Pemburu Dan Teratai Putih

Pemburu Dan Teratai Putih
chapter four


__ADS_3

Malam 21.00, Di loby bioskop


Radit bertopang dagu, iris coklat gelap itu menatap poster film di dinding dengan bosan. Sudah hampir satu jam Radit dan keluarganya menunggu di loby untuk menunggu jadwal mereka. Seharusnya mereka sudah duduk di dalam dan menikmati film dari satu jam yang lalu, namun karena ada kesalahan dalam memesan tiket lewat aplikasi, mereka terpaksa harus membeli tiket yang jadwalnya lebih malam.


Radit menoleh ke kanan, ia pun diam sejenak memerhatikan Isabella yang tertidur duduk, wajahnya terlihat begitu menderita seolah ia tidak menikmati tidur nya.


Radit pun teringat sesuatu, ia pun menempelkan punggung tangannya ke dahi Isabella, mengecek suhu badan.


"Hangat." Gumam Radit dengan nada khawatir


"Tidak usah dikhawatirkan," Isabella berkata lemah, matanya perlahan membuka.


"Bagaimana tidak, wajah mu terlihat menderita begitu," Radit menatap khawatir orang di sampingnya.


"Ini kan salahku sendiri, seharusnya aku tidak ikut saja dari awal karena tahu aku sudah tidak enak badan dari rumah. Kupikir itu bukan masalah, namun ternyata tubuhku berkata lain." Isabella tersenyum lemah, wajahnya terlihat begitu pucat, mata merah yang selalu terlihat bersemangat itu kini redup.


"Studio enam sudah di buka," Suara itu bergema di ruangan loby, menandakan bahwa mereka harus segera memasuki studio.


"Ayah dan ibu mana?" Radit menoleh kanan-kiri.


"Itu," Isabella menunjuk kesebelah kiri.


Radit melihat apa yang di tunjuk Isabella. Dari kejauhan, ayah dan ibunya sedang berjalan kearah mereka sambil bergandengan, sedangkan sisa tangan mereka di gunakan untuk membawa wadah popcorn jumbo, mereka berdua terlihat berbincang. Ibu Radit bahkan sesekali tertawa riang, ayah Radit yang melihat keberadaan anaknya mempercepat laju mereka. Radit dan Isabella pun bangkit berdiri dan berjalan menuju kedua orang tua serasi itu.


"Nak Isabella kamu tidak apa-apa?" Ibu Radit bertanya khawatir melihat sahabat dekat anaknya selemas ini.


"Saya tidak apa-apa kok." Isabella mengangguk lemas.

__ADS_1


"Kalau kamu kedinginan, peluk saja anak ku itu." Ayah Radit berkata dengan senyuman menyebalkan.


"Ayah," Radit mendesah sebal, ayah Radit hanya menaikan bahu.


"Sudah ayo kita segera ke studio atau kita ketinggalan filmnya." Ibu Radit mengingatkan. Mereka pun setuju dengan Rencana itu dan memutuskan untuk bergerak. Mereka pun memasuki studio, udara AC yang dingin dan suara gaduh film menyambut mereka. Radit melihat sana-sini mencari tempat duduk dan akhirnya menemukannya. Ia pun mengajak rombongannya untuk duduk. Setelah semua duduk, cahaya lampu di matikan dan film pun di mulai.


"Ngomong-ngomong genre Film yang kita tonton ini apa?" Isabella bertanya di sebelah Radit.


"Horor." Radit berkata santai


"Hantunya?"


"Em...zombie?"


Isabella menelan ludah, ia menutup mulutnya dengan tangan, iris matanya mengecil, namun Radit tidak bisa melihat Isabella karena gelap.


Film di mulai memperlihatkan suatu Desa yang mati, lalu scene berganti ke dalam sebuah gubuk tua. Di sana seseorang cowok sedang terpojok, ia mengacungkan Kapak ke depan, wajahnya tegang, keringat membanjirnya.


"Menjauh!!" Seru cowok itu.


Namun zombie tidak punya otak, ia justru malah melompat kearah cowok itu dan menerkamnya, menggigitnya sebuas-buasnya, darah segar bercucuran dan terciprat kemana-mana.


Isabella tidak kuat lagi, ia pun berdiri dan segera berjalan menuju keluar studio. Radit yang melihat itu terheran-heran dan memutuskan mengejarnya.


Isabella berlari menuju toilet, mengabaikan pandangan orang di sekitarnya. Tangannya yang terus membekap mulutnya semakin lama semakin kuat, jantungnya berdebar begitu kuat, nafsu membunuh meluap di hatinya, pupil matanya mengecil, memancarkan nafsu membunuh.


Ia pun segera masuk ke toilet wanita dan memuntahkan semua ludah yang terkumpul di mulutnya. Ia terengah-engah kemudian menatap bayang dirinya di dalam cermin.

__ADS_1


Wajahnya sudah berbuah, iris merahnya kini menyala terang, gigi-giginya memanjang menjadi taring, keringat membanjiri seluruh wajahnya.


"Daging, Daging..,"Gumam Isabella dengan suara serak, ia mengigit bibir hingga berdarah. Tangannya mencengkeram kuat wastafel.


"Aku butuh daging!! "Isabella berteriak dengan suara serak " berhenti untuk menahan ku sialan, ini juga demi kebaikan hidup mu bodoh!" Isabella berkata murka, ia menunjuk-nunjuk dirinya dalam cermin.


"Kau bukan manusia lagi sialan!! , akui itu!!" Isabella berseru kembali. kemudian ia terdiam sejenak dan tubuhnya terjatuh duduk ke lantai.


"Berisik." Isabella mengeram dengan suara aslinya "ini tubuhku sialan," Isabella terengah-engah, ia mendongak, menatap langit-langit toilet, air matanya menetes membasahi rok yang ia gunakan.


"Kau hanya benalu, diam saja," Isabella berkata sambil terisak-isak, air mata berjatuhan ke lantai, ia mencengkram kuat rok hitam yang ia pakai, rahangnya ia atupkan kuat-kuat sebagai bentuk menyalurkan amarahnya.


"Hidupku punya ku, semuanya aku yang tentukan," Isabella pun berdiri dan berjalan tergontai-gontai menuju pintu toilet, tangganya menyeka sisa tangis, hatinya berharap tidak ada yang mendengarkan ia berteriak.


(***)


Malam 21.00, Di depan rumah Isabella.


Alan berdiri di depan rumah Isabella, iris oranye gelap itu mengawasi dengan teliti sekitarnya. Handphone di dalam sakunya berdering, ia pun meraih handphonenya untuk mengangkat telepon.


"Bagaimana, kau sudah menghabisinya?" Tanya wanita di seberang sana.


"Belum, sepertinya ia sudah tahu aku siapa, mungkin sedang melarikan diri." Alan menjawab.


"Jika kau perlu bantuan hubungi saja pusat." Wanita di seberang sana berkata serius.


"Tidak perlu, aku bisa mengatasi ini sendiri, pusat sedang berantakan sekarang." Alan menjawab.

__ADS_1


"Baiklah, semoga sukses." Wanita itu pun menutup telepon.


Alan menurunkan handphonenya dan menghembuskan nafas berat, ia pun balik kanan dan berjalan pulang. Pedang emas yang ia genggam sedari tadi lenyap menjadi api, kemudian angin malam berhembus memadamkannya.


__ADS_2