
Suatu malam dengan terseok-seok Hwang Chul Woong yang terluka sampai di Hanyang. Dia lewat di depan rumah ibunya, dia rindu dan ingin menangis, api dengan keadaannya yang terluka dia tidak sampai hati bertemu ibunya. Dia lalu berjalan tak tentu arah, misinya gagal, dia tidak ingin pulang ke rumah mertuanya juga tidak mencintai istrinya yang cacat.
Akhirnya dia pingsan di jalanan. Polisi Oh menemukannya, dari pengenalnya mereka membawa ke rumah mentri Lee Gyong Shik.
Istrinya begitu cemas suaminya terluka parah. Istrinya yang cacat ini sebenernya tulus mencintai Chul Woong. Tapi Chul Woong tidak pernah berusaha mengerti perkataan istrinya yang bicara saja tak jelas. Dua-duanya kasihan.Chul Woong ngerasa dijebak, istrinya juga mana pernah dia minta lahir cacat.
Melihat Chul Woong terluka, ayah mertuanya panik, dia takut misinya gagal. Lee Gyong Shik terlanjur berkata pada paduka raja bahwa mereka telah mengirim orang terbaik untuk “membereskan” masalah Jeju. Raja sendiri ditekan oleh utusan Qing yang ingin membawa anak pangeran untuk dirawat di china.
Un Nyun pergi ke dapur untuk memasak. Han Seom serba salah dan melarangnya. Un Nyun memaksa Han Seom yang pergi karena ini urusan perempuan. Song Tae Ha datang ke dapur
“Aku mendapat laporan kamu pergi ke dapur”, kata Tae Ha
“Apa hal kecil ini termasuk hal yang harus dilaporkan?”, Un Nyun menyindir. Tae Ha berkata walau laki-laki anak buahnya sudah terbiasa berkelana dan bisa memasak.
“Apa kamu ini begitu lambat mengerti, aku ingin memasak makanan buatmu dengan tanganku sendiri”, kata Un Nyun. Tae Ha pun tersenyum dan membiarkan Un Nyun.
3 jagoan dan Seol Hwa menyelidiki kira-kira dimana rombongan song tae ha itu menyewa rumah. Mereka menyebar mencari informasi baik dari tukang daging, tukang kayu, orang di jalan dan penyewa rumah apa kira-kira ada aktifitas orang baru yang mencolok.
Anak buah Tae Ha dan kelompoknya terutama dari kelompok pejabat merasa terganggu akan kehadiran orang luar seperti Un Nyun.
Dae Gil pulang ketika sudah larut malam. Wang son bercerita bahwa dia telah menemukan persembunyian mereka. Tapi Dae Gil malah ingin tidur. Mereka aneh melihat Dae Gil yang tak seantusias biasa. Mereka merasa misi mereka ini begitu besar dan berbahaya, sangat riskan jika ada orang luar. Tae Ha berkata dia akan menikahinya dan mengadakan upacara. Mereka juga sepertinya tidak setuju. Mereka menganggap pernikahan pun bagi seorang jendral bisa mengganggunya mencapai cita-cita revolusi besar mereka. Tae Ha menemui Un Nyun yang tengah mengasuh pangeran.
__ADS_1
"Maukah kau menikah denganku? Kita perlu untuk menikah”. kata Song Tae Ha.
Istrinya malah sebenarnya rela mati, agar suaminya dapat terlepas dari jeratan ayahnya. Un Nyun awalnya senang, tapi mendengar kata “perlu” dia menjadi kesal.
“Apa menikah itu karena perlu atau karena perintah?”, Un Nyun merasa agak direndahkan.
“Mereka semua membicarakan tentang kita”, kata Tae Ha polos
“Kalau begitu aku akan pergi dari sini”, sahut Un Nyun kesal. Dia lalu meminta Tae Ha keluar.
Dae Gil mendapat ide lain, dia kembali mencari tandu yang terakhir mereka lihat. Di tandu terukir nama pemilik tandu.
Dae Gil mendatangi rumah bangsawan pemilik tandu, di sana dia mengalahkan semua anak buah bangsawan itu. Dengan mengancam dia bertanya kepada siapa dia menyewakan tandu. Bangsawan itu akhirnya berkata dia menyewakan tandu itu kepada temannya dan mereka tinggal di desa sebelah.
“Pria itu memang aneh mengapa tidak katakan saja , aku mencintaimu, maukah kau menikah denganku”
TIba-Tiba Tae Ha masuk lagi ke kamar. Dia ingin mengulang maksudnya tadi.
“Aku mengajakmu menikah bukan karena perlu atau karena perintah. tapi karena kau telah mengisi seluruh hatiku”, kata Tae Ha.
Un nyun kali ini luluh matanya berkaca-kaca. Dia bersedia menikah dengan Tae Ha.
__ADS_1
Pagi hari, anak buah Tae Ha menyiapkan ritual upacara untuk pernikahan. Tae Ha dan Un Nyun pun bersiap-siap. Upacara ini sederhana tidak ada gaun pengantin, mereka hanya memakai pakaian mereka. Namun mereka terlihat bahagia.
Dae Gil datang ke desa sebelah di mana dia mendapat informasi tentang keberadaan Tae Ha. Dia menemukan rumah itu dan berhasil menyelinap masuk ke dalam rumah itu. Dia bersembunyi di samping sebuah bangunan. Dia melihat Tae Ha berada di dekatnya. Dae Gil mengeluarkan dan menyiapkan belatinya. Tiba-tiba Un Nyun muncul. Dae Gil terhenyak, sudah lama dia tidak melihat Un Nyun begitu jelas. Dia ingat betul orang itu adalah Un Nyunnya yang dulu sering dia temui di halaman dan di dapur rumahnya.
Un Nyun berkata pada Tae Ha apa maksudnya dia datang ke sini
“Aku akan menjemput pengantin”, kata Tae Ha mesra sambil memegang tangan Un Nyun.
Dae Gil berusaha fokus untuk tetap menyerang keluar. Tiba-tiba pangeran kecil datang menghampiri Un Nyun. Un Nyun menggendongnya, mereka semua tersenyum. Di mata Dae Gil mereka mirip keluarga yang sangat bahagia. Dae Gil terduduk lemas…
Dae Gil tiba-tiba terhenti ketika melihat Un Nyun datang. Sudah lama ia tak melihat Un Nyun. Tapi sekarang Un nyun berpegangan mesra dengan Tae ha. Hatinya sakit. Dia ingat pertanyaan Choi tentang apa yang ia lakukan jika bertemu Un nyun. Dia mencoba fokus tetap menyerang mereka.
Tapi tiba-tiba lagi seorang anak kecil datang. pangeran kecil menghampiri Un Nyun. Un Nyun menggendongnya mereka tersenyum bahagia. Kasihan Dae Gil dia terlihat merana. “Bagaimana boleh dia bahagia jika aku menjadi seperti ini“.
Tae Ha curiga ada orang yang mengintai. Dia menuju tempat Dae Gil bersembunyi. Dae Gil segera merapat. Ketika Tae Ha sampai di sana dia tidak melihat siapapun.
Dae Gil sudah keluar dari rumah itu dia terduduk lemas di benteng luar rumah itu. Kali ini Dae Gil benar-benar merasa terpuruk. Sedangkan di halaman rumah, Song Tae Ha dan Un Nyun sedang menjalani upacara pernikahan walau sederhana.
Han Seom terharu melihat pernikahan mereka. Dia ingat dayang yang dicintainya yang meninggal di P.Jeju. Dae Gil berjalan terhuyung-huyung meninggalkan rumah itu, walau tidak sedang mabuk. Dae Gil lalu sampai di kota dia lagi-lagi terduduk lemas. Dia membuka lukisan Un Nyun, dia menangis, air matanya mengalir dan jatuh mengenai lukisan. Seol Hwa menemukan Dae Gil dia hendak menghampiri Dae Gil. Tiba-tiba Dae Gil menangis histeris, orang-orang di pasar mengerubutinya heran. Seol hwa urung mendekat, dia pergi menjauh. Seol hwa kali ini tidak kuat lagi memahami Dae Gil dia pergi sambil bercucuran air mata.
Di Hanyang tetangga Dae Gil seorang perawat kuda yang pernah mengobati Dae Gil waktu tertembak, telah ditangkap dan dituduh bersalah. Dia disiksa oleh polisi yang merupakan teman baiknya sendiri lalu dinyatakan bersalah dan dijadikan budak. Dia dituduh sebagai orang yang berhubungan dengan Tae Ha dan membantunya kabur.
__ADS_1
Tae Ha pernah menitipkan kuda yang sakit padanya. karena Tae Ha tak kunjung datang dia akhirnya menjual kuda itu. dia dituduh menjual aset militer dan dengan uang itu di membantu Tae Ha kabur. Tetangga dan temannya merasa kasihan, prihatin juga was-was. Hidup rasanya jadi menakutkan.
Slave hunter Chun Ji Ho yang sempat menemani Chul Woong ke P.jeju pulang ke Hanyang. Di P.Jeju dia kehilangan seorang anak buahnya karena chul woong yang sewenang-wenang membunuh seorang anak buahnya yang tidak mengikuti perintahnya. Dia pulang ke rumahnya, memanggil-manggil anak buahnya yang lain, tapi tidak ada satupun yang muncul.