Pemburu Dan Teratai Putih

Pemburu Dan Teratai Putih
chapter eleven


__ADS_3

1 Juli 2020


Enam bulan terasa begitu berat bagiku. Terasa begitu lama dan menyiksa, rasa-rasanya aku mau gila karena rasa sakit yang luar biasa. Tentu karena selama itu, aku melatih tubuhku dengan ekstrem.


Seperti berlari bolak-balik sejauh satu kilo meter sambil mengangkut sekeranjang sayur-mayur seberat empat puluh kilo gram, kemudian di tambah dengan latihan menghindari tebasan-tebasan pedang yang kecepatannya di luar nalar selama lebih dari empat jam. Percaya atau tidak, istirahatku selama sehari hanya empat jam, dan tentu saja hampir setengahnya aku gunakan untuk tidur.


Rasa sakitnya hampir membuat ku gila, tetapi kebencian dalam hati memperteguh tekad ku. Terus membuatku bertahan hingga hari ini.


Manfaat dari latihan ini sangat luar biasa! Tidak sia-sia neraka selama enam bulan itu. Aku merasa menjadi manusia super! Tenaga ku seperti tidak terbatas! Refleks ku benar-benar hebat! Seluruh Indra ku bekerja lebih peka.


Banyak hal yang terjadi pada diriku. Aku bertemu banyak orang di desa ini, belajar banyak hal tentang arti saudara dan kebersamaan. Saling menolong adalah sumpah serapah mereka. Juga mempelajari sejarah dan dongeng-dongeng terkenal di desa ini.


Orang-orang hebat dengan berbagai keunggulan juga kutemui. Contohnya paman Waja, ia adalah seorang pandai besi yang ulung di desa. Kemampuan ia dalam membuat perlengkapan pemburu yang tidak bisa di remehkan, berbagai senjata keren di ciptakannya. Puluhan senjata mengkilap di gantung rapih di dinding batu. Setidaknya itu yang kulihat Minggu kemarin.


Sekarang fokus padaku. Setiap harinya aku berlatih bersama Alan, tapi terkadang beberapa hari aku berlatih sendiri karena Alan yang harus menjalani misi. Setiap harinya Alan meningkatkan kesulitan latihan, rekornya aku pernah menghindari tebasanya hingga lima belas jam tanpa henti, dan setelah itu tubuhku KO dan tidak bisa bergerak selama beberapa hari.


Namun setelah pulih aku langsung di seret lagi dalam latihan neraka-nya. Hal itu terus terjadi selama enam bulan terakhir, hingga aku berkembang pesat sampai sekarang.


Dan sekarang tahap refleks telah aku lewati. Itu yang di katakan Alan barusan.


"Jadi aku bisa belajar sihir." Tanyaku agak bersemangat.


"Belum, masih dua tahap lagi." Alan menggeleng.


Aku menghembuskan nafas berat. Tanda kecewa.


Alan yang melihat ekspresi ku berbicara "Tahapan refleks mengembangkan potensi maksimal tubuh manusia. Gunanya untuk menciptakan stamina tanpa batas untuk melawan para iblis yang tak terkalahkan. Selain itu, memperkuat tubuh untuk tahapan selanjutnya, tahap kedua."


"Apa yang terjadi di tahap selanjutnya?"


"Tahap kedua di sebut tahap penyesuaian. Di tahap ini kau harus bisa membiasakan tubuhmu untuk menerima energi kehidupan. Dengan mengaliri energi kehidupan keseluruhan tubuh secara teratur, tetapi di perlukan fokus tingkat tinggi, sebentar saja kehilangan fokus semuanya akan kacau." Alan berjalan ke tepi danau hijau di hadapan kami "Namun kau harus menemukan titik energi kehidupan mu terlebih dahulu." Sambungnya.


Alan duduk bersila di tepi danau. Kemudian ia menghirup nafas dalam dan menghembuskannya dengan perlahan.


"Fokus dan tenang adalah kunci menyelesaikan tahap ini," Alan berkata pelan, matanya di pejamkan dengan hikmat. Aku memutuskan melakukan yang di lakukannya.


Aku memejamkan mata dan berusaha mengosongkan pikiran. Aku merasa tenang dan rileks. Angin lembut membelai wajah ku, keheningan hutan menenangkan pikiran, riak air danau menjadi lagu indah yang menenangkan jiwa.


Gelap namun begitu damai. Hatiku merasa damai dan tenang, setidaknya itu yang kurasakan lima belas menit terakhir, namun semakin lama ada hal aneh yang terjadi padaku.


Kehangatan meluap di dadaku, dan dengan perlahan kehangatan menjalar ke seluruh tubuhku. Awalnya mungkin terasa begitu nyaman, namun lama-lama hangat itu membuatku sesak. Sedetik kemudian aku tersentak bangun, nafas ku memburu, keringat dingin mengguyur wajah. Aku kehilangan fokus.


Aku menoleh kearah Alan dan hal janggal terjadi pada pengelihatan ku. Aura hijau mengalir di seluruh tubuh Alan, tidak hanya Alan sekitar ku juga sama. Terdapat Aura hijau yang mengalir dengan teratur di pepohonan juga di air danau.


"A..Alan kenapa banyak warna hijau di sini?" Kata ku terbata-bata.


"Itu artinya kau telah menemukan titiknya," Alan pun membuka mata "Tubuh mu sudah pada titik rileks, semakin rileks tubuh mu maka semakin baik kerja inderanya. Artinya dengan indera tubuhmu sekarang, kau bisa melihat energi kehidupan di dalam tubuh mu atau di luar, tinggal mengendalikannya dengan fokus tinggi."


Alan berhenti sejenak kemudian memandang ku dengan serius "Lakukan hal tadi lagi, jika kau merasakan kehangatan cobalah alirkan ke seluruh tubuh mu."


Aku mengangguk dan melakukan hal tadi. Lima menit kemudian rasa hangat muncul di dadaku kembali, kali ini aku mencoba menyebarnya keseluruh tubuhku.


Hangat mungkin terasa nyaman di beberapa menit awal, namun rasa hangat itu mulai menyakiti tulang-tulang di seluruh tubuhku, rasanya tulang-tulang ku seperti di pukul hingga memar, aku mengatupkan rahang, aku tidak tahan lagi.


Sedetik kemudian aku tersentak bangun tak kuasa menahan sakit, nafasku menderu di iringi dengan keringat yang mengguyur wajah.


"Wajar masih baru pertama kali." Alan bergumam menatap datar diriku.


"Kenapa...begitu menyakitkan," Aku berkata di tengah nafas yang memburu.


"Energi kehidupan memiliki kekuatan yang luar biasa. Dengan hanya mengaliri energi itu keseluruh tubuh, kau dapat menjadi manusia super layaknya Superman, hanya dengan sekali tinju batu dapat hancur lebur." Ia berkata sambil berjalan kearah batu besar lima meter di kanan ku.


"Seperti ini." Alan mengulurkan tinju kebelakang, lalu dengan tenaga penuh melayangkanya kedepan.


BUM!


Dentuman menggelegar megah, Batu di hadapan Alan hancur lebur, kepingannya berguguran ke tanah.


"Namun jika tidak mengontrol jumlahnya dengan baik, energi kehidupan justru menghancurkan tubuh kita. Namun resiko itu berkurang berkat latihan tahap pertama. Sekarang cobalah lagi, coba sebarkan rasa hangat itu dengan merata." Alan mengatakannya sambil berjalan masuk kedalam hutan yang lebih jauh.


"Hei kau mau kemana?" Aku berseru memanggil.

__ADS_1


"Memanen melati merah!" Serunya tanpa berbalik. Lima detik kemudian punggung mahkluk jangkung itu menghilang dari pandangan.


Aku menghela nafas perlahan, kemudian menghirup nafas dalam. Mata ku di pejamkan dengan hikmat. Tahap kedua baru saja di mulai .


(***)


Hosh....hosh


Aku menelentangkan diri ke tanah, mata coklat ku menerawang langit biru yang berawan. Nafasku menderu, peluh mengguyur wajah. Empat puluh menit, empat percobaan, gagal semua. Dan yang terakhir hampir mematahkan tulang rusukku.


Tahap ini menguji mental ku dengan rasa sakit yang lebih parah dari tahapan pertama. Jika tahapan pertama rasa tubuh ku rasanya mau remuk, di tahapan kedua tubuhku rasanya mau lebur, hancur lebur menjadi bubur lembek. Aku tidak bercanda dan melebihkannya, sungguh itu yang ku rasakan.


Aku memejamkan mata, menikmati semilir angin lembut.


Srak


Aku refleks menoleh ke sumber suara, iris coklat ku menatap awas semak belukar sepuluh meter di kanan ku.


Srak


Kali ini aku melompat berdiri. Ku pasang kuda-kuda untuk berjaga-jaga jika itu hewan buas atau iblis kabut, sebutan untuk iblis yang tinggal di hutan ini. Mereka adalah iblis yang menjengkelkan, mereka sering merasuki anak-anak desa sebagai bentuk pembalasan.


konon dulu iblis-iblis kabut adalah para roh baik penjaga hutan, namun suatu ketika hutan yang mereka jaga terbakar habis, dan para roh menuduh jika seorang penduduk desa sengaja membakar rumah mereka.


Namun para roh tidak memiliki bukti dan mereka juga tidak mengetahui siapa yang membakar hutan. Pada akhirnya sebagian para roh baik yang tidak dapat memaafkan manusia memutuskan untuk memusuhi manusia dan bersumpah membalaskannya.


Lupakan soal cerita itu karena suasana di sini makin menegang, tinjuku mulai mengeras. Sosok dari balik semak itu melompat keluar, menampakan wujudnya.


Seekor kelinci.


Aku menghembuskan nafas lega sekaligus kesal. Aku berjalan perlahan mendekati kelinci itu, ku raih melati merah dari saku ku dan mengulurkan nya kearah kelinci itu.


Jangan menganggap ku gila, karena pada kenyataanya melati merah di gemari berbagai mahkluk kecuali para roh.


Kelinci itu mengendus melati itu perlahan, kemudian ia bersin-bersin tidak karuan. Aku menjauhkan bunga itu dengan kalap.


Kelinci itu melompat beberapa meter kebelakang, ia mencicit sebentar untuk memulai keajaiban. Tubuh kelinci itu menyebur kan asap putih yang mengepul, sosok mungilnya tertelan ke dalam asap tebal.


"Sembarangan menyodorkan melati merah! Apa kau tidak tahu kalau roh alergi terhadap itu!?" Perempuan itu berseru marah dengan suara cemprengnya .


"Aku bahkan tidak tahu kalau kau itu roh," Kataku dengan ekspresi tanpa dosa.


"Ah...benar juga ya," Perempuan itu tampak berpikir sejenak "Argh..namun kau tetap salah!" kemudian ia berseru berisik lagi.


"Ya..maaf. " Aku memutuskan mengatakannya, walau sebenarnya aku tidak merasa bersalah.


Mataku menyelidik perempuan di depanku. Ia memiliki tinggi yang sama sepertiku, perempuan itu mengenakan gaun putih yang indah. Ia memiliki rambut putih sepanjang bahu, wajahnya yang menawan sedikit memikat ku, matanya yang berwarna biru menatap ku jijik. Ah..iya aku seperti laki-laki cabul saja.


"Maaf." kataku bersalah sambil membuang muka "Ngomong-ngomong kenapa kau disini?"


"Ini kan wilayah kami, jadi bebas dong mau ngapain saja." Ia berkata dengan nada angkuh.


"Oh...ya sudah, dah," Aku balik kanan dan berjalan meninggalkannya.


"Eh bentar!" Ia menarik lengan ku.


"Kenapa?" kata ku ketus. Suara angkuhnya tadi menurunkan kesan menawan pada dirinya.


"Aku....lapar." Ia mengatakan dengan malu-malu, aku bisa lihat dari pipinya yang merona.


"Hah?" Aku mengerutkan dahi, tidak paham.


"Memangnya apa tujuanku kesini selain makanan mu,"


(***)


Kalian mau tahu kenapa aku bisa sesantuy itu bertemu kelinci yang bisa berubah wujud jadi manusia? itu karena aku sudah terbiasa bertemu dengan hal-hal semacam itu enam bulan terakhir.


Roh-roh baik penjaga hutan kabut senang bermain dengan manusia-manusia yang mengunjungi rumah mereka, biasanya seperti ingin di bawakan makan atau semacamnya, yah sifat para roh memang tidak sedewasa manusia.


Interaksi mereka di permudah dengan sihir perubah wujud, mereka dapat menjelma menjadi manusia sesuai yang mereka inginkan dan kasus ini terjadi pada roh kelinci tadi.

__ADS_1


Kami duduk berdampingan di tepi danau hijau. Perempuan itu sibuk dengan bekal ku, kedua tangannya gesit memasukan kacang panggang kedalam mulutnya, dia seperti tidak makan bertahun-tahun.


"Siapa namamu?" Ucap ku basa-basi.


"Aku tidak memiliki nama. Terserah kau mau panggil aku apa." Ia berbicara di tengah kunyahanya.


"Oke. Nona kelinci saja." Aku mengusulkan dengan hati-hati, takut suara cemprengnya memecahkan gendang telingaku.


"Boleh," Ia mengangguk setuju.


Lenggang, tidak ada pembicaraan di antara kami. Nona kelinci masih sibuk makan, sedangkan aku menatap teratai emas di tengah danau, teratai itu masih belum mekar.


"Teratai emas ya," Nona kelinci berhenti sejenak dari makannya.


"Iya...tumbuhan ajaib yang konon hanya mekar sepuluh tahun sekali," kataku.


"Dan hanya atas izin roh danau, teratai emas boleh di petik," Sambungnya.


"Dan dengan keajaibannya, dapat memisahkan roh yang menyatu dengan tubuh fisiknya," Kata kami berbarengan.


Kami saling tatap, menukar tatapan kaget.


"Kau tahu tentang dongeng itu?"


"Tentu. Dongeng si nelayan tamak telah melegenda " Ia berhenti sejenak "Tapi baru si nelayan yang bisa membuktikan keajaiban nya. Dan yang lain berakhir menjadi santapan roh danau."


"Bukankah seharusnya roh itu sudah dianggap iblis? Ia memakan manusia,"


"Manusia seenaknya mengecap roh sebagai iblis, coba kau lihat lagi, dia memakan para manusia itu karena manusia sendiri hampir membunuhnya.


Sang nelayan seenaknya mengambil teratai itu untuk mengobati anaknya tanpa mempedulikan keadaan si roh danau, padahal ia tahu bahwa teratai itu adalah sumber kehidupan roh danau


Mengorbankan segalanya untuk menyelesaikan masalah salah satu pihak tanpa mempedulikan dampak bagi pihak lain, egois sekali manusia." Ia berkata dingin, sorot matanya menatap tajam teratai emas. Sedetik udara menjadi tegang.


"Ya sudahlah aku malas memikirkannya. Terimakasih atas kacangnya," Nona kelinci berdiri dan berjalan kearah ia datang. Tangan mungilnya melambai-lambai kearah ku, namun sebelum masuk kedalam hutan ia menengok kearah ku.


"Cepat lah latihan dan jadilah lelaki tampan nan gagah." Ia mengatakannya dengan nada jenaka, Aku hanya membalasnya dengan senyuman tipis, dasar para roh memang kekanak-kanakan. Dan setelah itu sosoknya lenyap dalam tebalnya kabut hutan.


Drap!Drap!


Aku menoleh kearah suara dan menemukan Alan yang berdiri tidak jauh dari ku, ia ternegah-engah seperti habis berlari jauh, peluh membasahi tubuhnya, matanya menatap ku dengan panik.


"Hei, kenapa?" Aku mengerutkan dahi, aku tidak paham dengan sikapnya.


"Kau tidak apa-apa?" Ia mengatakannya dengan nada khawatir.


"Apa maksudmu, dari tadi aku di sini?kau kenapa sih?"


"Keberadaan energi kehidupan mu tiba-tiba menghilang, dan di gantikan dengan sesosok yang memiliki energi kehidupan yang luar biasa. Aku pun panik dan segera kesini, namun yang ku dapati hanya kabut tebal yang menghalangi penglihatan.


Berkali-kali aku memanggil mu namun tidak ada jawaban, akhirnya aku menjelajah ke dalam kabut itu untuk mencari mu. Namun aku malah tersesat selama tiga jam dan tidak bisa kembali, hingga pada akhirnya kabut itu menghilang sehingga aku bisa menemukan mu." Alan mencoba mengatur nafas, wajahnya terlihat begitu panik.


"Sebenarnya kau bertemu dengan siapa?" Alan berkata serius, iris oranyenya menatap tajam kearah ku.


"Roh hutan. Ia berwujud kelinci." Kataku.


"Buruk. Sangat buruk." Alan menggeleng tidak percaya, lalu berjalan cepat kearah desa.


"Hei? Apa yang terjadi?" Seruku sambil mengikutinya di belakang.


"Pemimpin iblis kabut kembali, ratu kelinci kembali dari tidurnya. Artinya tidak lama lagi perang besar akan terjadi."


"Perang?"


"Ya. kali ini dia akan menepati janjinya untuk membalas dendam. Tidak lama perang antar ras yang terjadi sepuluh tahun yang lalu kembali berkecamuk."


(***)


Halo mina-san!. Author di sini hanya mengingatkan untuk menekan vote Jika menyukai cerita ini!. Follow author untuk mengikuti perkembangan kisah Radit!. Author jamin kisah ini seru dan sulit untuk di prediksi!.


Btw ini sudah masuk konflik utama BAB ini loh.

__ADS_1


Sekian dari saya dadah Babay


__ADS_2