
Wang Son dan Jendral Choi tiba di Yicheon. Wang Son baru tahu bahwa Dae Gil telah membeli tanah untuknya dan Choi di sana. Cuma untuk tanah untuk dirinya sendiri Dae Gil belum membayarnya penuh.
Hwang Chul Woong dan tim elitnya masih terus mengejar Song Tae Ha, kali ini dia tak tanggung-tanggung membawa 1 kompi pasukan bersamanya. Mereka menemukan jejak pertemua dae gil dan jjagwi, lalu jejeka itu tampak berpisah ke dua arah. Chul woong membagi pasukannya untuk mencari ke dua arah.
Seol hwa terus berjalan mencari Dae Gil. Di jalan dia bertemu dengan rombongan Jjagwi. Seol Hwa langsung menanyakan dimana kak Dae Gil.
“Dia ikut pergi ke anseongcheon”, kata Jjagwi. Seol hwa langsung bergegas pergi ke sana.
Rombongan Dae Gil beristirahat di hutan. Saat Song Tae Ha berbicara dengan orang Cina, Un Nyun bicara berdua dengan Dae Gil. Un Nyun memanggil Dae Gil dengan sebutannya yang dulu “Tuan Muda”
“Jangan memanggilku dengan sebutan itu lagi”, kata Dae Gil
“Lalu bagaimana aku harus memanggilmu?”, tanya Un Nyun.
“Kau tak perlu memanggilku”, kata Dae Gil.
Dae Gil lalu mengungkapkan bahwa kakaknya Un Nyun sudah meninggal saat mereka terakhir bertemu. Dae Gil mengatakan pesan terakhir kakaknya agar Un Nyun hidup dengan baik.
Saat Tae Ha datang, Dae Gil pamit pergi, dia akan pergi duluan mencari kapal/perahu. karena mereka akan menggunakan kapal menyusuri sungai menuju P. Gwang Ha.
Pagi hari Dae Gil sudah berhasil mendapatkan perahu dan menunggu di pinggir sungai. Dia juga membelikan sepatu untuk Un Nyun.
Tae Ha dan rombongan mulai berangkat. tapi dia tiba-tiba dihadang oleh pasukan tentara yang dikirim oleh Chul Woong. Tae ha dan orang-orang Cina itu bahu-membahu menghadapi para pasukan tentara.
Lalu Hwang Chul woong dan tim elitnya datang. Tae Ha dkk mulai terdesak dan kesulitan. Salah seorang di antara mereka pun melukai Un Nyun.
Dae Gil sudah bosan menunggu di pinggir sungai. Dia heran karena yang dia tunggu belum juga datang. Tiba-tiba dia tersadar sesuatu, mungkin mereka dalam bahaya. Dae Gil langsung pergi, dia meninggalkan sepatu untuk Un Nyun di perahu.
Tae Ha semakin terdesak, dia pun terluka. Orang-orang Cinapat pun sudah tumbang, tinggal dia sendiri melawan Chul Woong dan tim elitnya. Untung Dae Gil datang tepat pada waktunya, dia pun segera membantu Tae Ha. Pertarungan kali ini memang berat buat Dae Gil dan Tae Ha. Un Nyun pun tak luput dari sasaran mereka. Tae ha pun semakin terluka parah saat akan melindungi Un Nyun.
Dae Gil lalu minta Un Nyun untuk segera pergi membawa suami dan anaknya pergi dari situ. Un Nyun tak mau dia menangis. Dae gil memaksanya sambil berteriak.
“Pergilah cepat! kau dan suamimu masih harus mengubah dunia agar tidak ada lagi orang yang menderita seperti kita”, perintah Dae Gil. Un Nyun akhirnya menurut dia membopong Tae Ha bangun.
__ADS_1
“Un Nyun kamu harus terus bertahan. Jika kamu bisa tetap hidup aku pun bisa hidup. Cepat pergi sekarang!”, seru Dae Gil. Un Nyun pergi membopong Tae ha dan menggandeng pangeran .
Sambil berjalan dia meminta maaf dalam hati pada Dae Gil
“Tuan muda maafkan aku, ini ke dua kalinya aku pergi meninggalkanmu begini”, sahut Un Nyun lirih sambil bercucuran air mata.
Akhirnya tinggal Dae Gil berdua dengan Hwang Chul Woong. Mereka siap berduel hidup dan mati. Mereka bertarung dan saling melukai satu sama lain. Sambil bertarung Hwang Chul woong bertanya penasaran
“Mengapa kau mau mengorbankan dirimu?”, tanya Chul Woong
“Karena aku pernah sekali berhutang nyawa pada orang itu”, kata Dae Gil. Chul Woong merasa tersindir, dia juga pernah sekali diselamatkan oleh Tae Ha.
Mereka bertarung sampai kelelahan. Chul woong lelah dan merasa malu, dia tak bisa mengangkat pedangnya lagi. Dae Gil lalu memukul Chul Woong berkali-kali di wajahnya untuk memberinya dia pelajaran, sampai dia pun merasa lelah.
Tiba-tiba pasukan lain Chul Woong datang dengan jumlah banyak. Dae Gil mau tak mau harus menghadapi mereka sendirian. Dia menguatkan hatinya, dan membawa 2 bilah pedang.
Dia berteriak dan berlari menghadapi mereka seorang diri dengan berani. Sambil berlari dalam hati dia berkata pada Un Nyun
“Un Nyun hiduplah dengan bahagia dengan suami dan anakmu. Sampai suatu saat kita akan bertemu lagi, kau akan menceritakan padaku bagaimana kau jalani hidupmu… Un Nyun-ku…Kekasihku…”.
Un Nyun pergi bersama Tae Ha dan anaknya. Di tengah jalan Tae Ha dalam keadaan lemah memaksa ingin berkata sesuatu dulu pada Un Nyun.
“Kita tidak jadi pergi ke Cina ya. Aku merasa banyak hutang pada negeriku. Aku berjanji akan segera pulih lalu kita akan berjuang lagi mengubah dunia”, kata Tae Ha.
Un nyun lega mendengarnya dia tersenyum dan mengangguk tanda setuju
“Terimakasih ya istriku”, kata Tae ha.
Seol Hwa berlarian mencari Dae Gil dia tadi sempat melihat banyak polisi dia tahu pasti ada sesuatu yang tidak beres. Dia akhirnya menemukan dae gil sedang terduduk lemas di atas batu, kepalanya mengeluarkan darah. Seol Hwa memanggil dae gil dengan panik.
“Hey gadis kecil, ternyata kamu mengapa kamu mengikutiku kemari”, kata Dae Gil.
“Siapa yang percaya kepada janji laki-laki”kata Seol Hwa
__ADS_1
“Ayo kita pulang, aku berjanji akan memasak dan mencuci untukmu”, kata Seol Hwa menyesal. “Aku juga telah belajar menulis dan membaca. kau tidak akan malu lagi bersamaku. Aku menuliskan namamu di rompi yang kubuat untukmu”, kata Seol Hwa mengeluarkan rompinya. “Apa itu cinta Kak?, di dunia ini banyak sekali laki-laki dan perempuan”
“Maafkan aku Seol Hwa, karena hatiku mengeras, jadi aku tidak bisa melihat hatimu”
Dae Gil ingin memegang Seol Hwa tapi salah, pandangannya ternyata sudah kabur. Seol hwa lalu membawa tangan Dae Gil ke pipinya dia menangis. Dae Gil pun muntah darah.
“Kau jangan menangis, kalau kau menangis aku rasanya sedang sekarat…u”
Dae Gil semakin susah bicara tapi dia berusaha bicara sambil terpatah-patah
“Hari ini ce…rah..maau..kah kau..me..nya..nyi..un..tuk …ku”, pinta Dae Gil.
“Kau ingin lagu apa?”, tanya Seol hwa
Dae Gil tak sempat menjawab dia jatuh terkulai kepalanya tepat di paha Seol hwa dan di atas rompi yang bertuliskan namanya, dia tak bergerak lagi…
Seol Hwa menangis…lalu dia berusaha menyanyi…tapi baru beberapa kata dia tak kuat dan menangisi kepergian Dae Gil…
Hwang Chul woong pulang, tangannya bersimbah darah oleh darahnya dan darah orang-orang yang dia lukai. Dia menemui istrinya, dia menangis dan bersujud dipangkuan istrinya.
Seol Hwa mengubur Dae Gil, menutupi jasadnya dengan bebatuan besar. Dia juga bernyanyi, sesuai permintaan terakhir Dae Gil
“Jika kematian datang saya akan menjadi bunga, dan kau akan menjadi kupu-kupu. Kita lalu akan menemukan bukit hijau yang indah dan kita akan hidup abadi selamanya. Cinta oh cintaku, kau satu-satunya cintaku”.
Epilog
Pada tahun berikutnya Raja InJo mangkat setelah 27 tahun memerintah. Beliau digantikan oleh putra mahkota Bong Nim dan menjadi raja dengan gelar Raja HyoJong. 6 tahun setelah memerintah tahun 1655. Perburuan terhadap budak dihentikan. Dan tahun berikutnya Pangeran Seok Gyeon (Pangeran Won Son kecil) dibebaskan dari pengasingannya.
Adegan ditutup oleh Chop Bok yang berbicara pada Eun Sil.
“Eun Sil taukah kamu matahari itu milik siapa? Itu milik kita yang tidak punya apapun di dunia ini”
Terakhir ada adegan bonus
__ADS_1
Dae Gil seolah-oleh membidik matahari. Dia lalu pura-pura memanah matahari
“Siiiiuuuttttttttttt…..daang…….”. Dae Gil pun tersenyum