
“Apa jika pangeran kecil menjadi raja, kehidupan akan lebih baik?”
“Itu harus, paling tidak tidak akan seburuk sekarang”, kata Tae Ha optimis. Un Nyun terpikir untuk melepaskan Tae ha dan membiarkannya menjalankan misi besarnya. Tapi Tae ha mengulurkan tangannya kepada Un Nyun. Dia ingin Un Nyun tetap di sisinya.
Han Seom, pangeran kecil dan dayangnya juga beristirahat di sebuah gua. Han Seom lalu menjelaskan pada dayang pengasuh bahwa dia sebenarnya mau menyelamatkan pangeran kecil. Dia bukan orang yg suka mengambil keuntungan apalagi mengkhianati rekan dan atasannya sendiri.
Han Seom bercerita bahwa jendralnya memintanya pura-pura berkhianat agar dia bisa selamat keluar dari penjara dan menjaga pangeran. Han Seom sudah lama menyukai dayang itu. dia ingin memboyong dayang itu bersamanya. Mereka bertiga lalu kembali berjalan ke utara. Han Seom dengan bahagia berbincang-bincang dengan dayang yang disukainya. Dia lalu bertanya nama dayang itu. Dayang iu malu-malu menjawabnya.
Tiba-tiba dari belakang melesat sebuah kayu tajam dan menembus dada dayang itu. Hwang chul wong sudah mengikuti mereka. Han Seom syok. Di akhir ajalnya dayang itu ingin bicara
“Namaku jang…pil… soon”. Dayang iu pun meninggal, Han Seom menangis tapi dia harus segera lari membawa pangeran kecil.
Han Seom terus berusaha lari sambil menggendong pangeran kecil. Hwang Chul Woong tak lama berhasil menyusulnya juga. Mereka dulu di pasukan yang sama, pangkat Han Seom masih di bawah Chul Woong.
Mereka bertarung, Han Seom kewalahan karena dia sambil harus menggendong/melindungi pangeran kecil dari tebasan pedang Chul Woong. Tangan Han Seom terluka karena harus menahan edang dengan tangannya, kakinya juga terkena sabetan pedang. Dia tahu sulit menandingi Chul Woong, Han Seom kembali lari menggendong pangeran. Song Tae Ha sadar anak buahnya dalam bahaya, dia berjalan terburu-buru, naik turun bukit. Un Nyun kewalahan dan kehabisan nafas. Un Nyun membiarkan song tae ha pergi duluan untuk melindungi pangeran. Song Tae ha bergegas lari. Hwang Chul Woong kembali berhasil mengejar Han Seom. Han Seom sekuat tenaga mengimbanginya, tapi Chul Woong masih terlalu tangguh. Saat genting, datang Song Tae Ha berteriak.
Tae Ha meminta Han Seom pergi dulu membawa pangeran. Tae Ha tidak membawa goloknya dia meminjam pedang Han Seom untuk melawan Chul Woong.
Tae Ha masih menganggap Chul Woong rekannya, tapi Chul Woong hanya menganggap Tae Ha hanya sekali memerintahnya. Pertarungan berlangsung seru juga indah dipandang, mereka bertarung di tepi laut, di bawah batu karang yang terjal.
__ADS_1
Sabetan pedang meraka berkali-kali membelah air di bawah mereka. Song Tae Ha masih unggul dari Chul Woong, perut Chul Woong terkena pedangnya. Lalu Chul Woong pun tidak bisa berkutik. Tapi tae ha
tidak melukainya, dia hanya meminta Chul Woong tak lagi mengejarnya. Song Tae Ha kemudian lari menyusul Han Seom. Chul woong berteriak memanggil Tae Ha dengan kecewa, dia tidak rela Tae Ha tidak bertarung bersamanya sampai akhir.
Un Nyun berjalan sekuatnya ke arah pantai, di tengah jalan dia menemukan golok Tae Ha di sana. Dia mengambilnya. Tae Ha pernah berkata bahwa laki-laki yang meninggalkan senjatanya di sisi seseorang berarti dia akan datang lagi ke sana. Un Nyun lalu duduk menunggu Tae Ha di sana.
Song Tae Ha, Han Seom, tiba di perahu mereka. Tapi song tae ha belum mau pergi.
“Aku harus membawa seseorang bersamaku. Jika aku tidak datang tepat pada waktunya, kau pergilah lebih dulu”.
Tae Ha meminta maaf kepada Han Seom dan pangeran, dia kembali mencari Un Nyun.
Dae Gil masih terluka dan patah hati, dia minum dan pandangannya kosong. Seol Hwa tidak bisa lagi menghibur atau menyuruhnya berhenti minum. Seol Hwa membiarkan Dae Gil minum banyak. Mereka berdua lalu melanjutkan perjalanan berjalan kaki.
Tae Ha kembali mencari Un Nyun, dia melihat Un Nyun sedang duduk menantinya sambil memegang goloknya.
“Kamu menungguku?”, tanya Tae Ha. Un Nyun mengangguk membenarkan. Tae Ha terharu, dia memeluk Un Nyun dan kemudian menciumnya.
Dae Gil masih melihat bayangan Un Nyun. Wajahnya Un Nyun terlihat prihatin melihat Dae Gil. Un Nyun lalu berjalan pergi, bayangan Un Nyun pun semakin lama semakin pudar. Dae Gil menangis…
__ADS_1
Song Tae Ha, Un Nyun, Han Seom dan pangeran kecil berhasil berlayar dan menemukan kapal yang akan membawa mereka kembali ke daratan korea. Song Tae Ha melihat gelagat Han Seom yang murung.
“Apa kamu meninggalkan seseorang di P. Jeju?”, tebak Tae Ha. Han Seom sedih. Tae Ha berkata jika misi mereka telah berhasil Han Seom dapat kembali ke sana. Han Seom berkata dia tidak akan pernah kembali ke . Jeju. Han Seom berterimakasih pada Tae Ha karena perasaannya sekarang sudah lebih baik.
Un Nyun menidurkan pangeran kecil di kamar di kapal. Tae ha terkesan dengan loyalitas Un Nyun. Dia ingin berkata sesuatu pada Un nyun tapi agak bingung
“Saya pria yang banyak menghabiskan waktu di medan perang dan bergaul bersama para prajurit. Jadi saya tidak tahu bagaimana berbicara dengan wanita.Tapi merupakan kehormatan bagiku , karena kamu mau ikut bersama saya”, ujar Tae Ha formal dan kaku.
“Kata loyalitas dan kehormatan adalah kata yang jarang diucapkan pria pada seorang wanita”, kata Un Nyun sambil menahan senyum karena geli mendengar istilah Tae Ha.
Salju turun , cuaca begitu dingin. “Jendral” choi dan Wang Son bepergian tanpa membawa uang. Atas pengalaman playboy Wang Son, mereka bisa berteduh dan makan di rumah seorang wanita. Wang Son dengan pura-pura pintar meramal bahkan berani merayu nyonya rumah. Choi yang kekar dan kalem langsung dikecengin budak perempuan di sana.
Namun Sebelum pagi hari Wang Son mengajak Choi buru-buru pergi dari rumah itu, karena di luar dugaannya suami wanita itu pulang. Seol Hwa membawa Dae Gil ke penginapan. Di sana Dae Gil masih ingin banyak minum dan mabuk. Seol Hwa sepertinya sudah pasrah, rasanya sia-sia menasehati menghibur Dae Gil yang sedang patah hati.
Dae Gil mabuk sampai tertidur. Seol hwa menyiapkan
alas tidur untuk Dae Gil dan dirinya. Tiba-tiba dae gil menarik Seol Hwa kepelukannya.
“Kamu begitu hangat, hidupku ini begitu kacau…”, kata Dae Gil sambil memeluk Seol Hwa erat-erat.
__ADS_1
Pemberontakan budak yang diketuai oleh Eop Bok beraksi lagi. dia kembali berhasil menembak 2 orang bangsawan yang biasa berbisnis dengan Lee GyeongGik (mertua Chul Woong). Dia kembali dibantu oleh seorang budak wanita pemberani yang pandai melihat situasi. Jika ada waktu selang, malam hari dia mengajari teman-temannya menembak.
Rombongan Song Tae Ha sudah tiba di daratan korea. Un Nyun meminta agar dia yang menggendong pangeran kecil agar terlihat alami. Orang akan curiga jika Han Seom yang menggendong pangeran. Dia juga minta Han Seom tidak memanggil Tae Ha dengan sebutan jendral atau orang-orang akan curiga. Tae Ha setuju pendapat Un Nyun. Han Seom dengan ragu memanggil Tae Ha kakak, dan memanggil Un Nyun kakak ipar.