
Tae Ha berkata pada Dae Gil bahwa dia ada orang yang akan dihubunginya lagi. Orang berpengaruh yang dia percaya.
Ketika akan sampai di satu titik mereka terbang melompat dan masing-masing langsung menghabisi anak buah Chul Woong yang ada di depannya. Dae Gil sempat tertawa menurut dia rasanya orang-orang bangsawan tak ada lagi yang bisa dipercaya.
“Aku pernah bersamanya di Cina, dia pangeran ke 2 saya tahu bahwa dia orang yang punya prinsip”, kata Tae Ha.
Dia ingin Dae Gil menyampaikan pesan rahasia padanya
“Jika nanti ada jebakan?”
“Berarti tidak ada lagi yang bisa diharapkan di Joseon”. kata Tae Ha
Di rumah majikannya majikannya Chop Bok sedang bersedih. Dia tidak bersedia untuk dijual atau ditukar dan disuruh menikah. Para budak lain menghiburnya bahwa jalan hidup sebagai wanita budak itu yang lebih baik. Chop Bok ingin memberitahu Eop Bok tapi rupanya Eop Bok kurang tanggap bahwa Chop Bok punya masalah besar.
Raja memutuskan bahwa dia tidak lagi mentolerir wacananya pangeran Won Son lagi. Raja lalu menemui pangeran ke duanya yang sekarang menjadi putra mahkota. Dia berbicara putusannya pada pangeran. Raja tau bahwa pangeran masih bersimpati pada keponakan kecilnya. Yang Mulia meminta anaknya tidak menyebutkan soal dia lagi.
“Membahasnya bisa dibilang pengkhianatan. walau kamu bersimpati padanya, tapi bagi anggota kerajaan simpati bisa menimbulkan pertumpahan darah”, kata Raja.
Dia akhirnya tahu bahwa mereka dari cina dan mengenal suaminya saat suaminya dulu di negeri Cina.
“Apa kau tahu dia ini pangeran Won Son? kau mau mengambilnya ya?”, desak Un Nyun
“Apa menurutmu pangeran akan tetap bisa hidup jika tetap di joseon”, kata orang Cina itu
“lebih baik kau dan dia ikut kami ke Cina”.
Dae Gil telah kembali dari kota. dia membawa makanan dan arak dan menawarkannya pada Tae Ha. Dae Gil berkata dia telah mengirim pesan rahasia itu. Tae Ha ingat perkataan Dae Gil bahwa dia bisa terus hidup asalkan cukup ada 1 alasan untuk dia tetap hidup.
Setelah pesta usai. Wang Son mabuk dan menangis. Dia merasa tak berguna dengan fisiknya yang pincang dan terluka. Choi menghiburnya.
__ADS_1
Seol Hwa berada di kamar Un Nyun sambil terus minum. Dia curhat sambil menangis karena Dae Gil tidak memperhatikannya. Dia meminta Tae Ha jangan berpikir muluk-muluk asalkan bisa hidup aman dan bahagia dengan keluarga sudah cukup. Dae Gil sekarang sering menyebut Tae Ha dengan sebutan
Bangsawan Budak atau Tuan Budak.
“Bukankah kau dulu juga punya mimpi ingin dunia yang tanpa perbedaan status sehingga kau bisa hidup berbahagia dengan istrimu nanti”
Dae Gil hanya tersenyum kecut , tanpa Un Nyun rasanya mimpi itu pun jadi sirna.
Seol Hwa menemui Un Nyun, dia juga membawa rebabnya. Dia lalu menghibur pangeran kecil dengan permainan unik mengenal bunyi-bunyian. Seol Hwa menyukain pangeran, dia ingin punya lima anak seperti pangeran. Seol Hwa berkata bahwa Dae Gil tidak terlihat dari kemaren. dia mengira Dae Gil juga pergi bersama Song Tae Ha.
“Jika mereka menghilang di waktu yang sama, memang mungkin mereka pergi berdua”, kata Un Nyun
“Tidak akan terjadi apa-apakah. aku takut mereka saling bunuh”, Seol hwa khawatir.
“Dulu sepertinya mereka salah paham, tapi sepertinya sekarang sudah clear. Kamu tidak perlu terlalu khawatir”, kata Un Nyun.
Geun Bo mengumpulkan para budak dari berbagai tempat di hutan. Sebelumnya dia juga mengejar dan membunuh budak yang dia curigai berkhianat dan menyelewengkan uang teman-temannya.Geun Bo datang dia memberi semangat kepada budak-budak yang akan ikut menyerang kantor pemerintah.
Putra Mahkota telah menerima dan memecahkan pesan rahasia dari Song Tae Ha. Malam itu dia merenung di kamarnya. Dia lalu memutuskan untuk pergi malam itu. Malam itu Putra Mahkota (paman pangeran Won Son) bersama-sama anak buahnya dengan menyamar sebagai bangsawan biasa keluar istana.
Pergerakan putra mahkota diamati oleh anak buah Hwang Chul Woong. Hwang Chul Wool pernah lama bersama Song Tae Ha, dia bisa memperkirakan langkah yang akan diambil Tae Ha. Dia membawa orang-orangnya mengikuti putra mahkota.
Putra mahkota diam-diam menyelinap meninggalkan rombongannya dan pergi menemui Song Tae Ha. Song Tae Ha dan Lee Dae Gil sudah menunggu di tempat yang dijanjikan. Mereka lalu bertemu di jalan. Song Tae Ha memberi hormat secara resmi pada putra mahkota. Dae Gil cuma mengangguk saja, dia tidak percaya dia bertemu calon raja. dia lalu memperkenalkan diri sebagai slave hunter ke satu di Joseon. Song Tae Ha
lalu berbicara dengan putra mahkota, Dae Gil berjaga-jaga.
Song Tae Ha meminta tolong perihal pangeran Won Son.
“Apa kau berencana menaikkan dia ke tahta?”, tanya putra mahkota
__ADS_1
“Benar”, jawab Tae Ha jujur.
“Kau akan menyingkirkanku dari naik tahta dan minta aku menolongmu? Apa kau ini tidak gila?!”, putra mahkota heran menganggap Tae Ha terlalu nekad padanya.
Tae Ha menganggap putra mahkota sekarang tidak benar-benar berambisi mengambil “jatah” orang lain.
“Aku tidak bisa menolongmu juga tidak bisa membunuhmu”.
“Tapi dia itu tidak punya orang tua, tidak punya siapa-siapa dan Anda adalah pamannya”, desak Tae Ha
Putra mahkota kesal dan frustasi, dia tidak mau didesak.
“Kau pergi saja dari Joseon. Menyebutkan namanya di Joseon dianggap akan melakukan makar”, kata putra mahkota.
Chul Woong sudah bersembunyi di dekat situ. Dia memanggil pasukan tambahan dan berniat menyerang saat putra mahkota sudah pergi. Dae Gil curiga mereka diawasi dia berjalan mendekati tempat persembunyian Chul Woong.
Chul Woong mencari jejak Tae Ha sampai ke hutan. Dia menemukan jenazah Han Seom yang telah ditutup oleh dedaunan di sana. Chul Woong meneliti jejak yang ditinggalkan. Dia juga melihat peta. Dia lalu menyimpulkan bahwa mereka pasti bergerak ke arah yang berlawanan untuk mencari kuda.
Lee Dae Gil dan Song Tae Ha memacu kudanya dengan kencang. perjalanan mereka masih jauh untuk sampai ke Han Nyang. Jauh di belakangnya Chul Woong bersama orang-orangnya yang semuanya bertopi caping dan berbaju hitam berusaha secepatnya mungkin mendapatkan buruan mereka. Mereka juga memacu kudanya dengan kencang.
Pada saat yang sama, para budak sudah berkumpul di kantor pajak (gudang persediaan beras) untuk melakukan penyerangan. Eop Bok kali ini tidak memberitahukan rencana penyerangan mereka ini pada Chop Bok, dia tidak mau Chop Bok kena resiko besar.Geun Bo dan budak yang mahir berpedang maju dan langsung masuk menyerang. Eop Bok dan para budak yang bersenjata memback up dari belakang. Pertempuran seru berlangsung antar budak dan para penjaga kantor pemerintah itu. Mereka juga membakar gudang-gudang di sana.
Dae Gil masih berjaga-jaga instingnya mengatakan ada bahaya di dekatnya. Saat putra mahkota pergi dia berteriak memberi peringatan tanda bahaya pada Song Tae Ha. Hwang Chul Woong pun langsung keluar menyerang. Tapi mereka berdua juga sudah cukup siap. Pertarungan berlangsung seru. Kali ini Tae Ha dan Dae Gil saling bahu membahu menghadapi serangan dari Chul Woong beserta orang--orangnya.
Tiba-tiba ledakan terjadi dari arah kantor pemerintah yang diserang para budak. Ledakan itu cukup keras didengar warga kota sekitarnya, termasuk oleh Dae Gil dan orang-orang yang bertempur dengannya.
Pasukan yang tadinya akan membantu Chul woong langsung berbalik menuju kantor pemerintah. Chul Woong dan anak buahnya masih terkejut akan ledakan yang terjadi. Kesempatan itu langsung dipergunakan oleh Dae gil dan Tae ha untuk kabur, mereka lalu menyebar ke arah yang berbeda.
Pasukan tambahan datang membantu di kantor pemerintah. para budak termasuk Eop Bok bergerak mundur. Salah satu orang temannya bahwa yang terluka karena ledakan tertangkap oleh polisi. Telah ada kesepakatan bahwa mereka akan membunuh teman yang tertangkap dan tak bisa lari. Eop Bok dengan berat dan sangat terpaksa menembak temannya. Dia lalu lari sambil menangis, karena tak kuasa menahan beban hatinya.
__ADS_1