
Jam istirahat.
"Alan!!" seorang cewek dari tengah gerombolannya memanggil Alan. Si empunya nama pun menoleh, lalu tersenyum ramah.
"Iya." Ia tersenyum, membuat gerombolan cewek itu mencicit.
"Alan kamu berasal dari negara apa yah kalau boleh tau." Cewek itu bertanya ragu-ragu.
"Rusia, kenapa?" Alan menjawab.
"Ah aku hanya ingin tahu saja...em dah ya." Cewek itu segera pergi ke dalam gerombolannya, kembali berbisik-bisik tak jelas, entah apa tujuan mereka.
Alan berjalan ke meja Radit, dan duduk di kursi Radit. Si empunya kursi yang sedang bermain handphone di kursi Isabella menoleh sebentar, lalu kembali memainkan handphonenya.
"Hai, kalau tidak salah Radit ya?" Alan membuka percakapan.
"Yup, ada apa?" Radit menjawabnya tetapi iris cokelatnya tidak lepas dari handphone di gengaman.
"Bagaimana dengan kerja kelompok nanti?" Alan bertanya.
"Kita akan mengerjakannya di rumahku. Tenang saja." Radit menjawab, sementara itu
Alan mengetuk-ngetuk meja. Suasana menjadi lengang sebentar.
"Kenapa? Kau tidak tahu di mana rumahku?" Radit bertanya memecahkan lengang.
"Kamu jeli juga ya." Alan memuji, Radit hanya angkat bahu.
__ADS_1
"Akan ku share map kerumah ku di whats-pap, eh tunggu kau punya nomor ku?" Radit bertanya.
"Tinggal mengambilnya di grup kan?
Nama mu siapa?" Alan mengambil handphonenya di saku seragam.
"Onee-san."
Alan mengangguk-angguk lalu setelah mencari nama'onee-san', ia pun berdiri dan pamit pada Radit, remaja jenjang itu melangkah keluar kelas. Sialnya, dari koridor, Isabella melesat masuk kedalam kelas. Tubrukan yang tak di inginkan pun terjadi di mulut pintu.
"Aduh maaf-maaf." Isabella berjalan mundur dan mengelus-ngelus kepalanya yang menghantam dada Alan. Jangan tanya kenapa Isabella petakilan, remaja cewek berdarah eropa-asia itu memiliki sifat hyper aktif.
"Tidak apa-apa kok." Alan berkata dingin.
Isabella mendongak dan menatap cowok tinggi itu. Iris oranye gelap Alan menyorot dingin, ekspresi wajahnya mungkin datar tapi Isabella tahu Alan tidak menyukainya. Isabella menelan ludah, ia tidak pernah merasakan tekanan seperti ini.
"Maaf ya, dah." Dan seketika ia tersenyum hangat dan berjalan melalui Isabella. Isabella menerawang sebentar punggung cowok itu, sebelum akhirnya berjalan menuju mejanya.
Di apartemen Radit, ruang makan.
"Dit," Isabella mendongak ke atas. Ia tengah duduk di kursi dengan posisi malas-malasan, iris merah darahnya menerawang langit-langit.
"Apa?" Radit yang duduk di seberangnya menjawabnya.
"Menurutmu aku seperti apa orangnya?"
UHUK!
__ADS_1
Dan secara bersamaan Radit tersedak saat meminum coca cula, lalu tertawa terbahak-bahak. Isabella mengerutkan dahi, tidak paham akan fenomena yang terjadi.
"Kamu itu gak berubah-rubah orangnya, dari tiga tahun terakhir kamu masih begitu-begitu saja." Jawab Radit.
"Aku tidak bertanya tentang perkembangan, Radit." Isabella menghela nafas.
"Em...kamu itu suka makan, kamu itu pemalas, kamu itu berisik, kamu itu cengeng-"
"Tolong jangan hina aku." Isabella memotong pembicaran Radit dengan sinis, dan itu justru membuat senyuman mengembang di wajah Radit.
"Kamu orang yang baik hati, asyik. Dan yang terpenting kamu adalah temanku satu-satunya." Radit berhenti sejenak.
"Lalu?" Isabella menaikan sebelah alisnya.
"Lalu, itu artinya kau lebih berharga dari Berlian." Radit tersenyum.
"Masih ada yang lebih mahal loh dari berlian." Isabella berkata mengejek.
"Perumpamaan GENDUT!!" Radit melakukan penekanan pada kata terakhir.
"Aku gak gendut aku langsing tahu!!" Isabella langsung berteriak dan berdiri untuk membuktikan kata-katanya.
"Iya-iya." Radit mengangguk-angguk sambil tertawa puas. Tidak terima di ejek, Isabella menimpuk Radit dengan kotak tisu di hadapannya, kemudian ia ngacir keluar dengan kecepatan penuh.
"Makasih sudah menganggap ku berharga!!" Ia meneriakan itu bersamaan saat menutup pintu apartemen.
Radit hanya tersenyum tipis, sambil memandangi kotak tisu yang di lemparkan tadi.
__ADS_1
"Sakit tahu!!!" Ia berseru kesal dan melemparkannya ke sembarang tempat.
Sementara itu di lorong apartemen, Isabella berjalan tertatih-tatih, air mata berlinang membasahi wajahnya.