
Minggu, di apartemen Radit.
Radit membuka pintu depan dan berjalan keluar. Namun, sebelum ia menutup pintu, ibunya memanggil.
"Radit...mau kemana?" Tanya ibunya dengan lembut.
"Ibu, maaf lupa memberi tahu. Soalnya ibu tadi tidur begitu lelap, jadi aku tidak tega membangunkan. Em...aku ada kerja kelompok jadi mau pergi, mungkin aku akan kembali saat sore," jelas Radit. Sebenarnya dia ingin kerja kelompok saja di apartemennya, tetapi teman-teman kelompoknya menolak, karena jarak rumah Radit yang cukup jauh.
"Ah...begitu. Hati-hatilah di jalan." Ibu Radit memaksakan senyuman lembutnya. Namum, itu tidak bisa menutupi kulitnya yang pucat. Dengan lembut, ia menutup pintu.
Radit menghela nafas berat, lalu segera berjalan menuju lift. Hatinya kini merasa bersalah karena harus meninggalkan ibunya yang sedang sakit-sakitan. Akhir-akhir ini ibu Radit sering sekali kelelahan bahkan hingga collapse, padahal ia tidak bekerja secara berlebihan.
Demi memenuhi kebutuhan hidup di tengah lingkungan kota, ibu dan ayah Radit harus membanting tulang mencari nafkah hingga malam, bahkan ayahnya harus bekerja di hari libur ini.
Pintu lift terbuka, Radit pun melangkah keluar dan menuju pintu keluar apartemen.
(***)
Di kafe
Penat dengan tugas mereka, kelompok Radit memutuskan untuk beristirahat sebentar. Meja yang tadi di penuhi buku kini berganti dengan sebuah botol yang berpusing kencang.
Lima remaja duduk melingkari sebuah meja, mereka menatap tegang botol yang berpusing di tengah meja, beberapa ada yang menatap biasa saja. Botol itu pun berhenti, ujung botolnya mengarah pada orang yang duduk di sebelah Radit, Isabella.
"Isabella!! Kamu jadi!" Aul yang duduk di sebelahnya berseru riang. "Truth or Dare?"
"Dare aja deh." Isabella berkata tidak semangat.
"Ada yang mau tahu rahasia gelap?" Aul bertanya antusias kepada teman-temannya.
"Aku." Jessie mengangkat tangan, "Isabella berikan satu kalimat yang mencerminkan Radit." Radit yang sedari tadi memainkan handphone, menoleh ke sumber suara.
"Radit..em..webooo nolep?" Isabella berkata polos.
"Hahahaha!!! Kamu jujur sekali!!" Jessie dan Aul tertawa terbahak-bahak.
"Jadi begitu caramu gendut?" Radit melirik Isabella dengan sinis.
"Maaf anda buta atau apa, apa kau tidak melihat kelangsingan tubuh ku ini?"
__ADS_1
"Kau mungkin langsing tapi kau makan seperti orang gendut yang rakus."
"Apa maksudmu?"
"Siapa yang menghabiskan setoples kacang Sabtu lalu."
Keduanya berdebat, Aul dan Jessie menahan tawa mereka dengan membekap mulut mereka sendiri. Isabella dan Radit saling pandang sebentar, lalu saling membuang muka.
"Aku haus beli minum yuk bel." Aul berdiri mengusulkan ide untuk mencairkan suasana, ia pun menghampiri Isabella.
"Eh...gamenya baru satu putaran," protes Isabella
"Nanti habis beli minuman bisa di lanjutkan, kalian mau nitip gak?" Aul menoleh kearah Radit dan Alan secara bergantian.
"Boleh, mocacino saja." Radit menjawab tanpa melepaskan tatapannya dari handphone.
"Alan?"
"Sama seperti Radit," jawab Alan.
Aul mengangguk lalu ia menarik paksa Isabella untuk berdiri. Setelah Isabella berdiri, ia pun berjalan kearah Jessie dan melakukan apa yang tadi ia lakukan terhadap Isabella.
"Kalian berdua sangat akrab, yah." Alan bergumam sambil bertopang dagu, iris matanya memperhatikan ketiga cewek itu, sebenarnya ia memperhatikan Isabella.
"Em, Siapa? Isabella?" Radit bertanya tanpa menoleh.
"Iya."
"Memang, sudah hampir tiga tahun kami berteman." Radit menjawab santai
Dan seketika Alan terdiam. Matanya yang sedari tadi menatap ketiga cewek itu, kini menatap serius Radit.
"Kenapa kau jadi menatap ku begitu?" Radit sadar sedang di pandangi, walau matanya masih fokus menatap handphonenya.
"Kau harus berhati-hati dengannya. Apa yang kau lihat sekarang, tidak seperti yang kau pikirkan." Alan berkata serius.
"Maksudmu ia bermuka dua?" Radit berhenti bermain handphone dan kini memandang serius Alan. Dalam hatinya ia merasa tersinggung sahabat karibnya di sebut bermuka dua.
"Maaf saja yah aku sudah lebih lama bersamanya." Sambungnya dengan nada serius.
__ADS_1
"Bukan, bermuka dua. Lebih tepatnya menutupi diri." Alan mengoreksi kata-katanya.
"Aku tidak paham, apa maksudmu?" Radit menaikan sebelah alisnya.
"Aku hanya ingin memperingati mu, apa yang kau lihat tidak seperti apa yang kau pikirkan." Alan mengulangi katanya dengan serius. Kemudian dia berdiri dan berjalan menuju kasir, meninggalkan Radit yang mengerutkan dahi sendirian.
(***)
Di apartemen Radit.
Di lorong apartemen, Radit berjalan lesu karena lelah dan lapar sehabis kerja kelompok. Bagaimana tidak, ia berangkat pagi jam sembilan dan pulang jam lima sore.
Dengan tidak semangat ia membuka pintu apartemennya, dan tidak di sangka orang yang paling ia tunggu menyambutnya dari ruang keluarga dengan senyuman hangat. Kacamatanya yang bundar juga jenggot yang di potong rapih menambah kesan kehangatanya.
"Radit." Ayah Radit tersenyum hangat, ia sedang duduk di sofa sembari menikmati kopi hitam. Radit tersenyum dan berlari pelan kearah ayahnya, lalu duduk di sebelahnya.
"Kangen ayah?" Ayah Radit tersenyum hangat pada anaknya sembari menaruh cangkir transparan di atas meja.
"Lebih tepatnya ibu sih." Radit menjawab dengan nada mengejek.
"Oh...jadi kamu gak kangen, kecewa ayah." Ayah Radit berpura-pura kecewa.
"Enggaklah, Radit selalu rindu ayah." Radit pun memeluk ayahnya yang sudah berkepala empat itu, ayah Radit pun ikut memeluk putranya, tangannya mengusap-usap lembut rambut pendek remaja lima belas tahun itu.
"Anak ayah sudah besar." ujarnya, ia masih dalam pelukan.
"Dan ayah bau keringat." Jawab Radit yang juga masih dalam pelukan.
"Tentu saja ayah belum ganti baju." Ia pun melapaskan pelukannya, kemudian berdiri.
"Ganti baju mu, nanti malam kita akan pergi ke bioskop bersama Ibu." Ayah Radit mengatakannya dengan semangat.
"Serius?" Radit bertanya dengan antusias.
"Tentu saja kapan lagi kita bisa berkumpul seperti ini," Ia bergumam sebentar, "Oh..ya, ajak teman kamu yang bernama Isabella itu juga sekalian." Sambungnya, lalu ia pun berjalan menuju kamar mandi.
"Yes!" Radit mengepalkan tinju senang, lalu dia pun segera berlari kearah kamarnya untuk meng-chat Isabella.
Hari ini akan menjadi malam terindah yang tidak akan pernah Radit lupakan. Hatinya terasa berbunga-bunga, kebahagiaan seakan meledakan hatinya. Berkumpul bersama dengan keluarga yang ia cintai juga seorang yang paling berharga baginya, sudah lebih cukup bagi Radit.
__ADS_1