orang gila. Bagaimana bisa kau memanggil bus dengan siulan? Memangnya kuda? Lagi pula ini kan sudah malam pasti jarang sekali ada bus yang masih lalu lalang. Alan melirik ku sebentar kemudian berkata.


"Kau tahukan banyak hal gila yang sudah terjadi hari ini? Banyak fenomena yang tidak mungkin di lihat mata kepala mu sendiri." Alan berkata santai.


Aku mengangguk kecil, kurasa memanggil bus dengan siulan masuk akal saja, untuk sekarang.


Beberapa menit menunggu akhirnya cahaya lampu bus terlihat di ujung jalan, perlahan cahaya itu mendekat dan menampakan wujudnya. Bus itu berhenti tepat di hadapan kami kemudian dengan cepat pintu bus terbuka.


Aku melongo menatap bus di depanku, bagaimana pun juga sulit mempercayai semua ini.


"Ayo masuk."Alan berkata sambil berjalan masuk ke dalam bus. Aku melakukan apa yang ia lakukan, betapa terkejutnya aku sesaat setalah masuk. Lihatlah, bangku supir di hadapanku kosong melompong.


"Tenang saja bukan hantu yang mengendarai bus ini." Alan berkata santai sambil mencari tempat duduk.


Aku pun menoleh kearahnya dan memutuskan untuk mengikutinya saja, aku melirik kanan kiri memperhatikan orang-orang yang duduk di kursi bus. Kukira awalnya bus ini akan sepi dan kosong ,namun ternyata ada beberapa orang yang mengisinya.


"Sini," Alan menepuk-nepuk kursi di sebelahnya, mengisyaratkan aku untuk duduk di situ. Aku menurutinya dan duduk di sebelahnya. Tak lama bus ini pun berjalan kembali entah kemana.


Aku menundukan kepala kemudian menghela nafas dengan berat. Sesak masih memenuhi dadaku, sejuta pertanyaan terus membebani benakku.


"Bertanyalah." Alan mengangkat suara setelah lama diam.


"A-apa yang sebenarnya terjadi?" Aku bertanya walau suaraku bergetar seperti ingin menangis.


"Iblis merasuki orang tua mu dan sahabatmu. Aku di tugaskan untuk membunuh mereka, iblis. Sebelum bertindak yang tidak-tidak." Alan menjawab dengan tenang.


"Apa itu iblis? Merasuki?" Aku bertanya kembali. Banyak sekali hal gila yang terjadi.


"Bagaimana ya..oh ya sebelumnya kau harus tahu ini dulu. Di dunia ini terdapat sebuah mahkluk yang tidak memiliki wujud fisik, mahkluk itu di sebut Roh." Alan berhenti sejenak "Roh adalah mahkluk yang di penuhi energi kehidupan, roh juga memiliki emosi dan pemikiran layaknya manusia."


Aku mengerutkan dahi, apa lagi ini?


Alan hanya menatap ku sebentar kemudian lanjut bercerita "Asal-usul munculnya Roh berasal dari 'gerbang' seribu tahun yang lalu. Namun tidak ada yang tahu apa arti gerbang sebenarnya, di percaya asal-usulnya hanya di ketahui para leluhur Roh. Para Roh harus memiliki 'tubuh' untuk bertahan di bumi ini, tubuh ini berupa mahkluk hidup, apa saja mau itu hewan atau manusia. Menurut teori yang di percaya sekarang, para Roh berasal dari dunia lain, bukan dari bumi.


Susuatu yang bukan pada tempatnya akan mendapatkan konsekuensi, begitu pun para Roh. Mereka akan kehilangan Energi kehidupan setiap saat, dan di saat mereka kehabisan energi kehidupan, mereka akan mati. Tubuh berfungsi sebagai media para Roh untuk mendapatkan energi kehidupan."


Aku diam sambil memperhatikan Alan di samping ku. Banyak sekali hal yang harus ku cerna.


"Maaf jadi kemana-mana. Layaknya manusia, tidak semua Roh itu baik. ada dua kategori Roh, Roh jahat dan baik. Pada umumnya Roh 'merasuki' wujud tubuhnya demi bertahan hidup. Roh baik mungkin hanya merasuki hewan atau tumbuhan. Dan tidak mengendalikan penuh kesadaran mereka, namun berbeda dengan Roh jahat atau sebut saja iblis. Mereka paling suka merasuki manusia demi memperoleh energi kehidupan yang melimpah, dan bajingannya lagi, mereka ingin mengendalikan tubuh manusia sepenuhnya dan menggunakannya seperti boneka mereka sendiri." Alan melakukan penekanan pada kata terakhir.


"Memangnya kenapa para Roh jahat.. maksud ku iblis seperti itu?" Tanyaku lagi

__ADS_1


"Satu karena ingin memperoleh kekuatan, energi kehidupan adalah sumber utama untuk melakukan sihir. Kedua, balas dendam. Dan ketiga, alasan tersendiri." Alan merendahkan suaranya, matanya menatap tajam kearah jendela.


"Kenapa?"


"Dulu sekali, tahun seribu Masehi. Terjadi pertarungan hebat antara para roh yang hampir menghanguskan bumi ini. Ada dua kubu di perang ini, kubu baik yang di pimpin para leluhur roh dan kubu jahat yang di pimpin oleh Iblis Arzel. Arzel menginginkan sekali bumi ini, sehingga ia berusaha untuk menguasai semuanya. Namun itu dicegah oleh para leluhur roh dan berhasil. Arzel pun sekarat dan melarikan diri bersama pengikutnya, para iblis.


Pengikutnya yang setia, begitu dendam terhadap manusia dan para roh baik. Sebagai bentuk pelampiasan, mereka bersumpah untuk menghancurkan para manusia yang di selamatkan roh baik." Alan terdiam sejenak.


"Yah, mungkin kau melihat ku seperti orang gila yang menceritakan khayalannya. Namun hei, kau sudah melihat banyak hal gila hari ini, jadi kurasa tidak masalah." Alan berkata santai sambil menyandarkan punggungnya ke kursi. Aku hanya diam sambil mencerna kata-katanya barusan.


"Dunia tidak sesederhana yang kau lihat. Manusia tidak tinggal sendirian, banyak sekali keajaiban lain di luar sana. Sesuatu yang tidak bisa di lihat atau di jelaskan bukan berarti tidak ada dan mustahil, hanya saja kita tidak sanggup menjelaskannya." Alan bergumam sambil memandangi jendela bus.


"Apa iblis sedendam itu? bahkan membunuh manusia yang tidak tahu apa-apa." Aku mengatakannya sambil mengepalkan tangan, amarah mulai bergejolak di dadaku.


"Benar, demi menghancurkan manusia mereka melakukan apapun. Membunuh, menghancurkan , memakan manusia. Semua mereka lakukan." Alan berkata penuh kebencian.


"Memakan?" Aku terdiam mendengar itu.


"Benar, memakan manusia. Ingat, manusia adalah mahkluk dengan energi kehidupan yang berlimpah dan itu menjadi sumber kekuatan para iblis. Semakin banyak memakan manusia semakin kuat sihir iblis tersebut."


Setelah ia mengatakan itu, suasana menjadi hening. Tidak ada yang berbicara lagi di antara kami, hanya suara AC bus yang mengisi keheningan ini.


"Sudah sampai." Alan bergumam memecahkan keheningan, ia pun berdiri. Aku pun ikut berdiri untuk memberinya jalan, aku pun mengikuti langkahnya di belakang.


"Selamat datang di desa pemburu," Alan berkata bangga saat sudah turun dari bus, kami berada di pinggir sebuah jalan beraspal. Di hadapan kami terdapat sebuah pemandangan menakjubkan.


Aku hanya diam menatap takjub. Di depan ku terbentang tinggi sebuah bukit yang di selimuti kabut putih, ribuan anak tangga dari batu yang mengarah ke puncak bukit menunggu kami. Pemandangan itu memberikan kesan mistis bahkan bulu kuduk ku sampai berdiri. Aku terdiam sejenak mengingat sebuah hal penting.


"Sejak kapan kita menaiki bukit? sedari tadi di bus aku tidak merasakan melewati tanjakan." Aku bertanya heran


"Karena sihir." Alan berkata santai "Kau tahu banyak hal aneh dan menakjubkan dengan menggunakan sihir, seperti membuat rumah labirin dan mengeluarkan api," Sambungnya.


"Benar, namun mereka menyalah gunakannya," Alan menjawab santai. Aku yang berdiri di sebelahnya hanya mengganguk kecil.


"Sekarang ikuti aku, kita akan menuju Desa pemburu," Alan pun balik kanan dan mulai menaiki anak tangga. aku pun menyusulnya dan mengikuti apa yang ia lakukan.


Sepuluh menit, kami hanya diam sambil sibuk dengan anak tangga kami masing-masing. Udara malam menusuk-nusuk tubuhku membuat menggigil. Beberapa kali gigi ku bergelemetuk, ku peluk tubuhku sendiri guna menghangatkan. langit malam terlihat hitam keungu-unguan, bintang-bintang bersinar menunjukan keindahannya, bulan sabit menggantung dengan anggun di langit gelap.


Perasaan ku tercampur aduk. Marah, sedih, takut, semua bersatu. Pikiran ku sudah kacau, mental ku jatuh, rasanya aku ingin menyerah untuk hidup saja, toh tidak ada alasan lagi aku hidup.


"Hei, kau menangis." Alan berhenti sambil menoleh ke arahku


"Eh...," Aku terdiam lalu memegangi wajahku, basah akan air mata.


"Kau masih memikirkannya ya?" Alan bertanya iba.


"Iya. Kau tahukan hal seperti itu sulit di lupakan." Aku mengusap air mata.


"Jangan pupus harapan."


"Memangnya aku memiliki alasan untuk hidup?"


"Entahlah, tapi ayahmu meminta mu untuk hidup bahagia,"


"Memangnya aku bisa bahagia!?" Seruku.


"Entahlah...tapi jika kau mati ayah mu bakal sedih, loh," Alan berkata sedih. Aku masih terdiam, air mata masih mengalir deras membasahi wajahku. Hening untuk sesaat.

__ADS_1


"Kau bisa menjadi pemburu, membalaskan perbuatan para iblis."


"Entahlah. Kurasa balas dendam tidak akan menyelesaikan masalah."


"Kalau tidak membantai para iblis sama saja bukan?" Alan berkata santai menatap langit-langit. Aku hanya terdiam, apa yang di katakanya benar jika melihat dari apa yang terjadi padaku.


"Ayo teruskan perjalanan," Alan segera menaiki anak tangga kembali, aku hanya mengangguk dan mengikutinya. Sekitar lima menit menaiki anak tangga, akhirnya kami sampai di gerbang desa. Gerbang itu terbuat dari kayu coklat atau hitam? Entahlah di sini terlalu berkabut jadi sulit untuk melihatnya, gerbang itu setinggi lima meter. Alan pun membuka gerbang, perlahan gerbang itu terbuka lebar


"Ku ucapkan sekali lagi. Selamat datang di desa pemburu," Alan membentangkan tangannya seolah seperti menyambut. Aku terdiam, takjub melihat pemandangan perdesaan di balik Alan. Rumah-rumah khas desa berjejer rapih, petakan sawah hijau tersebar di sana-sini. Hutan kabut yang memberikan kesan mistis menjadi background pedesaan.


Alan pun memberi isyarat untuk mengikutinya, aku pun menurutinya. Mata coklatku melirik sana-sini, memperhatikan detail pedesaan. Maklum aku ini anak kota, hampir seumur hidupku aku tidak pernah datang ke pedesaan. Aku sangat tertarik dengan keasrian dan ketenangan desa dan ingin sekali melihatnya langsung dengan kepala mataku sendiri.


"Kau agak unik. Biasanya orang-orang kota akan memasang ekspresi jijik saat melihat pedesaan," Alan berkata pelan.


"Ya...aku agak berbeda. Kau tahu keasrian alam seperti ini seratus kali lebih baik dari hiruk piruk kota," Aku menjawabnya. Entah kenapa rasanya sekarang hatiku lebih tenang.


"Ngomong-ngomong, kabut yang kita lihat dari bawah tadi itu sihir kan?" Aku bertanya.


"Ya. benar." Alan menjawab singkat.


Aku menghirup udara sambil berjalan di atas jalanan tanah. Ku masukan tangan ke saku celana ku guna menghangatkan. Tidak ada percakapan lagi di antara kami hanya suara angin berhembus yang mengisi.


Drap Drap


Aku dan Alan refleks menoleh ke sumber suara. Dari kejauhan seorang ibu berlari sambil menggendong seorang bocah di punggungnya. Wajah ibu itu terlihat begitu kacau, wajahnya di penuhi air mata, rambutnya acak-acakan, sambil berlari ibu itu menangis tersedu-sedu.


Alan yang melihat itu segera balik kanan dan berlari kecil kearah ibu itu. Aku hanya terdiam sambil bertanya-tanya.


"Alan!" Ibu itu berseru histeris, perlahan ia menurunkan bocah di punggungnya.


"Ada apa? Kenapa dengan Anang?" Alan bertanya cemas.


"Iblis merasukinya..iblis dari hutan kabut merasukinya! Selamatkan dia!" Ibu itu berseru histeris, memecahkan sunyi di malam hari.


"Tenang aku pasti akan menyelamatkannya!" Alan pun mengangkut anak itu kepundaknya kemudian berlari melewatiku.


"Ayo! Ikuti aku." serunya sambil berlari. Aku pun mulai berlari untuk menyusulnya. Sedetik, aku sudah menjajari langkahnya. Anak yang di gendong Alan menggila, ia berteriak dan meronta-ronta.


"Apa yang terjadi?" seruku kaget.


"Iblis berusaha menguasai tubuhnya!" Jawabnya sambil mengendalikan rontaan anak itu.


"Kita akan kemana?!" seruku terengah-engah, orang ini berlari sangat cepat.


"Kerumah kepala desa! Di sana kita dapat menyembuhkan anak ini" Serunya tertahan.


ARGH!!!ARGH!!


Anak itu meraung-raung semakin kerad, rontaannya semakin kuat, aumannya terdengar seperti hewan buas, gigi-giginya berubah menjadi taring, pupil matanya mengecil memancarkan nafsu membunuh. Alan hanya bisa menahan rontaanya sambil terus berlari.


KRAK!


Mataku membelalak saat menatap sumber suara itu, Alan hanya bisa berteriak tidak percaya. Kepala anak yang ia gendong berputar seratus delapan puluh derajat.


"Tidak!!" Alan berseru histeris. Ia pun semakin mempercepat larinya dan meninggalkan ku di belakang, aku yang terengah-engah dan kaget hanya bisa terus berlari mengikutinya agar tidak tersesat. Ku kepalkan tanganku, ku gigit bibir ku kuat-kuat, amarah di dalam dadaku mulai meluap-meluap.


Kurasa aku ingin menjadi pemburu. Melihat semua yang iblis lakukan membuat ku ingin membantai mereka.

__ADS_1


Namun secara bersamaan ada perasaan lain yang bertentangan dalam kalbu ku.


__ADS_2